CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Akibat Sikap Aneh Anjani


__ADS_3

Mario-Anjani saling memperdalam pelukannya. Sesaat kemudian Anjani melepas pelukan, lantas mendekatkan wajahnya ke wajah Mario. Bibir mereka nyaris bertemu, dan Mario sama sekali tidak menghindar. Hingga kemudian ....


"Tidak boleeeh!" teriak Meli.


Mario yang terkejut dengan teriakan Meli lekas menoleh. Sementara Anjani kembali pingsan di bahu Mario. Mario-Anjani gagal berciuman karena teriakan Meli.


Berlarian kecil Meli merebut tubuh Anjani dari Mario. Meli berusaha keras menahan berat tubuh Anjani, lalu membaringkannya lagi di bed. Seolah belum sadar, Mario hanya diam memperhatikan. Sementara Rangga masih melongo, dan tidak berani mendekat.


“Kak Mario harus istighfar sekarang juga!” perintah Meli.


“Em? Istighfar?” Otak Mario belum kembali normal setelah mendapat perlakuan romantis dari Anjani yang sedang demam.


“Iya, istighfar. Masa Kak Mario nggak menghindar sih pas Anjani mau nyium?” Meli blak-blakan.


“Eem … mumpung,” lirih Mario.


“Mumpung?” Meli melotot tak percaya.


“Astaghfirullah,” ucap Mario pada akhirnya. “Maaf, aku khilaf,” imbuhnya.


Mario menyadari kesalahannya. Harusnya Mario menghindar saat Anjani memeluknya, bukan malah membalas pelukannya. Harusnya Mario juga menghindar saat Anjani hendak menciumnya, bukan malah menyambutnya. Otak Mario saat itu benar-benar dipenuhi dengan sosok Anjani yang begitu dicintainya.


Sungguh benar apa yang dikatakan banyak orang. Janganlah kau berduaan, karena yang ketiga adalah setan. Untung saja di ruangan itu pihak ketiga dan keempat bukanlah setan, melainkan Meli dan Rangga. Mario masih beruntung tidak terhasut bujuk rayu setan lebih jauh karena ada Meli yang lekas menyadarkan.


“Anjani masih demam. Lebih baik Kak Mario sama Kak Rangga di bawah saja. Biar aku yang menemani Anjani di sini hingga demamnya turun,” pinta Meli.


“Baiklah. Akan kubelikan makanan untukmu,” kata Mario.


“Biar aku yang berangkat beli makanannya,” usul Rangga.


“Kalau begitu kita berdua saja yang berangkat membelinya,” ide Mario.


Mario dan Rangga pergi bersama membeli makanan. Meli dengan senang hati menemani sahabatnya itu. Meli tidak jenuh, karena dia menunggui Anjani sambil chattingan dengan sang suami tercinta, Azka.


“Huft. Lama-lama gemes juga sama Kak Mario. Harusnya Kak Mario gercep lamar dan nikahi Anjani, seperti Mas Azka. Kalau udah sah, baru deh bisa nyium Anjani sepuasnya,” gumam Meli.


Meli meletakkan smartphone miliknya. Diperhatikan sebentar wajah Anjani yang pucat. Punggung tangan Meli ditempelkan ke kening Anjani. Meli mengecek suhu tubuh Anjani secara manual.


“Alhamdulillaah. Sudah tidak sepanas tadi,” ucap Meli dengan senyum mengembang.


Ingatan Meli dilambungkan jauh. Diingat-ingat lagi, saat Meli dan keluarganya masih tinggal di desa. Meli pernah sekali menjumpai Anjani dalam kondisi demam tinggi. Saat itu juga Meli ingat, Anjani akan berkata ngelantur dan bersikap aneh saat demamnya begitu tinggi.


“Ah, aku ingat, deh!” seru Meli. “Duh, Anjani Sayang. Jangan sering-sering deh kayak gini. Mengkhawatirkan. Untung kamu demam di sini dan ada aku. Kalau kamu demam di kampus dan nggak ada aku, berapa banyak teman-teman yang kamu peluk.” Meli malah terkekeh membayangkan yang tidak-tidak.


Tawa kecil Meli terhenti karena Anjani memberi tanda akan segera sadar, sama seperti sebelum-sebelumnya. Meli antusias duduk di sebelah Anjani. Dia sabar menunggu hingga mata Anjani terbuka sepenuhnya.


“Meli,” panggil Anjani dan lekas terduduk di bed.


“Alhamdulillaah kamu sadar.” Meli girang.


“Sadar? Loh, memangnya aku kenapa?” Anjani tidak paham.


Tangan Meli bergerak cepat memegang kening Anjani. Sudah tidak terasa panas. Suhu tubuh Anjani kembali normal. Segelas air putih disodorkan pada Anjani. Meli menyuruh Anjani untuk meminumnya beberapa teguk agar terasa lebih segar.


“Aku kenapa, Mel?” tanya Anjani sambil memegangi keningnya.


“Kalau masih pusing dibuat tiduran aja. Kamu tadi demam tinggi. Sempat sadar, terus pingsan, sadar lagi, pingsan lagi.” Meli menjelaskan secara singkat.


Bola mata Anjani membulat begitu mendengar kata demam. Anjani paham betul dengan kondisi dirinya. Anjani juga paham betul bahwa dirinya akan ngelantur bahkan bersikap aneh saat demam tinggi.


“Te-terus?” Takut-takut Anjani meminta penjelasan lebih dari Meli.


“Kuceritain dikit, ya. Kamu tadi nyuruh Kak Mario pergi habis itu meluk Kak Rangga,” jelas Meli.


“Astagfirullah!” seru Anjani.


Keterkejutan Anjani spontan membuat tangan kanannya menyentuh dada. Mendadak saja dia berdebar-debar membayangkan apa yang tadi dilakukannya saat kondisinya tidak sadar.


“Ha-hanya itu kan?” tanya Anjani.


Anjani berharap tidak ada kejadian yang lebih parah dari itu. Namun, gelengan Meli mengisyaratkan bahwa Anjani telah melakukan lebih banyak sikap aneh.


“Kamu tadi juga meluk Kak Mario. Eraaat banget. Parahnya lagi, kalian tadi hampir saja berciuman.” Nada Meli terdengar horor.

__ADS_1


Anjani refleks menutupi wajahnya. Mendadak saja rasa malu membuncah. Anehnya di sela rasa malu yang melanda, Anjani justru masih sempat-sempatnya senyum-senyum sendiri membayangkan cerita Meli.


“Mel, tadi sikap Mario gimana waktu aku hampir saja menciumnya?” Anjani kepo.


Meli tidak langsung menjawab. Dia tampak menyelidik. Meli mengamati perubahan ekspresi Anjani. Di balik wajah pucat Anjani yang sudah tidak terlalu pucat, Meli dapat menangkap ekspresi wajah senang Anjani meski hanya samar.


“Jangan bilang kamu senang melakukan itu tanpa sadar?” tuduh Meli dengan ekspresi polosnya.


“Astaghfirullah. Ya nggaklah, Mel. Maksudku nggak terlalu. Hehe. Ayo cepet ceritain gimana tadi?” Anjani antusias ingin tahu.


“Tadi itu Kak Mario malah memelukmu juga. Eraaaat banget. Andai di sini banyak penontonnya, pasti mereka baper. Pelukan kalian mesra banget. Romantis,” terang Meli.


Anjani mengangguk-angguk sembari membayangkan.


“Ih.” Meli mencubit pelan pipi Anjani. “Nggak perlu dibayangin!” Meli tahu isi pikiran Anjani .


“Iya-iya. Terus-terus?” Anjani tetap saja ingin tahu lebih lanjut.


“Terus pas kamu mau nyium Kak Mario, eh Kak Mario malah nggak menghindar. Gemes kan lihatnya. Habis itu aku datang membuyarkan adegan romantis kalian. Untung ada Meli.” Meli begitu bangga.


“Terima kasih, Mel.” Anjani berterima kasih.


Anjani tersenyum. Dia paham betul maksud Meli. Kembali berbaring, Anjani mencoba lebih rileks dengan memejamkan mata. Istighfar segera meluncur dari bibirnya. Lirih dan beruntun.


Meli ikut-ikutan tersenyum melihat Anjani tersenyum. Beranjak dari tempatnya duduk, Meli kemudian menuju dapur mini dan membuatkan Anjani teh hangat.


***


Mobil Mario melaju menyibak jalanan kota. Bukan Mario yang menyetir, tapi Rangga.


“Kamu bisa menggunakan mobil ini untuk keperluan ruko sewaktu-waktu. Aku senang kamu juga bisa mengemudi.” Mario tersenyum.


“Aku pernah ambil kursus mengemudi. Pernah juga kerja jadi supir pribadi. Pokoknya sudah banyak macam pekerjaan sebelum kamu menerimaku jadi karyawan. Pelayan rumah makan pernah, kasir minimarket pernah, pesuruh di kantor pernah, kuli panggul juga pernah.” Rangga sedikit bercerita. “Tapi, hanya satu yang belum pernah,” imbuh Rangga.


“Apa itu?” Mario ingin tahu.


“Aku belum pernah jatuh cinta,” kata Rangga disusul senyum di wajahnya. Kenapa juga saat aku mulai tertarik dengan seorang wanita, justru dia adalah kekasih bosku. Nasiiiibku, batinnya.


Mobil Mario menepi di depan warung lauk bakaran. Begitu mesin mobil dimatikan, Mario melihat mobil Paman Li melaju meninggalkan


warung itu.


“Paman Li?” gumam Mario.


“Lihat apa, Bos?” tanya Rangga. Dia mulai memanggil Mario dengan sebutan Bos.


“Bukan apa-apa. Ayo beli beberapa bungkus makanan!” ajak Mario.


Mario dan Rangga memesan tiga bungkus nasi lauk ayam bakar. Warung lauk bakaran itu adakah rekomendasi Rangga. Selain harganya bersahabat, rasanya pun nikmat.


“Udah lama tak kulihat istri kau. Mana dia?” celetuk seseorang yang sepertinya sudah mengenal pemilik warung dengan akrab.


“Minggat sama anak-anak,” jawab pemilik warung dengan santainya.


“Pulang ke desa saja kau. Rujuk sama istri kau yang pertama,” saran pengunjung lainnya yang sepertinya juga sudah mengenal pemilik warung dengan akrab.


“Lagi usaha, nih. Mau cari anakku dulu. Katanya dia kuliah di sini.” Pemilik warung yang berjenggot itu terlihat optimis dengan kata-katanya.


Dua pemuda yang bertanya tadi lanjut memesan nasi lauk tempe dan ikan bakar. Mario memperhatikan pemilik warung dan dua pemuda yang bertanya. Hingga beberapa menit kemudian pesanan Mario selesai. Mario dan Rangga kembali ke mobil. Mario sama sekali tidak tahu, bahwa pria berjenggot pemilik warung adalah orang yang ada di pikiran Anjani saat ini. Pria yang tidak sengaja ditemui Anjani kemarin, saat motornya oleng. Pria itu adalah ayahnya Anjani.


“Mampir beli bubur ayam dulu. Tepikan mobilnya di depan sana,” kode Mario pada Rangga.


“Bubur buat siapa?” tanya Rangga.


“Buat Anjani kalau sudah siuman nanti,” jawab Mario santai.


Usai membeli bubur ayam, Mario dan Rangga kembali ke ruko. Mereka berdua melihat Anjani yang sudah sadarkan diri. Anjani sedang menyeruput teh hangat yang baru saja dibuatkan Meli.


Anjani langsung tertunduk begitu melihat Mario menghampirinya. Ada rasa malu bercampur rasa tidak enak hati.


“Kenapa mendadak takut melihatku, Anjani? Bukankah tadi kau sangat ingin menciumku?” goda Mario.


Meli spontan cekikikan, sementara Rangga tidak peduli dan langsung melahap nasi ayam bakar bagiannya.

__ADS_1


Anjani tidak menjawab. Dia justru menutupi wajahnya dengan bantal.


“Singkirkan ini!” Mario menarik bantal dari wajah Anjani. “Sudah lebih baik?” tanya Mario sembari tersenyum ramah.


Anjani mengangguk pelan. “Alhamdulilllaah,” katanya.


“Apa kamu lapar?” tanya Mario lagi.


Mario betah mengajak Anjani mengobrol. Mario bahkan sudah mengambil posisi duduk persis di samping kanan Anjani.


“Aku tidak lapar,” jawab Anjani singkat.


“Kamu harus lapar, dan sekarang makan bubur ini.” Mario membuka wadah putih berisi bubur ayam.


“Terdengar seperti pemaksaan,” gumam Anjani tanpa berani melihat Mario.


“Bukankah kamu tadi melakukan hal yang sama kepadaku? Kamu memaksaku untuk membalas pelukanmu. Ditambah lagi kamu hampir saja mendaratku bibirmu di bibirku.” Mario tersenyum menjelaskannya.


Anjani spontan menutupi bibirnya. Sikap Anjani justru membuat senyum Mario semakin melebar.


“A-aku tidak sengaja melakukannya. A-aku … aku …” Anjani salah tingkah, tidak bisa membalas perkataan Mario.


“Cukup. Tidak perlu mencari alasan lain,” kata Mario datar.


Mario memasang wajah jutek, dan itu membuat Anjani kesal.


Tadi senyum-senyum, sekarang jutek. Enak saja menuduhku mencari-cari alasan. Huh. Batin Anjani, kesal.


“Sekarang kamu pilih mana. Makan bubur ini segera atau melanjutkan ciuman kita yang tadi sempat tertunda?” Mario memasang wajah menggoda.


Pilihan yang ditawarkan Mario membuat Anjani tersipu. Jujur, Anjani masih malu atas kejadian sebelumnya.


“Aku makan ini!” Anjani merebut wadah isi bubur dari tangan Mario.


“Mau kusuapin?” tanya Mario. Kali ini dengan senyuman penuh makna.


“Tidak!” tolak Anjani.


Mario tersenyum penuh kemenangan. Sengaja Mario bersikap seperti itu agar Anjani mau memakan buburnya. Anjani butuh tenaga lebih agar lekas pulih.


Beranjak dari kursi, Mario bergabung bersama Meli dan Rangga di sofa. Mereka bertiga memakan nasi lauk ayam bakar. Tidak ada obrolan yang tercipta, lantaran semua begitu fokus pada makanannya.


“Apa aku perlu minta maaf karena sudah bersikap aneh pada Mario?” pikir Anjani sambil menyuap bubur ke mulutnya. “Ah, tidak-tidak. Mario sudah berani menggodaku. Dasar menyebalkan!” pikirnya lagi. Anjani menusuk-nusukkan sendok ke dalam bubur.


“Jangan memikirkan hal yang tidak perlu kau pikirkan, Anjani. Makan saja buburmu sampai habis. Kalau aku melihat buburnya tersisa, akan kusuapi sampai habis,” seru Mario dari tempatnya duduk.


Mario belajar ilmu dukun sepertinya. Mudah sekali dia membaca pikiranku. Batin Anjani.


Anjani menjadi pasien yang penurut. Dia menghabiskan buburnya, dan meminum obat pemberian Dokter Ema. Anjani juga menghabiskan teh hangat buatan Meli.


“Tiga hari ke depan tidak perlu masuk kuliah ataupun datang ke ruko. Surat izin sakit akan kupastikan sampai di tangan dosen. Istirahatlah. Pulihkan dirimu!” perintah Mario yang sudah kembali duduk di samping bed.


Meski sempat menyebalkan, tapi Anjani bisa merasakan kepedulian dari ucapan Mario. Anjani mengangguk. Dia mengiyakan karena memahami kondisi dirinya. Tubuh Anjani butuh istirahat, terutama pikirannya. Anjani mau mengusir ingatan buruk tentang ayahnya.


“Mario, yang tadi aku sungguh minta maaf.” Akhirnya Anjani tetap meminta maaf.


“Tidak masalah. Aku tahu kamu dalam kondisi tidak sadar,” sahut Mario sambil tersenyum ramah.


Anjani lega karena sudah meminta maaf atas sikap anehnya.


“Kalau sudah terlihat gejala akan demam lagi, jangan sekali-kali kamu keluar rumah. Hubungi Meli atau aku. Aku tidak ingin kamu memeluk atau bahkan mencium laki-laki lain dengan mesra.” Wajah Mario terlihat serius.


Anjani mengangguk. Dia telah menyadari kelalaiannya.


“Oke. Jadi, sekarang mau kuantar pulang atau kamu masih ingin mencoba menyatukan bibir kita dalam ciuman mesra?” Mario kembali menggoda Anjani. Mumpung, pikirnya.


“Aku pulang saja!” seru Anjani sambil menutupi wajah Mario dengan bantal.


Di balik bantal, Mario tersenyum penuh kemenangan. Mario puas sudah berhasil menggoda Anjani.


Bersambung ….


Nantikan lanjutan keseruan cerita Cinta Strata 1. Mario-Anjani, akankah mereka segera bersatu? Bagaimana dengan kemunculan sosok ayah Anjani? Author juga mau ngajak reader semua buat selalu mengikuti cerita suami Meli dan keluarganya, di novel karya Kak Cahyanti, Selalu Ada Tempat Bersandar. Mohon dukungannya. See You. 😉

__ADS_1


__ADS_2