
Tampan, tubuh ideal, senyum dan penampilan cemerlang, cerdas, serta cakap dalam bertutur maupun berteman. Itulah yang terlihat pada diri Mario. Penggemarnya banyak meski Mario bukanlah artis papan atas. Banyak pula yang menyukai pribadi Mario karena terkenal dingin, cuek, dan misterius.
Begitulah Mario di mata teman-teman, senior, bahkan junior di kampusnya. Mario seringkali tidak peduli dengan perempuan-perempuan yang mengaku sebagai penggemar berat dirinya. Padahal, tidak sedikit dari para penggemarnya yang memiliki wajah cantik dan berpenampilan menarik.
Hanya sedikit yang tahu bahwa Mario adalah seorang tuan muda kaya raya. Mario bahkan sudah ikut andil dalam mengembangkan bisnis sepatu ayahnya. Andai Mario memposisikan diri sebagai tuan muda kaya raya, berpenampilan 'wah', dan ke kempus mengendarai mobil mewah, pastilah akan lebih banyak lagi penggemarnya.
Sayangnya, Mario lebih suka dengan penampilan dan gaya hidup sederhana. Mobilnya jarang dipakai, jika tidak terlalu dibutuhkan. Semua itu karena Mario merasa lebih nyaman dengan kesederhanaan. Dan ... saat Mario bertemu Anjani dengan kesederhanaan dalam dirinya, entah mengapa Mario melelehkan sikap dinginnya.
"Anjani," tutur Mario lirih sambil tersenyum.
"Hei, aku butuh tanggapanmu, nih! Malah senyum. Ah!" protes Ken.
Sore itu Ken datang berkunjung ke rumah Mario. Ken berbagi cerita di desa sesaat setelah Alenna datang untuk menjemput paksa. Seolah menjadi bagian cerita yang menarik, Ken juga menceritakan tentang sikap Anjani yang mendadak kesal sejak melihat Alenna memeluk Mario di tepi sungai kala itu. Cerita perubahan sikap Anjani itulah yang membuat Mario tiba-tiba tersenyum saat mendengarnya dari Ken.
"Hei, apa mungkin Anjani diam-diam jatuh hati?" duga Ken.
"Pada siapa?" tanya Mario sambil tetap tersenyum.
"Ya padamu, Mario. Ah, pura-pura nggak paham segala, sih!" ujar Ken sedikit gemas mendengar pertanyaan Mario.
Mario masih tetap tersenyum. Beranjak dari tempat duduknya, Mario melangkah menuju pembatas balkon. Dari balkon lantai dua rumahnya, Mario bisa melihat pemandangan langit sore sekaligus rumah-rumah di sekitar kompleks.
Ken mendekati Mario. Sambil berpegangan pada pembatas balkon, Ken pun ikut melihat pemandangan langit sore. Hingga beberapa saat, Ken tidak memulai obrolan apa pun. Ken tahu betul karakter sahabatnya. Mario pasti akan menanggapi setiap jawaban dengan caranya. Ken hanya tinggal sabar menunggu tanggapan Mario atas dugaannya terhadap Anjani.
"Jadi, bagaimana menurutmu sikap Anjani yang seperti itu?" tanya Ken, akhirnya tidak sabar.
"Dalamnya hati siapa yang tahu Ken, bahkan pemilik hatinya pun kadang tidak tahu. Lagipula, bukankah kita semua berteman? Aku nyaman berteman dengan kalian semua," jelas Mario.
"Jangan gunakan bahasa tersirat, Mario. Maksudmu, kalau Anjani benar-benar jatuh hati kau akan menolaknya?" tanya Ken mempertegas pertanyaannya.
"Nah, kenapa sekarang justru kau yang sangat ingin tahu dalamnya hatiku, Ken?" protes Mario.
"Ah, lupakan saja," pasrah Ken.
Ken gemas mendengar jawaban Mario yang berbelit-belit. Meski Ken sangat ingin tahu, tapi akhirnya dia pun tidak memaksa Mario untuk menjawabnya. Sebenarnya Ken hanya ingin tahu perasaan Mario pada Anjani, sehingga dia segera mengambil posisi terbaik andai jawaban Mario sama persis dengan Juno. Akan tetapi, Ken tidak segera mendapat apa yang dia inginkan. Ken memutuskan untuk bersikap netral, tidak mendukung Juno atau Mario.
Biar saja perasaan mereka mengalir apa adanya. Uh, malah aku yang kepikiran. Payah! batin Ken.
"Mario .... Where are you? Mario!" teriak Alenna dari arah ruang tamu.
Ekspresi wajah Mario dan Ken seketika berubah. Mario menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. Sementara itu, Ken mondar-mandir tidak jelas sambil sesekali berhenti, menggigit jari, bahkan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Mario, where are you?" teriak Alenna sekali lagi.
Mario dan Ken sama-sama segera mengambil posisi duduk, mengeluarkan smartphone masing-masing, dan berlagak sibuk. Sampai Alenna menemukan Mario dan Ken, acting menyibukkan diri pun masih tetap berlanjut.
"Sibuk ya? Yah, padahal aku mau minta antar ke mall. Gimana dong?" tanya Alenna sambil berdiri manja di depan Mario.
Mario benar-benar pandai bermain drama. Dia terus berlagak sibuk sambil terus menatap ke layar smartphone. Dengan nada santai, dia pun menolak keinginan Alenna dan tidak bersedia mengantarnya ke mall.
"Mario, stock baju aku itu tidak banyak, you know? Kan koper aku diambil orang waktu nunggu kamu yang tidak datang-datang menjemputku di bandara. Tanggung jawab! Antar aku sekarang!" paksa Alenna pada Mario.
Mario berhenti sejenak dari drama menyibukkan diri. Akan tetapi, dia tidak melihat ke arah Alenna, melainkan melihat Ken yang ada di sebelahnya. Ken masih tetap menyibukkan diri dengan smartphone miliknya, sambil sesekali menggumamkan materi kuliah yang sempat diingatnya.
__ADS_1
"Alenna, dengan senang hati Ken akan mengantarmu," tutur Mario tiba-tiba.
"What?" kata Ken dan Alenna berbarengan.
Alenna langsung mundur beberapa langkah demi menjaga jarak dengan Ken, bersedekap, lalu memasang sikap tidak suka dengan ide Mario. Ken melakukan hal yang hampir serupa dengan Alenna, berdiri dari kursinya, berkacak pinggang, juga memasang sikap tidak suka dengan ide Mario.
Kondisi seolah memihak Mario. Tiba-tiba saja ayah Mario menelepon dan meminta Mario untuk segera mengatur jadwal pertemuan demi membahas desain produk sepatu terbaru. Sementara Mario sibuk menelepon, Ken dan Alenna tetap pada posisi masing-masing sambil menunggu Mario selesai.
Lima menit berlalu, Mario menutup telepon dari ayahnya. Tidak disangka, Alenna dan Ken seketika langsung protes dan tidak setuju atas perkataan Mario sebelumnya. Mendengar rentetan protes yang saling bersahutan dari Ken dan Alenna, membuat Mario sedikit geregetan. Akan tetapi, Mario tetap meredam rasa kesalnya dan mencoba kembali tenang.
"Hentikan perang mulut kalian!" ujar Mario dengan nada tegas.
"Hei, Bro. Aku menolak mengantar Alenna ke mall. Titik, dan tidak bisa ditawar lagi!" tegas Ken.
"He-he-he! Dikira aku mau apa, ha? Aku menolak!" tegas Alenna tak mau kalah.
Mario memejamkan kedua matanya sebentar, disusul hembusan nafas perlahan sembari membuka kembali kedua matanya. Setelah itu Mario mulai mengetik beberapa kata di smartphone miliknya, kemudian mengirimkan pesan tersebut pada Ken.
"Uwu! Boleh juga, nih!" seru Ken sesaat setelah membaca pesan dari Mario.
Mario tidak menanggapi reaksi yang ditunjukkan oleh Ken. Kembali mengetik beberapa kata di smartphone miliknya, kali ini Mario mengirimkan pesan yang berbeda pada Alenna.
"*Really? Okey*!" seru Alenna sesaat setelah membaca pesan dari Mario.
"Jadi, siapa yang akan pergi ke mall?" tanya Mario.
"Aku," jawab Ken dan Alenna bersamaan.
"Tidak ada yang merasa terpaksa?" tanya Mario sekali lagi.
Kekompakan jawaban antara Ken dan Alenna membuat Mario cepat-cepat memberi isyarat untuk segera berangkat. Ken dan Alenna juga tampak baik-baik saja dan menangkap isyarat itu dengan lapang. Begitu Ken dan Alenna meninggalkan balkon, barulah Mario tersenyum penuh kemenangan.
Jujur, Mario sudah memperhitungkan bagaimana jadinya jika dia menemani Alenna berbelanja. Itu akan menjadi kegiatan berbelanja yang menyenangkan hanya di satu pihak, yaitu Alenna. Sementara yang menemani berbelanja seolah merasa waktu berjalan begitu lambat. Ya, Mario sudah mengalami itu, dan tidak ingin terulang untuk kedua kali.
Untung saja, sedikit sogokan yang Mario tawarkan pada Ken dan Alenna rupanya mujarab. Begitu pesan terkirim ke smartphone Ken dan Alenna, mereka berdua langsung terpukau pada tawaran Mario. Padahal, Mario hanya menjanjikan majalah sport gratis selama tiga bulan untuk Ken, dan menjanjikan es jeruk dalam wadah plastik selama seminggu untuk Alenna.
Ken memang tergila-gila dengan majalah sport, meski harganya sedikit membuat Ken merogoh kocek lebih. Bagian teka-teki silang berhadiah pada majalah tersebut selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi Ken. Beralih ke Alenna yang matanya langsung berbinar saat Mario menawarkan es jeruk dalam wadah plastik gratis satu minggu. Alenna memang masih terhipnotis dengan rasa unik pada es jeruk dalam wadah plastik. Sejak Meli memperkenalkannya pada Alenna, sejak saat itu pula Alenna tidak pernah absen membelinya sendiri di tempat yang sama.
"Good Job," puji Mario untuk dirinya sendiri.
Mario langsung mengambil posisi santai di balkon lantai dua, sesaat setelah mobil Alenna yang dikemudikan Ken berlalu pergi meninggalkan rumah Mario. Senyum menghiasi wajah tampan Mario tanpa henti. Sembari menyandarkan bahu pada tembok sisi kiri balkon, Mario kembali menikmati pemandangan langit sore.
Beberapa menit setelah puas memandang panorama sore, Mario mengeluarkan smartphone dan mulai menelepon seseorang. Terdengar nada tunggu lucu 'kumpulan suara hewan ternak'. Sampai nada dering selesai, telepon tidak juga diangkat. Mario mencoba menelepon sekali lagi, dan kembali terdengar nada tunggu yang sama.
*Mbek-mbek-mbek
Mooo
Petok-petok
Kukuruyuk
Tut-tut-tut*
__ADS_1
"Eh, di-reject?" gumam Mario.
Mario tersenyum saat panggilan suara darinya tidak diterima. Sekali lagi Mario mencoba menghubungi, lima detik kemudian di-reject lagi.
"Menarik," tutur Mario lirih sembari tersenyum.
***
Paman Sam memandang aneh ke arah keponakannya. Sejak lima belas menit lalu Paman Sam dibingungkan oleh raut wajah Anjani yang sulit dijelaskan, tiba-tiba kesal, lalu senang, kesal lagi, dan mendadak khawatir sendiri. Anjani menampilkan wajah yang berbeda sejak dia me-reject panggilan suara dari Mario.
"He, kenapa pula wajah kau itu? Lihat HP senyum-senyum sendiri, marah-marah sendiri. Apalagi setelah ini, he? Bosan paman kau ini lihatnya," protes Paman Sam.
"Namanya juga anak muda, Paman. Wajarlah!" sahut Anjani membela diri.
"Anak muda zaman sekarang memang aneh-aneh. Eh, mending buatkan paman kau ini teh hijau. Sekalian kau buat kopi biar pikiran kau lebih baik," pinta Paman Sam.
Anjani tersenyum sekilas, mengiyakan permintaan Paman Sam, kemudian pergi ke dapur. Dua cangkir disiapkan untuk menyeduh teh hijau dan kopi tubruk. Mulanya Anjani menghidangkan dengan wajar. Sampai saat sentuhan akhir itu dilakukan, mendadak Anjani kembali terlihat kesal sampai mengaduk-aduk cangkir dengan dentingan keras.
Huh, kenapa nggak kuangkat saja telepon dari Mario, sih. Uh, nyesel deh kalau gini! batin Anjani.
"Anjani, cangkirnya belum pecah, kan?" teriak Paman Sam.
"Aman terkendali, Paman. Minuman siap!" balas Anjani sambil berteriak juga.
Oh, kenapa harus ada perasaan ini, sih? batin Anjani.
***
Sementara itu di mall
"Ken-Ken-Ken. Awas kalau sampai hilang lagi! Ini masih hunting belanjaan di lantai 1. Ada empat lantai lagi yang harus kita kunjungi. Mengerti?" tegas Alenna sedikit menekankan pada Ken.
"Hm," jawab Ken singkat.
Ken sempat bersembunyi menghidari Alenna. Tadi, selama dua puluh menit pertama kegiatan belanja masih berlangsung normal. Akan tetapi, setelahnya Ken merasa bosan sekaligus geregetan dengan tingkah sekaligus permintaan Alenna yang aneh-aneh. Ken saat itu berhasil kabur, bersembunyi di outlet 'Cappucino Cincau' sambil menikmati rasa segarnya.
Semua berjalan lancar sampai nama Ken diteriakkan pada pengeras suara. Nama, ciri fisik, gaya dan warna pakaian, semua disebutkan dengan jelas dan diberi label orang hilang. Pengunjung mall yang mendengar pengumuman dari pengeras suara itu pun langsung menengok kanan-kiri, siapa tahu menemukan orang yang dimaksud. Dan ... salah satu pengunjung pun berteriak pada Ken.
"He, itu dia. Dia pasti Ken. Orang yang diumumkan di pengeras suara!" seru salah satu pengunjung mall, yang tidak lain adalah lelaki berkacamata hitam bernama Leon.
"Sst-sst. Diam kau!" tegas Ken sambil mencoba kabur kembali, tapi langkahnya dihadang oleh Leon.
"No, ayo ikut aku, kawan. Jangan coba-coba untuk kabur atau kuteriakin maling. Mau?" ancam Leon.
"Ngawur! Ya nggak maulah. Oke-oke, aku nyerah. Puas kau, he?" ujar Ken dengan nada kesal.
Leon tidak menanggapi lagi. Memegang lengan Ken erat-erat, Leon pun membawa Ken ke pusat pengeras suara. Di sana sudah ada Alenna yang berdiri menunggu sambil ngomel-ngomel tidak jelas pada petugasnya. Alenna baru berhenti ngomel pada petugas saat Ken tiba di sana.
"Hei-hei-hei, Ken! Please, deh! Kamu bikin repot aja. Uh!" protes Alenna sambil menjitak kepala Ken.
"Nona bule, aku yang nemuin dia, nih. Lain kali jagain yang betul biar nggak kabur. Oke, aku pergi dulu. Bye!" ujar Leon.
"Ya-ya-ya. Thanks," balas Alenna.
__ADS_1
Semenjak saat itu, Ken langsung menjelma menjadi pengikut yang setia. Ken terus berada di samping Alenna sampai kegiatan berbelanja selesai. Berusaha bertahan, Ken memendam semua rasa bosan dan geregetan yang timbul dalam dirinya demi majalah sport gratis sesuai tawaran dari Mario.
***