
Siang itu, terik matahari terasa menyengat kulit. Pantas saja, memang tidak ada awan ataupun mendung menggantung di langit sana. Cuaca begitu cerah dan cocok sekali digunakan untuk bekerja, juga aktivitas lainnya.
Sejak dua jam lalu Anjani dan Meli membantu Ma. Bukan di ladang jagung seperti yang dikatakan sebelumnya, tapi Ma menyuruh Anjani dan Meli membantu memetik cabai rawit yang siap dipetik. Selendang dikaitkan ke samping untuk menggendong keranjang berukuran sedang. Caping juga dikenakan sedari awal mereka berangkat dari rumah. Kini jari-jari mereka seolah sudah terbiasa memilah dan memetik cabai yang berwarna merah.
"Ternyata Ma emang nanam cabe beneran. Kirain cabe-cabean. Haha!" tawa Meli pecah saat tinggal beberapa tanaman lagi yang harus dipetik cabainya.
"Sst, jangan keras-keras ketawanya, Mel!" ujar Anjani memperingatkan.
"Lah, kenapa?" tanya Meli penasaran. Dia bahkan memelankan suaranya.
"Nanti cabe-cabenya mengkerut, jadi keriput karena dengar teriakanmu. Hihi!" Anjani kemudian tertawa.
"Hah, pedesan juga cabe daripada kata-kataku!" ujar Meli, kemudian ikut tertawa.
Beberapa menit setelah canda tawa itu, tiba-tiba Meli menyadari sesuatu. Matanya membulat, dan mulutnya menganga. Dia menjerit, kemudian berlari menepi di gubuk jerami. Anjani yang melihat itu pun bergegas menyusul Meli.
"Ada apa, Mel?" tanya Anjani begitu tiba di gubuk jerami.
"Huaaa! Kulitku agak hitam, nih!" ujar Meli setengah berteriak.
Meli jingkrak-jingkrak, bukan karena senang tapi karena terkejut melihat kondisi kulit tangannya. Dia terus merengek pada Anjani. Namun, rengekan itu sama sekali tidak ditanggapi.
Caping yang sedari tadi dipakai, dilepas oleh Anjani. Termasuk selendang gendong juga dilepas, kemudian Anjani meletakkan keranjang berisi cabai hasil petikannya. Anjani juga membantu Meli melepas caping dan keranjang yang digunakan Meli. Selesai dengan itu semua, Anjani kemudian merangkul bahu Meli, dan menepuk-nepuknya perlahan.
"Cup-cup, besok-besok kalau ikut ke desaku pesan sunscreen dulu ke Berlian, ya!" ujar Anjani menyarankan.
"Belikan!" ujar Meli dengan nada manja.
__ADS_1
"Oke, tapi ... makan ini dulu! Hihi ...."
Anjani tiba-tiba menyuapkan sebiji cabai merah ke mulut Meli. Usai menyuapkan, Anjani langsung lari ke arah pematang sawah. Meli pun mengikuti Anjani dan ikut berlari. Aksi Anjani dan Meli sukses menjadi tontontan petani-petani yang saat itu sedang istirahat di pematang-pematang sawah. Bukan teguran yang mereka dapat karena berlarian, melainkan sebuah gurauan juga tawa yang menggelegar. Sepertinya, aksi kejar-kejaran antara Anjani dan Meli menjadi tontonan gratis yang menghibur.
Sudah tiga petak sawah dijadikan arena kejar mengejar oleh Anjani dan Meli. Hingga tanpa sengaja Meli terpeleset dan kakinya terperosok ke lumpur sawah. Meli jatuh begitu mendadak, hingga membuat Anjani tidak bisa menghentikan langkah kakinya karena fokus berlari tadi. Alhasil, Anjani pun terjatuh ke arah kanan karena berusaha menghindar. Dan ... lengkap sudah kondisi dua sejoli itu terkena lumpur sawah.
Tidak kesakitan, Anjani hanya kaget. Dia berusaha bangkit tapi tergelincir lagi karena lumpur sawah yang licin. Dua kali sudah dia mencoba berdiri, tapi terjatuh lagi. Meli hanya tertawa menyaksikan Anjani berulang kali terjatuh hingga badannya berlumur lumpur. Namun, tidak disangka-sangka tiba-tiba ada yang berdiri di dekat Meli, kemudian mengulurkan tangannya kepada Anjani.
"Mario," tutur Anjani lirih.
"Sini kubantu!" ujar Mario.
Mendadak hati Anjani bagai dipenuhi mawar-mawar putih. Hatinya berbunga, dan terasa indah. Menggema pula debaran merdu dalam dada. Dia bahagia, karena akhirnya ada yang menolongnya.
"Terima kasih," tutur Anjani kemudian bergegas meraih uluran tangan Mario. Namun, tiba-tiba saja uluran tangan itu dilepaskan oleh Mario.
Anjani kembali terjatuh ke dalam lumpur sawah. Dia tidak menyangka Mario bisa keluar dari karakternya dan berani menjahili Anjani. Mario yang terkenal cool, seketika langsung luntur. Wajah kesal mulai ditampakkan oleh Anjani. Dia bergegas menggenggam lumpur sawah dan melemparkannya ke arah Mario. Lumpur itu pun sukses mendarat di wajahnya, dan menodai ketampanannya.
"Haha, prank!" ujar Anjani sambil tertawa puas.
Tawa itu pun disusul oleh tawa Meli. Bukan hanya Meli yang tertawa, terdengar pula tawa dari Juno, Ken, dan Dika. Ma yang mendekat juga ikut-ikutan tertawa. Begitu tawa mereda, Anjani dibantu Meli segera berdiri.
"Sudah cukup main lumpurnya, Anjani. Kau boleh main sama teman-teman kau di ayunan. Nak Juno yang tampan ini sudah izin pada Ma." Penjelasan Ma rupanya masih mengundang pertanyaan bagi Anjani.
"Bukankah masih nanti sore ketemunya?" tanya Anjani.
"Lama, sekarang aja!" jawab Ken.
__ADS_1
"Oke, deh! Aku sama Meli pulang bentar ganti baju bersih, ya." Anjani melihat kondisi pakaiannya yang penuh lumpur. Dia ingin segera berganti pakaian bersih.
"Iya, cepat ganti sana! Buat anak-anak tampan ini, kalian bisa mampir sebentar ke rumah sambil nanti ke ayunan bawa makan siang. Anjani, ambilkan di dapur untuk mereka, ya! Oh iya, satu lagi. Jangan lupa setelah ini bubarkan pula gadis-gadis desa yang berkumpul di sana itu!" ujar Ma menjelaskan.
Saat Ma bicara kerumunan, barulah Anjani menyadari keadaan sekitar. Memang benar, terlihat beberapa gadis desa berkerumun di dekat gubuk jerami. Beberapa di antaranya bahkan ada yang menyerukan nama Mario. Ada pula yang menyerukan nama Ken dan Juno.
"Eh, sejak kapan mereka kenalan?" tanya Anjani lirih pada dirinya sendiri.
Anjani memimpin jalan di depan menuju rumahnya. Ma tidak ikut pulang karena masih harus menyelesaikan kegiatan petik memetik cabai. Saat langkah Anjani dan teman-temannya mulai mendekat ke arah kerumunan, sontak saja siul dan teriakan histeris menyebut nama Mario, Ken, dan Juno semakin terdengar jelas.
Juno dengan pesonanya langsung membubarkan kerumunan. Awalnya tidak berhasil, tapi Juno tidak kehabisan akal. Juno menggunakan jabatan ayahnya untuk sedikit menakut-nakuti kerumunan. Alhasil, bubarlah mereka semua dengan satu sorakan kompak.
"Huuu!" seru kerumunan.
"Haha, maaf ya teman-teman!" ujar Juno sambil tersenyum ramah.
"Ah, kalian sih enak banyak penggemarnya. Lah, aku?" protes Dika.
"Mau berapa kali namamu disebut. Sini biar kusebut-sebut, deh. Dika-Dika-Dika!" seru Ken kemudian tertawa.
Anjani senang melihat teman-temannya ceria menikmati liburan semester. Sejenak, rutinitas kuliah pun dilupakan. Telah terganti oleh suasana riang masa liburan. Dalam hati pasti memiliki keyakinan, semoga saat kembali ke rutinitas semula pikiran sudah lebih fresh dan siap berjuang lagi mewujudkan semua impian.
***
Selama perjalanan menuju rumahnya, Anjani berjalan bersebelahan dengan Meli di belakang Juno, Mario, Ken, dan Dika. Ken menirukan suara kambing saat melihat gerombolan kambing yang sedang digembala. Juno tiba-tiba saja mengungkit tentang rasa takut Ken pada kuda. Itu membuat tawa yang lain pecah. Namun, di tengah kegembiraan itu Anjani seolah merasa ada yang sedang mengawasi dirinya. Berulang kali dia menengok, tapi tidak ada siapa pun yang terlihat mencurigakan.
Aneh, apa ini hanya perasaanku saja? batin Anjani.
__ADS_1
***