CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Kecewa


__ADS_3

Apalah arti sebuah rasa, jika hanya ada manis belaka


Pahit pun tak lagi getir menyiksa, jika hanya satu-satunya


Manis, bersyukurlah


Pahit, bersabarlah


Lihatlah ....


Dunia ini indah dengan keberagamannya


Tepukan gemuruh memenuhi seisi kelas. Berlagak seperti aktris, Meli melambaikan tangan kepada seluruh hadirin yang tak lain adalah teman-temannya sesama mahasiswa yang sedang menempuh mata kuliah Pak Koko. Tepuk riuh semakin menjadi saat Meli berjalan santai menuju tempat duduknya. Juno dan Dika bahkan bergerak menghampiri untuk melakukan tos dengan Meli.


Meli baru saja selesai membacakan sebuah sajak hasil coretan tangan di sebuah kertas. Sajak itu dia buat tepat saat Pak Koko menjelaskan materi kuliah. Saat ketahuan, dengan sedikit paksaan dari teman-teman dan atas perintah Pak Koko, Meli dengan percaya diri membacanya di depan kelas. Seisi kelas heboh karena tingkah Meli. Semua bersorak, bersiul, bertepuk tangan, bahkan ada pula yang merekam aksi Meli.


Duduk di bangku paling ujung bagian belakang, Anjani terdiam. Kehebohan teman-teman di kelasnya sama sekali tidak menular pada dirinya. Dia lebih sering melamun daripada memerhatikan. Sikap yang demikian telah ada semenjak dia mengetahui fakta tentang Mario.


"Harap tenang!" tegas Pak Koko.


Lamunan Anjani buyar akibat mendengar suara tegas Pak Koko. Seisi kelas mendadak terdiam. Tidak ada lagi sorakan, tidak ada pula tepukan. Meli tak lagi heboh membanggakan dirinya.


"Meli Syahrani, kamu benar-benar menjadi bintang hari ini. Bapak dukung bakatmu. Tapi, bijaklah dalam menentukan waktu. Setelah ini, buat rangkuman mata kuliah hari ini. Itu akan menjadi tiket masuk di pertemuan berikutnya. Bisa dipahami?" jelas Pak Koko pada Meli.


Meli nyengir, manggut-manggut, kemudian mengiyakan perintah Pak Koko. "Baik, Pak. Siap laksanakan!" tutur Meli.


***


Kelas Pak Koko berakhir siang itu. Satu per satu mahasiswa keluar dari ruang kuliah, termasuk Anjani. Bad mood masih merasuki dirinya. Sedikit enggan, Anjani melangkah hendak keluar. Namun, sungguh tak terduga langkahnya bersamaan dengan langkah Berlian saat berada di ambang pintu keluar. Bahu mereka pun saling bersenggolan.


Reaksi kesal ditunjukkan oleh Berlian karena tidak terima dengan situasi sebelumnya. Berlian meneriaki Anjani dengan sebutan cupu dan tidak modis seperti sebelum-sebelumnya. Namun, Anjani hanya melirik Berlian sekilas kemudian berlalu begitu saja tanpa melontarkan kata balasan. Sikap Anjani yang seperti itu malah membuat Berlian semakin kesal. Tidak perlu banyak berteriak lagi, Berlian langsung menghadang langkah Anjani.


"Anjani, denger nggak sih aku ngomong apa, he!" ujar Berlian dengan nada tidak enak didengar.

__ADS_1


Lagi-lagi Anjani hanya diam tidak menanggapi, kemudian menyerongkan langkah dan bergegas pergi. Akan tetapi, lagi-lagi Berlian menghadang di depannya. Dengan tangan bersedekap, Berlian kembali dalam mode sombongnya.


"Ingat, tantangan kita belum berakhir. Aku tunggu kekalahanmu. Bye!" kata Berlian menekankan.


Anjani menarik nafas panjang, sambil mengambil jeda memejamkan mata.


Meli melihatnya. Dia sungguh tak tahu lagi harus berbuat apa dengan keadaan sahabatnya. Sudah berulang kali pula dia menasihati Anjani untuk mengabaikan semua prasangka buruknya, tapi percuma saja. Anjani bahkan sudah tiga kali tidak hadir dalam tutor bersama Mario. Selalu saja ada alasan bagi Anjani untuk tiba-tiba tidak ikut bergabung.


Klontang ...!


"Dasar cowok!" ujar Anjani sambil melempar bolpoin kosong ke tempat sampah.


***


Meli berlarian kecil menuju parkiran motor. Sesekali dia celingukan mencari sosok Juno di tengah ratusan motor mahasiswa. Dan ... ketemu. Juno yang saat itu memakai kemeja polos abu-abu terlihat mencolok di tengah kerumunan mahasiswi senior. Situasi yang lumrah, mengingat wajah Juno yang tampan memang banyak diidolakan.


Sebelum kerumunan membludak, Meli cepat-cepat menarik lengan Juno dan mengaku-ngaku sebagai gebetannya. Tidak berhenti di sana, Meli juga membubarkan kerumunan.


"Sst ... oke, maaf. Sekarang di mana Kak Mario?" tanya Meli tanpa basa-basi lagi.


"Ogah ngasih tau!" kata Juno menolak.


Juno bergegas mengambil motornya, menyalakan mesinnya, kemudian bersiap melaju. Namun, Meli gesit merentangkan kedua tangannya tepat di depan motor Juno. Dia berniat menghadang motor Juno dan tidak akan pergi sebelum Juno memberitahu. Usaha Meli berhasil, Juno mematikan motornya.


"Oke, kali ini kau harus berterima kasih padaku, Mel. Mas Mario sama Mas Ken di gedung A ruang 21. Buat ap .... Hei, Meli. Ah, main pergi gitu aja!" Juno kesal melihat Meli yang langsung kabur tanpa berterima kasih.


Melesat cepat menelusuri ruang-ruang kuliah, Meli berlarian karena takut yang dicari sudah tidak ada di sana. Sepanjang jalan Meli berpapasan dengan senior-senior, bahkan dia bertemu mantan komisi kedisiplinan yang dulu pernah memberinya hukuman. Rupanya senior-senior itu tersenyum dan menyapa Meli. Otomatis Meli menyempatkan diri untuk berhenti dan menyapa balik senior-senior yang ternyata ramah, tidak seperti saat menjabat sebagai komisi kedisiplinan.


Selesai menebar senyum ramah pada senior, Meli bergegas menuju ruang 21. Tepat waktu, Mario dan Ken sudah mau meninggalkan ruangan untuk pulang. Cepat-cepat Meli menghadang.


"Kak Mario! Ha ... ha .... Tunggu, aku nafas dulu, Kak!" ucap Meli sambil ngos-ngosan.


"Habis lomba lari, Mel!" ujar Ken jahil.

__ADS_1


"Stop! Kak Ken yang baik hati, boleh nggak aku culik Kak Mario bentar. Ada perlu, puenting buanget!" ucap Meli sambil memohon.


"Aku tau, ini pasti urusan cewek. Oke, sampai ketemu ntar malem, Bro." Ken mengerti dan langsung pamit.


Penampilan Mario begitu cemerlang, membuat Meli sedikit gerogi berada di dekatnya. Namun, Meli tetap harus berusaha menguasai diri agar tidak bertingkah aneh di depan Mario. Meli mulai mengutarakan maksud dirinya menemui Mario. Dia tidak sungkan-sungkan lagi bercerita tentang keadaan yang sebenarnya. Obrolan seketika berubah membahas rasa kecewa Anjani kepada Mario. Meli bahkan juga menyinggung tantangan yang telah dibuat dengan Berlian.


Tak disangka ekspresi Mario jauh berbeda dari yang dibayangkan oleh Meli. Sebelumnya Meli mengira akan langsung mendapat bantuan untuk mengembalikan sikap Anjani seperti dulu lagi setelah dia menceritakan semua kesalahpahaman yang ada. Namun, respon Mario benar-benar berbeda.


"Kak Mario kenapa ketawa, sih?" tanya Meli sedikit kesal karena mendapat ekspresi demikian.


"Meli, terima kasih sudah mau berbagi cerita denganku. Aku tertarik dengan hasil akhir tantangan yang sudah kalian buat dengan Berlian, terutama soal gebetan itu," ujar Mario dengan tetap memertahankan senyumnya.


Meli tidak habis pikir dengan jawaban Mario. Niatnya menemui Mario adalah untuk mendapat bantuan, tapi Meli hanya menemukan penonton lain yang menunggu ending.


"Kak Mario, ayo bantuin! Anjani udah salah paham sama kakak, lho!" bujuk Meli sekali lagi.


"Aku menolak untuk membantu," kata Mario tiba-tiba.


Beranjak dari tempat duduk, Mario berniat untuk meninggalkan ruangan. Sebelum itu, dia menyempatkan diri untuk melontarkan kata-kata yang sukses membuat Meli melongo tak percaya.


"Bagi Anjani, aku telah membuatnya kecewa. Itu artinya namaku telah menempati salah satu ruang di hatinya. Benar begitu, Meli? Menarik sekali," jelas Mario, kemudian dia pergi meninggalkan Meli yang tak lagi bisa berkata-kata.


***


Tidak ada bulir air mata


Hanya ada amarah yang tengah meraja


Anjani memegang sebuah foto. Terlihat sesosok lelaki paruh baya dalam foto itu. Berulang kali Anjani menunjuk-nunjuk sosok lelaki dalam foto, sambil sesekali melontarkan rasa kecewanya. Tak lama kemudian Anjani membakar foto itu. Lembaran foto memang telah berubah menjadi abu, tapi kenangan pahit di masa lalu masih membekas dalam kalbu.


"Ayah, aku kecewa!"


***

__ADS_1


__ADS_2