
Sepuluh kantong kresek ukuran kecil berisi cabai rawit, tujuh kantong kresek ukuran sedang berisi jagung, dan enam kresek ukuran kecil berisi mentimun, telah ter-packing rapi. Ma telah menyiapkan itu semua sejak Anjani dan Meli pamit ke rumah Juno sore tadi. Kini saat Anjani dan Meli kembali, Ma berbangga diri menunjukkan oleh-oleh yang siap dibawa ke kota besok pagi.
"Kenapa banyak sekali, Ma?" tanya Anjani saat melihat tumpukan cabai, jagung, dan mentimun.
"Buat teman-teman kau. Ada juga buat Sam. Nanti sisanya bagikan ke tetangga di sana," jelas Ma.
"Anjani nggak ikut pulang ke kota bareng yang lain, Ma. Anjani masih ingin di desa," tutur Anjani sambil mulai mendekat dan duduk di samping Ma.
Saat Anjani hendak merangkul Ma, tiba-tiba saja Ma malah berpindah tempat dan duduk di dekat Meli. Ma bahkan merangkul Meli di sebelahnya. Anjani hanya memperhatikan, sedangkan Meli mulai merasa tidak enak dengan Anjani.
"Meli, lihat anak gadis Ma di sana. Sejak pulang dari main di sungai, bahkan sampai sebelum main ke rumah Juno, Ma sering lihat dia melamun, bengong, dan suka kaget-kagetan. Apa benar dia lagi galau?" tanya Ma pada Meli tiba-tiba.
Meli tertawa mendengar itu semua. Ma mendekat duduk di sampingnya hanya karena ingin mengatakan hal itu. Meli pun batal tidak enak hati pada Anjani. Kini dia malah menertawakan Anjani.
"100% betul, Ma. Dia galau. Mungkin lagi patah hati," jelas Meli sambil menahan tawa.
"Fitnah itu, Ma!" sahut Anjani sambil menggembungkan pipinya, berlagak ngambek.
"Hus, Ma belum selesai ngobrol sama Meli. Nah, Meli. Menurut kau apa Ma akan betah melihat anak gadis kesayangan Ma galau-galauan di desa, tanpa teman yang ceria seperti kau?" tanya Ma lagi pada Meli.
Lagi-lagi Meli tertawa lebih dulu sebelum menjawab pertanyaan Ma. Meli paham betul arah pembicaraannya. Ma ingin menyampaikan bahwa tidak akan tega melihat Anjani galau terus selama liburan tanpa teman yang bisa menghiburnya.
"Fix, Ma tidak akan betah. Biar Meli yang super ceria ini yang akan menghiburnya di kota. Percayakan padaku, Ma!" ujar Meli dengan bangga.
"Bagus. Anjani, besok kau ikut kembali ke kota dan bawa semua oleh-olehnya. Eits, tidak ada penolakan. Ma lebih senang lihat kau cari kesibukan di kota daripada di desa tapi melamun terus kepikiran yang di kota sana," terang Ma.
"Jadi Anjani diusir, nih?" tanya Anjani sambil tetap berlagak ngambek, padahal hatinya senang karena disuruh kembali ke kota.
"Ya-ya, berangkat saja besok," kata Ma sambil melangkah menuju meja makan.
Ma mengambil wadah plastik berisi irisan nanas, kedondong, mangga muda, dan pepaya, yang juga telah disiapkan saat Anjani dan Meli pergi ke rumah Juno. Melangkah ke meja satunya, Ma mengambil cobek yang sudah berisi ulekan bumbu gula merah, garam, dan cabai. Ma tidak langsung membawa cobek itu, melainkan masih menambahkan tiga buah cabe rawit kemerahan dan mulai menggerusnya bersama bumbu yang sebelumnya telah jadi.
"Ayo, makan rujak buah!" ujar Ma sambil membawa cobek berisi ulekan bumbu, mendekat ke tempat duduk Anjani dan Meli.
"Iyeee ...!" seru Anjani dan Meli bersamaan.
Buah nanas yang laku keras, hingga habis lebih dulu dicocol dengan bumbu pedas. Buah kedondong, mangga muda, dan pepaya dilahap setelah warna kuning nanas tidak lagi berbekas. Manis, agak asin, hingga pedas, semua terasa sedap memanjakan lidah. Kata 'hu-ha-hu-ha' tertutur spontan di sela aktivitas menyantap rujak buah.
"Hah, pedas!" ujar Meli sambil mengibas-ngibaskan tangan ke arah lidahnya.
"Aku ambil minum dulu," kata Anjani sambil berlarian kecil menuju teko.
Meli dan Ma masih setia menyantap rujak buah, meski rasa pedas mulai menggila. Anjani kembali dengan membawa tiga gelas berisi air putih, dan langsung tandas begitu gelas-gelas itu sampai di tangan Ma dan Meli.
Petok-petok-petok
Tiba-tiba saja terdengar bunyi ayam betina. Suara ayam itu bukan berasal dari luar rumah, melainkan dari dalam rumah. Begitu mendengar suara ayam betina, Ma segera menyelidik dan mencari sumber suara. Sementara itu, Anjani dan Meli membuntut di belakang Ma.
Semakin lama suara ayam betina terdengar semakin jelas. Ma semakin bersemangat mendekat ke sumber suara. Dan ... ketemu. Rupanya suara ayam itu berasal dari kamar Anjani.
"He, Anjani. Bisa kau jelaskan kenapa bisa sampai ada ayam di dalam kamar kau," pinta Ma.
__ADS_1
Anjani dan Meli sikut-sikutan, seolah sedang berunding siapa yang akan menjelaskan. Hingga pada akhirnya Meli memilih untuk tetap menunduk memperhatikan lantai, tetap diam saja meski Anjani menggoyang-goyangkan lengan kirinya. Tidak ada pilihan lain bagi Anjani selain segera menjelaskan pada Ma.
"I-itu besok mau Anjani bawa ke kota Ma. Kasihan si Miko di kandang sendirian. Pasti dia senang kalau Anjani bawakan oleh-oleh pendamping hidup," jelas Anjani.
"Aduh-duh-duh. Jangan-jangan ayam ini kau beli dari ayahnya Juno, ya?" tanya Ma sambil geleng-geleng kepala.
Anjani hanya nyengir sebagai jawabannya. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, Ma sudah mengerti. Ma pun mengizinkan Anjani membawa ayam betina itu ke kota.
"Tapi kau bawa keluar dulu ayam kau itu. Nanti meninggalkan jejak kotoran di dalam rumah," jelas Ma.
"Iya-iya," jawab Anjani sambil melangkah ke dalam kamar mengambil ayam betinanya.
***
Malam hari di rumah Juno
Ken dan Dika baru saja membantu ayah Juno membawa rumput-rumput untuk pakan sapi. Rumput-rumput itu baru saja dikirim oleh tetangganya agar saat pagi tidak bingung mencari rumput lagi. Tentu saja ayah Juno akan memberi bayaran atas pakan-pakan itu, dan memang sudah menjadi kebiasaan sehari-sehari.
Ayah Juno langsung pamit lagi untuk keluar rumah. Biasa, tugas kepala desa juga memantau kegiatan warga desanya. Ada tempat yang harus dikunjungi ayah Juno malam itu. Sebelum pergi, ayah Juno berpesan agar Ken dan Dika santai saja menikmati kopi tubruk yang baru saja dibuat dan telah terhidang di atas meja.
Ken yang lebih dulu menyeruput kopi bagiannya, disusul oleh Dika, kemudian Juno. Obrolan ringan pun menyertai suasana santai malam itu.
"Jun, kalau boleh tahu ibumu mana?" tanya Ken.
"Eh, aku belum pernah cerita ya, Mas. Ibuku kan sudah tiada sejak setahun lalu," jelas Juno.
"Ups, sorry. Aku nggak bermaksud mengingatkanmu. Oke, kita bahas yang lain saja," kata Ken.
Beberapa menit berlalu tanpa obrolan. Juno, Ken, dan Dika larut dalam pikirannya masing-masing sambil menikmati kopi tubruk buatan ayah Juno.
Drrt .... Drrt .... Drrt ....
Smartphone Juno bergetar. Ada panggilan masuk dari Anjani. Begitu melihat nama Anjani di layar smarphone-nya, betapa girang hati Juno. Jarang-jarang Anjani mau menelepon Juno lebih dulu. Bisa dihitung dengan jari berapa kali Anjani menghubunginya.
"Mas Ken, Anjani telepon. Sst-sst, semuanya diam. Aku angkat dulu," tutur Juno.
"Yaelah girang banget, sih. Kalau yang telepon kepala desa baru aku girang," kata Dika menanggapi reaksi Juno yang kegirangan saat ditelepon Anjani.
"Dika, ayahku kepala desa dan saat ditelepon aku biasa saja," jelas Juno dengan nada santai.
"Hahaha, oke-oke aku kalah. Cepat angkat teleponnya!" sahut Dika.
Juno mengangkat telepon dari Anjani. Awalnya Juno mengira Anjani hanya akan basa-basi, tapi dugaan itu salah. Sesaat setelah Juno menerima teleponnya, Anjani langsung berkata singkat, padat, dan jelas.
"Juno, aku kembali ke kota besok bersama teman-teman yang lain. Kalau kamu mau kembali ke kota besok, ayo bareng. Kalau masih mau lebih lama di desa, ya silakan saja. Hanya itu yang mau kusampaikan. Da!" kata Anjani via telepon.
Tut-tut-tut
Sambungan telepon terputus sebelum Juno menanggapi perkataan Anjani. Meski seperti itu, Juno tidak kesal. Justru Juno tersenyum, hingga membuat Ken dan Dika penasaran sekaligus terheran.
"Besok Anjani kembali ke kota bareng kalian," kata Juno sembari mengirim pesan balasan untuk Anjani.
__ADS_1
"Jadi itu yang membuatmu senyum-senyum sendiri? Senang Anjani balik ke kota?" tanya Dika.
"Bukan itu. Aku hanya senang karena Anjani mau meneleponku lebih dulu dan berkata sepanjang itu," terang Juno sambil tetap tersenyum.
Ken dan Dika kompak saling tatap. Mereka terheran dengan jawaban yang diberikan Juno. Ken dan Dika sampai berandai-andai melihat itu. Andai suatu saat nanti Juno dan Anjani jadian, mungkin rasa senang Juno sudah tidak dapat diekspresikan lagi dengan wajar.
"Jun, sepertinya kau masih belum bisa move on dari perjodohan itu, ya?" tanya Dika.
"Bisa jadi begitu," jawab Juno.
"Kalau beneran masih ada rasa sama Anjani, sainganmu berat loh, Jun. Ma-ri-o. Seorang Mario Dana Putra idola kampus, Bro! Ya, meskipun belum pasti juga mereka berdua ini sama-sama punya rasa atau tidak," terang Ken.
Ken tidak asal bicara. Dia berkata sesuai fakta. Beberapa kali dia mendapati tingkah tak biasa Mario terhadap Anjani. Sebaliknya, dia pun merasa Anjani juga bertingkah tidak biasa, terlihat jelas dari rasa kesal yang dilampiaskan Anjani pada kopi dan gorengan saat di warung kopi pagi tadi. Di luar itu semua, tidak ada yang tidak mungkin. Mario tampan, sedangkan Anjani dalam balutan serba sederhananya terlihat manis. Cocok-cocok saja jika keduanya bersama.
Juno tidak langsung menanggapi. Dia meletakkan cangkir kopi bagiannya, kemudian melangkah ke dekat pot bunga. Ada tanaman mawar putih tumbuh subur dalam pot itu. Mawar yang telah mekar masih setangkai, tapi itu cukup membuatnya teringat wajah manis Anjani.
"Anjani yang kukenal, dia sulit untuk jatuh hati. Sepertinya Mas Mario juga memiliki masalah yang sama dengan hatinya. Aku yakin masih memiliki kesempatan. Kalaupun harus bersaing, dengan senang hati aku akan melakukannya," kata Juno dengan penuh keyakinan diri.
Ken berdiri di samping Juno. Beberapa kali Ken menepuk-nepuk punggung Juno, tanda memberi semangat. Mario dan Juno sama-sama sahabat baik Ken. Ken sudah bersiap diri jika suatu saat nanti kedua sahabatnya itu akan bersaing dalam masalah hati.
"Oke-oke. Jadi, besok ikut ke kota atau tidak?" tanya Ken.
"Kalian balik duluan saja. Aku menyusul minggu depan. Oh ya, jangan lupa oleh-oleh dari ayahku dibawa juga," tutur Juno mengingatkan.
"Mantap!" sahut Dika bersemangat.
***
Sementara itu di rumah Ma
"Uh! Kenapa banyak awan mendung, sih! Bulannya jadi nggak kelihatan, deh!" ujar Anjani.
Sambil menguap, Meli berjalan mendekati Anjani. Sudah semakin malam, tapi Anjani belum juga berniat untuk tidur di kamarnya. Meli tidak terganggu dengan suara gaduh yang keluar saat Anjani mengeluh. Meli hanya khawatir sahabatnya itu akan bangun kesiangan lagi.
"Ngapain, sih?" tanya Meli sambil duduk memperhatikan Anjani yang terus-terusan melihat ke arah langit.
"Aku mau melukis senyum di wajah bulan, Mel. Dari tadi nggak bisa karena bulannya tertutup awan. Tuh!" ujar Anjani.
Meli menguap sekali lagi. Dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud Anjani. Beranjak dari tempat duduknya, kini dia berdiri di samping Anjani dan ikut-ikutan melihat ke arah langit.
"Siapa yang ngajarin, sih?" tanya Meli penasaran.
"Mario," jawab Anjani singkat.
"Oh, Kak Mario ternyata. Pantas. Dahlah, aku tinggal tidur saja!" ujar Meli sambil melangkah masuk ke dalam rumah.
"Loh, Mel. Kok malah masuk lagi, sih!" protes Anjani.
Merasa bosan melihat awan mendung yang tidak kunjung hilang, Anjani pun menyusul langkah Meli masuk ke dalam rumah. Anjani masuk kamar, tarik selimut, dan tidur.
Dasar curang! Tanpa izin, Mario telah menyusup masuk memenuhi ruang hatiku. Uh! batin Anjani.
__ADS_1
***