
Leon membanting pintu mobil dengan kasar. Berkacak pinggang sembari mengumpat asal. Leon baru saja kembali dari ruko sepatu Mario. Dia geram karena tidak mempunyai celah untuk melakukan aksinya.
"Anjani tidak boleh bersatu dengan Mario," gumam Leon.
Leon selalu kalah dari Mario dalam hal apa pun. Leon sudah mendengar posisinya akan digantikan oleh Mario. Leon sendiri enggan dikalahkan lagi dalam urusan hati. Leon sudah sedari dulu menaruh hati pada Anjani. Sedari pertemuan pertamanya di dalam bus, ketika dia duduk berdampingan di bangku bus yang sama dengan Anjani.
Hanya saja kesempatan yang dimiliki Leon berbeda. Waktu Leon banyak terkuras untuk perusahaan, mengembangkan bisnis, hingga tidak punya banyak kesempatan untuk mendekati Anjani. Pernah sekali Leon berhasil menggagalkan pernikahan Mario-Anjani dengan mengandalkan isu dan kelemahan John. Kali ini, Leon berencana kembali menggagalkan pernikahan Mario Anjani.
"Cih. Kenapa juga Vina menolak bekerjasama? Pasti karena bule tajir yang dijodohkan orangtuanya. Dasar matre!" umpat Leon, ngomel-ngomel sendiri di parkiran.
Leon memutar otak. Dia tidak berniat lagi menjadikan John sebagai umpan. Leon telah tahu bahwa John telah tobat untuk tidak selingkuh-selingkuh lagi.
Tetiba saja terbersit sebuah ide gila sekaligus licik. Leon yang begitu mudahnya mendapat info karena uang dan kuasanya, seketika berniat menggagalkan pernikahan Mario-Anjani dengan menjadikan Rangga sebagai umpan.
"Rangga. Mau tidak mau, kamu harus masuk dalam permainan licikku. Hahaha," tawa Leon sudah seperti penjahat yang sering muncul di televisi.
***
Hari berganti. Dua hari sudah Anjani tidak bisa bertemu dengan Mario. Anjani hanya bisa mengobrol via telepon. Anjani memaklumi kesibukan calon suaminya itu.
"Alhamdulillaah. Hari ini ruko rame banget. Untung jadwal kuliah hanya ada satu, tanpa ada tugas pula." Meli senyum-senyum sambil menatap layar komputer di meja kasir.
"Mau VC Mas Azka?" tanya Anjani.
"Boleh?" Meli girang.
"Ya boleh, dong. Biasanya kamu juga langsung VC tanpa izin. Hehe, sana VC gih!" suruh Anjani sambil mengedipkan sebelah matanya.
Meli menghambur cepat dan memeluk sahabat baiknya, Anjani. Sedari tadi Meli memang ingin segera VC, memberi semangat suaminya yang tadi pagi menemui dosennya untuk bimbingan tesis. Ternyata kesempatan itu datang sore hari.
Salam dan sapaan sayang dari Meli untuk sang suami mulai terdengar. Anjani hanya senyum-senyum mendengar kata romantis Meli pada suaminya. Anjani berharap bisa seromantis Azka-Meli saat dirinya sudah menikah dengan Mario nantinya.
Sepuluh menit berlalu, Meli sudah memberi tanda akan mengakhiri VC-nya dengan Azka.
"Tunggu foto pernikahan Mario-Anjani ya, Mas. Mereka otewe SAH," terang Meli pada Azka.
Mendengar itu membuat Anjani spontan menoleh. Yang ditoleh justru semakin terkekeh.
"Mas Azka nggak perlu datang ke Jember saat pernikahan Mario-Anjani. Sudah dapat izin khusus. Mas Azka fokus saja sama tesisnya, ya. Mas Azka apa nggak ingin segera berduaan lagi sama aku? Kalau tesisnya selesai dan Mas Azka wisuda kan jadi bisa ketemu." Nada bicara Meli terdengar manja.
Anjani geleng-geleng kepala melihat sikap manja Meli pada suaminya. Lagi-lagi Anjani malah berangan-angan bisa bermanja-manja dengan Mario setelah mereka berdua sah nanti.
"Duh, Anjani. Sadar! Jangan membayangkan yang macam-macam," lirih Anjani menyadarkan dirinya sendiri.
"Uuum. Seneng deh lihat Mas Azka semangat kayak gini. Meli selalu berdoa untuk kelancaran tesisnya Mas Azka. Udahan dulu ya, Mas. Disambung lagi kalau Mas Azka senggang. Jangan ingat Meli teruuuus. Ingat makan juga kalau lagi laper. Hihi. Assalamu'alaikum." Video Call berakhir.
Satu yang ada di benak Anjani. Azka dan Meli sungguh membuat iri siapa saja yang mendengar obrolan mesra mereka.
"Sengajaaaa," kata Meli tiba-tiba.
"Sengaja apanya?" tanya Anjani heran.
"Sengaja bikin kamu baper lihat aku sama Mas Azka. Hihiii." Tawa Meli terdengar renyah.
"Iiih. Jahil banget yaa. Awas aja kalau aku udah sah. Kubalas nanti," canda Anjani.
Meli kembali terkekeh. Dia senang melihat ekspresi bakal calon manten. Meli sungguh ingin melihat Mario-Anjani sah.
Rangga menghampiri Anjani dan Meli. Dia baru saja mendapat telepon dari salah satu staf anak perusahaan John, tempat Leon dan Alenna bekerja.
"Mas Rangga disuruh ke sana? Tumben? Bukankah biasanya stok sepatu selalu dikirim langsung dari pabrik mereka?" Anjani sedikit heran dengan penjelasan Rangga.
"Nah itu juga aku tidak tahu. Aku cuma disuruh ke sana untuk pembahasan seputar stok sepatu yang dikirim ke ruko ini," terang Rangga.
Anjani merasa ada yang aneh. Setahu Anjani, biasanya Mario sendirilah yang mengurus hal itu. Mario tinggal meminta data stok dari Rangga, dan langsung menembusi sendiri kepada Alenna dan staf lain yang ada di perusahaan itu.
"Aku ikut, Mas. Lagipula Mas Rangga belum tahu kantor mereka di mana, kan?" Anjani mau ikut.
Rangga cengar-cengir. Dirinya memang tidak pernah ke sana. Kebetulan sekali Anjani meminta ikut.
"Mel, kamu tunggu di sini," pinta Anjani.
"Eh, yakin mau berangkat sekarang? Bukankah ini sudah mendekati waktunya jam pulang kantor? Sudah sore lho," terang Meli.
Anjani tidak kepikiran soal itu.
"Mas Rangga disuruh ke sana kapan?" tanya Anjani.
"Katanya sih sekarang," jelas Rangga.
Anjani semakin merasa ada yang aneh. Pikirannya ke mana-mana.
"Oke. Kita ke sana sekarang!" ajak Anjani.
__ADS_1
Rangga mengangguk. Meli berpesan pada Anjani untuk hati-hati. Meli tidak bisa menemani karena tidak ada yang bisa menggantikan dirinya menjaga di toko. Di sana memang ada Dika dan Ken, tapi keduanya sama-sama sibuk mengurus orderan via olshop.
Berangkatlah Anjani dan Rangga. Dua motor menelusuri jalanan kota. Menuju anak perusahaan tempat Leon dan Alenna bekerja. Sebelum keberangkatannya, Anjani sempat mengirim pesan pada Mario untuk segera menyusulnya.
Benar kata Meli. Sesampainya Anjani dan Rangga di tempat tujuan, banyak karyawan yang sudah mulai pulang. Kebetulan bagian resepsionis masih berkemas, sehingga Anjani bisa bertanya.
"Silakan langsung ke lantai sembilan. Pak Leon tadi berpesan agar tamunya bisa langsung menemuinya di sana," terang petugas.
Anjani mengangguk. Dia lekas memanggil Rangga yang hendak menuju anak tangga.
"Pakai lift, Mas." Anjani menunjuk pintu lift.
"Waduh. Aku nggak pernah naik lift. Takut!" Rangga jujur.
"Eh? Mas Rangga takut pasti belum pernah coba. Lift-nya aman, kok. Ayo!" ajak Anjani.
Rangga menurut. Dia mengekori Anjani. Ini adalah pertama kalinya dia naik lift. Rangga bahkan menyerukan "bismillaah" dengan keras saat merasakan lift berjalan.
Sementara itu di lantai sembilan. Leon terlihat antusias setelah mendapat telepon dari resepsionis di bawah. Rencananya mulai berjalan mulus.
"Sudah kuduga Anjani akan sukarela untuk ikut dengan Rangga." Leon tersenyum licik.
Lantai sembilan bukanlah ruang kerjanya. Itu adalah ruang pertemuan dengan meja oval besar dan tempat duduk berjajar melingkar. Lantai sembilan begitu sepi. Hanya ramai saat digunakan untuk pertemuan saja, dan pertemuan di hari itu selesai saat menjelang siang tadi. Sorenya, ruangan itu kosong.
Leon menunggu Anjani dan Rangga di depan lift. Dengan sabar dia menunggu sosok keduanya.
"Selamat sore, Rangga. Dan ... Anjani. Lama kita tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu?" tanya Leon.
"Baik," jawab Anjani singkat.
"Au. Sepertinya sudah terlalu lama kita tidak bertemu hingga kamu kembali menampakkan sikap dingin itu," terang Leon sembari tersenyum.
Anjani sungguh tidak ingin berlama-lama. Dia segera meminta Leon menjelaskan keperluannya hingga meminta Rangga datang. Leon pun mengajak Anjani dan Rangga masuk ke dalam ruangan pertemuan.
"Kita sedikit membahas kerjasama ruko dengan perusahaan. Em, memang sih Mario punya hak dan andil lebih di sini. Tapi, tetap saja yang namanya kerja sama tetaplah kerjasama. Aku berniat menawarkan kerjasama baru sehingga membuat ruko bisa untung lebih besar," terang Leon, omong kosong.
"Seharusnya Mario yang lebih berhak kau ajak berdiskusi. Bukannya Mas Rangga," terang Anjani.
"Ayolah Anjani. Kamu tahu sendiri kan kesibukan Mario. Berulang kali bahkan dia ke luar kota menengok cabang lainnya bersama sang ayah. Lagipula Mario pernah bilang padaku, bahwa Rangga adalah tangan kanannya. Kalau ada yang perlu didiskusikan, Mario bilang aku bisa meminta Rangga." Leon menerangkan.
Ya. Mario pernah berkata seperti itu beberapa hari lalu. Mario tidak menyebut Anjani di depan Leon. Mario tidak ingin Anjani berurusan dengan Leon. Akhirnya, Ranggalah nama yang saat itu disebut Mario.
"Baiklah. Kerjasama apa?" tanya Anjani tanpa basa-basa lagi.
Anjani pun mengangguk. Dia melihat Rangga meminum teh di depannya sampai habis.
"Mas Rangga haus?" tanya Anjani.
"Cuma masih deg-degan habis naik lift tadi. Ini masih tegang." Rangga jujur.
"Pantes dari tadi diam saja. Minum bagianku juga." Anjani menyodorkan cangkirnya.
"Lah kamu nggak minum?" tanya Rangga.
"Insya Allah lagi puasa, Mas." Anjani memang sedang berpuasa di hari itu.
Rangga mengangguk. Tanpa sungkan lagi dia meneguk teh bagian Anjani.
Leon begitu lama meninggalkan Anjani dan Rangga. Dia berdiam diri di ruangannya. Menunggu efek samping dari obat perangsang yang sudah dia bubuhkan ke dalam teh. Leon juga sudah memasang kamera tersembunyi di ruang pertemuan. Dia juga sudah menyuruh seseorang mengunci ruang pertemuan begitu mendengar teriakan tolong.
"Rangga, Anjani. Selamat menikmati kehangatan di dalam sana. Hahaha." Dasar Leon gila.
Begitu lama Anjani dan Rangga menunggu di ruangan itu. Anjani mulai kesal dan bosan menunggu. Anjani tidak menyadari keanehan yang dirasakan Rangga pada tubuhnya.
Rangga merasa tubuhnya mulai panas. Seketika hasrat untuk bercinta memuncak. Rangga menahan dirinya. Dia tidak ingin membuat Anjani panik.
"Aku susul Leon dulu. Mas Rangga tunggu di sini," tegas Anjani tanpa menengok ke arah Rangga.
Anjani keluar ruangan dengan kesal. Anjani berniat menyusul Leon ke ruangannya. Karena Anjani tidak tahu di mana ruangannya, dia memutuskan bertanya pada resepsionis di depan. Kebetulan juga Anjani tidak menyimpan nomor Leon.
Rangga gelisah. Dirinya lega Anjani sudah keluar dari ruangan itu. Namun, Rangga sungguh tidak bisa mengontrol dirinya. Keinginan itu sudah memuncak. Tangan kekar Rangga bahkan refleks menggebrak meja.
Di saat yang bersamaan. Alenna mendekat ke ruang pertemuan. Dia memutuskan untuk ke ruangan itu setelah melihat obat aneh yang tidak sengaja dilihatnya di ruangan Leon tadi. Fokus Alenna langsung tertuju pada ruang pertemuan karena tadi siang Alenna melihat Leon masuk ke sana. Padahal Alenna tahu betul siang hari itu tidak ada agenda pertemuan lagi.
"Mas Rangga," lirih Alenna begitu melihat Rangga duduk di salah satu kursi.
Alenna lekas masuk ke dalam ruangan itu. Tanpa dia sadari pintu ruangan sudah dikunci. Orang suruhan Leon rupanya salah melaksanakan instruksi. Kini, Alenna dan Rangga terkurung berdua di ruangan itu.
"Alenna, tolong jangan mendekat!" cegah Rangga yang sudah seperti orang frustasi.
Gerak-gerik Rangga membuat Alenna sadar bahwa Ranggalah yang menjadi korban obat yang diberikan Leon. Dalam hati Alenna mengutuk Leon dan berjanji akan membuat perhitungan dengannya.
"Mas Rangga baik-baik saja?" tanya Alenna memastikan kondisi Rangga.
__ADS_1
"Jangan mendekat Alenna!" teriak Rangga. Dia sudah frustasi.
Langkah Alenna terhenti mendengar teriakan itu.
"Panas sekali!" seru Rangga.
Rangga membuka kaos yang dipakainya. Lengan kekarnya terlihat. Dada bidangnya terekspos jelas. Alenna terpana melihat tubuh gagah Rangga.
Rangga melangkah ke pojok ruangan, menjauhi Alenna. Dia membentur-benturkan kepalanya. Berharap dengan benturan keras dirinya bisa tersadar.
"Mas Rangga jangan menyakiti diri! Tenang!" Alenna panik.
"Menjauh Alenna! Aku tidak ingin menyentuhmu!" teriak Rangga.
Deg!
Hati Alenna tertohok. Dia salah mengartikan perkataan Rangga. Sebenarnya Rangga hanya berniat mencegah Alenna tidak dekat-dekat agar tidak dimakan olehnya. Namun, Alenna justru mengartikan bahwa Rangga tidak ingin menyentuhnya karena masih memiliki rasa pada calon istri kakaknya, Anjani.
"Aku tidak bisa melihatmu seperti ini, Mas. Aku akan membantumu menuntaskan rasa yang saat ini kau tahan," tutur lembut Alenna.
Alenna mendekat. Rangga makin frustasi melihatnya. Begitu Alenna sudah di dekat Rangga, lekas direngkuhnya tubuh gagah Rangga yang selama ini memang menggoda dirinya.
Tangan Alenna gesit menekan kepala Rangga ke arahnya hingga menyatukan bibir mereka. Rangga yang sudah tidak tahan lagi pun menyambut Alenna. Dibalasnya perlakuan lembut Alenna dengan sedikit kasar. Tidak berlangsung lama, tiba-tiba ....
Brak!
"Rangga, Alenna!" teriak Mario yang sukses mencongkel pintu dan mendobraknya.
Mario menghantam tubuh Rangga di titik lemahnya. Satu pukulan, Rangga pun pingsan.
"Apa yang kau lakukan, ha?" Alenna tidak terima dengan perlakuan kakaknya pada Rangga.
"Aku yang harusnya berkata demikian. Apa yang kamu lakukan? Ibadahmu kendor. Ngajimu bolong-bolong. Sekarang kau bahkan mulai bersikap tidak sewajarnya. Sadarlah Alenna!" seru Mario pada adiknya itu. Mario emosi.
Alenna menatap sang kakak dengan tajam. Alenna tidak sepenuhnya salah. Leonlah yang lebih pantas disalahkan karena sudah berani membuat jebakan.
"Sejauh mana Rangga sudah menyentuhmu?" tanya Mario tegas.
Anjani yang berada di samping Mario berusaha menenangkan. Anjani sungguh tidak ingin melihat Alenna dibentak-bentak.
"Mas Rangga tidak bersalah. Leon dalangnya!" Alenna berseru tak kalah tegasnya.
"OK. Aku pastikan mulai besok kamu dipindahkerjakan di induk perusahaan ayah. Di Jakarta sana." Mario memutuskan sepihak.
"Tidak mau!" tolak Alenna.
"Tidak ada penawaran lagi, Alenna. Jauhi Rangga. Jernihkan pikiranmu. Perbaiki sikapmu, terutama ibadahmu!" tegas Mario lagi. "Dan Leon, akan kubuat perhitungan denganmu!" imbuh Mario.
Mario memerintahkan dua security untuk membawa Rangga ke rumah sakit. Dua security lainnya diminta untuk menangkap Leon. Sementara itu, Mario gesit mengedarkan pandangan ke ruangan pertemuan itu.
"Ketemu," kata Mario sembari mengambil benda kecil lalu menyimpannya.
Mario melenyapkan alat perekam yang dipasang Leon. Tidak hanya satu, tapi tiga.
Alenna memperhatikan kakaknya dalam diam. Dalam hati, Alenna mulai tersadar dan menyesal atas sikap tak patutnya pada lelaki baik-baik seperti Rangga. Perlahan air mata Alenna menetes.
Anjani peka dengan perasaan wanita. Gerak cepat, Anjani memeluk Alenna. Membiarkan calon adik iparnya itu menangis dan bersandar di bahunya.
"Ayah pasti dengan mudahnya menuruti permintaan Mario. Aku tidak ingin ke Jakarta," lirih Alenna di sela isak tangisnya.
"Sst. Saranku, turuti saja! Demi kebaikanmu," tutur lembut Anjani.
"Jika aku ke Jakarta, apa Mas Rangga akan baik-baik saja?" tanya Alenna.
Anjani sungguh tidak paham apa yang sebenarnya dimaksud Alenna. Apa pun itu, Anjani memutuskan hanya mengangguk.
"Anjani, segera pulang! Aku tidak tahu Leon punya rencana apa lagi. Dialah dalang dari gagalnya pernikahan kita sebelum ini. Vina yang memberitahuku tadi pagi. Anehnya, adikku sendiri bahkan menyembunyikan hal sepenting ini dariku!" celetuk Mario.
Deg!
Alenna sungguh tak menduga bahwa Mario tahu fakta itu dari Vina. Alenna bahkan masih menyimpan fakta itu rapat-rapat.
"A-aku tidak berniat menyimpan fakta itu." Alenna mencoba menjelaskan. Posisinya semakin terpojok saja.
"Tidak perlu dijelaskan lagi, Alenna. Kuatur jadwal penerbanganmu ke Jakarta, besok!" tegas Mario kemudian berlalu pergi menuju Leon yang sudah diringkus security.
Alenna mematung. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Alenna mengalah. Dia akan menuruti keputusan kakaknya untuk pindah ke Jakarta.
Bersambung ....
Khayalan author kali ini agak berat. Hehe. Semoga suka dan mohon dukungannya, ya. Hayuuuuuk, para penggemar Azka-Meli, segera meluncur ke novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami, ya. 😉
__ADS_1