CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Bertamu Pagi-pagi


__ADS_3

Hari pertama liburan di desa berjalan lancar dan benar-benar menyenangkan, terutama bagi Anjani. Pagi hari, aroma kesejukan dan keramahan desa menyapa. Siang hari, ayunan pohon kersen menorehkan kisah yang akan dikenang, dan semakin seru karena kehadiran wanita jadi-jadian. Malam hari, melukis senyum bulan sabit menjadi pengalaman yang akan membekas dalam ingatan. Beruntungnya, malam itu Anjani bisa bersama Mario menikmati pesona sang bulan dan berkesempatan menyaksikan sisi lain dari seorang Mario.


Hari kedua liburan semester, Anjani dan teman-temannya masih berada di tempat yang sama, dengan disuguhkan suasana khas desa. Juno, Ken, Dika, juga Mario telah terbangun bahkan sebelum ayam-ayam berkokok. Entah apa yang mereka lakukan sepagi itu. Yang jelas, mereka saat ini sudah duduk di ruang tamu rumah Anjani. Ada Ma dan Meli yang menyambut mereka. Akan tetapi, di mana Anjani?


Tok-tok-tok


"Anjani, bangun!" teriak Ma sambil menggedor pintu kamar Anjani.


Tidak ada sahutan suara dari dalam kamar Anjani. Ma menduga anak gadisnya kelelahan hingga tertidur nyenyak. Sekali lagi Ma mencoba menggedor pintu kamar Anjani. Namun, gedoran pintu yang kedua masih belum mendapat respon apa pun dari Anjani. Jiwa seorang ibu pada diri Ma kian membara. Ma tidak mengizinkan rasa malas mengakar pada diri anak gadisnya, takut menjadi kebiasaan buruk. Sesaat kemudian Ma mencoba menggedor kembali pintu kamar Anjani.


Tok-tok-tok


"Anjani .... Anak gadis bangunnya siang? Belum layak kau jadi istri orang kalau begini. Cepat bangun!" teriak Ma sambil kembali menggedor pintu kamar Anjani.


"Iya, Ma. Ini aku bangun!" ujar Anjani sedikit berteriak sambil melangkah untuk membuka pintu kamarnya. "Maaf, Ma. Semalam aku insomnia. Jadi .... Aaaa!"


Brak!


Pintu kamar Anjani kembali ditutup. Baru saja dia melihat teman-temannya sudah berkumpul di ruang tamu rumahnya. Kebetulan kamar tidur Anjani ada di bagian depan, dan pintu kamarnya dekat dengan ruang tamu. Saat Anjani membuka pintu karena mendengar gedoran dan teriakan Ma, tentu saja dia langsung bisa melihat jelas teman-temannya sedang duduk di sofa. Begitu pula dengan teman-teman Anjani, mereka juga bisa melihat jelas wajah dan penampilan Anjani saat bangun tidur.


Duh! Kenapa pakai acara kesiangan segala, sih. Malu .... batin Anjani.


"Jangan lama-lama, ya! Ditunggu teman kau, nih!" teriak Ma sekali lagi.


Anjani masih mengondisikan rasa terkejut pada dirinya. Setelah satu tarikan dan hembusan nafas panjang, Anjani bergegas merapikan rambutnya, membersihkan kotoran di sudut matanya, menyiapkan pakaian bersih, lalu membalutkan handuk untuk menutupi bagian kepala terutama wajahnya. Selesai dengan itu semua, Anjani membuka pintu kamarnya dan melangkah cepat menuju kamar mandi yang terletak persis di sebelah dapur. Dan ... setelah lima belas menit berbenah penampilan diri, Anjani kini telah siap menemui teman-temannya di ruang tamu.


Anjani sudah nyengir lebih dulu sebelum duduk di antara teman-temannya. Meli menyodorkan segelas air minum untuk Anjani dengan alasan agar lebih terlihat segar, meski pada kenyataannya kesegaran sesudah mandi masih melekat. Akan tetapi, Anjani menerima minuman dan alasan Meli. Anjani bergegas menghabiskan segelas air minum itu, meletakkan gelas kosongnya, kemudian kembali nyengir.


"Maaf, ya teman-teman. Aku kesiangan, hehe," kata Anjani, tapi sepertinya tidak ada yang mendengarnya karena tuturan Anjani dibuat lirih. "Sst, Meli. Aku masih malu, nih. Baru bangun langsung lihat teman-teman main tamu-tamuan. Kenapa nggak dibangunin, sih!" bisik Anjani pada Meli yang duduk di sebelahnya.


"Sudah dua kali kugedor pintu kamarmu, Anjani. Kamu nggak ada respon. Akhirnya, Ma yang turun tangan membangunkanmu, deh. Tenang, teman-teman nggak ada yang bahas, kok. Aman!" ujar Meli meyakinkan Anjani dengan ikut-ikutan berbisik.

__ADS_1


Anjani memperhatikan Mario yang duduk di sebelah Ma. Mario terlihat tersenyum ramah dan bersikap sopan. Ma juga terlihat semangat saat mengobrol dengan Mario. Senyum Anjani mengembang melihat itu. Berpindah lagi, kini Anjani melihat Juno yang sedang membukakan daun pembungkus kue nagasari, kemudian memberikannya pada Ma dengan sopan dan ramah. Berpindah lagi, Anjani melihat dua temannya yang duduk di sebelah Juno, ada Ken dan Dika yang asyik lomba makan kue kucur buatan Ma semalam.


Semakin lama Anjani memperhatikan teman-temannya, semakin sadar ada sebuah keanehan terjadi di sana. Sejak Anjani duduk di sofa, hanya Meli yang menghiraukan keberadaan dirinya. Sementara teman-teman lainnya sibuk sendiri, bahkan lebih memilih ngobrol bersama Ma.


"Hei, teman. Apa kalian tidak berniat menyapaku pagi ini?" tanya Anjani dengan suara yang sengaja sedikit dikeraskan.


Mario, Juno, Ken, dan Dika, langsung terdiam dan melihat ke arah Anjani. Bahkan, Ma juga ikut-ikutan berhenti mengunyah kue nagasari. Tiba-tiba Meli yang sedari tadi duduk di sebelah Anjani tertawa sambil setengah menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


"Anjani minta disapa, tuh! Ayo, sapa!" pinta Meli sambil menahan tawanya.


"Selamat pagi, Anjani," sapa semua teman Anjani dengan kompak, kemudian mereka tertawa. Lebih tepatnya menertawakan ekspresi Anjani saat tadi pagi kaget melihat kedatangan mereka.


"Drama pagi, ya?" tanya Anjani, kemudian dia ikut-ikutan tertawa.


Suasana pun kembali seperti semestinya. Saling menyapa, saling gurau, dan saling sindir menjadi hal yang membuat acara pagi itu begitu menyenangkan. Sesekali ada obrolan dan cerita tentang kehidupan kota, juga kegiatan saat kuliah.


Meli sempat menceritakan kebaikan Kak Lisa dan toko bunganya. Cerita Meli membuat Ma mendadak ingin menanam mawar di halaman depan rumah. Semangat Ma untuk memenuhi halaman depan rumah dengan tanaman mawar rupanya mendapat dukungan dari teman-teman Anjani yang lain.


"Anjani, kenapa tak pernah cerita kau tentang nilai kuliah, he?" tanya Ma tiba-tiba.


"Ehehe .... Nilainya lumayan," jawab Anjani.


"Lumayan bagus atau lumayan jelek?" tanya Ma lagi.


"Bagus kok, Ma. Aku sama Anjani kan tutor sama Kak Mario. Iya kan, Kak?" tanya Meli pada Mario. Dia ingin mendapat pembenaran atas perkataannya barusan.


"Iya," jawab Mario singkat.


"Mas Mario, kalau gitu semester depan aku sama Dika ikutan tutor juga," sahut Juno.


"Betul," kata Dika membenarkan permintaan Juno.

__ADS_1


Suasana kembali riuh. Juno dan Dika terus-terusan meminta tutor pada Mario. Sementara itu, Mario terus-terusan menolak. Rupanya Ken sedikit terusik dengan permintaan Juno dan Dika.


"Hei, kalian berdua. Kenapa tidak minta aku saja untuk mengajari kalian materi kuliah? Nilaiku tidak kalah bagus, kok. Cuma ada satu nilai B, sedangkan mata kuliah yang lain dapat nilai A. Gimana? Mau nggak?" tanya Ken sambil membanggakan dirinya.


"Tidak," jawab Juno dan Dika bersamaan.


"Ahaha, langsung ditolak, Bro. Its okey. Aku baik-baik saja. Sungguh aku baik-baik saja," sahut Ken sambil acting terpuruk karena ditolak mentah-mentah.


Ma seketika tertawa lepas melihat gurauan teman-teman Anjani. Ma merasa anak gadisnya sungguh beruntung karena bisa bertemu dan berteman baik dengan mereka semua. Hati Ma juga semakin yakin, bahwa pilihan Anjani enam bulan lalu sudah tepat. Andai perjodohan itu berlangsung, belum tentu akan ditemui kebahagiaan seperti saat itu.


Teramat senang karena kedatangan dan keceriaan teman-teman Anjani, Ma berjanji akan membawakan masing-masing sekresek cabai dan jagung yang dipetik langsung dari kebunnya. Semua bersorak senang mendengar janji Ma. Anjani juga tersenyum karena Ma mau menerima teman-temannya dengan baik. Anjani bahkan menawarkan diri untuk membantu Ma memetik cabai untuk teman-temannya.


"Tidak perlu dibantu metik. Kau main saja sama teman-teman kau ini. Jauh-jauh mereka ke sini untuk liburan. Sana main air di sungai. Ajak mereka!" ujar Ma.


Sungai sepertinya menjadi daya tarik baru bagi teman-teman Anjani. Ken bahkan membahas masa lalu Mario yang sama sekali tidak pernah diizinkan untuk bermain air ke sungai. Sebagai gantinya, Mario dibuatkan kolam renang di rumahnya. Kolam renang itulah yang sering digunakan Ken untuk berenang di rumah Mario.


Fakta tentang Mario membuat Juno bersemangat untuk segera menunjukkan sungai jernih di desanya. Promosi yang disampaikan Juno tentang sungai di desanya membuat teman-teman lainnya tergoda dan ingin segera main air di sana.


"Mau berangkat sekarang?" tanya Anjani.


"Ayo!"


Semua kompak menjawab, kecuali Mario. Anjani menangkap gelagat aneh itu. Mario tidak ikut menjawab lantaran sibuk dengan smartphone-nya. Anjani sempat berusaha sedikit menggeser duduk agar bisa melihat siapa yang sedari tadi menelepon Mario. Namun, Anjani gagal melihatnya. Mario terburu-buru mematikan smartphone miliknya, kemudian memasukkannya ke dalam saku celana.


"Sst, Mel. Kamu lihat juga nggak yang barusan? Ada yang aneh dari Mario," kata Anjani. Dia mengambil kesempatan untuk berbisik pada Meli dan bertanya, sementara teman-teman lainnya sedang asyik pamit pada Ma.


"Iya, aku lihat. Siapa yang bolak-balik telepon Kak Mario, ya? Mungkin ayahnya," duga Meli. Dia ikut-ikutan berbisik.


"Nanti kita coba cari tahu," kata Anjani sambil tetap berbisik.


Jempol dan telunjuk tangan kanan Meli melingkar, sebagai kode bahwa dia setuju dengan ide Anjani untuk mencari tahu tentang fakta gelagat aneh Mario. Anjani membalasnya dengan memberikan kode yang sama. Setelah sepakat, barulah mereka berdua ikut pamit pada Ma, dan melangkah bersama menuju tempat tujuan selanjutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2