CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Modus Dikit


__ADS_3

Ken mengekori Mario dengan malas. Satu per satu anak tangga dituruni sambil berpegangan pada pembatas. Saat menuruni tangga itulah Ken melihat Vina sedang duduk di sofa. Vina terlihat asik berfoto selfie.


Ketika sudah hampir tiba di ujung tangga, tiba-tiba saja Mario berbalik badan.


"Loh-loh! Mau kemana? tanya Ken bingung.


"Kamu temui Vina. Aku ke kamar sebentar." Mario menepuk bahu Ken, kemudian melangkah santai menuju kamarnya.


"Ah! Aku lagi yang kena, deh!" protes Ken.


Meski sempat protes, Ken tetap melangkah menemui Vina di ruang tamu rumah mewah Mario.


Vina asik berfoto selfie dengan background ruang tamu rumah Mario. Gamis navy dipadu jilbab pink soft motif bunga begitu cocok dikenakan oleh Vina. Wajah ayu Vina terpoles make up tipis dengan pilihan lipstik warna nude.


"Vin," panggil Ken.


Vina menoleh tanpa menurunkan tangannya. Tangan Vina masih memegang smartphone, telah bersiap untuk potret selanjutnya.


"Ken! Lu ngapain sih ada di mana-mana? Kemarin ketemu. Tadi pagi ketemu. Sekarang ketemu lagi!" seru Vina.


"Jangan-jangan kita berjodoh," celetuk Ken sambil ikutan duduk di sofa.


"Woi! Lu lupa ya kata Pak Nizar? Ucapan itu doa. Emang lu mau ucapan lu terkabul terus lu jadi jodoh gue?" Vina nyerocos.


"Idih. Ya nggak maulah!" tegas Ken.


"Gue juga ogah. Makanya tuh mulut dijaga, dong!" Vina nge-gas.


"Hoi! Mulut lu tuh yang harusnya dijaga! Lu mau ngajak ribut gue? Ayo!" Ken berdiri sambil berlagak melipat lengan kemeja yang dipakainya.


"Lu pikir gue takut!" Vina juga berdiri dengan memasang wajah menantang.


Vina melotot. Ken juga melotot. Baik Vina ataupun Ken sama-sama berekspresi menantang dengan tangan berkacak pinggang. Keduanya masih saja mempertahankan sikap saling menantang, hingga Mommy Monika tiba-tiba datang.


"Yuhuu! I'm coming!" seru Mommy Monika sambil membawa nampan berisi empat gelas es jeruk.


Mendengar suara Mommy Monika, cepat-cepat Vina kembali duduk dengan posisi manis. Ken juga melakukan hal yang sama. Lengan kemeja Ken bahkan dirapikan lagi. Senyum manis juga disuguhkan pada Mommy Monika yang berbaik hati menghidangkan minuman untuknya.


Bersamaan dengan itu, Mario berjalan mendekat. Sebuah senyum dan salam ditujukan pada Vina.


"Mom. Kenapa ada empat gelas?" tanya Mario saat melihat empat gelas es jeruk yang dibawa Mommy Monika.


"Hihihi. Ini untuk tamu cantik ini. Yang ini untuk Ken. Mommy juga buatkan satu untuk putra kesayangan Momny," jelas Monika sambil menyerahkan segelas es jeruk untuk Mario.


"Terus, satu lagi?" tanya Mario.


"Satu lagi untuk Mommy," kata Monika sembari mengambil posisi duduk di sebelah Vina. "Mommy kan juga ingin kenal dengan teman-temanmu," imbuhnya.


Ken menahan tawanya. Mario menghela nafas panjang, kemudian lekas duduk di sebelah Ken. Mario membiarkan Mommy Monika duduk bersama mereka di ruang tamu.


"Ada perlu apa, Vin?" tanya Mario to the poin.


"Memangnya harus ada apanya, baru gue boleh ke sini?" tanya Vina.


Baru saja Mario hendak menanggapi, Ken lebih dulu menyelanya.


"Sudah jelas sekali Vina ke sini pasti ada apa-apanya. Mau mo-dus sama pemilik rumah," tuduh Ken.


"Astaghfirullah, Ken. Tega banget sih lu nuduh gue modus sama Mario!" seru Vina. "Tante Monik, Vina difinah nih!" rengek Vina.


Vina merengek sambil memegang lengan Mommy Monika yang duduk di sebelahnya.


Mommy Monika menyuruh Vina untuk tidak mengambil hati perkataan Ken. Mommy Monika juga mengatakan bahwa Ken hanya bercanda.


"Tuh, dengerin! Baperan lu!" seru Ken pada Vina.


Vina sedikit melotot pada Ken. Bibir Vina bahkan sengaja dibuat menye-menye menirukan kata-kata Ken.


"Vin. Aku banyak kerjaan. Ada perlu apa ke sini?" tanya Mario dengan nada biasa-biasa saja.


Vina tersenyum manis pada Mario. Setelahnya, tangan kanan Vina meraih paper bag berukuran sedang yang sedari tadi diletakkan di samping tempat duduknya.


Semua mata tertuju pada paper bag yang dibawa Vina. Jemari tangan Vina masih asik memperbaiki hiasan pita pada paper bag yang dibawanya.


"Apa'an tuh?" Ken kepo.


"Ish. Ini bukan buat lu!" seru Vina.

__ADS_1


Vina memberikan paper bag itu pada Mommy Monika. Senyum manis disuguhkan bersamaan dengan paper bag yang telah berpindah tangan. Mommy Monika dengan senang hati menerima paper bag dari Vina.


"Vina dengar dari Le .... Ehem. Maksud saya dari Alenna, kalau Tante Monika baru aja datang dari Jerman. Kebetulan juga nih, Daddy Vina baru aja datang dari luar negeri. Terus bawa oleh-oleh ini. Semoga suka ya Tante. Vina akan sangat senang kalau Tante suka dengan hadiah dari Vina ini," kata Vina sopan.


Hampir saja Vina keceplosan menyebut nama Leon. Ya, Vina tahu kabar kedatangan Monika dari Leon. Leonlah yang menyarankan pada Vina untuk mendekati Monika.


Mommy Monika menyukai perhatian. Oleh karenanya, Mommy Monika begitu senang menerima oleh-oleh dari Vina.


"Yaudah. Kalau gitu Vina pulang dulu ya, Tante. Biar Mario bisa melanjutkan kerjaannya," pamit Vina. "Em, es jeruknya Vina minum dulu. Bismillaahirrahmaanirrahiim."


Glek-glek-glek.


Beberapa teguk, dan tandas. Vina berdiri dan berpamitan lagi. Mommy Monika, Mario, dan Ken mengantarkan Vina hingga teras depan.


Mario dan Ken kembali ke ruang tamu lebih dulu guna menghabiskan es jeruk bagian mereka. Sementara Mommy Monika menyusul kemudian.


"Sst, Mario. Sepertinya Vina ada hati deh sama kamu," celetuk Mommy Monika saat baru saja kembali dari teras depan.


"Betul sekali, Tante!" Ken menyahuti, membenarkan.


Mommy Monika tersenyum melihat Ken yang antusias membenarkan dugaannya.


"Wajar aja banyak yang naksir. Wajah anak Mommy ini kan memang tampan, mandiri, bahkan sudah bisa mengembangkan bisnisnya sendiri meskipun masih kuliah," puji Monika.


"Bro, dipuji tuh!" Ken heran dengan sikap Mario yang biasa-biasa saja saat dipuji Mommynya.


"Hm." Kata khas Mario keluar lagi.


"Saran Mommy, nih. Kamu buru-buru nikah. Biar nggak banyak menggantungkan perasaan cewek. Kalau mereka tahu kamu sudah menikah kan nggak bakal menaruh hati lagi," saran Monika. "Ken setuju nggak sama, Mommy?" tanya Monika, berniat mencari dukungan karena Mario tidak mengiyakan.


"Setuju sekali, Tante!" Ken antusias menanggapi.


Sejenak kemudian, Mommy Monika, Mario, dan Ken sama-sama menikmati es jeruk bagiannya dengan santai. Tidak terburu-buru seperti Vina tadi.


"Ehem. Mommy mau tanya, nih. Kamu lebih memilih Vina atau Anjani untuk menjadi istrimu?" tanya Monika iseng.


Mata Ken melebar mendengarnya. Dia antusias menunggu jawaban sahabatnya itu.


Sekian detik berlalu. Mario belum menjawab pertanyaan Mommy Monika. Beberapa detik lagi berlalu, dan Mario masih juga belum menjawab pertanyaan Mommy Monika. Menit berikutnya, mendadak ekspresi wajah Mario berubah. Wajahnya berhias senyum sambil memberikan satu jawaban nama.


"Anjani," jawab Mario.


Bantal sofa mendarat tepat di wajah Mario setelah nama Anjani disebut sebagai pilihan.


"Cepetan nikah sana!" seru Ken, lalu tertawa.


"Ken!" seru Mario.


Perang bantal sofa menjadi suguhan bagi Mommy Monika. Bak-buk-bak-buk. Begitulah cara Ken dan Mario menjalin persahabatan mereka sejak di bangku sekolah menengah.


***


Sore hari pun tiba. Monika memanggil-manggil Mario dari arah dapur. Dua kali panggilan, tapi belum ada sahutan dari Mario. Barulah saat panggilan ketiga diserukan, ada jawaban dari Mario.


Mario berjalan menghampiri Mommy Monika di dapur. Di dapur sudah ada dua juru masak yang berkutat dengan sayuran untuk menyiapkan makan malam. Mommy Monika tidak membantu juru masak di sana. Dia membuat masakan lain, dan bukan untuk dinikmati penghuni rumah itu.


"Ke sini!" Monika meminta Mario mendekat.


Mario yang semula hanya berdiri di ambang pintu dapur berjalan mendekat. Kini terlihat jelas olehnya loyang kue yang baru dikeluarlan dari oven. Aroma kue bolu seketika memenuhi dapur.


"Kelihatannya enak," kata Mario.


"Pastinya, dong. Ini kan buatan Mommy. Nah, sekarang kamu antarkan kue ini ke rumah Anjani," perintah Monika.


Mario mengangkat sebelah alisnya. Dia terheran dengan perintah Mommy Monika yang tiba-tiba.


"Mom. Anjani ada di Jogja," kata Mario mengingatkan Mommy Monika.


"Iya, tahu. Ya kasihkan keluarganya. Ini sebagai perantara hubungan baik dengan keluarga kita. Sudah lama kan kamu tidak ke sana semenjak rencana pernikahamu batal waktu itu?" tanya Monika.


"Tidak juga. Beberapa waktu lalu Mario sama teman-teman bertamu ke rumah Anjani," terang Mario.


"Eh?" Monika tidak menduganya. Wajar saja dia tidak tahu, karena dia baru beberapa hari di Indonesia.


"Pokoknya kamu antarkan saja, ya. Sst. Modus dikit. Biar kamu makin akrab dengan keluarga Anjani. Hihi." Monika terkekeh.


Meski merasa aneh dengan pemikiran Mommy Monika, Mario tetap mengiyakan permintaannya. Mario menghormati Mommynya itu. Selama tidak menyuruhnya yang aneh-aneh, Mario akan mengiyakan.

__ADS_1


***


Di rumah Anjani.


Warung Paman Sam tutup lebih awal. Usai maghrib nanti akan ada pengajian mingguan kelompok ibu-ibu RT. Kebetulan rumah Paman Sam ketempatan. Menjadi kesempatan yang baik bagi Sarah untuk mengenal warga di lingkungan RT-nya.


Renal masih belum pulang dari tempat mengaji. Sarah sibuk menyapu rumah, sementara Paman Sam menggotong tikar-tikar yang akan dipasang.


"Roni! Sini bantu aku!" Paman Sam meminta ayah Meli untuk membantunya.


"Siap, Mas!" Ayah Meli memanggil Paman Sam dengan sebutan Mas.


Sore itu di rumah Paman Sam ada Roni dan Fatimah, orangtua Meli. Kedatangan Roni dan Fatimah ke rumah Paman Sam untuk mengantarkan kue donat dan kue risoles pesanan Bibi Sarah untuk suguhan ibu-ibu pengajian.


"Mbak Sarah, gelasnya aku tata sekalian ya?" izin Fatimah, ibu Meli.


"Iya. Ada di lemari dapur, ya." Sarah menjawab sambil tetap melanjutkan menyapu lantai rumah.


Paman Sam, Bibi Sarah, Roni, dan Fatimah pun gotong royong mempersiapkan acara pengajian. Sesekali Roni bertingkah konyol, tapi justru itulah yang membawa keceriaan di antara mereka. Pantas saja jika Meli memiliki sifat yang ceria nan somplak. Itu semua menurun dari ayahnya.


Beda lagi dengan Fatimah, ibu Meli. Dia murah senyum dan ramah, tapi kadang suka gemas dengan sikap suaminya. Fatimah terbiasa menerima orderan kue untuk acara-acara. Sedangkan suaminya, setelah beberapa tahun lalu kena PHK dari sebuah pabrik hingga menganggur cukup lama, kini sudah memiliki outlet di pasar yang menjual macam-macam kacang-kacangan.


Usaha yang kini digeluti Roni dan Fatimah tidak lepas dari bantuan Paman Sam. Termasuk modalnya. Meski Paman Sam berpenampilan sederhana dan terlihat santai mengurus warung di rumahnya, di balik itu semua Paman Sam adalah orang yang tajir. Sawah dan ladangnya di mana-mana. Makanya, Paman Sam dengan mudahnya menanggung biaya kuliah Anjani dan Meli sekaligus.


"Aduh. Di mana tadi kuletakkan kunci motorku, ya?" Roni kebingungan. Berulang kali dia merogoh saku celananya.


"Ayah ini kebiasaan. Sama seperti Meli. Juara deh kalau ikut olimpiade kecerobohan barang," celetuk Fatimah.


"Jangan gitulah, Sayang. Ayo bantu!" pinta Roni.


Lima menit berlalu, dan empat orang dewasa pasangan suami istri itu disibukkan mencari kunci motor Roni.


"Roni! Macam mana kau sampai lupa! Tuh, kunci motor masih nggantung di motornya. Untung rumah ini aman," seru Paman Sam.


Wajah girang lekas memenuhi wajah Roni. Fatimah, istri Roni yang berhijab itu hanya bisa geleng-geleng kepala. Sementara Bibi Sarah sudah terkekeh sejak Paman Sam menunjuk kunci motor yang masih menggantung di motornya.


"Hehe. Maaf sudah membuat bingung banyak orang," ucap Roni dengan melempar-lempar kunci motornya ke udara.


Roni menyempatkan diri untuk berkaca di spion motor. Dia menyoroti kumis tipisnya.


"Sayang, aku sudah waktunya cukuran nih. Kumis mulai lebat. Suruh Meli bawa oleh-oleh alat pencukur dari Jogja, ya!" seru Roni tanpa memalingkan wajahnya dari spion.


"Malu-maluin aja. Masa iya Anjani sama Meli ke Jogja, oleh-oleh yang diminta alat cukur. Malu kalau sampai temannya tahu, ayah! Mending aku minta oleh-oleh bakpia aja sama Meli biar bisa dimakan bareng. Putri tunggal kita itu kan doyan makan!" Fatimah terus saja berseru kata.


"Roni. Ambil aja alat cukur di warungku sana!" suruh Paman Sam.


"Hehe. Terima kasih banyak, Mas." Roni cengar-cengir.


Paman Sam dan Roni sekarang mulai melebarkan tikar dan memasangnya rapi di lantai. Sementara Bibi Sarah dan Fatimah segera merapikan bagian teras rumah, karena biasanya banyak ibu-ibu pengajian yang memilih duduk di bagian teras sambil 'ngadem' cari angin.


Tetiba saja ada sepasang muda-mudi berjalan sambil bergandengan tangan melewati rumah Paman Sam. Seketika Paman Sam beristighfar melihatnya.


"Mending langsung nikah kalau sudah sama-sama suka. Daripada status nggak jelas dan jadi omongan tetangga. Nanti kalau ada yang melamar Anjani lagi langsung aja kujadwalkan hari pernikahannya. Kalau putrimu macam mana, Ron? Meli. Apa sudah ada yang pernah melamar?" tanya Paman Sam.


Fatimah terkeheh mendengar pertanyaan Paman Sam. Sikap Roni pun tak jauh beda dengan Fatimah.


"Belum ada, Mas. Mana ada yang mau sama putriku. Dia kan ceroboh seperti ayahnya, tapi cantik sih seperti ibunya. Hehe, iya kan, Sayang? Kamu cantik?" goda Roni pada istrinya.


Fatimah berlagak tidak mendengar, dan asik membantu Sarah memindahkan beberapa pot bunga mini ke tepian, agar teras lebih terlihat luas.


"Kalau tiba-tiba ada yang melamar Meli kau terima tak?" tanya Paman Sam.


"Aku sih terserah istriku saja, mau diterima atau tidak." Roni santai menjawab.


"Loh? Kok terserah aku, sih. Terserah ayah saja, dong!" sahut Fatimah.


"Terserah kamu saja," kata Roni.


"Terserah ayah saja!" Fatimah kembali menyahuti.


"Sst. Serahkan saja pada Allah. Beres kan?" Bibi Sarah menengahi.


Tidak lama kemudian. Sebuah mobil mewah berhenti di halaman rumah Paman Sam. Semua mata tertuju pada mobil mewah yang terlihat kinclong itu. Sosok yang turun setelahnya lebih membuat Bibi Sarah, Roni, dan Fatimah terpesona lantaran wajah tampan dan senyuman manisnya.


"Assalamu'alaikum," salam Mario begitu turun dari mobilnya, sambil membawa kue bolu dan benda-benda lain yang dibawakan Mommy Monika.


Bersambung ....

__ADS_1


Sudah senyum-senyum belum? 😁 Ikuti keseruan Anjani dan Meli saat berlibur ke Jogja. Kepoin sosok Azka yang membuat Meli yang suka heboh jadi kikuk di depannya. Kepo-in Azka-Meli, Anjani, Ratna, Via dan keluarganya, juga Salsa di novel karya Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami berdua, ya. Vote, Like, dan tinggalkan jejak komentar kalian. See You. 😉



__ADS_2