CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Merasa Bodoh


__ADS_3

Hai semua ❤ Adakah yang rindu dengan novel Cinta Strata 1? (Hihi, author berharap banyak yang rindu, nih). Semoga kerinduan kalian terobati dengan update bab kali ini. Selalu nantikan lanjutannya hingga end, ya. Jangan lupa juga dukungan kalian untuk author. Like, vote, and rate 😊✨


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


Mimpi setiap orang adalah bisa sukses di segala bidang. Bisa berkarir, mandiri, dan memiliki jaringan yang luas menjadi bagian dari mimpi-mimpi. Mimpi itu juga terbersit dalam benak Anjani. Suatu saat nanti Anjani ingin sukses seperti Mario. Pendidikan dan karir Mario seolah berjalan seimbang, dan Anjani ingin seperti itu.


Sejak diundang ke jamuan makan oleh Mario di acara peresmian anak perusahaan, perasaan Anjani terus bergejolak. Sejak mengobrol dengan Mario, Anjani semakin menaruh hati padanya. Bukan hanya tentang perasaan cinta, Anjani pun ingin mengikuti langkah Mario yang bisa bekerja di perusahaan dan menjadi bagian penting di dalamnya.


"Sepertinya kerja di perusahaan enak juga, ya?" gumam Anjani di depan Meli.


"Kenapa? Ingin jadi seperti Kak Mario atau ingin jadi istrinya?" goda Meli.


"Dua-duanya sepertinya oke juga," jawab Anjani.


"Eh, apa? Serius?" tanya Meli yang kaget mendengar jawaban Anjani.


Anjani tertawa terbahak menanggapi keseriusan Meli. Melihat Anjani tertawa terbahak-bahak seperti itu, membuat Meli ikut-ikut tertawa hingga membuat Meli menyimpulkan bahwa perkataan Anjani sebelumnya adalah basa-basi belaka alias bercanda.


"Hahaha, iya juga. Mana mungkin kamu suka Kak Mario. Seorang Anjani kan anti jatuh hati," kata Meli.


"Hehe. Iya," jawab Anjani dengan setengah hati.


Ingin sekali Anjani mengakui perasaan yang telah melanda hatinya. Ingin pula Anjani berbagi cerita dengan Meli, sahabat dekatnya. Akan tetapi, Anjani sungguh tidak memiliki nyali untuk berbagi rasa indah yang telah membuncah dalam hatinya.


***


Di perusahaan


Setelah memarkir mobilnya di halaman parkir perusahaan, Mario melangkah masuk ke dalam perusahaan. Hari itu hari pertamanya bekerja, sekaligus hari pertamanya masuk kuliah. Mario bersikap profesional, meski memiliki tanggung jawab di perusahaan, tapi Mario tidak meninggalkan kewajiban dan tugasnya di bangku perkuliahan.


"Selamat siang, Pak Mario." Security perusahaan menyapa Mario.


Mario hanya mengangguk dan tersenyum sekilas, lalu kembali melangkah masuk ke dalam perusahaan. Mario sengaja tidak menggunakan lift, dia menggunakan tangga menuju lantai paling atas. Bukan tanpa sebab Mario melakukan hal itu. Semua itu karena Mario ingin memastikan kondisi setiap sudut perusahaannya.


"Hai, kenapa lama? Bukankah jam kuliahmu sudah selesai sejak sejam lalu?" tanya Leon begitu Mario sampai di ruangan kerja.


"Hm," jawab Mario singkat.


"Cih. Jawaban itu lagi. Yah, terserah saja, deh. Yang terpenting kamu benar-benar bisa membagi waktu antara kuliah dan pekerjaanmu," jelas Leon.


"Hm," jawab Mario dengan dehem yang sama.

__ADS_1


Leon beranjak dari kursinya, berjalan perlahan mendekati meja Mario. Lirikan Leon penuh arti, dan Mario menangkap itu.


"Apa?" tanya Mario.


"Bagaimana kabar Anjani?" tanya Leon sambil tersenyum penuh arti.


"Apa urusanmu hingga bertanya seperti itu?" tanya Mario, dan kali ini serius.


Leon tertawa dengan ekspresi setengah meledek. Kepalanya digelengkan perlahan dengan tawa yang masih tergambar di sana. Jelas sekali, Leon ingin memancing reaksi Mario dengan menggunakan nama Anjani.


"Aku suka si manis itu. Anjani. Ya, aku suka dia," terang Leon sambil melihat ke arah Mario.


Mario terdiam mendengar penuturan Leon. Pandangan Mario tidak bisa terlepas dari tawa Leon.


"Sepertinya ruangan kerjaku memang harus terpisah denganmu," kata Mario kemudian.


"Hei-hei, jangan coba-coba pindah dari ruangan ini. Kau harus tetap di sini, atau kalau tidak ...." Kata-kata Leon terhenti.


"Kalau tidak apa, he?" tanya Mario menyelidik.


"Kalau tidak, Anjani akan jadi milikku!" tegas Leon.


"Kau yang harus menjauhi Anjani, dan fokus pada pekerjaanmu. Ingat itu!" tegas Leon, kemudian pergi dari ruangan.


Brak!


Mario menggebrak meja kerjanya saat Leon masih di ambang pintu. Perbuatan Mario hanya dilirik sekilas oleh Leon. Sesaat kemudian Leon tersenyum licik dan keluar dari ruangan itu.


***


"Anjani, ayo cepat ke ruang kuliah berikutnya. Nyari apa, sih?" tanya Meli.


"Hm, ayo!" sahut Anjani.


Anjani sedari tadi menyebarkan pandangan, melihat ke sana-sini dengan harapan bisa melihat sosok yang ingin dilihatnya, yaitu Mario. Anjani bertanya-nya tentang keberadaan Mario. Sedari tadi Anjani hanya bertemu dengan Ken, dan Juno. Kebetulan Meli bertanya tentang keberadaan Mario saat bertemu Ken dan Juno, tapi jawaban mereka selalu sama, Mario segera pulang saat kuliah selesai.


Keesokan harinya, Anjani masih tetap tidak menemukan sosok Mario. Ken dan Juno masih memberikan jawaban yang sama, Mario segera pulang saat kuliah selesai.


"Huft." Anjani menghela nafas panjang.


"Kenapa, sih?" tanya Meli.

__ADS_1


Anjani hanya menggeleng lesu. Kembali ada rasa sesak dalam dadanya, dan itu adalah perasaan rindu akan kehadiran sosok Mario. Rasa cinta kasih yang tertanam pada diri Anjani untuk Mario, telah membuatnya berulang kali menahan gejolak kerinduan. Rindu akan obrolan bersama Mario. Rindu akan senyum, keramahan, dan tatapan Mario. Rindu pula akan pemberian mawar-mawar putih yang terkadang menjadi kejutan bagi Anjani.


Anjani sadar, hubungannya dengan Mario masih sebatas pertemanan. Hanya Anjani yang tahu dengan pasti tentang perasaannya pada Mario. Sementara kepastian perasaan Mario pada Anjani, hal itu masih menjadi misteri.


Anjani juga masih bertanya-tanya tentang hubungan Mario dengan Alenna. Saat mengingat pelukan di tepi sungai saat itu, entah kenapa hati Anjani menjerit karena cemburu. Akan tetapi, ada saat-saat tertentu bagi Anjani untuk meyakini bahwa perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Anjani yakin itu dari sikap-sikap yang Mario tunjukkan. Namun, semua itu masih sebatas dugaan. Dan ... entah kenapa Anjani seolah enggan menerima kekecewaan jika dugaan itu terbantahkan.


***


Satu minggu kemudian


"He, Anjani. Cabai pesanan kau sudah sampai, kan? Itu tadi yang antar ke rumah Sam anak tetangga sebelah yang kebetulan merantau ke kota," jelas Ma via telepon.


"Iya, Ma. Sudah Anjani terima. Terima kasih," sahut Anjani.


"Jangan cuma terima kasih. Kau antar pula cabai itu ke rumah teman kau, Mario. Jangan lupa kau!" Ma mengingatkan.


"Iya-iya," jawab Anjani.


"Oke. Ma matikan dulu teleponnya. Da-da!" pamit Ma.


Tut-tut!


Sambungan telepon dimatikan oleh Ma. Anjani langsung menghembuskan nafas panjang. Hati Anjani seolah ada yang mengganjal.


Dulu saat di acara peresmian anak perusahaan, saat Mario memesan cabai, Anjani begitu bersemangat ingin mengantarkannya sendiri ke rumah Mario. Namun, saat ini semangat itu telah memudar karena Anjani sudah lama tidak bertemu Mario.


Perlu waktu lama bagi Anjani untuk menimbang, akan pergi atau tidak. Hingga beberapa jam berlalu, akhirnya Anjani mengumpulkan nyali untuk pergi ke rumah Mario seorang diri.


Anjani menggunakan motor Paman Sam untuk pergi ke rumah Mario. Tidak butuh waktu lama, Anjani pun sampai di depan pagar besi rumah Mario. Anjani hendak mendekati security untuk bertanya, Mario ada atau tidak. Akan tetapi, yang dilihat Anjani saat itu seketika mengubah niatannya untuk memberikan cabai pada Mario.


"I-itu ... Mario bersama Alenna," kata Anjani terbata.


Anjani melihat Mario dan Alenna baru saja keluar dari mobil yang terparkir di halaman rumah Mario. Sepertinya Mario dan Alenna baru saja sampai. Namun, yang membuat Anjani mengurungkan niatnya untuk bertemu bukanlah keberadaan Alenna di sana.


Bukankah saat di acara peresmian anak perusahaan Alenna begitu dekat dengan Juno? Lalu, apa maksud semua ini? batin Anjani.


Anjani sempat melihat Alenna merangkul Mario dari belakang. Meski Anjani juga melihat Mario langsung menepis tangan Alenna, tetap saja kembali ada perasaan bergejolak dalam hati Anjani. Seketika Anjani menaiki motornya, melirik sekilas untuk terakhir kali, lalu melemparkan sekresek cabai ke arah pagar Mario. Setelah melempar kresek berisi cabai, Anjani segera menancap gas dan melarikan diri sebelum ditangkap security.


Ah, bodohnya aku telah menumbuhkan perasaan ini! batin Anjani.


***

__ADS_1


__ADS_2