
Sore hari yang cerah, Mario duduk di teras depan kontrakannya. Suasana sore itu terasa begitu tenang. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang di gang. Sesekali tegur sapa tetangga sekitar terdengar, membuat Mario menanggapi hingga melayangkan senyuman.
Mario meneguk air mineralnya. Sesaat kemudian diraihnya sebuah buku yang sedari tadi sudah ada di atas meja teras. Itu adalah sebuah novel bergenre romantis karya seorang penulis bernama Bidadari.
Sudah lebih dari separuh novel itu dibaca oleh Mario. Sore itu pun Mario melanjutkan membaca novel karya Mbak Bida. Seutas senyum terlukis di wajah Mario saat sampai di bab yang membahas tentang 'Cinta dan Hati Manusia'.
"Bukan hanya tutur katanya saja yang lembut, rangkaian kata-katanya dalam novel ini pun terasa lembut. Hatiku dibuat tersentuh saat membacanya," kata Mario tanpa mengurangi senyum di wajahnya.
Mario memuji novel karya Bidadari. Lembar demi lembar terus dibaca hingga sampai di halaman terakhir novel itu. Selama kegiatan membaca, Mario lebih sering menampakkan wajah bahagia karena begitu menikmati jalan cerita pada novel.
"Kak Bida, sepertinya buket mawar putih saja tak cukup untuk mengapresiasi karyamu ini." Mario kembali berkata sendiri.
Tin-tin! Bunyi klakson motor.
Mario mendongakkan kepalanya. Senyum pun kembali mengembang saat tahu siapa yang datang. Segera diletakkan novel yang baru saja dibacanya. Mario pun menuju pagar dan membukanya lebar-lebar.
Motor kembali dijalankan, lalu diparkir di halaman kontrakan Mario. Helm yang dipakai pun segera dilepas dan dikaitkan di bagian depan motor.
"Assalamu'alaikum," salam Alenna.
Ya. Muslimah cantik yang berkunjung ke kontrakan Mario adalah Alenna. Usai jam pulang kantor, Alenna menyempatkan diri untuk mengunjungi kakaknya itu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mario.
Mario mempersilakan Alenna untuk duduk. Namun, Alenna justru berputar badan sambil memamerkan gamis yang dipakainya. Mario yang sudah hafal dengan kebiasaan adiknya itu pun segera terkekeh.
"Bagus. Cocok untukmu. Tunggu sebentar di sini. Aku buatkan minum dulu," kata Mario.
"No-no. Nggak perlu repot-repot. Sudah bawa sendiri. Ini minumannya dan ini cemilannya. Taraaaa. Ready!" seru Alenna.
"Alhamdulillah," ucap Mario sembari hendak mengintip makanan yang ada di dalam kresek warna hitam.
"No-no. Yang Itu bukan punyamu!" seru Alenna hingga membuat Mario mengurungkan niatnya untuk mengintip.
Alenna segera meletakkan bungkusan kresek hitam berukuran besar dan bungkusan lain yang berukuran lebih kecil di atas meja. Rupanya di dalam bungkusan kresek hitam berukuran besar itu masih ada bungkusan-bungkusan yang lain lagi dan sama-sama berisi makanan.
"Sebungkus mie goreng seafood. Sebungkus ayam geprek sambal ijo. Satu wadah pisang molen rasa-rasa. Satu wadah cilok mercon dan satu wadah tahu walik kres-kres." Alenna menyebutkan satu per satu makanan yang dikeluarkannya dari kresek besar.
Lagi-lagi Mario mengucap hamdalah. Tak lupa pula senyum menghiasi wajah tampannya yang memesona. Mario juga berterima kasih kepada Alenna karena sudah meramaikan sore harinya dalam limpahan berkah. Namun, rupanya Mario salah sangka. Makanan-makanan yang sudah disebutkan Alenna tadi bukan untuknya.
"Eit. Makanan-makanan ini bagianku. Punyamu yang ini," kata Alenna sembari menyerahkan bungkusan dari kresek hitam yang berukuran kecil.
"Hanya ini?" tanya Mario. Rasanya aneh, dari sekian banyak makanan yang dibawa Alenna sore itu ternyata jatah untuknya hanya satu.
"Meskipun cuma satu, tapi itu bungkusan spesial. Isinya adalah nasi goreng petai. Petainya dibawa langsung oleh Ma dari desa dan langsung kuminta penjualnya mencampurkan petai-petai pemberian Anjani itu ke dalam nasi gorengnya," jelas Alenna panjang lebar.
__ADS_1
"Penjual nasi gorengnya mau?" tanya Mario.
"Ya mau, dong. Alenna yang nyuruh!" seru Alenna dengan PD-nya.
Mario seketika terkekeh. Dirinya tidak pernah menyangka Alenna akan melakukan hal yang seperti itu, hingga repot-repot membawa petai pemberian Anjani ke penjual nasi goreng.
Pada akhirnya Mario manggut-manggut, dan sekali lagi mengucap hamdalah atas nasi goreng spesial yang dibawakan Alenna. Dibukanya perlahan bungkusan itu, dan seketika terlihatlah nasi goreng dengan topping irisan petai yang melimpah.
"Ini, minumnya es jeruk. Em, okelah. Aku bagi dikit makananku. Tahu walik kres-kresnya boleh kamu ambil. Oh ya, nanti makan tahu kres-kresnya dicocol pakai saus yang ini. Cilok merconnya buat aku, ya. Oke, sekarang kita makan." Alenna panjang lebar menerangkannya. Sudah seperti seorang pemandu wisata kuliner saja.
Mario terkekeh lagi. Alenna sore itu terkesan cerewet sekali, meski sehari-harinya juga seperti itu. Selanjutnya, Mario pun menikmati nasi goreng petainya. Terasa sekali kres-kres petai yang memanjakan lidah. Mario suka dengan cita rasa nasi goreng petai itu, hingga satu bungkus pun telah habis tak bersisa.
Sebungkus nasi goreng petai telah habis dilahap. Mario beralih meminum es jeruk dalam wadah gelas plastik bagiannya hingga tandas pula isinya.
Alenna begitu baik, memperbolehkan Mario mencicipi pisang molen rasa-rasa. Namun, Mario menggeleng karena perutnya sudah terasa kenyang.
"Novel siapa, tuh?" tanya Alenna, kepo setelah melihat ada sebuah novel di dekat botol air mineral.
Mario tersenyum, lalu mengambil novel itu. Mario memperlihatkan pada Alenna bagian cover novel dan menunjuk ke arah bagian bawah yang memuat nama penulisnya.
"Bi-da-da-ri," eja Alenna karena Mario tidak mendekatkan novel itu.
"Iya. Ini novel karya Kak Bida. Seorang muslimah cantik yang memiliki tutur kata lembut. Aku dapat novel ini gratisan, lho. Saat acara talk show-nya waktu itu," terang Mario sambil memamerkan novel itu pada Alenna.
Alenna mengangkat sebelah alisnya. Alenna terheran. Jarang sekali Alenna melihat Mario menceritakan seseorang dengan wajah ceria seperti sore itu. Alenna pernah melihat keceriaan yang sama, dulu saat Mario masih begitu dekat dengan Anjani. Kali ini Alenna melihat keceriaan yang hampir serupa saat Mario menceritakan sosok Kak Bida.
Mario tidak menjawab dan hanya tersenyum saja melihat kekepoan Alenna.
"Oke, aku ganti pertanyaannya. Antara si Bidadari ini sama Anjani, kamu pilih siapa?" tanya Alenna lagi.
Kini Mario yang terheran atas pertanyaan yang Alenna ajukan padanya. Namun, mimik wajah heran itu tidak lama berselang, dan lekas terganti dengan kekehan pelan.
"Hehe. Kamu kepo sama Kak Bida, ya?" Mario malah bertanya balik pada Alenna.
"Ya jelas kepo, dong. Kamu sih ceritanya pakai nada ceria. Ayo ceritakan! Siapa itu Bidadari sebenarnya?" desak Alenna, menyuruh Mario untuk segera bercerita.
Mario menggeleng pelan tanpa memudarkan senyuman. "Nanti kamu akan tahu dengan sendirinya, dan tunggu saja kabar baiknya."
"Duh, kabar baik apa sih?" tanya Alenna mendesak Mario.
"No. Wait!" sahut Mario sembari memberi kode tangan.
Bibir Alenna manyun, gaya khas Alenna jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya. Alenna pun menyerah untuk bertanya. Segera diraihnya pisang molen rasa-rasa, dan satu gigitan besar memenuhi mulutnya. Meski demikian, Alenna tetap berbaik hati menyodorkan pisang molen rasa-rasa itu pada Mario.
Mario terkekeh melihat tingkah kekanakan Alenna. Ekspresi ngambeknya terlihat lucu. Si bule cantik Alenna yang kini sudah berhijab itu semakin akrab saja dengan kakaknya, Mario. Mario pun bersyukur akan hal itu.
__ADS_1
Sembari menikmati pisang molen rasa-rasa, Mario tetiba saja teringat ide dari Ken yang berniat mengajak Vina untuk belajar mengaji bersama. Tentu saja jika itu terjadi maka Vina tidak akan berada di kelompok lelaki, melainkan akan jadi satu kelompok dengan Anjani dan lainnya.
"Alenna, kalau seandainya ada tambahan di kelompok ngajimu ... gimana?" tanya Mario.
"Ya bagus, dong. Jadi makin banyak yang belajar," jawab Alenna. "Eh, tapi siapa yang mau gabung? apa si Bidadari yang mau gabung?" tanya Alenna kemudian.
Mario menggeleng sembari tersenyum, menegaskan bahwa tebakan Alenna salah.
"Terus siapa dong?" tanya Alenna lagi.
"Vina," jawab Mario.
"What? Si Vina temenmu itu? Yang sering ke kantor nemuin Leon?" tebak Alenna.
"Iya," jawab Mario mengiyakan tebakan Alenna.
"No!" seru Alenna dengan tegas.
Bukan karena Alenna tidak suka jika ada orang lain yang belajar mengaji di kelompoknya. Namun, Alenna mendadak ragu jika itu adalah Vina. Alenna tahu siapa itu Vina. Alenna pun tahu sebuah rahasia tentangnya. Vinalah yang sudah bersekongkol dengan Leon untuk menyebarkan berita tentang perselingkuhan ayahnya ke media. Sebab itu pula pernikahan Mario-Anjani sampai batal.
"Kenapa Alenna?" Mario menanyakan alasan Alenna menolak kehadiran Vina di kelompoknya.
"Ya pokoknya nggak mau aja kalau ada Vina," kata Alenna.
Alenna tidak bisa menyebutkan alasan yang sebenarnya. Alenna khawatir jika Vina memiliki rencana-rencana lainnya.
Mimik wajah Alenna menunjukkan rasa tidak suka, karena memang demikianlah adanya. Namun, Mario masih berusaha membujuk adiknya itu.
"Mengajak seseorang dalam kebaikan itu bisa dapat pahala, lho. Itu baru mengajak, apalagi sampai benar-benar membantunya. Pahala, lho. Nggak mau?" bujuk Mario.
"Iya tahu. Ustaza Nuri pernah bilang gitu juga. Tapi-tapi-tapi ...." Alenna tidak mampu mengucapkan alasan lainnya.
"Gimana?" tanya Mario sekali lagi.
Alenna terlihat masih bimbang. Tidak ingin segera mengiyakan.
"Terserah aja, deh!" seru Alenna pada akhirnya.
"Alhamdulillaah. InsyaAllah segala niat baik akan dipermudah," tutur Mario.
Alenna menghembuskan nafas panjang. Sungguh ada kekhawatiran yang dirasakan. Vina bukan orang asing yang tidak Alenna kenal. Alenna mengenalnya, dan tahu sebuah rahasia tentangnya. Namun, di sisi lain Alenna masih percaya dengan sebuah perubahan. Setiap orang bisa berubah, begitu pula dengan Vina.
Aku harus memberi tahu Anjani, Meli, dan Berlian tentang ini. Batin Alenna
Bersambung ....
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan cerita Mario-Anjani dkk. Kritik saran buat author dipersilakan. Vote-nya juga boleh, lho. See You. 😊
***