
Langkah Anjani membawanya menuju ruang kelas kuliah. Anjani merasa aneh, karena kampus tidak seramai biasanya. Banyak ruang-ruang kosong, tidak ada mahasiswa. Akan tetapi, Anjani masih berpapasan langkah dengan teman sekelas yang juga mengikuti mata kuliah yang sama dengannya.
Begitu hampir mendekati pintu ruang kelas kuliah, Berlian memanggil Anjani. Anjani lekas menoleh dan tersenyum pada Berlian. Rupanya Berlian telah selesai dengan urusannya.
"Hei, sudah ketemu Kak Ken?" tanya Anjani.
"Sudah," jawab Berlian sambil senyum-senyum. "Tadi Kak Ken di kelas bareng sama kelompoknya. Ada Vina juga barusan," imbuh Berlian.
"Iya, tadi aku sempat menyapa Vina juga." Anjani tidak bercerita bahwa Vina telah bersikap kurang ramah padanya. "Eh, tapi kamu ngerasa ada yang aneh nggak sih?" tanya Anjani pada Berlian.
Berlian mengernyitkan kening, merasa tidak paham dengan pertanyaan Anjani. Baik Anjani ataupun Berlian sama-sama masih berdiri di dekat pintu masuk ruang kelas yang akan digunakan untuk kuliah.
"Maksudnya? Apanya yang aneh?" tanya Berlian.
"Nih kampus sepi, nggak seperti biasanya." Anjani menjelaskan yang dia maksud dengan ada yang aneh.
"Oh. Ini kan memang hari Sabtu. Ya kampus agak sepi. Paling mahasiswa S2 yang kuliah. Kuliah pagi ini kan perubahan jadwal dari kuliah Senin lalu. Sudah kesepakatan sama teman-teman juga gitu, khusus untuk minggu ini aja. Kamu lupa atau tidak ingat Anjani?" Berlian bertanya-tanya, karena biasanya Anjanilah yang selalu ingat dengan perubahan jadwal.
"Astaghfirullah, kenapa aku jadi lupa hari, ya?" Anjani memijit pelan keningnya.
"Hei, belum sarapan, ya? Hehe. Yuk, masuk. Habis kuliah kutraktir makan. Sekalian ajak yang lain," ajak Berlian.
"Oke, yuk!" Anjani setuju.
Kuliah Sabtu pagi pun dimulai. Tidak seperti biasanya, Anjani merasa gelisah. Anjani teringat Meli saat itu.
"Duh, kenapa jadi kepikiran Meli, ya?" lirih Anjani.
Berlian menyadari ada yang aneh dengan Anjani. Lekas Berlian bertanya, "Sst. Kenapa?"
Anjani menggeleng sambil tersenyum. Berlian pun segera mengangguk-angguk dan kembali memperhatikan dosen di depan kelas.
"Sekian perkuliahan hari ini, dan saya ucapkan terima kasih karena semua mahasiswa Senin lalu sudah mengumpulkan tugas tepat waktu. Selamat pagi, dan selamat berakhir pekan." Dosen menutup perkuliahan.
Tidak ada tugas pagi itu, karena perkuliahan yang berlangsung pagi itu adalah perkuliahan pengganti. Itu pun karena permintaan dari teman-teman sekelas Anjani. Oleh karenanya, dosen pun tidak mempermasalahkan ada yang tidak hadir pagi itu.
***
Berlian dan Anjani berdiri di dekat pos penjagaan parkiran jurusan ekonomi. Parkiran di sana tidak terlalu banyak motor, karena hari Sabtu.
"Juno sama Dika lama banget, sih?" Berlian tak sabaran.
"Sabar. Atau kamu nih yang tadi pagi belum sarapan, makanya kelaparan sekarang. Hayo ngaku, deh!" desak Anjani sembari menampilkan wajah bercanda.
Berlian senyum-senyum dan mengakui bahwa memang dirinya belum sarapan tadi pagi.
"Nah, itu tuh!" tunjuk Berlian ke arah belakang Anjani.
Anjani segera menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Berlian. Terlihat jelas oleh Anjani, ada Juno, Dika, Mario, Ken, dan Vina berjalan mendekat.
"Waw! Juno ngajak Vina juga ternyata," celetuk Berlian.
"Sudah, nggak apa-apa. Kita perlu berteman lebih akrab dengan Vina. Dia kan akan jadi bagian dari kelompok mengaji kita," kata Anjani pada Berlian, dan lekas mendapat anggukan setuju.
Anjani dan Berlian, dua muslimah cantik berhijab lebar itu pun memasang senyum menyambut kedatangan teman-temannya.
"Assalamu'alaikum, Anjani." Mario menyapa Anjani lebih dulu.
Anjani tersenyum dan menjawab salam Mario dengan senyum yang sama.
"Wa'alaikumsalam."
Juno melihat keakraban Anjani dan Mario. Ada rasa cemburu menelusup dalam hatinya. Cepat-cepat Juno melangkah mendekat dan berdiri tepat di depan Anjani hingga mengalangi Mario.
"Anjani, brosmu bagus banget. Baru, ya?" tanya Juno antusias menarik perhatian Anjani agar mengobrol dengannya.
Anjani seketika mengangguk dan tersenyum. "Iya. Masih baru dan dapat diberi," jelas Anjani tanpa memudarkan senyumannya.
"Uwu, dikasih siapa? Meli, Berlian, atau Alenna?" tanya Juno lebih antusias.
Anjani menggeleng. "Bros ini pemberian Mario," terang Anjani lagi.
Seketika rasanya seperti ada sesuatu yang retak dalam dada Juno. Sudah cukup antusias Juno menarik perhatian Anjani agar mengobrol dengannya, tapi ternyata bros yang dibahas adalah pemberian Mario.
Juno seketika melirik ke arah Mario. Tampak jelas Mario sedang tersenyum padanya.
"Kalian ini ngapain, sih? Jadi nggak nih kita makan? Siapa tadi yang katanya mau nraktir?" seru Vina.
"Tuh. Berlian," kata Dika santai, sambil menunjuk ke arah Berlian.
Begitu tahu yang akan menraktir makan adalah Berlian, seketika Ken juga mengajukan diri untuk menraktir teman-temannya.
"Ehem, aku juga akan menraktir kalian." Ken mengajukan diri.
"Kak Ken, biar Berlian aja yang nraktir." Berlian tersenyum ramah pada Ken.
"Tidak apa-apa. Biar aku saja." Ken tetap ingin melanjutkan niatannya.
"Biar adil, kalian berdua saja yang nraktir, ya. Kita berangkat sekarang," saran Mario menengahi teman-temannya.
"Setuju," seru mereka dengan kompak.
__ADS_1
Berlian dan Vina menuju mobil masing-masing. Dika dan Ken menuju motornya masing-masing. Sementara Juno dan Mario masih menyejajari langkah Anjani.
"Em, sebaiknya kalian segera ke motor. Kalian sudah ditunggu Dika dan Kak Ken," kata Anjani sambil menunjuk ke arah Dika dan Ken yang sudah siap di bangku motornya masing-masing.
"Juno, ayo!" ajak Mario sambil menarik lengan Juno agar menjauh dari Anjani.
"Iya-iya."
Anjani tersenyum melihat tingkah Juno dan Mario di depannya. Anjani memang tidak tahu siapa yang akan menjadi jodohnya. Namun, yang jelas saat itu hati Anjani benar-benar merasa bahagia, dan tetap berharap Mario-lah yang akan berjodoh dengannya.
***
Setibanya di tempat makan.
Wajah Vina menunjukkan rasa tidak suka dengan tempat pilihan Berlian. Sedari tadi bola matanya ke sana kemari memperhatikan sekeliling.
"Sst. Berlian, kenapa pilih warung pinggir jalan, sih? Gue nggak biasa makan di tempat gini," gerutu Vina dengan setengah berbisik.
"Yaudah. Pulang aja sana!" seru Berlian tanpa memelankan suaranya.
Vina lekas memberikan kode mata pada Berlian, tentu saja agar Berlian memelankan suaranya. Tidak berhasil, Berlian malah asyik menjulurkan lidahnya. Berlian baru berhenti saat Anjani menyenggol lengannya.
"Sst, jaga sikap. Nggak enak sama cowok-cowok di depan kita, nih." Anjani berbisik di dekat Berlian.
"Oke, siap!" Berlian ikutan berbisik.
Warung makan pinggir jalan yang dipilih Berlian adalah warung mie ayam bakso ceker. Warung makan yang menyajikan pilihan menu mie ayam, mie ayam bakso, dan mie ayam ceker. Sebuah warung makan favorit Berlian yang biasa dikunjungi bersama Kak Lisa.
Anjani kebagian mendata menu yang diinginkan teman-temannya. Juno, Ken, dan Dika sama-sama memesan mie ayam bakso jumbo. Berlian, Anjani, dan Mario sama-sama memesan mie ayam ceker. Sedangkan Vina memilih mie ayam original. Minuman yang dipilih oleh mereka yaitu es teh, kecuali Vina. Vina memilih air mineral dingin.
Sembari menunggu pesanan jadi, obrolan pun mewarnai. Berlian sempat akan menelepon Alenna, berniat mengajaknya bergabung. Namun, Mario lekas menyampaikan bahwa Alenna sedang menghadiri rapat perusahaan bersama Leon. Jadi, niat itu pun diurungkan.
"Seperti ada yang kurang," celetuk Dika.
"Iya jelas, dong. Meli nggak ada. Biasanya kan Meli yang paling rame. Suka bertengkar sama kamu juga." Juno menanggapi.
Tetiba saja Anjani ingat Meli, dan teringat pula pada kecemasannya pada saat kuliah tadi.
"Memangnya Meli kemana?" tanya Ken yang belum tahu.
"Ke Jogja," jawab Anjani.
"Keren. Meli tepat betul pilih hari untuk liburan. Minggu depan kan banyak tanggal merahnya," kata Ken memuji Meli dengan antusias.
Mendengar penuturan Ken, Anjani lekas menoleh ke arah tembok warung. Ada sebuah kalender menggantung di sana. Benar kata Ken, minggu depan ada tiga tanggal merah.
"Ah, ini pasti Meli bukan ada urusan, tapi liburan. Pasti Meli ke tempat Ratna dan udah ngebahas belanja online seru-seruan, nih." Anjani menduga-duga dengan antusias.
"Em, aku boleh telepon Meli nggak sekarang?" Anjani izin dulu pada temannya.
"Silakan, Anjani." Mariolah yang menanggapi lebih dulu.
Tetiba saja suasana hening saat Anjani hendak menelepon Meli. Rupanya, teman-teman Anjani juga ingin mendengarkan suara Meli. Bahkan, Dika menyarankan untuk di-loudspeaker. Akan tetapi, Anjani tidak mau me-loudspeaker, dan menyuruh teman-temannya untuk kembali mengobrol.
Untunglah teman-teman Anjani paham dan melanjutkan obrolan. Anjani yang saat itu duduk di sebelah Berlian lekas menelepon Meli. Dua kali panggilan, tidak kunjung diangkat oleh Meli. Hal itu membuat Anjani semakin kepikiran, apalagi sebelumnya Anjani sempat cemas saat teringat Meli.
"Halo. Assalamu'alaikum," salam Meli via telepon.
"Alhamdulillaah. Akhirnya dingkat juga. Wa'alaikumsalam. Meli, kenapa lama ngangkat teleponnya?" tanya Anjani yang sudah lega karena Meli mengangkat telepon darinya. Namun, kelegaan itu hanya sementara. Setelahnya Anjani kembali cemas akibat kabar yang disampaikan Meli.
"Aku tadi habis dari kantor polisi," kata Meli.
"Astaghfirullah. Apa yang terjadi sampai kamu ke kantor polisi, Mel?" seru Anjani.
Mario, Ken, Juno, Berlian, bahkan Vina kompak menoleh saat Anjani menyebut kata kantor polisi. Wajah teman-teman Anjani menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi. Namun, Anjani menyuruh teman-temannya untuk sabar menunggu.
"Aku kehilangan dompet. Terus alamat Ratna juga hilang," jelas Meli lagi.
"Astaghfirullah. Beneran kan kamu ke tempat Ratna. Terus sekarang bagaimana keadaanmu di sana? Masih kaget, sedih, atau takut?" Anjani khawatir pada sahabat baiknya itu.
"Hehe. Aku justru senang," jawab Meli dengan nada ceria khasnya.
"Loh? Kehilangan dompet kok senang." Anjani terheran.
"Suuut. Ceritanya panjang. Begitu kembali ke Jember aku ceritain semua. Yang jelas, sekarang ada pangeran tampan di sini. My hero. Hihi," kata Meli antusias.
"Hero gimana? Kok aku nggak paham, sih!" Anjani gemas karena tidak paham dengan perkataan Meli.
"Hihi. Anjani, kamu pasti bakal aku ceritain banyak banget. Tapi nanti ya kalau aku udah sampai di Jember. Sekarang, aku mau nikmatin liburanku dulu. Ohya, tenang saja. Aku sudah ada di tempat Ratna, kok." Meli menjelaskan lagi dan kali ini meminta Anjani untuk tidak khawatir berlebihan.
"Oke. Baiklah. Kamu hati-hati di Jogja, ya. Sampaikan salamku untuk Ratna, dan kamu dapat salam juga dari teman-teman di sini," kata Anjani.
"Salam apa, nih?" tanya Meli.
"Salam dari teman-teman, katanya jangan lupa oleh-olehnya. Hihi." Anjani terkekeh.
"Wooo. Dasar teman-temanku!" seru Meli.
"Yaudah. Silakan dilanjut liburannya. Assalamu'alaikum." Anjani mengakhiri panggilan suara itu.
"Wa'alaikumsalam," jawab Meli dengan keceriaannya.
__ADS_1
Teman-teman Anjani rupanya menunggu sedari tadi. Mereka menunggu Anjani menceritakan kronologi lengkap hingga Meli bisa sampai di kantor polisi.
"Meli sempat kehilangan dompet, tapi sekarang sudah teratasi." Anjani menjelaskan dengan singkat agar teman-temannya tidak khawatir.
"Oke, sekarang kita makan. Pesanan sudah datang tuh." Berlian menunjuk ke arah pelayan yang membawa mangkuk-mangkuk berisi mie ayam pesanan.
Anjani, Mario, Ken, Juno, Dika, Berlian, dan Vina memakan mie ayam masing-masing. Semua menyantapnya dengan nikmat. Bahkan, Vina yang semula ogah dengan pilihan tempat makan itu, terlihat paling menikmati mie ayam pesanannya.
"Alhamdulillah," ucap Juno yang sudah selesai lebih dulu. "Anjani, hafalan surat sudah sampai mana?" tanya Juno kemudian.
Anjani berhenti menyendok mie ayam, lalu menjawab pertanyaan Juno. "Alhamdulillah sudah hampir tuntas juz 30. InsyaAllah."
"Anjani memang keren. Hijrahnya nggak nanggung. Langsung fokus banget hafalan surat. Nggak seperti aku, Meli, sama Alenna yang masih dapat beberapa surat saja. Hehe," jelas Berlian.
"Berlian, itu sudah bagus. Yang penting niatnya, dan selalu istiqomah untuk menghafal." Ken menanggapi sekaligus memberi acungan jempol untuk Berlian.
Berlian tersenyum, karena Ken terlihat mendukung niatannya.
"Juno, memang hafalan suratmu sudah sampai mana?" tanya Dika dengan nada malas, sembari menyeruput es teh.
"Hehe." Juno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Juno malu karena dia baru hafal beberapa surat saja. "Aku masih nggak sebanding sama Mas Mario kalau urusan ini," kata Juno mengakui Mario.
Anjani diam-diam memperhatikan Mario. Terlihat Mario asyik mengunyah sambil tersenyum saat Juno memujinya. Diam-diam memperhatikan rupanya membuat Anjani senyum-senyum sendirian.
"Kenapa tersenyum Anjani? Hafalan suratku lebih banyak darimu, lho. Lebih fokus lagi dan lekas susul aku," kata Mario tiba-tiba.
Anjani sempat kaget, tapi lekas tersenyum agar tidak salah tingkah.
"Aku juga bisa. Nanti kalau sudah gabung ke kelompok ngaji itu pasti aku bakal lebih jago dari kalian," seru Vina.
"Kalau begitu nanti sore datang, ya Vin. Jangan pakai alasan apa-apa lagi," kata Mario pada Vina.
Vina memajukan bibirnya. Mario sudah tahu bahwa kemarin Vina hanya membuat-buat alasan saja agar tidak jadi datang ke kelompok mengaji.
"Iya, nanti aku datang. By the way, bukankah nanti itu malam minggu? Memangnya kalian nggak ada yang kencan atau pacaran gitu?" tanya Vina.
Seketika semua mata melihat ke arah Vina, dan yang dilihat bersikap biasa saja.
"Pacaran? Udah nggak zaman, Vin!" seru Ken.
"Lebih baik langsung ajakin nikah," imbuh Ken.
"Uhuk!" Anjani tersedak saat Ken menyebut kata pernikahan.
Tidak dapat dipungkiri. Meski Anjani sudah hijrah, tapi Anjani tidak bisa melupakan bahwa dirinya pernah hampir menikah dengan sosok lelaki tampan yang kini duduk di seberangnya. Dulu Mario tidak mengajak Anjani untuk berpacaran, melainkan langsung mengajak Anjani untuk menikah. Ya meskipun pada akhirnya pernikahan itu batal.
"Ini minum dulu," kata Berlian sambil menyodorkan gelas minum.
"Mas Ken sih ngebahas pernikahan," protes Juno pada Ken.
"What?" Ken bingung.
Anjani kembali diam-diam memperhatikan Mario. Terlihat jelas Mario bersikap biasa saja.
Astaghfirullah. Hanya aku rupanya yang bersikap berlebihan, batin Anjani.
Beberapa menit berlalu, dan semua telah selesai menyantap mie ayam pesanan masing-masing. Obrolan ringan seputar kuliah juga tidak luput dari pembahasan. Obrolan itu pun semakin menambah keakraban di antara mereka. Termasuk juga Vina yang lebih sering bersikap ramah pada semua, termasuk pada Anjani.
***
Anjani dan lainnya berpisah di parkiran. Tersisa Anjani saja di sana. Anjani kamudian lekas menghidupkan mesin motornya. Namun, tiba-tiba saja Vina menghampiri Anjani.
"Anjani," panggil Vina.
"Loh, Vin. Aku kira kamu udah jalan duluan," kata Anjani.
Deg!
Wajah Vina datar. Tidak seramah saat melangsungkan obrolan tadi di depan teman-teman.
"Em. Ada apa, Vin?" tanya Anjani.
"Lu teman gue apa bukan?" tanya Vina dan masih dengan wajah datar.
Anjani sedikit bingung dengan pertanyaan Vina.
"Tentu saja aku adalah temanmu, Vin." Anjani menjawab dengan ramah.
"Bagus. Kalau begitu sekarang lu ikut gue!" ajak Vina.
Vina menggenggam pergelangan tangan Anjani dengan erat.
"Eh? Kita mau kemana, Vin?" tanya Anjani bingung.
"Bawel. Nggak perlu banyak tanya!" tegas Vina.
Bersambung ....
Kemana Vina membawa Anjani? Nantikan lanjutan cerita Cinta Strata 1. Krisan buat author senantiasa ditunggu, ya. See You. 😉
Hai. Masih kepo dengan apa yang dialami Meli di Jogja? Segera kunjungi novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Ada Meli Syahrani di sana. 😊
__ADS_1