
Warung Paman Sam tutup lebih awal. Sejak Anjani pulang dari membeli ikan gurame, Paman Sam sibuk di dapur untuk memasak. Hidangan yang dibuat nantinya akan disuguhkan pada tamu yang akan datang malam ini. Paman Sam memasak ikan gurame bumbu rica-rica.
Anjani bertugas menanak nasi, membuat telur dadar bercampur bumbu dan irisan cabai, juga sayuran untuk lalapan. Sesekali Anjani membantu Paman Sam mencicipi bumbu masakannya. Hingga jam dinding menunjukkan pukul lima sore, Anjani dan Paman Sam telah selesai dengan masakannya.
"Perlu masak oseng kacang merah juga?" tanya Paman Sam menawarkan.
"Ini saja sudah cukup, Paman. Tamu yang datang kan hanya satu orang," jelas Anjani.
"Kalau begitu tata dulu di meja makan. Piring-sendoknya jangan lupa pula." Paman Sam mengingatkan.
Anjani mengangguk. Piring memanjang berisi gurame bumbu rica-rica dibawa lebih dulu ke meja makan. Setelahnya Anjani membawa piring berisi telur dadar, dan mangkuk berisi sayur lalapan. Piring-sendok garpu, teko berisi air, dan gelas pun disiapkan dengan rapi di meja makan. Lap kering yang baru dicuci tadi pagi juga terlipat rapi di dekat wadah berisi air kobokan.
Anjani tersenyum melihat meja makan yang sudah tertata rapi. Tudung saji lebar ditutupkan ke arah makanan di meja makan sebelum Anjani beranjak pergi meninggalkan.
Paman Sam menyuruh Anjani bersiap-siap. Anjani mengangguk setuju, tapi sebelum itu Anjani mengambil sapu ijuk, menyapu lantai rumah dan memastikan bagian ruang tamu bersih dan rapi.
Selesai dengan semua itu, Anjani kemudian bersiap-siap. Usai mandi Anjani menuju paper bag yang sempat dikirimkan Mario untuknya melalui kurir pengantar barang. Paper bag itu berisi dress cantik warna pink kombinasi putih dan ada sedikit corak kuning di bagian bawahnya. Desainnya simple, tapi terlihat bagus.
Anjani memakai dress tersebut dengan hati-hati, takut merusaknya. Maklum, Anjani tidak pernah memiliki baju dengan model seperti itu. Rambut Anjani yang biasanya dikepang satu, saat itu dibiarkan terurai dan sebelumnya telah disisir rapi. Selanjutnya Anjani memakai bedak, tipis-tipis saja. Sentuhan akhir, Anjani menggoreskan lipstik warna peach di bibirnya.
"Selesai," gumam Anjani sambil bercermin.
***
Di rumah Mario
Senyum terlihat merekah sedari Mario berdiri di depan cermin kamarnya. Mario telah bersiap mengenakan atasan kemeja dengan corak batik di bagian ujung bawah kemeja, sementara bagian atas kemeja itu berwarna maroon polos. Mario memakai celana panjang yang pas jika dikombinasikan dengan kemeja yang sedang dipakainya. Aroma parfum juga telah melekat di tubuhnya.
"Anjani," gumam Mario sambil tersenyum, lalu melangkah keluar dari kamarnya.
Mario menuruni anak tangga perlahan sambil merapikan kancing lengan kemeja yang dipakainya. Sampai di bawah, Mario memanggil-manggil Alenna. Mario mengedarkan pandang, tapi belum juga melihat Alenna. Sekali lagi Mario memanggil Alenna, dan yang dipanggil akhirnya menampakkan batang hidungnya.
Alenna berlarian kecil sambil membawa tas yang telah dihias dengan pita, sesuai permintaan Mario. Ada dua tas, dan keduanya berisi sepatu dengan desain dan keluaran terbaru dari perusahaannya.
Alenna rupanya telah bersiap juga. Dress dengan panjang di bawah lutut warna pink kombinasi abu-abu menjadi pilihan Alenna. Riasan wajah jangan ditanya, Alenna tahu betul riasan yang sesuai dengan dirinya. High heels warna senada dengan bajunya juga telah menghias kedua kakinya. Alenna terlihat modis dan tentu saja cantik.
"Aku sudah cantik, kan?" tanya Alenna.
"Hm," jawab Mario singkat sambil memeriksa tas yang telah diberi pita oleh Alenna.
"Dih. Gitu amat sih jawabannya. Iya-iya. Adikmu ini tidak secantik Anjani," keluh Alenna.
Mario terkekeh pelan, lalu mengucapkan terima kasih karena sudah membantu menghias tas dengan pita.
"Ayah belum datang?" tanya Mario sambil memberi kode pada Alenna untuk menuju ke halaman depan rumah itu.
"Sudah aku telepon. Katanya masih dalam perjalanan," terang Alenna.
"Baiklah. Kita tunggu di teras," pinta Mario.
Alenna mengekor di belakang Mario hingga sampai di teras depan rumah. Sekian menit Mario dan Alenna menunggu kedatangan ayahnya. Namun, yang ditunggu-tunggu belum datang juga.
"Mau aku telepon lagi?" tanya Alenna meminta persetujuan Mario.
"Tidak perlu. Apa ... mamamu sudah kau beri tahu?" tanya Mario sedikit ragu.
"Hei, dia sudah jadi mamamu juga. Tentu saja sudah kuberi tahu, dong. Aku sudah cerita banyak tentang Anjani pada mama," jelas Alenna menggebu-gebu.
"Lalu?" tanya Mario ingin tahu.
"Lalu? Hehe. Akhirnya kamu mulai bertanya tentang mama. Mama senang, dan lebih senang lagi kalau tahu kamu bertanya tentang mama," terang Alenna.
__ADS_1
Mario hanya mengangguk-angguk pelan mendengar penjelasan Alenna. Seutas senyum terlihat kemudian.
"Mama pasti akan datang ke Indonesia saat pernikahanmu nanti," imbuh Alenna.
"Hm, oke." Mario menjawab singkat lalu kembali tersenyum.
Tepat setelah obrolan tersebut, sebuah mobil mewah terlihat berhenti di depan pagar rumah. Cepat-cepat security yang berjaga membukakan gerbang. Mobil mewah melaju perlahan memasuki halaman rumah dan berhenti di dekat teras. Mobil mewah itu dikemudikan sendiri oleh ayah Mario.
Mario tersenyum melihat ayahnya telah tiba. Melihat ayahnya turun dari mobil, Mario melangkah mendekatinya, diikuti Alenna.
"Terima kasih sudah datang, Ayah." Mario menyapa sekaligus berterima kasih pada ayahnya.
"Maaf ayah sedikit terlambat karena masih harus mengambil pesanan kue di toko rekan kerja ayah," jelas ayah Mario, John.
"Kue?" tanya Alenna dengan nada semangat.
"Iya, tapi bukan buat dimakan kamu, Alenna. Kue itu untuk dibawa ke rumah calon istri Mario. Kita tidak bisa ke sana dengan tangan kosong," terang John sambil memberi pemahaman pada Alenna.
"Hihi. Oke-oke. Tenang saja aku tidak akan memakannya diam-diam," kata Alenna.
"Lebih baik kita berangkat sekarang, Ayah. Anjani pasti sudah menungguku," tutur Mario.
"Oke, kamu yang nyetir, Mario. Alenna, letakkan tasnya di bangku belakang mobil!" perintah John.
Gerbang kembali terbuka. Mobil mewah yang dinaiki Mario, Alenna, dan ayahnya pun melaju meninggalkan rumah mewah itu, menyusuri jalanan area kompleks perumahan, untuk selanjutnya menuju rumah Anjani.
***
Anjani duduk manis di sofa ruang tamu ditemani Paman Sam. Paman Sam terlihat rapi dengan kemeja motif batik. Anjani dan Paman Sam sudah duduk di sofa sejak lima menit lalu sambil mengobrol ringan. Tiba-tiba saja ada seorang wanita yang berteriak menyebut nama Anjani dengan begitu kencang, dari arah depan rumah Paman Sam. Anjani sangat mengenal suara itu, dan langsung berdiri menghampiri karena kaget dengan kedatangannya.
"Ma? Ma .... Aku senang lihat Ma datang. Kenapa tak memberi kabar Ma?" kata Anjani sambil memeluk Ma.
"Hehe, rencana ke sini dadakan. Awalnya tak ada niat datang, tapi lama-lama Ma kau ini kepikiran. Langsung saja deh ke sini naik kereta. Ma belum ketinggalan, kan?" tanya Ma.
"Ikan gurame bumbu rica-rica," jelas Ma.
"Lah? Sama, dong!" seru Paman Sam.
"Haha, rupanya kau ingat Sam dengan tradisi keluarga. Masak gurame bumbu rica-rica saat ada acara manis seperti malam ini. Ayo-ayo hidangkan di meja! Keburu tamunya datang," jelas Ma.
Paman Sam bergegas membawa bungkusan yang dibawa Ma ke dalam rumah, mengeluarkan isinya, lalu menghidangkannya di meja makan bersamaan dengan masakannya tadi sore. Sementara itu Anjani membantu Ma merapikan pakaiannya. Ma juga memakai bedak lagi dan menambah goresan lipstik di bibirnya.
"Gimana penampilan, Ma?" tanya Ma sambil mengedipkan mata.
"Hehe. Cantik dan kelihatan masih muda," puji Anjani.
Ma terkekeh mendengar pujian dari Anjani. Setelah itu, Ma meminta Anjani dan Paman Sam untuk kembali duduk di sofa sambil menunggu tamu yang dinantikan tiba.
"Sudah siap kau, Nak?" tanya Ma dengan nada tulus, membuat hati Anjani tersentuh lalu mengangguk pelan sambil tersenyum.
Tak lama kemudian yang ditunggu pun datang. Ma dan Paman Sam sedikit terkejut saat melihat mobil mewah berhenti di halaman rumah.
"Tu-tunggu. Yang mau melamarmu orang kaya?" tanya Paman Sam, tapi tidak dijawab oleh Anjani.
Anjani tidak menjawab karena dirinya sendiri terkejut melihat kedatangan Mario yang ternyata tidak datang sendirian. Anjani melihat Mario datang bersama dua orang lainnya, dan sebelumnya Mario sama sekali tidak memberi tahu Anjani.
"Itu kan, Nak Mario. Jadi yang mau melamar anak ganteng itu rupanya," tutur Ma antusias.
Mendadak Anjani berdebar. Dag-dig-dug tak karuan. Anjani mencoba mengatur nafas agar tidak terlalu kelihatan bahwa saat itu dia tegang, deg-degan hingga tanpa sadar meremat-remat jemari tangannya sendiri.
Mario mulai melangkahkan kaki di teras rumah Anjani. Alenna dan John menyusul kemudian sambil membawa tas dan kotak bermika berisi kue-kue seserahan.
__ADS_1
Paman Sam gesit dan ramah menyambut kedatangan Mario dan keluarganya. Ma mengikuti langkah Paman Sam dan ikut menyambut kedatangan tamunya. Sementara Anjani malu-malu di belakang Ma dan Paman Sam.
John duduk di antara Mario dan Alenna, sementara Anjani duduk di sebelah Paman Sam. Ma pergi ke dapur sebentar untuk mengambil beberapa cangkir teh dan menghidangkannya.
Obrolan basa-basi dimulai sebagai pembuka. Paman Sam dan John yang lebih banyak mengobrol. Sementara Ma dan Alenna menjadi pendengar baik dan sesekali ikut dalam obrolan.
Anjani dan Mario sama sekali tidak ikut dalam obrolan. Keduanya diam-diam saling tatap, saling tersenyum, dan saling memberi kode penuh cinta.
"Kamu cantik," isyarat Mario pada Anjani melalui gerakan bibirnya.
Anjani menangkap isyarat itu dengan jelas, membuatnya tersenyum lalu menunduk.
"Begini. Jadi kedatangan kami ke sini ingin meminta Anjani untuk menjadi pendamping hidup putra saya, Mario. Tentang bagaimana mereka nanti menjalani kehidupan rumah tangga, biarlah mereka menjalani dengan pembelajaran hidup yang pasti mengiring di sana. Tentang kuliah, saya pribadi pun percaya mereka akan bisa membagi waktu. Ya ... kalau mereka sudah sama-sama suka buat apa menunggu lama lagi. Hehe. Benar begitu, kan?" John mengutarakan niatan dan pemikirannya.
"Hehe, betul kali, Pak John. Kami sependapat. Ya, lebih baik cepat-cepat kita nikahkan saja mereka berdua." Paman Sam menanggapi dengan antusias. "Sekarang saya ingin dengar Nak Mario berbicara sendiri tentang keseriusan niatnya untuk menikahi Anjani. Silakan," pinta Paman Sam dengan ramah.
Anjani semakin berdebar saat Mario disuruh berbicara oleh Paman Sam. Anjani seketika menunduk. Namun, kepalanya kembali terangkat karena ingin sekali memperhatikan penuturan dan ekspresi Mario.
Mario melihat ke arah Anjani lebih dulu sebelum memulai berbicara. Kedua bola mata Mario menatap Anjani untuk sesaat, lalu tersenyum manis pada Anjani. Begitu melihat Anjani mengangguk pelan, Mario pun memulai perkataannya.
"Saya Mario Dana Putra, malam ini bersungguh-sungguh meminta Adinda Dewi Anjani untuk menjadi istri saya. Mendampingi saya, saling melengkapi, dan bersama menjalani kehidupan hingga masa tua kami nanti. Saya berjanji akan senantiasa berusaha membahagiakan hidup Anjani, menjaganya, juga akan menerima apa pun kondisi Anjani beserta kekurangannya. Anjani, apakah kamu bersedia?" tanya Mario dengan tulus.
Jantung Anjani semakin kencang berdebar-bedar. Rasa bahagia yang membuncah dalam dada telah membungkam bibirnya, hingga tak ada kata yang sanggup meluncur lantaran senyum yang sedari tadi bertahta di sana. Anjani menatap Mario sambil mengendalikan debaran jantungnya, kemudian tertunduk dan mengangguk sebagai kesediaannya.
Mario menangkap anggukan Anjani, lalu tersenyum bahagia. Semua yang ada di ruangan itu menyaksikan, Ma, Paman Sam, John, dan Alenna. Ma memeluk Anjani, disusul Alenna yang langsung beranjak dari duduknya dan bergegas memeluk Anjani juga.
"Kakak ipar," kata Alenna lalu melepaskan pelukannya dan kembali ke tempat duduknya.
"Baiklah kalau begitu tinggal menentukan tanggal pernikahannya," kata Ma antusias.
"Setuju, lebih cepat lebih baik." Alenna ikut menanggapi.
"Kalau begitu minggu depan saja," usul John tak kalah antusias.
"Eh, apa persiapannya akan cukup?" tanya Paman Sam.
"Nanti biar saya sediakan tim khusus yang akan mengatur persiapan pernikahan Mario-Anjani," jelas John.
Ma dan Paman Sam setuju. Alenna juga setuju dengan ide ayahnya. Mulanya Anjani merasa waktunya terlalu cepat dan khawatir tentang persiapan-persiapannya. Namun, setelah Mario mengangguk dan memberi isyarat untuk percaya, Anjani pun akhirnya menyetujuinya.
Setelah sepakat dengan hari dan tanggal pernikahan, semuanya berganti duduk di meja makan. Paman Sam menemani John, sementara Ma bersama dengan Alenna. Mario mengambil jeda waktu untuk berbicara berdua dengan Anjani, tentu setelah meminta izin.
Anjani dan Mario tinggal di ruang tamu sementara yang lain menyantap hidangan. Mario berpindah posisi duduk dan mendekat di samping Anjani. Mario menatap bola mata Anjani sambil tersenyum. Senyuman Mario dibalas dengan senyuman yang sama tulusnya oleh Anjani.
"Aku senang mendengarmu bersedia menjadi istriku," kata Mario sambil tetap menatap Anjani.
"Terima kasih sudah datang malam ini. Aku bahagia," jawab Anjani sembari tersenyum.
Tangan Mario bergerak perlahan meraih kedua tangan Anjani. Mario menggenggam tangan Anjani erat, lalu kembali menatapnya.
"Aku juga bahagia. Minggu depan kita menikah, Sayang. Aku sungguh tak sabar menantikannya," kata Mario.
Anjani mengangguk, tersenyum, dan masih menatap Mario. Untuk beberapa saat, Mario-Anjani larut saling tatap. Tanpa mereka sadari di balik mobil yang terparkir di depan sana, Juno menahan emosi sejak tadi. Juno menyaksikan semuanya dengan mata kepalanya sendiri.
Sebenarnya Juno telah datang sejak tadi, tepat saat Mario dan keluarganya melangkah masuk ke dalam rumah Anjani. Juno bersusah payah mengendalikan diri agar tidak menerobos masuk dan meluapkan emosi di dalam sana. Itu karena Juno menghormati orangtua yang saat itu ada di sana, ada Ma juga. Meski demikian, dada Juno sudah terbakar emosi, dan akan siap diluapkan kapan pun.
"Hah! Mas Mario kau menusukku! Dasar Tukang Tikung! Tunggu, aku akan membuat perhitungan denganmu," tegas Juno.
Tangan Juno mengepal. Setelahnya Juno menendang ban belakang mobil ayah Mario. Begitu kencang tendangan kakinya, tapi tidak terasa sakitnya. Juno tidak mengeluh atas rasa sakit di kakinya. Tidak ada yang bisa mengalahkan rasa sakit di hatinya saat itu.
***
__ADS_1
Nantikan lanjutan ceritanya, ya. 😊✨
Semoga selalu suka dengan novel Cinta Strata 1. Dukung author dengan cara like dan beri kritik saran juga, ya. Vote juga boleh, lho. Terima kasih ❤