CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Persiapan Menuju Halal


__ADS_3

Bersenandung riang, Meli melangkah menuju dapur untuk membantu sang ibu pagi itu. Wajah Meli teramat cerah. Sungguh lebih cerah dari biasanya.


“Duh bahagianya yang habis dilamar Nak Azka,” goda Fatimah.


“Iya, dong.” Perkataan sang ibu dibenarkan.


Meli memegangi kedua pipinya. Senyum merekah indah menghiasi wajah manisnya. Kembali, Meli bersenandung sambil memperhatikan sang ibu memotong-motong kubis.


“Semalam tidur nyenyak nggak?” tanya Fatimah iseng lantaran Meli terus saja senyum-senyum sendiri.


“Nyenyak banget, Bu. Apalagi ada wajah Mas Azka di sana. Hihi.” Meli terkekeh.


“Kamu mimpi’in Nak Azka?” tanya Fatimah ingin tahu.


“Iya. Mas Azka terus menatap Meli sambil tersenyum. Aura tampannya itu loh, Bu. Duh, bikin jantung nggak karuan rasanya.” Meli menjelaskan gambaran mimpinya semalam.


“Teruuuus?” Fatimah malah bersemangat memancing putrinya agar terus bercerita.


Meli kembali senyum-senyum sendiri. Dia melangkah perlahan, lalu mengambil wortel dan pisau. Tangannya mengupas sambil melanjutkan cerita mimpi manisnya semalam bersama Azka.


“Terus, Meli cubitin deh pipi Mas Azka. Gemeees. Mas Azka cakep banget, sih.” Meli kembali senyum-senyum lantaran mengingat mimpinya semalam.


“Terusss?” tanya Fatimah lagi.


“Puas nyubitin pipinya, terus Meli peluk deh Mas Azka. Uuuuh.” Meli kegirangan, kembali senyum-senyum sendiri.


“Teruuus?” Kembali Fatimah bertanya dengan senyuman penuh arti.


“Teruuuuuus? Ah, malu!” seru Meli sambil menutupi wajahnya dengan sebungkus tepung terigu yang belum dibuka.


“Eeeeeh. Itu tepung buat kue!” Fatimah mengambil bungkusan tepung terigu yang dibuat putrinya untuk menutupi wajahnya.


Satu sentilan tangan mendarat di kening Meli. Fatimah yang menyentilnya, agar putrinya itu lekas sadar dari mimpi-mimpinya bersama Azka.


“Ayo bangun-bangun!” Sekali lagi Fatimah menyentil kening Meli.


“iya-iya, Bu. Ini sudah bangun. Sudah mandi. Sudah wangi. Sudah cantik. Sudah siap menuju HALAL.” Meli menekan kata HALAL, lalu kembali senyum-senyum sendiri.


Fatimah terkekeh memperhatikan sikap putrinya itu. Lekas dia minta Meli untuk segera menyelesaikan kupasan wortelnya. Oseng kubis wortel akan segera dimasak untuk sarapan pagi itu.


Sarapan pagi itu hanya berdua saja, Meli dan Fatimah. Roni selepas subuh tadi sudah pergi ke kiosnya di pasar, dan sudah terbiasa seperti itu. Sembari sarapan, banyak sekali nasihat-nasihat yang diberikan Fatimah untuk putrinya yang sebentar lagi akan berstatus sebagai istri Azka.


“Nduk, yang namanya pernikahan itu sungguh manis. Meskipun manis, tapi kamu jangan sampai lupa bahwa tetap ada yang namanya batu kerikil, asam garamnya kehidupan.” Fatimah menasihati Meli.


“Maksudnya, Bu?” Meli belum begitu paham.


“Ingat yang ditanyakan Paman Sam tadi malam padamu?” tanya Fatimah, ingin putrinya kembali mengingat-ingat.


Meli mengingat-ingat sambil tetap mengunyah makanannya. Seteguk air kemudian meluncur melewati kerongkongannya. Bersamaan dengan itu, Meli teringat pertanyaan Paman Sam semalam.


“Meli, apakah kamu bersedia menjadi istri Nak Azka? Susah senang bersama?” Meli menirukan pertanyaan Paman Sam semalam.


“Nah, itu dia. Susah senang bersama. Seperti ibu dan ayahmu, misalnya. Saat ibu menikah dengan ayahmu, keadaan ekonomi bisa dikatakan lebih dari cukup untuk hidup waktu itu. Hingga kemudian ayahmu pindah kerja di pabrik, dan saat karirnya sudah berkembang pesat, tiba-tiba saja ayahmu kena PHK. Masih ingatkan gimana kacaunya waktu itu?” tanya Fatimah.


Meli meneguk minumannya lagi. Dia ingat betul beberapa tahun lalu sebelum kuliah, kehidupan keluarganya sempat terpuruk. Hingga kemudian Paman Sam membantu keluarganya untuk kembali bangkit.


“Bersamaan dengan jatuhnya ekonomi keluarga, malah ada yang ngajakin ibu selingkuh. Alhamdulillaah saat itu ibu tidak terbujuk rayuannya dan memilih untuk susah senang bersama ayahmu. Ibu tetap ada di sisi ayahmu saat dia terpuruk sekalipun.” Fatimah mengambil jeda. Dia meneguk minumannya.


“Bukan maksud ibu membanggakan diri dari cerita ibu, nih. Tapi ibu ingin putri ibu ini tahu, bahwa iman dan kekuatan cinta insyaAllah dapat menjadikan hubungan rumah tangga tetap utuh meski seberat apa pun ujian itu menimpa,” imbuh Fatimah, tersenyum pada Meli.


Senyum Meli mengembang. Dia mengangguk-angguk lantaran sudah memahami nasihat sang ibu. Meli lekas melangkah menuju ibunya, lalu memeluknya dengan erat.


“Andai Meli sudah menyelesaikan kuliah, nggak lagi LDR-an, lalu ikut Mas Azka tinggal di Jogja, apa ibu akan kesepian di rumah ini?” Meli melepas pelukannya.


“Nduk, kehidupan setiap manusia di bumi ini sudah ada yang menakdirkan. Tidak perlu khawatir ibu akan kesepian atau tidak. Lagipula, ibu sudah punya penggantimu, kok.” Fatimah menggoda putrinya.


“Maksud ibu? Meli sudah kadaluarsa, terus diganti? Kayak tepung terigu dong!” Meli asal menyimpulkan.

__ADS_1


“Ih!” Fatimah gemas dengan jawaban putrinya.


Fatimah menyentil kening Meli berulang. Yang disentil justru cengengesan. Niat sekali Meli menggoda sang ibu.


“Jelasin dong, Bu! Meli belum paham, nih.” Kali ini Meli meminta penjelasan sang ibu dengan lebih baik.


“Adit, anaknya Budhe Siti di desa, akan tinggal bersama kita di sini.” Fatimah antusis menyebut nama Adit.


“Apa? Adit yang jahilnya bikin astaghfirullaahal adziim? Yang masih SMA itu?” Meli terkejut hingga memberondong sang ibu dengan tanya.


Fatimah terkekeh hingga menutupi mulutnya dengan tangan. Fatimah sudah menebak putrinya itu akan terkejut saat nama Adit disebut. Masih teringat dengan jelas bagaimana usilnya Adit saat berhadapan dengan Meli.


“Iya, Adit yang sering kamu juluki BOCIL. Ayahnya kan sudah meninggal. Terus Budhe Siti memutuskan untuk merantau ke luar Jawa. Ayahmu ingin Adit tinggal di sini. Ayahmu juga yang akan membiayai sekolahnya,” terang Fatimah.


Bibir Meli manyun. Bukannya tidak suka dengan niat baik ayah ibunya, tapi Meli jadi gimana-gimana saat mengingat kejahilan Adit.


“Kalau Adit ngejahilin Mas Azka gimana?” tanya Meli.


“Nggak mungkin. Sekarang kan dia sudah SMA. Sudah lebih dewasa. Mulai sekarang kamu harus menganggapnya sebagai adik,” pinta Fatimah.


Meli menghembuskan nafas kasar. Diteguknya kembali minuman dalam gelas yang masih tersisa setengah.


“Iya, deh. Mulai kapan Adit tinggal di sini?” tanya Meli.


Baru saja Meli selesai bertanya, bahkan belum mendapat jawaban dari ibunya, sudah terdengar salam dan seruan seseorang dari arah pintu. Meli mengenalnya. Itu adalah Adit.


Bergegas Fatimah melangkah membukakan pintu untuk Adit. Fatimah yakin pasti Adit berangkat dari desa pagi-pagi buta. Sejauh yang Fatimah dengar, sejak sang ayah meninggal dan sang ibu memutuskan untuk merantau, Adit telah berubah menjadi anak yang lebih mandiri. Itulah yang belum diketahui Meli.


“Tante Meli. Assalamu’alaikum.” Salam sapa Adit.


Meli membuang muka, tapi lekas mendapat sentilan tangan dari Fatimah. Barulah, Meli cengar-cengir dan menyambut kedatangan Adit dengan lebih baik.


“Wa’alaikumsalam, BOCIL, eh Adit. Sekarang sudah tambah besar, ya. Tumben panggil Tante? Biasanya juga panggil Mbak?” tanya Meli.


“Yasudah. Adit panggil Mbak Meli aja. Kuenya ini buat Adit, ya Mbak. Laper. Terus tehnya juga. Yang ini juga, deh.” Adit asal comot apa-apa yang ada di depan Meli.


“Mbak Meli nggak ikhlash? Kalau kebanyakan nggak ikhlash nanti seret jodoh, lho. Hap!” Adit langsung memakan kue milik Meli.


Meli menahan diri untuk tidak ribut dengan Adit. Meli ingat pesan sang ibu untuk menganggap Adit sebagai adik.


“Oke. Semua itu buat kamu, deh. Ehem, lagian Mbak Meli nggak lagi seret jodoh. Orang mau nikah sama Mas Azka, nih.” Meli sengaja memperjelas kalimatnya di depan Adit yang sedang makan.


“Wow. Sungguh suatu keajaiban Mbak Meli bisa menemukan pasangan. Adit doakan cepat SAH, deh. Apa yang bisa Adit bantu?” tanya Adit sambil tetap memakan kue-kue di depan Meli.


Meli mulai menyadari sesuatu. Adit yang dulu telah banyak berubah. Adit yang dulu dikenal Meli mana mau yang namanya mendoakan apalagi menawarkan diri untuk membantu.


“Bantu bersih-bersih rumah, ya. Itu sapu di sana. Kain pel di belakang pintu. Lap di dekat wastafel.” Malah Meli yang terlihat jahil pada Adit.


“Huus. Meli!” kode Fatimah agar putrinya tidak menjahili Adit.


Meli terkekeh. Dia melihat Adit garuk-garuk kepala karena tidak mengerti. Sedangkan Fatimah, dia mulai bisa lega lantaran merasa bahwa Meli sudah bisa menerima kehadiran Adit di tengah-tengah keluarga mereka.


***


Pukul sembilan lebih tiga puluh menit, Meli dan Anjani pergi ke rumah Mario. Mario yang meminta mereka berdua untuk ke rumahnya, membahas persiapan pernikahan Meli.


Mario memperlihatkan beberapa cetak undangan kepada Meli. Ada initial M 💘 A di cover depan undangan. Mario juga memperlihatkan foto desain backdrop wedding yang telah dia pesan.


“Kak Mario gercep banget. Undangannya sampai sudah jadi.” Meli menunjukkan undangan-undangan itu pada Anjani.


“Segini cukup atau kurang, Mel?” tanya Anjani.


“Sudah cukup. Yang diundang sedikit, kok. Beberapa tetangga, saudara, sama teman-teman kuliah beberapa aja. Yang penting nanti ada yang menyaksikan momen aku dan Mas Azka SAH.” Meli kembali senyum-senyum sendiri ketika menyebut nama Azka.


Anjani lekas menyenggol bahu Meli agar tidak terus-terusan senyum-senyum sendiri di depan Mario. Meli paham, dan lekas berdehem.


“Kak Mario. Backdrop weddingnya nggak terlalu bagus, nih. Pasti mahal. Apa sebaiknya nggak perlu pakai backdrop saja? Kan cuma acara pernikahan sederhana.” Meli menego.

__ADS_1


“Sudah dipesan dan tidak bisa dibatalkan. Backdrop wedding tetap harus ada untuk tempat berfoto keluarga Jember-Jogja. Untuk catering dan segala jenis kue-kue untuk berkatan selamatan, sudah aku urus bersama Mommy dan Alenna.” Mario menerangkan semuanya seperti seorang WO professional.


Meli berkedip cepat. Itu semua jauh dari prediksinya. Meli menerka-nerka berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan jika


semua itu harus dipesan.


“Kenapa bengong gitu, Mel? Apa masih ada yang kurang?” tanya Anjani yang menangkap wajah bingung Meli.


“Ti-dak kok. Em, itu … pilihan Kak Mario pasti mahal-mahal. Takut tabunganku nggak cukup.” Meli berterus terang.


Mario tersenyum, dan segera meluruskan semua.


“Meli. Kamu tidak perlu mengganti biaya apa pun untuk semua ini. Anggap ini sebagai kado pernikahan untukmu, dariku dan Anjani.” Mario melihat ke arah Anjani.


“A-aku?” Anjani menuding dirinya.


Mario mengangguk cepat membenarkan ucapannya. Sontak saja Meli dibuat senyum-senyum atas kode-kode cinta yang ditunjukkan Mario pada Anjani.


Anjani tak menduga bahwa Mario akan berkata seperti itu. Apalagi, Mario terus-terusan menatapnya. Itulah yang membuat Anjani salah tingkah.


“Kak Mario, jangan curi-curi pandang terus. Cepetan halalin. Anjani nggak bakalan nolak kok!” seru Meli mengompori.


“Me-li!” Anjani mencubit pinggang Meli.


“Aw! Hihi. Gimana, Kak? Kapan mau nyusul aku sama Mas Azka?” Meli malah terus melanjutkan.


Kembali Anjani menghujani Meli dengan cubitan gemas. Bukan hanya di pinggang, tapi juga di pipi bahkan hidung Meli pun menjadi sasaran. Tidak ingin salah tingkah di depan Mario, Anjani pun lekas mengalihkan pembicaraan.


“Ehm, Mario. Mommy Monika mana? Kok nggak kelihatan?” Anjani tengok kanan dan tengok kiri.


“Mommy lagi-lagi harus ke kantor ayah. Kenapa Anjani? Apa kamu ingin meminta restu Mommy?” Mario menggoda Anjani.


Meli tertawa sampai memegangi perutnya. Meli tidak menyangka Mario tidak sungkan-sungkan lagi menggoda Anjani seperti itu. Meli bahkan merasa bahwa tak lama lagi Mario-Anjani lekas menyusul kebahagiaan dirinya dan Azka.


Anjani memegangi keningnya lantaran malu. Anjani menyesal karena salah mengambil topik pengalihan. Bukan malah mereda, Anjani justru semakin dibuat salah tingkah. Namun, sekali lagi Anjani mencoba untuk membuka topik baru agar dirinya tidak terus-terusan menjadi sorotan.


“Oke. Apalagi yang bisa aku bantu untuk persiapan pernikahanmu, Mel?” tanya Anjani pada Meli. Namun, malah Mario yang menjawabnya.


“InsyaAllah semua sudah siap, Anjani. Surat dan dokumen untuk melaksanakan pernikahan sudah dibantu urus oleh keluarga Mas Azka. Pernak-pernik lain juga sudah diurus. Tinggal Meli yang bersiap diri, menghitung hari menuju SAH,” jelas Mario. “Tapi, tolong bantu aku satu lagi,” imbuh Mario.


Meli antusias mendengarkan. Bisa jadi memang ada persiapan yang kurang. Anjani juga demikian. Cepat-cepat dia bertanya apa yang bisa dia bantu.


“Katakan, apa yang bisa aku bantu?” tanya Anjani.


“Tolong bujuk Mommy untuk membatalkan pesanan baju pasangan adat jawa,” terang Mario.


“Eh? Untuk siapa baju itu? Untuk Meli dan Mas Azka?” tebak Anjani.


“Bukan untuk mereka. Mommy memesan itu untuk kita, Anjani. Sudah kubilang pada Mommy, aku tidak ingin terlihat lebih mencolok dari pengantinnya.” Mario serius menjelaskan.


Anjani dan Meli kompak tertawa. Mereka berdua tidak habis pikir dengan ide Mommy Monika. Namun, karena Anjani juga disangkut pautkan untuk memakai baju yang sama dengan Mario, maka Anjani bertekad untuk membujuk Mommy Monika.


“Baiklah. Aku bujuk Mommy nanti.” Anjani menyeka air mata yang keluar di sudut mata lantaran terlalu larut dalam tawa.


Mario meminta Meli membuat list nama siapa-siapa saja yang akan diundang dalam acara selamatan pernikahannya. Tidak butuh waktu lama bagi Meli untuk menuliskannya, karena tamu undangannya hanya beberapa. Saat Meli asik menulis dengan ditemani Anjani di sebelahnya, dari arah luar terdengar seruan salam.


Tiga sosok lelaki melangkah masuk melewati pintu rumah Mario. Anjani dan Meli mengenali mereka. Itu adalah teman-temannya. Ada Ken, Juno, dan Dika. Mario menyambut ketiganya.


“Meli,” lirih Dika sambil melihat ke arah Meli.


Meli melihat sekilas ke arah Dika, lantas membuang muka darinya.


Bersambung ….


Ada Dika? Greget-greget dikit karena ada tokoh yang tersakiti nggak papa, ya. 😁 Btw, di Jogja ada yang tersakiti juga tuh karena Azka memilih Meli. Kepoin yuk siapa dia. Cari tahu di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Dukung kolaborasi kami, ya. Terima kasih atas dukungan kakak-kakak yang sudah vote, like, dan meninggalkan jejak komentarnya. Barakallah 😊


__ADS_1


__ADS_2