
"Sayuuuur!" seru penjual sayur keliling di depan rumah Ken.
Buru-buru Ken keluar dari rumah sambil membawa beberapa lembar uang. Pagar rumah didorong hingga bergeser beberapa meter. Ken pun melangkah santai menghampiri abang tukang sayur langganan bibi juru masak di rumahnya.
"Bibi yang biasa belanja mana, Mas?" tanya abang tukang sayur.
"Pulang kampung," jawab Ken santai.
Jemari tangan Ken asik melihat-lihat sayuran yang tersuguh begitu banyak. Pilihan Ken jatuh pada sayur kacang panjang. Tidak sekedar langsung ambil. Ken memilih-milih dulu kacang panjang yang akan dia pinang. Tentunya kacang panjang yang terlihat paling menarik perhatian di antara sekian banyak kacang panjang yang dijajakan.
"Ini satu ikat. Tambah tempe satu ya, Bang! Itu yang paling besar aja," pinta Ken.
Tempe dan satu ikat kacang panjang lekas dimasukkan dalam wadah plastik oleh abang tukang sayur. Ken membayarnya dan langsung masuk lagi ke dalam rumah.
Rumah Ken benar-benar sepi. Bibi yang biasanya memasak di rumah Ken izin pulang kampung selama seminggu ke depan, sementara Juno masih belum kembali dari liburan di desa.
Sebenarnya Ken bisa saja pesan makanan via aplikasi online. Namun, siang itu Ken ingin sesuatu yang beda. Dia ingin masak sendiri. Siang? Ya, Ken masak siang-siang. Sayuran yang dibeli barusan pun adalah langganan bibi juru masak rumah Ken saat siang, dan biasanya oleh bibi juru masak rumah Ken akan digunakan untuk memasak masakan persiapan makan malam.
Krucuk-krucuk!
Perut Ken keroncongan. Pagi tadi Ken hanya memasak mie instan. Energi yang digunakan Ken di rumahnya begitu banyak untuk membungkus sepatu orderan pelanggan olshop milik Mario, hingga dirinya mudah lapar. Cemilan saja tidak cukup untuk mengganjal perutnya yang terbiasa diberi asupan dalam porsi besar.
"Oke. Nasi sudah masak di magic com. Tempe sudah digoreng meski … go-song. Hoho. Satu lagi, tumis kacang. Oke, lihat video tutorial dulu." Tangan Ken lincah mencari video tutorial cara memasak tumis kacang.
Ken beraksi. Bumbu-bumbu disiapkan sesuai yang tertera pada video yang ditontonnya. Sayur kacang panjang juga sudah dipotong kecil dan dicuci. Setelah tiga puluh menit berlalu penuh perjuangan, tumis kacang pun jadi.
"Jreeeng! Makanan siap!" seru Ken girang.
Sepiring nasi yang lebih menyerupai bubur telah terhidang. Sepiring tempe goreng cokelat kehitaman juga telah terhidang. Terakhir, tumis kacang panjang hasil melihat video tutorial memasak juga telah terhidang.
“Assalamu’alaikum. Mas Ken!” seru seseorang dari luar rumah Ken.
Ken sangat mengenal suara dan sapaan itu. Jelas sekali itu adalah suara Juno. Suapan pertama yang siap meluncur untuk dikunyah pun diurungkan. Ken meletakkan sendok garpu di piringnya dan lekas berlarian membukakan pintu rumah untuk Juno.
“Wa’alaikumsalam. Junoooo. Sini peluk!” Ken merentangkan kedua tangan dan bersiap memeluk Juno.
“Iiiih. Tidak-tidak. Apa’an sih pakai peluk-peluk. Aku masih normal, Mas.” Juno mundur beberapa langkah.
Ken dengan cepat menjitak kepala Juno dengan gemas. Merasa rindu dengan jitakan tangan Ken di kepalanya, Juno pun seketika tertawa. Bahkan tanpa sungkan lagi memeluk Ken yang sudah dia anggap seperti saudara.
“Hmm … bau masakan, nih. Jadi lapar,” celetuk Juno.
“Pas banget. Baru datang dari liburan, pulang ke rumah langsung ketemu makanan. Letakkan dulu oleh-olehmu. Kita makan bareng sekarang,” saran Ken dengan penuh kepercayaan diri.
Ken melangkah lebih dulu menuju meja makan. Sementara Juno meletakkan barang-barang beserta oleh-oleh yang dibawanya di atas meja ruang tamu. Beres dengan itu semua, Juno bergegas menyusul Ken.
Mood baik mendadak berubah. Raut wajah Juno berubah aneh saat melihat makanan yang terhidang di meja makan.
“Mas Ken, masakan siapa ini?” tanya Juno.
“Masakanku, dong!” seru Ken menjawab dengan bangga.
“Alhamdulillaah,” ucap Juno dengan raut wajah penuh kelegaan. “Kirain ini masakan bibi. Pantes deh kalau tampilannya model begini kalau Mas Ken yang masak,” celetuk Juno, lalu mengambil posisi duduk di seberang Ken.
“Rasanya tidak seburuk penampilannya, kok. Dijamin nggak sampai keracunan.” Ken meyakinkan Juno.
Juno memaklumi. Lagipula perutnya sudah terasa lapar setelah menempuh perjalanan dari desa ke kota. Sepiring nasi yang mirip bubur lekas diambil. Satu tempe goreng cokelat kehitaman juga diambil. Satu-satunya yang membuat penampilan makanan dalam piring Juno menarik adalah hijaunya tumis kacang panjang.
“Gimana? Lumayan, kan?” tanya Ken sambil melihat Juno mengunyah.
Juno tak mau banyak berkomentar tentang rasa masakan buatan Ken. Juno lahap saja memakan yang terhidang di piringnya. Bahkan Juno tidak sungkan untuk tambah demi mengatasi rasa laparnya.
“Kok sudah pulang, sih? Katanya baru besok mau pulang.” Ken iseng tanya di sela aktivitas makan siang mereka.
“Sudah kangen Anjani. Dia sih nggak jadi pulang ke desa. Tuh, aku juga bawain banyak oleh-oleh titipan Ma untuk Anjani. Nanti malam mau kuantarkan ke rumah Paman Sam,” jelas Juno.
Ken melihat keseriusan di wajah Juno saat menyebut nama Anjani. Dia menahan diri untuk tidak bercanda apalagi membahas desakan keluarga Mario yang menginginkan Mario untuk segera melamar Anjani lagi.
“Ehem, Jun. Anjani sama Meli masih ada di Jogja. Percuma kau datang malam ini nggak bakal ketemu Anjani. Besok-besok aja nunggu kabar kedatangan mereka,” saran Ken.
“Kok aku nggak tau sih Anjani sama Meli ke Jogja?” tanya Juno dengan mulut penuh makanan.
“Ish. Masa iya mereka mau liburan harus minta ijin dulu sama kau. Kunyah dulu makananmu, Jun!” seru Ken kemudian.
Juno manggut-manggut. Dia masih lahap mengunyah tempe goreng cokelat kehitaman masakan Ken.
“Kalau gitu nanti malam aku antar oleh-oleh untuk Mas Mario aja, deh. Sore nanti aku mau istirahat dulu,” jelas Juno.
Kali ini Ken setuju dengan Juno. Akan lebih baik jika dia ke rumah Mario saja, karena besar kemungkinan Mario mudah ditemui di rumahnya saat malam. Lagipula setahu Ken, Mario tidak punya agenda khusus apa pun selain mengurusi olshopnya. Ken juga bercerita sedikit tentang Mommy Monika yang tinggal di rumah Mario, agar Juno tidak terkejut saat datang ke rumah Mario.
"Em, Mas Ken!" panggil Juno.
"Apa lagi, Jun?"
"Nggak jadi ke rumah Mas Mario, deh." Juno mendadak mengurungkan niatnya.
__ADS_1
"Heeem. Pasti takut yang bukain pintu Alenna, kan?" tebak Ken.
Juno cengar-cengir dan manggut-manggut tanpa mengelak dugaan Ken. Wajar saja bila Juno bersikap demikian. Juno dan Alenna memang sempat menjalin hubungan spesial, dan telah berakhir. Namun, meski waktu telah berlalu cukup lama, Juno masih saja sering merasa canggung saat berhadapan langsung dengan Alenna.
"Yaudah, mending dibuat istirahat aja sambil temenin aku bungkus orderan olshop-nya Mario." Ken memberi saran dan seketika mendapat anggukan dari Juno.
***
Sore hari pun tiba. Alenna baru saja datang dari kantornya. Kedatangannya hampir beriringan dengan John, ayahnya. Alenna dan John lekas masuk ke dalam rumah bersama-sama diiringi celoteh-celoteh khas Alenna.
Begitu sampai di dalam rumah, terlihat Mario masih asik membungkus sepatu orderan pelanggan olshopnya. Tidak terlalu banyak karena Mario sudah berbagi tugas dengan Ken. Di sebelah Mario, Mommy Monika menemani sambil menonton berita via smartphone-nya.
“Mario-mario-mario! Aku punya kabar baik, nih!” seru Alenna sambil menghampiri kakaknya itu.
“Salam dulu,” kata Mario santai.
“Oh iya, assalamu’alaikum.” Alenna salam sambil cengengesan.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Mario dan Mommy Monika hampir bersamaan.
Mommy Monika lekas berdiri menghampiri suaminya. Mommy Monika menyalami suaminya itu, lalu memeluknya dengan mesra.
Mario mencoba terbiasa dengan kemesraan orangtuanya. Namun, tidak bisa dia pungkiri bahwa suasana rumahnya kembali hangat sejak ayah dan mommynya tinggal di rumah itu.
“Sst. Mario!” Alenna mencolek lengan kanan Mario. “Ada kabar baik,” imbuhnya.
“Hm. Apa?” tanya Mario tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas pembungkus.
Merasa kakaknya itu tidak terlalu memedulikannya, bibir Alenna seketika manyun. Bola matanya lekas berpindah menuju ayah dan mommynya.
“Ayah, Mommy, Anjani hari ini pulang dari Jogja!” seru Alenna dengan nada riang gembira.
Mario terperanjat. Seketika dia menoleh Alenna. Sikap Mario yang mendadak kepo memancing aksi jahil Alenna untuk kembali menggoda kakaknya.
“Ehem, pasti kepo kan aku tahu dari mana?” tanya Alenna sambil melirik Mario dengan senyum penuh makna.
“Dari mana?” tanya Mario tanpa sungkan. Mario benar-benar ingin tahu.
Alenna, John, dan Mommy Monika kompak tertawa.
“Tentu saja tahu dari kakak ipar langsung, dong. Malam ini keretanya tiba,” terang Alenna.
“Oh.” Hanya itu jawaban Mario setelah tahu.
Alenna gemas dengan sikap kakaknya yang mendadak sok cuek. Langkah Alenna lekas berpindah. Dia duduk di sebelah Mommynya yang tengah asik merapikan dokumen yang baru saja dibawa suaminya.
Alenna dan Mommy Monika yang berniat membuat ide-ide untuk Mario-Anjani pun lekas mengurungkan niatnya. John yang memperhatikan istri dan putra-putrinya itu pun lekas tertawa.
Semalam setelah obrolan Mario bersama ayahnya di sepertiga malam, Mario memergoki bisik-bisik yang dibuat Mommy Monika, Alenna, bahkan John. Alhasil, sebelum ide Monika tersampaikan, Mario lebih dulu menyuruh semuanya untuk bubar dan kembali ke kamar masing-masing.
“Mario. Bisa ikut ayah sebentar memeriksa dokumen perusahaan?” tanya John.
Mario menggangguk. Kertas pembungkus lekas dipinggirkan untuk dilanjutkan lagi nanti. Mario lekas mengikuti ayahnya. Namun, tanpa sepengetahuan Mario, John telah memberi kode mata pada Mommy Monika dan Alenna untuk melanjutkan obrolan ide-ide yang mereka siapkan untuk Mario-Anjani.
***
Stasiun Jember selepas isya’.
“Mel, sudah nggak ada yang tertinggal? Dompet?" tanya Anjani pada Meli. Sesampainya kereta di stasiun, mereka menunaikan sholat lebih dulu sebelum pulang ke rumah masing-masing.
“Sudah. Dompet juga masih aman. Kalaupun dompetku hilang lagi aku juga rela, kok. Asalkan Mas Azka yang datang lagi jadi hero-ku. Hihi.” Meli mulai lagi.
“Hem. Yang lagi berbunga-bunga,” goda Anjani.
“Kamu tunggu sini bentar, ya. Biar aku carikan bentor di depan,” kata Anjani.
“Eh, tunggu. Serahkan itu pada Meli. Kamu duduk manis aja di sini. Nanti biar abang bentornya kusuruh ke sini buat bawain barang-barang kita.” Meli tampak masih memiliki semangat penuh meski telah menempuh perjalanan jauh dari Jogja.
“Oke, deh.” Anjani menurut, karena sebenarnya dia mulai merasakan lelah.
Meski pesan kendaraan via aplikasi online sangat mudah di sana, Anjani dan Meli lebih suka mengendarai bentor (becak motor). Selain sudah menjadi kebiasaan, Anjani dan Meli sangat suka menikmati hembusan angin yang menerpa wajah saat bentor melaju hingga tempat yang dituju.
Sepuluh menit berlalu, Meli masih belum juga kembali menampakkan batang hidungnya. Anjani jadi merasa khawatir, mengingat Meli seringkali ceroboh. Anjani berdiri, tengok kanan-kiri, lalu duduk lagi. Begitu terus hingga terulang beberapa kali.
"Alhamdulillaah, akhirnya muncul juga." Anjani senang melihat Meli kembali sambil menampakkan senyum cerianya.
"Mel, kok lama sih? Cari di mana bentornya? Di dekat kosnya Dika?" Anjani memberondong tanya.
"Jangan bawa-bawa nama Dika lagi, ah. Sekarang ini hati Meli dipenuhi nama Mas Azka. Dika udah jadi masa lalu!" tegas Meli.
Melihat Meli begitu serius menanggapi, Anjani pun tak lagi berniat untuk memperpanjangnya. Anjani hanya mencubit pelan lengan Meli agar tidak terlalu ngegas menanggapi candaannya.
"Mana abang bentornya?" tanya Anjani.
Wajah Meli lekas ceria lagi saat Anjani bertanya abang bentor.
__ADS_1
"Bentar lagi juga ke sini. Nah, itu dia abangnya! Itu-itu-itu!" tunjuk Meli dengan kehebohannya.
Anjani mengikuti arah yang ditunjuk Meli.
"M-Mario?" lirih Anjani.
Sosok tampan berkemeja lengan panjang wana blue sky berjalan mendekat. Senyum manis menghiasi wajahnya. Senyum itulah yang membuat dada Anjani mendadak berdebar-debar.
"Assalamu'alaikum, Anjani. Bagaimana kabarmu?" salam sapa Mario.
Anjani tak menjawab. Dirinya masih terjerat dalam pesona wajah tampan sosok lelaki di depannya. Jantungnya bahkan masih terus berdebar-debar.
"Anjani. Sst!" Meli mencubit pelan pipi kiri Anjani agar lekas tersadar.
"Aw!" seru Anjani. Seketika Anjani tertunduk malu. Astaghfirullaah, ngapain aku barusan? Batinnya.
"Hehe. Maaf Kak Mario. Anjani agak kelelahan sepertinya. Jadi agak kurang fokus." Meli berbaik hati menyelamatkan Anjani yang terlihat jelas sedang salah tingkah.
Mario tersenyum. Mario menyarankan pada Anjani dan Meli untuk cepat pulang agar bisa segera beristirahat. Setelah mendapat anggukan dari Anjani dan Meli, Mario pun sigap menggotong barang-barang ke bagasi mobilnya. Anjani dan Meli membantu Mario dengan membawa barang-barang yang lebih ringan.
Koper beserta oleh-oleh dari Jogja telah dimasukkan dalam bagasi mobil mewah Mario. Anjani dan Meli lekas duduk nyaman di dalam mobil. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
"Mario, apakah tadi kebetulan kamu ada di dekat sana saat Meli mencari bentor?" Anjani tak bisa menahan rasa penasarannya.
Mario tersenyum. "Kebetulan? Em, kamu bisa menganggapnya sebagai suatu kebetulan yang disengaja," terang Mario tanpa memudarkan senyumnya.
Anjani menoleh ke arah Meli. Yang ditoleh justru asik memainkan alisnya berniat menggoda.
"Cie," bisik Meli.
"Anjani, di depan ada pengalihan jalan. Jadi, tidak bisa lewat jalan yang biasanya. Aku izin mengantarkanmu pulang dulu, baru setelah itu mengantarkan Meli pulang ke rumahnya. Tidak keberatan?" izin Mario.
"I-izin?" Anjani sedikit heran kenapa juga Mario harus meminta izin segala.
"Anjani, tenang aja. Meski kamu diantar pulang duluan, aku nggak bakalan godain Kak Mario, kok, karena di hatiku sudah ada Mas Az ... Aw-aw-aw!" Meli tidak melanjutkan kata-katanya karena diserang oleh cubitan bertubi di lengannya.
Meli terkekeh, dan masih sempat-sempatnya melanjutkan untuk menggoda Anjani.
Mario asik melihat keseruan Anjani dan Meli lewat kaca mobil. Diam-diam Mario mencuri pandang senyum yang tertoreh di wajah Anjani.
Lima belas menit berlalu, Anjani pun sampai di rumah Paman Sam. Mario sigap menurunkan oleh-oleh milik Anjani beserta kopernya. Ada Paman Sam, Bibi Sarah, dan Renal yang menyambut kedatangan Anjani di rumah. Paman Sam sekeluarga sangat berterima kasih pada Mario.
"Nak Mario, terima kasih banyak. Benar-benar menantu idaman," puji Paman Sam.
Anjani hanya senyum-senyum tak berani komentar macam-macam. Khawatir semakin ditanggapi semakin panjang.
"Anjani, aku pamit pulang dulu. Lekas istirahatlah setelah ini," saran Mario.
Anjani mengangguk pelan seraya tersenyum.
Mario tidak langsung balik badan. Dia justru melangkah mendekati Anjani hingga jarak mereka bisa dikatakan terlalu dekat. Mario membisikkan sesuatu di telinga Anjani.
"Besok aku tunggu di rumah. Mommy ingin mengenalmu," bisik Mario.
"I-iya," lirih Anjani. Susah payah dia mengatasi debaran jantungnya.
Paman Sam dan Bibi Sarah senyum-senyum melihat aksi Mario pada Anjani. Meli yang juga melihatnya pun ikut senyum-senyum sambil memegangi pipinya.
Sekali lagi Mario berpamitan pada keluarga Anjani. Setelahnya dia melangkah menuju mobilnya.
"Dijamin bakal susah tidur kau malam ini," goda Meli usai cipika-cipiki dengan Anjani.
Anjani hanya tersenyum, tidak berusaha mengelak.
"Mel, jangan lupa kabari aku kalau kamu sudah bercerita pada Paman Roni dan Bibi Fatimah tentang niat baik Mas Azka. Apa pun keputusan mereka, kabari aku. Bismillaah." Anjani memberi semangat pada Meli.
Meli mengangguk mantap. Dia bahkan lekas memeluk Anjani lagi sebelum melangkah masuk mobil Mario.
Lambaian tangan Meli mengiringi mobil Mario yang mulai melaju. Anjani melihat senyum bahagia Meli yang membawa pulang nama Azka. Selain itu, Anjani juga bisa melihat senyum Mario beserta kehangatan yang sengaja ditinggal dalam hatinya.
Lima belas menit mobil Mario melaju dengan kecepatan sedang menuju rumah Meli. Tak banyak obrolan yang dibuat selama perjalanan karena baik Mario ataupun Meli sama-sama disibukkan dengan pikirannya masing-masing.
Sepanjang perjalanan Meli terus berusaha merancang kalimat yang tepat untuk memulai obrolan dengan ayah ibunya tentang lamaran Azka. Meli juga sering menghela nafas panjang sambil sesekali beristighfar untuk menenangkan dirinya.
"Meli, kita sudah sampai. Kamu tidak mau turun?" tanya Mario.
Meli sampai tidak sadar bahwa mobil Mario sudah sampai di depan rumahnya.
"I-iya, Kak. Hehe. Terima kasih banyak sudah nganterin Meli," kata Meli, lalu bergegas turun dari mobil Mario.
Mario menurunkan oleh-oleh milik Meli beserta kopernya. Saat menurunkan barang-barang Meli itulah ayah dan ibu Meli keluar. Roni dan Fatimah yang sudah sempat mengenal Mario pun berterima kasih padanya. Mario lekas menyalami orangtua Meli, kemudian pamit pulang.
"Assalamu'alaikum ... ayah," salam Meli pada ayahnya.
Bersambung ....
__ADS_1
Bagaimana cara Meli menyampaikan niat baik Azka dan keluarganya? Akankah Roni dan Fatimah mengizinkan Meli untuk menikah? Pastinya Azka di Jogja sana harap-harap cemas menanti kabar dari Meli. Eit, Mario udah makin berani aja tuh mendekati Anjani. Hihi. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Cari tahu yuk sosok Azka di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Dukung kolaborasi kami, ya. Like, Vote, dan tinggalkan jejak komentar kalian. See You.