CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Di Rumah Anjani


__ADS_3

❤❤❤❤❤ ❤❤❤❤❤


Terima kasih untuk semua pihak yang sudah mendukung novel CINTA STRATA 1. Terus dukung author dengan cara like, rate5, klik fav, dan vote sebanyak-banyaknya. Selamat membaca, ya. Salam dariku. 😊


❤❤❤❤❤ ❤❤❤❤❤


"Anjani ...! Miko lepas dari kandang. Cepat kau tangkap!" teriak Paman Sam dari warung.


Teriakan Paman Sam terdengar sampai dapur. Kebetulan Anjani sedang sarapan di sana. Meski telah mendengar teriakan Paman Sam, Anjani tidak ingin terburu-buru menghabiskan makanan di piringnya. Dia begitu menikmati oseng kacang pedas lauk ikan pindang. Paman Sam yang tadi memasak oseng kacang pedas, sementara Anjani yang menggoreng ikan pindang.


"Anjani, si Miko kesayangan kau jahil sama pembeli, nih! Cepat kau amankan!" teriak Paman Sam dari warung untuk kedua kalinya.


Lagi-lagi Anjani tidak terburu-buru, dia masih menikmati makanannya. Bahkan, dia menambah nasi dan lauk lagi karena masih merasa lapar. Oseng kacang pedas yang sengaja dimasak banyak langsung berpindah beberapa sendok ke dalam piringnya. Terhitung, itu sudah kali kedua dia menambah makanannya.


"Anjani! Kenapa dari tadi tak kau jawab teriakan paman kau ini, he?" tanya Paman Sam yang tiba-tiba sudah ada di dapur.


"Hehe, maaf. Bentar ya, Paman. Nanggung tinggal beberapa suap. Hap!" ujar Anjani di sela aktivitas makannya.


"Setelah selesai makan, cepat temui Mario di depan!" tutur Paman Sam.


Terkejut, Anjani mendadak berhenti mengunyah. Dia tampak berkedip cepat, seolah sedang menyadarkan diri bahwa yang baru saja didengar olehnya tidak salah. Tak cukup hanya dengan mengedipkan mata, Anjani langsung berdiri mengambil segelas air putih dan meminumnya beberapa teguk.


"Si Miko atau Mario yang harus kutangkap, ya Paman?" tanya Anjani.


"Eh, sudah makan masih ngelindur pula kau ini. Yang harus kau tangkap itu si Miko. Yang harus kau temui itu Mario. Cepat temui dia!" ujar Paman Sam sambil ikut-ikutan mengambil segelas air putih.


"Mario ada di sini? Sekarang ini maksudnya?" tanya Anjani lagi. Dia seperti tidak percaya Mario berkunjung ke rumahnya.


"Iya, Anjani. Ah, cuci dulu tangan kau itu biar tak bau amis. Biar aku yang buatkan teh untuknya. Cepatlah!" tegas Paman Sam menyuruh Anjani untuk tidak berlama-lama.


Anjani bergegas menghabiskan makanan di piringnya, mencuci tangannya hingga bersih dan wangi, dan cepat-cepat menemui Mario di ruang tamu. Dia menyempatkan diri untuk sedikit merapikan pakaiannya sebelum menemui Mario. Hingga langkah kakinya hampir sampai di ruang tamu, dia berhenti dan memutuskan untuk mengintip dari balik gorden di dekat sana.


"Ternyata beneran Mario," ucap Anjani lirih.


"Anjani, tidak perlu mengintip dari balik gorden. Temui saja aku di sini!" ujar Mario sembari tersenyum.


Deg!


Tiba-tiba jantung Anjani berdebar. Bukan karena hal yang menakutkan, dia hanya kaget karena Mario bisa tahu bahwa dirinya sedang bersembunyi di balik gorden untuk mengintip. Setengah salah tingkah, Anjani pun keluar sambil menahan malu.


"Kamu bisa tau aku sembunyi di balik gorden. Hebat!" ujar Anjani memuji.


"Lain kali kalau mau sembunyi pastikan dulu kakimu tidak terlihat," jelas Mario.

__ADS_1


Seketika Anjani sadar bahwa apa yang dikatakan Mario benar. Tingkah Anjani yang sebelumnya tidak bisa dikatakan bersembunyi. Bagian kaki Anjani bisa terlihat jelas karena panjang gorden tidak sampai menyentuh lantai. Anjani malu, benar-benar malu. Namun, dia mencoba untuk menahan itu.


"Kamu nggak ngampus?" tanya Anjani kemudian, demi mengalihkan topik.


"Tidak! Semester ini kan sudah selesai, tinggal nunggu nilai. Bagaimana denganmu?"


"Bener juga, sih. Sama, aku juga nunggu nilai keluar. Tapi ntar mau ke kampus. Ada urusan sama Berlian." Anjani mencoba berterus terang.


Mario melihat perubahan ekspresi pada wajah Anjani. Mario tahu persis apa yang akan dibahas Anjani nantinya bersama Berlian. Mario sudah menunggu itu, dan ingin segera tahu hasilnya.


"Kebetulan. Aku bawakan sepatu untukmu, dan bisa kau pakai nanti. Aku belum meminta maaf karena pernah berbohong tentang sales sepatu dan apa pun itu. Maaf, Anjani. Aku tidak bermaksud demikian."


Anjani tersenyum mendengarnya. Dia tidak menyangka bahwa Mario memiliki sisi yang berbeda. Saat ini kebaikan pada diri Mario naik satu level di mata Anjani.


Baru saja Anjani hendak menanggpi permintaan maaf Mario, tapi Paman Sam sudah berteriak dari dapur. Cepat-cepat Anjani ke dapur, dan kembali bersama Paman Sam sambil membawa nampan berisi dua cangkir teh.


"Silakan kau minum tehnya, ya. Hehe .... Paman tinggal jaga warung dulu," tutur Paman Sam mempersilakan.


"Terima kasih banyak, Paman." Mario berterima kasih sembari tersenyum dan memancarkan aura ketampanannya, membuat Paman Sam semakin senang padanya.


Anjani lebih dulu meminum teh bagiannya, tapi hanya beberapa seruput lalu diletakkan lagi. Mario juga melakukan hal yang sama, segera meminum teh yang dihidangkan untuknya.


"Makasih sepatunya. Pasti akan aku pakai. Lagipula aku sudah memaafkanmu sejak kamu ngirim mawar putih waktu itu," terang Anjani.


"Mawar putih yang waktu di kantin, tuh. Waktu mendung-mendung, terus ada kurir badannya gempal. Itu kamu yang ngirim buat aku, kan?" selidik Anjani. Dia mulai merasa ada yang aneh.


"Bukan dariku. Mungkin orang lain. Aku serius kali ini," ujar Mario menanggapi.


Lalu, siapa pengirimnya? Apa jangan-jangan Juno? batin Anjani.


Anjani sedikit bingung hingga mengundang pertanyaan kenapa dan ada apa dari Mario. Namun, Anjani enggan untuk bercerita. Agar Mario tidak bertanya lagi, Anjani memutuskan untuk bertanya sesuatu.


"Oh ya, emang nggak apa-apa kamu datang sendirian ke rumahku? Takutnya nanti ada yang cemburu? Ups!" ujar Anjani. Dia sengaja mengatakan itu.


"Siapa yang cemburu?" tanya Mario tidak paham.


"Ya cewek yang dijodohin sama kamulah. Masa iya dia nggak cemburu liat cowoknya datang ke rumah cewek lain!" tegas Anjani.


Anjani tidak langsung mendapat tanggapan dari Mario. Dia hanya melihat senyuman manis di sana. Senyuman yang tidak setiap orang bisa melihatnya. Bahkan, teman-teman di kampusnya jarang sekali melihat senyuman Mario yang seperti itu. Memang pantas jika Mario menyandang gelar idola kampus di antara para mahasiswi jurusannya.


"Anjani, sepertinya justru kamu yang terlihat sedang cemburu," tutur Mario sambil tersenyum.


"Nggak, siapa juga yang cemburu!" bantah Anjani.

__ADS_1


Demi menghindar dari pertanyaan lain yang bisa membuat lebih canggung, Anjani segera mengganti topik bahasan mulai dari sistem nilai kuliah, kabar Boy si kucing, hingga sedikit menyinggung rencana pulang kampung ke desanya. Dan ... tanpa terasa Mario sudah berniat untuk pulang.


"Aku pulang dulu biar kamu bisa segera bertemu Berlian," tutur Mario.


"Masih jam dua ntar siang ketemunya, kok. Tapi kalau kamu mau pulang dulu ya oke, silakan!" ujar Anjani.


"Baik, aku pulang dulu. Terima kasih untuk tehnya. Sampai jumpa nanti, Anjani." Mario pamit.


Anjani mengantar Mario untuk pamit pada Paman Sam. Dia juga melihat Mario mengemudikan motornya. Hingga Mario sudah tidak terlihat lagi, barulah Anjani merasa ada yang aneh.


"Sampai jumpa nanti? Eh?" ucap Anjani lirih pada dirinya.


***


Sesaat setelah Mario pulang, Anjani bergegas mengurus Miko agar tidak menjahili pembeli di warung Paman Sam. Selesai mengurus Miko, Anjani langsung membantu Paman Sam di warungnya karena antrian pembeli panjang.


Tepat saat Mario pamit pulang tadi, mendadak antrian pembeli di warung Paman Sam membludak. Pemandangan itu hampir sama seperti saat Mario pertama kali datang ke rumah Paman Sam untuk tutor bersama Anjani dan teman lainnya. Namun, kali ini antrian lebih tertib. Melihat antrian sepanjang itu membuat Anjani langsung membantu Paman Sam.


"Mario itu temanmu, kan?" tanya Paman Sam tiba-tiba saat pembeli yang antri sudah terlayani semua.


"Iya," jawab Anjani.


"Hanya teman saja?" tanya Paman Sam lagi.


"Iya, Paman. Hanya sebatas teman," jawab Anjani. Dia mulai merasa ada yang aneh dengan pertanyaan pamannya.


"Bukan pacar?" tanya Paman Sam untuk ketiga kalinya.


Anjani menghela nafas. Lelaki di hadapannya seperti bukan Paman Sam. Biasanya Paman Sam selalu awas jika ada laki-laki yang datang ke rumahnya, meski itu hanya teman Anjani biasa. Namun, saat Mario yang datang justru reaksinya sama sekali berbeda.


"Bukan pacar, Paman. Hanya teman," jawab Anjani.


"Kau tak ada niat buat jadiin dia gebetan?" tanya Paman Sam untuk kesekian kali.


"Paman ...!" seru Anjani. Dia gemas menghadapi pertanyaan Paman Sam yang seperti berkelanjutan.


"Haha ... biasa aja, Anjani. Paman kau ini cuma bercanda. Nah, itu ada pembeli. Tolong bantu!" perintah Paman Sam.


Anjani lega karena Paman Sam hanya bercanda. Untung saja Anjani tidak menjawab ataupun bereaksi berlebihan. Andai jawaban Anjani berlebihan, tentu Paman Sam akan lebih semangat bercanda dengannya.


Waktu yang tersisa sebelum pukul dua siang nanti dihabiskan untuk membantu Paman Sam. Di sela-sela itu, Anjani mencoba mengira-ngira akan seperti apa pertemuannya dengan Berlian nanti. Akankah terjadi adu mulut seperti biasanya? Atau justru keadaan akan membaik dan Berlian akan mengubah sikapnya?


***

__ADS_1


__ADS_2