CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Double MP


__ADS_3

MOHON BIJAK dalam membaca.


Di bawah 18 tahun silakan skip part ini.


Like dan jejak komentarnya dong,


biar othor makin semangat lanjut up. Hihi.


___________________________________________


Mario-Anjani menuju kamar pengantin. Sejak dari hall tempat resepsi pernikahan mereka berlangsung, di lift, hingga sampai di depan pintu kamar, Mario tidak melepaskan genggaman tangannya dari Anjani. Hati keduanya berbahagia. Siap melewati malam pertama mereka.


"Sayang, aku mandi duluan, ya?" izin Mario sambil mengecup punggung tangan Anjani.


"Iya. Kamu duluan saja. Aku mau bersihkan make up dulu," terang Anjani.


Mario masuk kamar mandi lebih dulu. Sementara Anjani berganti pakaian dan membersihkan make up-nya. Anjani berganti pakaian tidur biasa. Tepat saat Anjani selesai merapikan semua, Mario sudah keluar dari kamar mandi dengan pakaian tidurnya.


"Sayang, mandilah dulu!" suruh Mario dengan lembutnya. "Hm. Sebentar, Sayang. Ada kado pernikahan dari Alenna yang harus kita buka lebih dulu," imbuhnya.


Anjani menurut. Sedari tadi dia juga penasaran dengan isi kado berukuran sangat besar itu. Hiasannya pun sangat menarik. Ada pita berukuran sama besarnya yang menghiasi bagian luar.


"Wow, kira-kira apa ya isinya?" Anjani tak sabar ingin tahu.


"Sepertinya sesuatu yang menarik," timpal Mario sambil membuka bungkusan kado.


"I-ini kan?" Anjani tampak terkejut setelah mengetahui isinya.


Mario tertawa pelan. Dia tidak habis pikir dengan Alenna. Rupanya adiknya itu meghadiahi lingerin sexy untuk dipakai Anjani. Bungkus kadonya saja yang besar, isinya hanya sehelai pakaian menggoda.


Mario mendekati Anjani, lantas berbisik di telinganya.


"Mandilah dan pakai ini," bisik Mario sembari tersenyum jahil.


Pipi Anjani bersemu merah. Ada perasaan malu, tapi dia akan menuruti keinginan suaminya. Toh hanya di depan sang suami dia berpenampilan sexy.


Anjani mengangguk. Dia segera menuju ke kamar mandi sambil membawa lingerin hadiah dari adik iparnya.


***


Sementara itu di kamar Azka-Meli.


Azka mengalah dan menuruti hukuman yang diberikan sang istri. Azka menikmati sebungkus es krim berdua bersama Meli setelah membelinya di dekat hotel. Kini, Azka tampak membersihkan es krim yang belepotan di sudut bibir sang istri. Bukan dengan tisu, melainkan dengan bibirnya.


Meli menikmati setiap sentuhan Azka. Matanya terpejam dengan kedua tangan masih memegang bungkus dan sendok es krim.


"Es krimnya enak?" tanya Azka.


"He'em. Mendadak pengen lagi," tutur Meli.


"Wah. Sudah seperti ibu hamil lagi ngidam, nih." Azka menggoda sang istri.


Azka mengusap lembut pipi Meli. Diraihnya bungkus es krim dan sendoknya.


"Besok lagi, ya Sayang. Sekarang mandilah. Gantian. Atau, kita mandi bareng saja?" Azka tersenyum jahil.


Meli mendaratkan satu kecupan mesra di pipi Azka.

__ADS_1


"Mandi sendiri. Kalau mandi bareng ntar nggak selesai-selesai karena Mas Azka pasti jahilin Meli," tukas Meli lantas berdiri dari duduknya.


"Em, Sayang. Pakai itu, ya!" seru Azka sebelum sang istri melangkah.


Meli mendekat ke arah yang ditunjuk Azka. Diambilnya lipatan kain yang ada di sana. Meli seketika melongo melihatnya.


"Iiih. Mas Azka bener-bener penuh kejutan, deh. Pertama, tesis selesai nggak bilang. Datang ke sini juga nggak ngasih kabar. Eh, sekarang malah ngasih Meli pakaian sexy. Meli kan maluuu pakainya." Meli jingkrak-jingkrak sambil menutupi wajahnya.


Azka gemas melihat tingkah Meli. Didekatinya sang istri, lantas dipeluknya erat dari belakang.


"Maaf tidak memberitahumu, Sayang. Aku ingin membuat kejutan. Doamu memudahkan langkahku di sana. Terima kasih," tutur lembut Azka. Dekapan untuk sang istri semakin erat.


Hati Meli tersentuh. Lekas dia berbalik badan dan langsung berbisik di telinga Azka.


"Mas Azka mandi duluan, gih. Sebentar lagi Meli pakai ini. Tapi jangan salahin Meli kalau Mas Azka makin tergoda nantinya," bisik Meli lalu mendorong pelan Azka menuju pintu kamar mandi.


Azka tersenyum tanpa melepaskan tatapannya pada Meli. Detik berikutnya, Azka masuk kamar mandi.


"Huft. Dekat-dekat sama Mas Azka bikin jantungku berasa main lompat tali," tutur Meli.


Meli lekas mengambil smartphone. Dia sedang membuka kembali contekan doa ibadah nikmat suami-istri yang sudah dihafalnya. Meli menghafal kembali sebelum melakukannya bersama Azka. (Selengkapnya doa bisa dibaca di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR bab Malam yang Berkesan)


"Bismillaah. Aku siap," tutur Meli.


"Siap untuk apa, Sayang?" tanya Azka yang baru selesai mandi.


"Eh, i-itu. Em, siap untuk mandi." Meli langsung berlarian kecil menuju kamar mandi.


Azka geleng-geleng kepala melihat tingkah Meli. Senyum manis Azka terus merekah.


Azka berbaring di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Fokusnya langsung teralih begitu mendengar pintu kamar mandi terbuka. Dada Azka bergemuruh melihat sang istri.


"Tidak perlu pakai krim malam dulu, Sayang. Sebentar lagi kamu akan berkeringat. Kita kan mau olahraga malam," bisik Azka.


Meli mengurungkan niatnya untuk memakai krim malam. Kata-kata suaminya sukses membuat Meli tersipu malu.


Azka membimbing Meli menuju tempat tidur. Azka berbaring lebih dulu lalu disusul Meli yang tampak malu-malu.


"Apa kamu merindukanku?" tutur Azka lembut.


Meli menatap bola mata Azka. Dari tatapan mata Meli saja sudah tersirat jelas bahwa dia memang sangat merindukan Azka.


"Meli selalu setia menunggu Mas Azka. Meli juga selalu bersyukur karena suami Meli adalah Mas Azka," tutur Meli dengan lembutnya.


"Terima kasih istriku," sahut Azka dengan sama lembutnya.


Ungkapan cinta kasih Azka berikan untuk Meli. Diusapnya pipi sang istri, lantas mengecupnya lembut. Beralih, kini Azka memutus jarak bibir mereka. Semakin lama semakin dalam. Azka-Meli sama-sama menikmatinya hingga keduanya mulai kehabisan nafas.


"Kamu siap, Sayang?" bisik Azka.


"He'em," jawab Meli lirih.


"Sudah hafal doanya?" bisik Azka lagi.


"He'em." Kembali Meli mengangguk.


Azka tersenyum. Dia memulai permainannya. Sentuhan demi sentuhan dilakukan. Azka menjelajah di setiap inci dan meninggalkan jejaknya. Azka begitu menikmati respon Meli di setiap sentuhannya.

__ADS_1


"Emm ... Mas-Az-ka."


Jantung Meli semakin berdebar usai mereka melakukan pemanasan. Mereka bersiap ke bagian inti. Azka melakukannya dengan lembut. Meli sempat meringis menahan sensasi rasa sakit.


"Tahan sedikit, ya Sayang," bisik Azka.


"He'em."


Rangkulan di tubuh sang suami dipererat. Meli menikmati penyatuannya dengan Azka. Setiap sentuhan Azka membuat Meli keenakan. Hingga beberapa menit berlalu, mereka pun mencapai puncak. Doa mengiringi penyatuan mereka.


Azka merangkul tubuh Meli. Dikecupnya dengan lembut kening sang istri.


"Gimana rasanya?" bisik Azka di telinga Meli.


"Enak. Boleh minta lagi?" tanya Meli sembari menyembunyikan wajahnya di leher Azka.


"Kamu nggak capek?" tanya Azka lembut.


Meli menggeleng pelan. Azka tersenyum seketika. Dia berniat membersihkan diri setelah mengulang permainannya. Azka-Meli pun kembali menyatukan cinta kasih mereka.


***


Sementara Azka-Meli menikmati penyatuan malam mereka, hal yang sama juga terjadi di kamar pengantin. Mario-Anjani.


Sensasi lembut nan hangat menjalar seketika. Mario memutus jarak bibirnya dengan Anjani. Begitu dalam. Begitu lama. Mario-Anjani saling berbalas kelembutan dalam permainan mereka malam itu.


"Ehm, Ma-ri-o. Sa-yang."


Anjani keenakan menikmati sapuan tangan Mario di kedua bukit indahnya. Entah sudah berapa sentuhan yang Mario lakukan. Tetap saja Anjani menyukainya. Sentuhan demi sentuhan di setiap inci dilakukan Mario dengan begitu lembutnya.


Pemanasan berlangsung cukup lama. Lingerin sexy hadiah dari Alenna pun sekarang sudah tak melekat di tubuh empunya. Mario-Anjani bersiap ke bagian inti.


Ada jeda sebentar. Mario menatap mesra bola mata Anjani. Diposisikannya tubuh sang istri dengan lembutnya.


"Aku akan melakukannya dengan pelan. Tahan sebentar ya, Sayang," bisik Mario.


Anjani mengangguk pelan. Jantungnya sudah berdebar-debar tak karuan. Anjani sudah siap dengan penyatuan yang akan dilakukan Mario.


"Aaah." Anjani meringis kesakitan.


"Tahan sebentar, Sayang," bisik Mario.


"I-ya."


Bagian inti resmi dimulai. Semakin lama Mario semakin mempercepat ritmenya. Sementara Anjani mulai menikmati penyatuan mereka. Sentuhan Mario kini lebih terasa dan begitu memanjakannya. Refleks saja Anjani mempererat rangkulannya. Sesekali Mario juga kembali menyatukan bibir mereka. Hingga beberapa menit berlalu, Mario-Anjani pun sampai pada puncaknya. Doa pun menyertai penyatuan mereka.


"Terima kasih istriku," bisik Mario usai mengecup kening Anjani.


Pipi Anjani bersemu merah. Wajahnya disembunyikan di dada bidang Mario.


Mario memakai bajunya. Bingung karena tidak menemukan baju sang istri, Mario pun membantu menutupi tubuh Anjani dengan selimut tipis. Mereka segera membersihkan diri, berwudlu, dan memakai pakaian bersih. Kembali ke ranjang, keduanya pun memasuki alam mimpi dengan tenang.


Bersambung ....


Double MP Azka-Meli Mario-Anjani. Terjawab sudah keinginan reader di bab ini, ya. 😁 Berdasarkan voting, kisah Mario-Anjani akan berlanjut seputar kehidupan setelah menikah. Eh, sepertinya ada yang akan mengusili Azka-Meli, tuh. Siapa, ya? Mereka kan baru MP. Hihi. Yuk, cari tahu di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami. Tinggalkan jejak komentar dong biar kami lebih semangat.


__ADS_1


Intip juga novel baru author tentang kehidupan Alenna-Rangga-Juno. Di sebelah, ya. Sudah ada 5 bab di sana. 💋


__ADS_2