
Selembar uang sepuluh ribuan diberikan pada sopir angkot untuk tarif dua penumpang. Ucapan terima kasih juga menyertainya. Setelah menurunkan dua penumpang yang tak lain adalah Anjani dan Meli, sopir angkot tancap gas lagi demi mengantar penumpang lain ke tempat tujuan.
Gerbang utama kampus sudah di depan mata. Anjani dan Meli siap masuk ke sana demi menyelesaikan urusan dengan Berlian. Masih ada satu minggu lagi sebelum semua nilai semester keluar. Akan tetapi, Anjani memilih untuk segera menyelesaikan tantangan lebih awal. Ya, pertemuan kali ini Anjani yang meminta. Dan ... sebuah rencana untuk mengakhiri tantangan dengan Berlian sudah siap dijalankan.
"Tunggu!" tutur Anjani. Dia berhenti untuk mengambil selembar tisu di tasnya, lalu mengelap ujung sepatunya yang baru saja terkena noda dari genangan air.
Selesai mengurus noda pada sepatu, Anjani dan Meli kembali melangkah. Langkah mereka berdua lebih mantap dari sebelumnya. Anjani fokus menatap ke depan, sementara Meli tengah menelepon seseorang untuk segera datang. Namun, tiba-tiba saja langkah kaki mereka berdua terhenti.
"Aw! Kena lagi, deh. Siapa sih yang habis main air di sini. Ah!" protes Anjani.
Sekali lagi sepatunya terkena noda genangan air. Cepat-cepat dia mengelap sepatunya dengan tisu. Kali ini tidak cukup hanya selembar tisu saja untuk membersihkannya.
"Ampun, deh. Biarin aja, Anjani. Di mana-mana nasib sepatu baru emang gitu. Ini belum ketemu teman lainnya, nih. Kalau ketemu sepatumu langsung habis label barunya karena kena injak. Udah, ayo cepetan!" protes Meli, lalu segera menarik lengan Anjani.
Anjani tak lagi memedulikan sepatu baru yang tadi pagi dia dapatkan dari Mario. Kali ini dia mantap melangkah, dan telah bertekad untuk menyelesaikan urusannya.
Beberapa menit berlalu, Anjani dan Meli sampai di tempat duduk panjang dekat pohon yang sudah tumbuh rindang. Tempat duduk itu menjadi favorit banyak mahasiswa untuk sekedar berteduh dari terik ataupun bercengkrama. Biasanya saat kuliah masih aktif banyak mahasiswa duduk-duduk santai di tempat itu. Namun, kali ini tampak sepi karena banyak mahasiswa yang memilih berdiam diri di kos ataupun pulang kampung lantaran hanya tinggal menunggu nilai keluar untuk semester ini. Ya, lokasi itu telah diputuskan menjadi tempat pertemuan antara Anjani, Meli, dan Berlian.
Kreeek
Terdengar suara ranting patah karena terinjak, pertanda ada seseorang yang datang. Saat Anjani dan Meli berbalik, telah berdiri seseorang yang sangat dikenal. Orang itu bernama Tegar. Rupanya Tegar memenuhi permintaan Meli untuk hadir.
"Hai, tunggu sebentar ya!" tutur Meli pada Tegar.
"Oke," jawab Tegar.
Selisih tiga menit, sosok utama yang ditunggu akhirnya datang. Dialah Berlian. Dia hadir dengan berpenampilan cantik dan tetap terlihat modis seperti biasanya. Dia tidak datang sendirian, melainkan membawa tiga lelaki yang dulu fotonya pernah dipamerkan pada Anjani.
"Sepertinya aku mencium bau seorang pecundang," ujar Berlian. Dia tampil dalam mode sombong seperti biasanya.
"Kalau kami pecundang, ngapain juga datang ke sini. Tarik lagi kata-katamu, Berlian!" ujar Anjani menanggapi.
Anjani menarik nafas dan mencoba menguasai dirinya agar tidak terpancing oleh perkataan Berlian. Adu mulut memang tidak bisa dihindarkan, tapi kemungkinan untuk sedikit meredam kata-kata kasar masih bisa diusahakan.
"Mari kita sudahi tantangan ini, Berlian. Tidak ada gunanya bersaing dalam urusan hati. Lihat, kita bisa aja nemuin seseorang yang kita suka, gebetan, atau apalah itu, tapi tidak perlu dijadikan adu tantangan seperti yang kita lakukan. Jika dipikir lagi, itu akan terlihat tidak tulus. Dan ... termasuk juga tantangan nilai bagus, dengan kondisi pertemanan kita yang seperti ini sama saja memanfaatkan semangat belajar untuk persaingan dan berselisih. Maafkan aku yang waktu itu menerima tantangan begitu saja tanpa berpikir lebih dulu. Kami ingin berteman baik denganmu. Mari kita berdamai, Berlian!" ujar Anjani.
__ADS_1
"Omong kosong!" bantah Berlian langsung menanggapi setelah Anjani selesai dengan perkataannya tentang rencana perdamaian.
"Bilang aja kamu nggak nemu gebetan, makanya nyerah. Tuh, si Meli aja bisa dapat satu!" imbuh Berlian.
"Nggak juga! Aku cuma berteman baik dengan Meli," sangkal Tegar.
"Betul sekali," jawab Meli mantap.
"Hahaa ... ya itu artinya kalian sama-sama nyerah. Yah, memang tidak ada yang bisa bersaing dengan tuan putri sepertiku. Kalian pe-nge-cut!" tegas Berlian.
Atmosfir seakan berubah ke tingkat yang lebih mencekam. Suasana semakin tak bisa dijelaskan. Jelas-jelas Berlian tidak berniat berdamai. Dia semakin gencar melontarkan kata-kata ejekan.
Prok prok prok
Tiba-tiba saja terdengar bunyi tepuk tangan. Semua mata tertuju pada tiga lelaki tampan yang menuju ke arah Anjani. Mereka bertiga adalah Juno, Ken, dan paling belakang ada Mario. Suara tepukan tangan berasal dari Ken dan Juno. Sementara Mario hanya santai berjalan.
"Drama yang bagus, Berlian. Anjani dan Meli sudah jujur, dan lapang hati mengajakmu berdamai. Tapi apa yang kau lakukan? Kalau ada yang kalah, kaulah orangnya!" tegas Juno.
"Jaga bicaramu, Juno. Aku pemenangnya! Duo cupu di depanku ini yang gagal dapat gebetan. Coba lihat siapa yang datang bersamaku, he. Ada tiga, dan jelas aku pemenangnya!" tegas Berlian menyangkal perkataan Juno.
Kali ini Juno terdiam, sementara Ken panik memikirkan kata-kata balasan yang tak kunjung dia dapatkan. Tiba-tiba saja Mario berjalan maju, dan menyejajarkan diri di samping Anjani.
Semua orang di tempat itu kaget karena Mario ternyata tahu nama tiga lelaki yang datang bersama Berlian. Juno dan Ken yang membawa Mario untuk ikut membantu Anjani malah tidak tahu tentang itu.
"Kami cuma disuruh dia aja buat ikut," jawab salah satu di antara ketiga lelaki.
"Iya, Kak Mario. Kami cuma disuruh ikut aja tanpa boleh berbicara apa-apa. Iya kan, Ron?" tanya lelaki lainnya pada teman di sampingnya.
"Benar, Kak." Lelaki ketiga juga membenarkan.
Mendengar pengakuan ketiga lelaki itu, membuat Berlian melotot. Beberapa detik kemudian wajah Berlian terlihat malu, tapi cepat-cepat dia singkirkan. Berlian juga sedikit berbisik pada tiga lelaki yang datang bersamanya. Bisikan itu terdengar seperti umpatan rasa kecewa, juga perintah untuk segera pulang.
"Hahaha, ternyata begitu." Ken tertawa melihatnya.
"Berlian, sebaiknya selesaikan salah pahammu dengan kakak kandungmu, Kak Lisa. Tidak perlu iri lagi karena Anjani dan Meli dekat dengannya. Lebih baik berteman daripada bermusuhan!" ujar Mario lagi.
__ADS_1
Lagi-lagi fakta yang diungkap oleh Mario membuat setiap pasang mata di tempat itu kaget. Tidak ada yang menyangka bahwa Mario memiliki kunci jawaban atas sikap Berlian pada Anjani dan Meli.
Berlian tampak kesal. Dia hendak melontarkan kata-kata balasan tapi lekas dia urungkan. Dia benar-benar tidak bisa membalas perkataan Mario yang telah membongkar semuanya. Rasa kesalnya semakin bertambah saat tiga lelaki yang datang bersamanya menagih imbalan traktiran makan karena sudah bersedia hadir bersamanya. Mendengar itu membuat wajah kesal Berlian tidak dapat didefinisikan lagi. Dia bahkan langsung mengajak tiga lelaki itu untuk segera pulang.
"Berlian!" teriak Anjani memanggil saat Berlian hendak berlalu pergi.
"Apa?" jawab Berlian sedikit ketus.
"Semua tantangan batal, ya?" tanya Anjani memastikan.
"Terserah kau saja, bye!" ujar Berlian menanggapi, lalu dia pun pergi.
Perseteruan mereda. Terlihat senyum bahagia di setiap wajah orang-orang di sana. Anjani yang terlihat paling lega. Tidak ada tantangan lagi. Tidak ada yang diunggul-unggulkan lagi. Semua bisa kembali dilakukan dari hati.
Anjani mendekat ke arah Mario. Dia tersenyum. Setelah itu tangannya terlihat mengaduk-aduk isi tasnya. Ada sesuatu yang dia cari. Tak lama kemudian, yang dicari telah ada dalam genggaman.
"Permen cokelat?" tanya Mario sambil memegang permen yang baru saja diberikan Anjani.
"Untukmu, dan terima kasih sudah membantuku. Tapi, gimana ceritanya kamu bisa tau itu semua? Dan ... kenapa kamu malah membantuku?" tanya Anjani.
Anjani selalu melihat senyum Mario terumbar begitu saja saat dia banyak bertanya. Seperti saat ini, saat Anjani bertanya alasan Mario bisa tahu semua fakta tentang Berlian juga alasan Mario membantunya. Mario lebih dulu tersenyum sebelum memberi jawaban. Namun, Anjani tidak keberatan dengan senyum di wajah Mario. Bagi Anjani, senyum itu tidak pernah terlihat membosankan.
"Aku hanya mencari tahu apa yang ingin aku tahu, Anjani. Alasan aku membantumu, itu karena aku peduli padamu. Karena kamu ...." Perkataan Mario terhenti.
"Karena aku apa?" tanya Anjani.
"Karena kamu ...." Perkataan Mario lagi-lagi terhenti.
"Iya, karena aku .... Apa?" tanya Anjani.
"Karena kamu temanku," jawab Mario singkat, kemudian dia berlalu meninggalkan Anjani mematung di tempat itu.
Jleb
Ada rasa yang sedikit menohok hati Anjani. Tidak sakit, dan tidak perih juga. Rasanya, hanya ada yang sedikit aneh di hatinya.
__ADS_1
Apa itu? Entahlah.
***