
Hari-hari berlalu semenjak kejadian pelemparan cabai dan luka lebam pada kaki. Anjani tetap menjalani rutinitas kuliah dan semakin bisa menguasai materi yang dipelajari di jurusannya. Anjani pun semakin pandai bergaul, hingga mudah mendapatkan teman-teman baru di luar jurusan yang diambilnya. Freelance yang sesekali Anjani ambil bersama Meli dan Berlian di toko bunga Kak Lisa, juga berjalan lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Anjani senang atas kemajuan yang ada. Namun, itu tidak berlaku untuk kisah cintanya.
Perasaan Anjani pada Mario tetap sama, meski rasa cemburu beberapa kali sempat melanda. Kini Anjani tidak memendam semua perasaan itu sendirian. Ada Meli yang bisa menjadi tempat berbagi kisah, entah itu hal baik ataupun kurang menyenangkan. Sesekali Meli juga menggoda Anjani. Godaan yang bisa membuat Anjani senyum-senyum sendiri, tapi teramat menyesakkan pada akhirnya.
Rasa sesak yang kadang melanda hati Anjani, didapatkan karena rasa gelisah, tidak nyaman, serta rasa rindu tak tertahankan. Anjani menyadari perasaan cintanya pada Mario. Kegelisahan dan rasa tidak nyaman yang melanda hati Anjani terjadi lantaran rasa takut akan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Meski demikian, Anjani tetap saja menikmati perasaan cinta yang seakan selalu bersemi dalam dada. Padahal, Anjani sudah jarang sekali bertemu dengan Mario.
Anjani memang jarang sekali bisa melihat wajah Mario di kampus. Mario benar-benar terlihat sibuk sejak mengelola bisnis di perusahaan yang dikelolanya bersama Leon. Anjani maklum atas kesibukan itu. Satu-satunya hal yang tidak bisa Anjani maklumi adalah sikap aneh pada dirinya. Jelas-jelas Anjani begitu rindu dan sangat ingin bertemu Mario. Namun, saat kesempatan itu ada, justru Anjani bersikap acuh.
"Itu Kak Mario. Dia jalan ke sini," kata Meli bersemangat.
"Hm," jawab Anjani singkat.
Mario memang berjalan menuju ke arah Anjani dan Meli. Ada kuliah yang harus Mario hadiri. Saat itu Mario jalan sendiri, tidak bersama Ken apalagi Juno. Senyum Mario sudah merekah saat hampir dekat menuju Anjani dan Meli yang juga berjalan menghampiri. Namun, senyum Mario hanya dibalas oleh Meli. Sedangkan Anjani menatap ke arah lain dan terus saja berjalan tanpa berhenti menyapa. Meli yang sudah terlanjur berhenti malah ditinggal oleh Anjani.
"Loh-loh. Kenapa mendadak cuek gitu, sih?" tanya Meli. "Kak, maaf. Sepertinya Anjani dalam mode kurang happy," terang Meli kemudian.
"Hm. Biarkan saja Anjani. Tolong jaga dia, ya. Aku permisi ada kuliah," terang Mario.
Meli mengangguk bersemangat. Meli masih bertahan di tempatnya berdiri hingga Mario tak terlihat lagi. Setelah itu, Meli cepat-cepat menyusul langkah Anjani.
Meli berlarian kecil mengejar Anjani. Saat terkejar, Meli melihat Anjani sedang membantu Ken memunguti kertas-kertas yang berjatuhan. Meli bergegas menghampiri dan ikut membantu.
"Kak Ken, maaf. Gara-gara aku jadi begini," kata Anjani merasa bersalah setelah sebelumnya tidak sengaja menabrak Ken.
"Ini salahku karena berlari kencang sampai tidak melihatmu. Haha. Sudah-sudah. Biar tugasnya kukumpulkan dalam bentuk file saja. Jangan merasa bersalah," kata Ken.
"Ini kertasnya, Kak. Cepat masuk, gih. Nanti telat," jelas Meli.
"Oke. Da semua. Aku kuliah dulu," pamit Ken sambil kembali berlarian.
Meli bergegas menarik lengan Anjani untuk mencari tempat duduk kosong di gazebo dekat kantin. Anjani menurut saja, karena hatinya saat itu sedang tidak karuan rasanya.
"Hei, kenapa sikapmu begitu tadi? Katanya ingin ketemu. Eh, pas sudah ketemu malah acuh." Meli meminta penjelasan dari Anjani.
"Uh. Entahlah. Inginnya tadi aku menyapa Mario. Mendadak aku ingat Alenna, dan tiba-tiba aku malah kesal sendiri," terang Anjani.
__ADS_1
"Repot juga kalau urusan hati. Ya sudah, deh. Tenangkan diri dulu. Jangan terlalu dipikir. Sini kupesankan minuman dulu," kata Meli sambil berlalu pergi.
Anjani menghembuskan nafas panjang. Anjani menyesal dengan sikap yang tidak seharusnya ditunjukkan di depan Mario tadi. Demi menghibur diri, Anjani membuka smartphone berniat melihat tayangan-tayangan lucu. Namun, niatnya urung karena Anjani melihat sebuah pesan masuk. Pengirimnya adalah Mario.
Malam ini pukul 7 di taman alun-alun kota. Temui aku.
Begitulah pesan singkat dari Mario. Mendadak hati Anjani berdebar setelah membaca pesan singkat itu. Anjani pun menduga-duga tentang niatan Mario yang tiba-tiba meminta bertemu.
"Dor!" seru Juno mengangetkan Anjani.
"Juno!" ujar Anjani protes karena dikagetkan.
"Sendirian aja, nih. Mana Meli?" tanya Juno sambil mengambil posisi duduk di sebelah Anjani.
"Apa sebut-sebut namaku?" tanya Meli yang baru saja kembali dari memesan minuman dingin.
"Yaelah, galak amat!" protes Juno.
Anjani meminum minuman yang baru saja diberikan Meli padanya. Anjani melihat Juno dan Meli berebut minuman, kemudian terkekeh melihat tingkah kekanakan dua temannya itu.
"Mending minumannya buat aku lagi," kata Anjani.
"Ini dasar Meli yang pelit nggak mau berbagi," imbuh Juno.
"Sudah-sudah," kata Anjani kemudian.
"Ohya, malam ini ketemu di cafe Bro-Sis lagi, yuk. Aku yang traktir. Berlian sama Dika juga kuajak, kok. Mas Ken juga ada," kata Juno.
"Kak Mario ada juga?" tanya Meli.
"Aku nggak jamin. Mas Mario sibuk," jelas Juno.
Seketika Anjani ingat pesan singkat yang dikirimkan Mario beberapa menit lalu. Anjani yakin Mario tidak akan datang memenuhi ajakan Juno, karena Mario sudah membuat janji temu dengannya.
"Gabung aja sama mereka, yuk!" ajak Meli pada Anjani.
__ADS_1
"Sepertinya aku nggak bisa gabung malam ini. Ada janji mau ketemu sama seseorang," terang Anjani.
"Yah. Aku sendirian," protes Meli.
"Oke. Tapi setelah urusanmu selesai kamu bisa nyusul gabung sama kita di cafe," imbuh Juno.
Anjani mengangguk setuju. Meli pun kembali antusias setelah itu. Juno juga senang melihat anggukan dari Anjani.
Saat obrolan ringan lain baru dimulai, Anjani melihat Alenna dari kejauhan. Penampilan Alenna begitu mencolok di antara mahasiswa-mahasiswa lain. Itu semua karena Alenna memiliki wajah cantik khas bule didukung dengan penampilannya yang modis.
"Sst, lihat! Ada Alenna," kode Anjani pada Juno dan Meli.
"Hello semua. Hai Juno tampan," sapa Alenna.
Juno hanya garuk-garuk kepala mendapat sapaan dari Alenna. Juno segera menanyakan maksud Alenna datang ke kampus. Rupanya Alenna ingin menemui Mario. Namun, pernyataan Alenna setelahnya justru mengejutkan.
"Tadinya kotak makan ini mau kuberikan Mario, tapi pasti dia tidak mau menerima. Jadi, kuberikan Juno saja, deh." Alenna menyodorkan kotak makan yang dibawanya pada Juno.
"Ehehe .... Terima kasih," kata Juno.
"Kalau begitu aku ke kantor dulu. Meli, Anjani, dan Juno, aku senang ketemu kalian. Dada!" pamit Alenna.
Anjani, Meli, dan Juno kompak melambaikan tangan pada Alenna. Hingga kemudian Alenna tak terlihat lagi, barulah obrolan itu dilanjutkan.
"Juno, beneran sampai sekarang kamu nggak tahu hubungan Mario sama Alenna seperti apa?" tanya Meli.
"Serius aku nggak tahu," jelas Juno.
"Sudah tanya Kak Ken?" tanya Anjani yang juga antusias ingin tahu.
"Sudah juga, tapi jawabannya selalu saja sama. Aku sampai bosen dengar jawaban Mas Ken," imbuh Juno.
"Siapa sebenarnya Alenna itu, sih?" tanya Meli gemas hingga tanpa sadar mengepalkan tangannya.
Malam ini aku harus bertanya tentang Alenna, batin Anjani.
__ADS_1
***
Nantikan lanjutan ceritanya, ya. ☕✨ Boleh juga krisan buat author 💕