
❤❤❤❤❤❤
Episode spesial buat reader semua ✨ Author nulisnya sampai berdebar-debar. Semoga dukungan kalian untuk author senantiasa mengalir indah. Happy Reading!
❤❤❤❤❤❤
Malam tiba dengan berjuta pesonanya. Kerlip bintang tak menjadikan malam gelap gulita, justru terlihat indah menghias di langit sana. Sesekali awan putih berarak perlahan menutupi wajah bulan, tapi bergegas pergi kemudian. Sungguh malam yang cerah, dan sangat mendukung untuk aktivitas malam di luaran sana.
Anjani telah bersiap memakai atasan lengan panjang warna pink, dengan motif bunga-bunga kecil di bagian ujung lengannya. Celana jeans hitam menjadi pilihan setelah sempat kebingungan memilih. Sling bag andalan berisikan dompet juga disiapkan. Tak lupa Anjani memakai sepatu pemberian Mario waktu dulu.
"Huft. Apa pun yang akan dibahas Mario malam ini, aku harus menyempatkan diri bertanya tentang Alenna. Biar aku tidak terus-terusan penasaran," gumam Anjani di depan cermin.
Jam dinding masih menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Masih ada waktu sebelum pergi ke taman alun-alun kota. Anjani duduk dulu beberapa menit di sofa ruang tamu sambil melihat beberapa pesan yang masuk di smartphone miliknya. Ada pesan dari Meli, Juno, bahkan Berlian. Anjani hanya membacanya sekilas, dan membalas bagian pesan yang dirasa mendesak.
"Mau keluar?" tanya Paman Sam.
"Iya, Paman. Kacang hijau pesanan teman Paman Sam sekalian aku bawakan, deh. Boleh, ya?" izin Anjani.
"Boleh. Hati-hati di jalan. Nanti kalau pulang tolong belikan Wedhang Ronde dua bungkus di dekat alun-alun kota, ya. Ini uangnya," pinta Paman Sam.
"Eh, Paman Sam tahu aku mau pergi ke alun-alun kota?" tanya Anjani sedikit kaget.
"Hehehe. Kau mau ke alun-alun kota rupanya. Cie, mau ketemu siapa, nih?" goda Paman Sam.
Anjani hanya terkekeh pelan saat Paman Sam bertanya. Inginnya saat itu Anjani mengelak, tapi ekspresi yang keluar justru tawa pelan.
"Sudah ya, Paman. Aku mau berangkat dulu. Nanti keburu malam," terang Anjani sambil menenteng bungkusan berisi kacang hijau.
"Iya. Hati-hati kau!" seru Paman Sam.
"Siap. Aku bawa motornya!" ujar Anjani.
"Hei, kunci motor kau lupakan pula di atas meja ini. Ini-ini," kata Paman Sam sambil memberikan kunci motor pada Anjani.
Anjani nyengir, mengambil kunci motor dari Paman Sam, lalu bergegas mengemudikan motornya dengan kecepatan sedang. Anjani memacu motornya menuju rumah teman Paman Sam lebih dulu untuk mengantarkan pesanan kacang hijau. Setelah itu, Anjani bergegas menuju taman alun-alun kota.
Anjani memarkir motornya lebih dulu. Setelah memastikan kunci motornya sudah tersimpan, Anjani pun melangkah memasuki area taman alun-alun kota. Hati Anjani tidak henti-hentinya berdebar. Berulang kali pula Anjani menarik nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Anjani gugup, dan terus berusaha mengendalikan kegugupan itu agar tidak sampai terlihat.
Alun-alun kota malam itu sepi pengunjung, karena memang bukan malam minggu. Terlihat satu-dua pengunjung lain yang sibuk olahraga malam. Pemandangan yang wajar bagi sebagian orang. Di sisi lain alun-alun, terlihat seorang ibu muda yang sedang bercanda bersama anak gadisnya. Di sebelahnya, ada kakek-nenek sedang duduk santai sambil melihat ke arah anak kecil tadi.
Anjani memperhatikan itu semua sambil melangkah menuju tempat pertemuannya dengan Mario. Sampailah Anjani di tempat yang dimaksud, bangku memanjang dengan ornamen bunga mawar yang menghadap air mancur menari. Rupanya sudah ada Mario duduk di sana.
Anjani masih berdiri di tempatnya. Ada jarak beberapa meter dari bangku panjang yang diduduki Mario. Satu menit berlalu, Anjani masih terdiam di tempatnya sambil terus menata hati. Meski sudah berulang kali mencoba tenang, tetap saja jantungnya masih berdebar-debar.
"Anjani, duduklah di sini!" ujar Mario tanpa menoleh.
"Eh, kenapa bisa tahu aku berdiri di belakangmu?" tanya Anjani sambil melangkah mendekat.
Mario tersenyum pada Anjani, kemudian memberi isyarat agar Anjani duduk di sebelahnya.
Anjani menurut, duduk di bagian bangku paling ujung, demikian pula dengan Mario. Tempat duduk mereka terpisahkan oleh kotak sepatu yang dibawa oleh Mario.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Mario membuka obrolan.
Anjani mengangguk pelan. "Baik. Nilai post test beberapa kali juga baik," terang Anjani.
"Baguslah. Aku senang mendengarnya," kata Mario sambil tersenyum.
Senyum Mario membuat hati Anjani berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Senyum itulah yang membuat Mario memiliki banyak penggemar di kampusnya. Pesona wajah tampan, otak cerdas, juga sosok yang terkadang dingin, membuat beberapa hati terpikat. Mulanya Anjani tidak termasuk di antaranya, tapi tidak untuk kali ini. Anjani pun terpesona. Bahkan lebih jauh lagi, Anjani telah jatuh hati pada sosok di hadapannya.
"Em, ada apa meminta bertemu?" tanya Anjani kemudian.
"Ada yang mau kutunjukkan padamu," jelas Mario.
__ADS_1
Seketika Mario mengambil kotak sepatu yang sedari tadi diletakkan di tengah-tengah mereka. Mario membuka kotak sepatu dengan perlahan, lalu mengeluarkan isinya.
Anjani memperhatikan sepatu yang dikeluarkan Mario dari kotak sepatu. Terlihatlah sepatu wanita warna kulit dengan sedikit corak putih kombinasi pink yang selaras. Model dan desain sepatunya simple, tapi begitu menarik saat baru pertama kali dilihat.
"Bagaimana menurutmu? Ini desain terbaru dan akan segera diluncurkan," terang Mario sambil menunjukkan sepatu tersebut pada Anjani.
"Wow, ini bagus. Pasti akan mahal," kata Anjani menanggapi.
Mario menggelang pelan sambil tersenyum pada Anjani. "Tidak akan mahal. Semua ini dirancang untuk target pasar kalangan menengah ke bawah, juga diutamakan bagi kalangan yang suka dengan model-model sederhana," terang Mario. "Terima kasih selalu memakai sepatu itu, Anjani. Sekarang, cobalah ini!" pinta Mario kemudian.
Mario langsung berjongkok di depan Anjani, hendak memakaikan sepatunya. Namun, Anjani cepat-cepat menolak karena tidak enak hati.
"Tunggu-tunggu. Tidak apa-apa aku coba?" tanya Anjani.
"Tentu saja," jawab Mario sambil tersenyum.
"Oke-oke, biar aku pakai sendiri, ya?" pinta Anjani.
Mario melihat ke arah Anjani sejenak, kemudian mengangguk pelan dan membiarkan Anjani memakai sepatu itu sendiri. Mario kembali duduk, dengan tetap memperhatikan Anjani yang sedang mencoba sepatu.
"Sudah. Bagaimana?" tanya Anjani sambil berdiri di depan Mario memamerkan sepatu yang baru saja dicobanya.
Mario tersenyum. "Cantik," puji Mario.
"Desain sepatumu memang cantik," imbuh Anjani sekaligus memuji.
"Bukan sepatunya yang cantik, tapi kamu," kata Mario.
Anjani berkedip cepat, berdehem pelan, kemudian tersenyum. "Terima kasih pujiannya," kata Anjani tersipu malu.
"Sepatu itu untukmu," kata Mario sambil menyimpan sepatu yang sebelumnya dipakai Anjani ke dalam kotak sepatu.
"Wah! Aku senang sekali menerimanya," tutur Anjani.
Teman? Apakah aku boleh berharap lebih? batin Anjani.
"Anjani, apakah kamu cemburu pada Alenna?" tanya Mario tiba-tiba.
"Eh?"
Deg-deg-deg!
Jantung Anjani mendadak berdebar mendengar pertanyaan dari Mario. Anjani sama sekali tidak menduga Mario akan bertanya seperti itu. Anjani bingung sekaligus terdesak harus menjawab seperti apa.
"Bolehkah aku tahu siapa Alenna sebenarnya?" tanya Anjani kemudian.
Anjani memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Mario. Anjani justru balik bertanya pada Mario. Sesungguhnya Anjani memang ingin tahu tentang Alenna.
Mario tersenyum mendengar pertanyaan Anjani, seolah Mario sudah menebak bahwa Anjani akan bertanya seperti itu. Mario beranjak dari tempat duduknya, kemudian berdiri dan berjalan beberapa langkah ke depan.
"Orang mungkin menganggap kehidupanku sempurna, tapi sebenarnya tidak demikian. Tidak ada yang namanya sempurna. Ada lika-liku hidup yang pasti mengiringi kisah seseorang. Bukan begitu?" tanya Mario sambil tetap menatap air mancur menari di depannya.
Anjani mengangguk pelan, setuju dengan penuturan Mario. Seolah tahu bahwa Anjani mengiyakan, Mario pun melanjutkan perkataannya.
"Aku memiliki kisah masa lalu yang rumit, dan sengaja disembunyikan agar tidak terekspos di media. Kamu tahu sendiri kan bagaimana ayahku?" jelas Mario.
Mario kemudian berbalik badan dan kini bisa melihat Anjani. Mario tersenyum dan melanjutkan kata-katanya lagi.
"Alenna adalah adikku. Adik beda ibu. Ibu kandungku telah lama meminta cerai sejak tahu ayahku selingkuh hingga mempunyai anak. Anak itu adalah Alenna. Aku pun baru tahu saat masih SMP, begitu pula dengan ibuku. Lalu aku ...." Kata-kata Mario terhenti karena disela oleh Anjani.
"Maaf, aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada masa lalumu," kata Anjani sambil berdiri dari tempat duduknya.
Anjani benar-benar tidak enak hati telah membuat Mario menceritakan hal yang tidak seharusnya diceritakan. Semula Anjani hanya ingin tahu sedikit tentang Alenna, tapi justru Anjani jadi tahu sebuah rahasia.
__ADS_1
"Sudah, tidak perlu dijelaskan lagi. Aku benar-benar minta maaf," kata Anjani lagi.
Mario tersenyum, kemudian kembali menanyakan hal yang tidak disangka-sangka oleh Anjani. Tentu saja sebuah pertanyaan yang membingungkan untuk bisa dijawab oleh Anjani.
"Anjani, bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Mario.
Bagi Anjani pertanyaan itu sulit untuk dijawab, karena maknanya begitu luas. Mungkin kalau yang bertanya Meli, Anjani bisa saja menjawab asal. Namun, yang sekarang bertanya adalah Mario. Anjani tidak bisa asal menjawab. Di satu sisi Anjani pun tidak mau mendustai perasaannya.
Anjani masih terdiam, terus menatap ke depan. Mulutnya bungkam, tidak ada kata-kata yang sanggup dilontarkan. Namun, hati Anjani terus mendengung mengungkapkan hal yang saat itu sedang dirasakan.
Degup jantungku teramat merdu
Lantaran terbumbu benih merah jambu
Terkadang rasa rindu dan cemburu membutakan hatiku
Meski begitu rasa yang tersuguh seolah menjadi candu
Sesak yang terkadang singgah lekas terganti dengan hadirnya bara cinta
Sungguh aku jatuh hati padamu
Jantung Anjani semakin berdebar, lantaran tak sanggup mengucapkan kata-kata sebagai jawaban atas pertanyaan yang sebelumnya dilontarkan padanya.
"Aku ...." Anjani mencoba berkata, tapi tak sampai.
Mario kembali tersenyum, kemudian melangkah mendekat ke arah Anjani berdiri. Sampai persis di hadapan Anjani, Mario berhenti tanpa memudarkan senyumnya.
Hati Anjani sudah tidak karuan rasanya. Anjani tidak bisa mengendalikan debaran jantung yang kian kencang terasa.
"Aku .... Aku ...." Hanya itu kata yang mampu Anjani ucapkan.
"Tidak perlu dikatakan lagi Anjani. Aku sudah tahu," kata Mario.
Hah? Sudah tahu? Apakah perasaanku pada Mario begitu mencolok? batin Anjani.
"Anjani, apa yang saat ini kamu rasakan sama seperti yang aku rasakan," jelas Mario tanpa memudarkan senyumnya.
"Ma-maksudnya?" tanya Anjani terbata.
"Perasaan kita sama," tutur Mario.
Mendengar itu membuat Anjani senang. Debaran jantungnya seakan diselingi denting merdu. Anjani pun tersenyum sambil menatap bola mata Mario.
"Benarkah?" tanya Anjani.
Mario mengangguk dan menegaskan sekali lagi. "Aku jatuh hati padamu, Anjani."
Malam berbintang, bangku taman berornamen bunga mawar, dan air mancur menari menjadi saksi ungkapan cinta di taman alun-alun kota. Waktu seolah berhenti, dan semesta menyorot senyum bahagia Mario dan Anjani.
"Anjani, mari kita hidup bersama," imbuh Mario tanpa memudarkan senyumnya.
"Bersama?" tanya Anjani yang masih belum paham.
"Aku sudah berbicara dan meminta izin pada ayahku. Secepatnya ayah akan datang untuk memintamu menjadi istriku," imbuh Mario.
"Ha?"
Anjani kaget bukan main. Anjani sudah luar biasa bahagia saat perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Namun, Mario justru memintanya untuk menjadi istrinya.
Bersambung ....
Nantikan lanjutan novel Cinta Strata 1, ya. Boleh juga lho kritik saran buat author 💕😊
__ADS_1