CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Menduga-duga


__ADS_3

Udara pagi terasa dingin menusuk tulang. Namun, niatan untuk beribadah di sepertiga malam tak tersurutkan. Basuhan air wudhu pun terasa segar menyejukkan. Ditambah dzikir yang terlantunkan usai salam, menambah rasa syukur nikmat yang membuat hati tenteram.


Anjani memutuskan untuk tidak tidur lagi. Membaca Alquran pun menjadi pilihan. Surat demi surat dibaca perlahan, tanpa tergesa. Anjani juga mengingat kembali pelajaran mengajinya bersama ustaza Nuri, terutama tentang tajwid. Senyum pun mengembang lantaran Anjani merasa tenang, seolah tidak ada beban.


"Alhamdulillaah," tutur Anjani ketika selesai membaca Alquran.


Sembari menunggu azan subuh berkumandang, Anjani menyiapkan jas almamater kampusnya yang akan dipakai nanti. Anjani juga menyiapkan barang-barang yang harus dibawa untuk kebutuhan konsumsi panitia, termasuk membawa gelas kertas yang kemarin dibeli.


Ketika selesai menyiapkan semuanya, tiba-tiba saja terdengar suara Miko berkokok. Anjani seketika merasa senang, hingga memutuskan untuk menengok Miko di kandang.


Di luar masih gelap. Jalanan gang pun terlihat sepi. Anjani mengabaikan kesunyian di sekitarnya itu dan segera menuju kandang Miko. Ayam jantan kesayangannya itu kini sendirian di kandang setelah seminggu lalu Paman Sam memberikan ayam betina yang sempat dibawa Anjani dari desa kepada Paman Topan, mantan anak buahnya saat dulu masih menjadi preman.


"Miko, akhir pekan ini Ma datang ke kota lagi. Ma akan membawa pendamping hidup di kandangmu ini. Doakan aku juga ya, agar pendamping hidupku menjaga hatinya untukku," kata Anjani pada Miko si ayam jantan kesayangan.


Kukuruyuk. Miko berkokok lagi seolah meng-aamiin-i perkataan Anjani.


"Eh. Miko, kamu tahu nggak ...." Kata-kata Anjani terputus.


Anjani mendengar ada yang ber-'sst', seperti sebuah kode memanggil dirinya.


Siapa, ya? Duh, noleh nggak nih? batin Anjani


"Sst." Suara itu terdengar lebih jelas. Mendengarnya membuat dada Anjani dag-dig-dug. Berdebar-debar tidak jelas, tapi ada rasa khawatir di dadanya.


"Sst." Suara itu terdengar semakin jelas dengan jarak yang lebih dekat. Suara itu berasal dari belakang Anjani.


Ya Allah. Lindungi aku, batin Anjani.


Anjani menelan ludah. Susah payah dirinya mengumpulkan nyali untuk menoleh ke belakang. Untuk beberapa detik suara itu tidak terdengar lagi, tapi itu sama sekali tidak membuat lega hati Anjani. Hingga setelah itu pun Anjani berteriak kencang lantaran ada yang menepuk pundaknya.


"Aaaa!" Teriakan Anjani terdengar kencang.


"Neng. Ngapain teriak, Neng. Orang nih, bukan setan," kata seorang lelaki yang tadi menepuk bahu Anjani.


Merasa mengenal suara itu, Anjani pun kini berani menoleh.


"Astaghfirullah. Bang Ji ngagetin aja, deh. Harusnya pakai salam kalau mau manggil," protes Anjani. "Ada apa?" tanya Anjani kemudian.


"Hehe. Maaf, Neng. Assalamu'alaikum. Sudah nggak kaget?" tanya Bang Ji yang merupakan tetangga Paman Sam.


"Wa'alaikumsalam. Sudah nggak lagi. Ada apa, Bang?" tanya Anjani sekali lagi.


"Warung Paman Sam bisa dibuka nggak?" tanya Bang Ji, ambigu.


"Maksud Bang Ji? Bang Ji mau ngapain pakai buka-buka warung Paman Sam?" tanya Anjani.


"Ih, cantik-cantik kok gitu sih mikirnya. Mau beli gas, Neng Cantik." Bang Ji menunjuk tabung gas kosong yang dibawanya.


"Astagfirullah, ternyata mau beli gas. Hehe. Tuh-tuh ada Paman Sam." Anjani menunjuk ke arah Paman Sam yang melangkah mendekat.


"Ji, godain Anjani kau, ya? Berani bener!" seru Paman Sam.


"Yaelah, mana berani aku godain ponakanmu ini, Bang. Nih, mau beli gas." Bang Ji menunjuk ke arah tabung gas yang dibawanya.


"Oh. Ayo Ji, ikut aku! Anjani, kau masuk. Lekas sholat subuh dan siap-siap ke kampus," perintah Paman Sam.


Anjani mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


***


Pukul 05.30 pagi.


Meli baru saja tiba di halaman rumah Paman Sam. Meli memakai jas almamater kampusnya. Senyum ceria Meli segera tersuguh begitu Meli melepas helmnya. Bahkan, salam ditebar bukan hanya untuk Anjani dan Paman Sam, melainkan juga untuk pelanggan warung yang antri di sana.


"Sudah siap? Yuk!" ajak Meli.


"Sudah, yuk!" sahut Anjani sambil meng-klik helm yang dipakainya.


"Anjani, sebentar. Diam dulu kau di sana!" seru Paman Sam dari dalam warung.


Beberapa pembeli diminta menunggu sebentar. Paman Sam kemudian melangkah keluar dari warung sambil membawa kotak makan bening. Anjani melihatnya sebagai kudapan berwarna hijau, tapi belum tahu itu apa.


"Apa itu?" tanya Anjani.


Paman Sam menyodorkan kotak makan itu pada Anjani. Dua botol air mineral juga turut serta dibawakan pada keponakan kesayangannya itu.


"Klepon. Baru saja Bang Ji ngantar. Suruh buat bekal kau katanya. Sebagai permintaan maaf sudah mengagetkan si Miko tadi pagi," terang Paman Sam.


"Yang kaget itu Anjani, Paman. Si Miko baik-baik saja. Tapi, makasih. Akan Anjani makan bareng Meli nanti di kampus," kata Anjani sambil menerima kue klepon dan air mineral.


"Hehe. Jangan sampai kelaparan kau. Kalau makanan di sana kurang telepon saja paman kau ini. He, Meli. Makan yang banyak, ya. Ada klepon." Paman Sam berkata pada Meli.


"Siap, Paman. Pasti habis," jawab Meli.


"Berangkat dulu, ya Paman. Titip Miko, seperti biasanya. Hehe. Assalamu'alaikum," pamit Anjani tak lupa mengucap salam.


"Tenang saja kau. Hati-hati," kata Paman Sam.


"Jawaban salamnya mana?" tanya Anjani sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Wa'alaikumsalam. Haha. Lupa." Paman Sam terkekeh.


Paman Sam kembali melayani pelanggan yang berbelanja di warungnya. Sementara Anjani dan Meli segera berangkat menuju kampus untuk melaksanakan tugas sebagai panitia penyambutan mahasiswa baru.


***


Beberapa kotak kue baru saja selesai ditata di ruangan khusus konsumsi panitia. Acara penyambutan mahasiswa baru sudah dimulai sejak tadi. Anjani dan Meli tidak melihat keseruan acaranya karena sibuk mengurus konsumsi, khususnya konsumsi untuk para panitia.


Anjani memegang spidol. Baru saja koordinator bidang konsumsi memberi perintah agar setiap kotak kue diberi nama agar tidak terjadi penyalahgunaan jatah.


"Alhamdulillaah. Sudah selesai," tutur Anjani setelah selesai menamai kotak-kotak kue bersama Meli tentunya.

__ADS_1


"Bisa kalian tinggal dulu. Mungkin mau ngintip acara di sana. Nanti kita bersiap lagi sebelum makan siang," kata koordinator bidang konsumsi.


Anjani dan Meli kompak mengangguk. Mereka berdua antusias ingin melihat jalannya acara penyambutan mahasiswa baru, meski dulu mereka berdua sudah pernah mengalaminya saat masih berstatus mahasiswa baru.


Acara berlangsung seru. Banyak mahasiswa yang antusias. Terlihat saat itu Juno sebagai ketua panitia sedang menjelaskan sesuatu di depan para mahasiswa baru. Di samping kiri Juno ada Dika yang menjadi operator materi yang disampaikan Juno. Di samping kanan Juno ada Berlian yang bertugas sebagai notulen saat ada pertanyaan dari mahasiswa baru.


"Mereka bertiga terlihat keren," puji Meli sembari tetap memperhatikan Juno, Dika, dan Berlian yang sedang bertugas di depan.


Anjani yang semula melihat ke arah tempat duduk mahasiswa baru, kini menoleh ke arah Meli. Dilihatnya mimik wajah Meli saat itu. Tampak jelas oleh Anjani, saat itu Meli senyum-senyum.


"Yang keren Dika atau mereka bertiga, Mel?" tanya Anjani berniat memancing reaksi Meli.


Meli tidak terlihat kaget dengan pertanyaan Anjani. Meli hanya menoleh sebentar ke arah Anjani, tersenyum, lalu kembali melihat ke arah depan.


"Tanpa kuceritakan pun kamu sudah tahu jawabannya, kan?" tebak Meli. Ada senyum penuh arti yang masih bertahan di wajahnya.


Seketika Anjani tersenyum dan menyenggol lengan Meli.


"Cie," kata Anjani menggoda sahabatnya itu.


"Hm, tapi kan dalam Islam yang namanya pacaran sebelum halal itu nggak ada. Yang ada malah dapat dosa kalau main 'yang-yangan'. Hehe." Meli terkekeh setelah berkata demikian.


Anjani paham maksud dari arah pembicaraan Meli. Namun, Anjani masih ingin mendengarkan perkataan Meli lebih jauh lagi.


"Terus?" tanya Anjani lagi.


Meli kembali menoleh ke arah Anjani. Tiba-tiba saja Meli memegangi lengan Anjani dan membisikkan kata-kata dengan nada rengekan.


"Hm. Terus yang bisa aku lakukan hanya menyimpannya. Membungkus namanya dalam doa. Kamu pun pasti melakukan hal yang sama terhadap perasaanmu pada Kak Mario, kan?" terang Meli masih tetap dengan setengah berbisik dan merengek.


"Ma-Mario?" tanya Anjani kaget karena Meli menyebut-nyebut nama Mario.


Anjani enggan membahasnya, meski pada kenyataannya perkataan Meli benar adanya.


"Em. Mending kita makan klepon aja. Yuk!" ajak Anjani mengalihkan perhatian Meli.


"Huft." Meli melepaskan lengan Anjani. "Aku tahu kamu pasti enggan membahasnya. Oke, deh. Yuk!" imbuh Meli lalu berbalik badan.


Meli lebih dulu melangkah, hendak menuju ruangan konsumsi. Baru beberapa langkah, tiba-tiba saja Meli balik badan lagi. Tentu saja Anjani kaget karena hampir bertabrakan dengan Meli.


"Astaghfirullah. Meli, ada apa?" Anjani kaget karena Meli balik badan dengan tiba-tiba.


"Aku baru ingat. Katanya ada senior yang mau nengok acara. Siapa ya yang datang? Moga aja Kak Mario," kata Meli sambil celingukan.


"Ah, kamu ini. Sudah ada yang disuka masih aja nyari Mario," protes Anjani.


"Cie ada yang cemburu. Biarin, wek. Eh-eh, tuh-tuh!" Meli menunjuk ke arah sudut ruangan bagian depan sebelah kanan.


"Itu senior, ketua panitia tahun kemarin, Mel." Anjani hanya melihat ketua panitia tahun kemarin.


"Kesinian coba. Tuh lihat lagi," suruh Meli.


"Aku nggak salah lihat, kan? Di sebelah Kak Mario itu cewek judes yang kemarin, kan?" tanya Meli meyakinkan dirinya.


"Vina," tutur Anjani lirih.


Dari tempat Anjani dan Meli berdiri, terlihat jelas Mario sedang mengobrol dengan Vina. Ekspresi Vina terlihat ceria dan lebih sering memperhatikan Mario.


"Ngapaian sih cewek judes itu dekat-dekat sama Kak Mario?" Meli bertanya-tanya.


"Mungkin saja Mario dan senior lainnya sedang memperkenalkan wilayah kampus. Kan Vina bisa dikatakan mahasiswa baru," kata Anjani, meskipun dirinya sendiri tidak yakin.


Astaghfirullah. Aku tidak boleh berburuk sangka. Siapa tahu mereka berdua kebetulan saling kenal. Em, tapi apa semua ini kebetulan? Kemarin ada Mbak Bida yang diberi buket mawar putih oleh Mario. Sekarang ada Vina yang terlihat begitu dekat dengan Mario, batin Anjani.


"Sst. Anjani, kamu ngelamun?" tanya Meli yang melihat Anjani terdiam tak berkata apa-apa lagi.


Anjani menggelang. Setelahnya Anjani mengajak Meli kembali ke ruangan konsumsi untuk makan kue klepon.


Setibanya di ruang konsumsi, koordinator bidang konsumsi meminta izin keluar sebentar untuk mengecek pesanan kotak makan siang. Anjani dan Meli diminta berjaga di ruangan itu.


Anjani dan Meli setuju. Apalagi ada kue klepon yang menjadi teman mengobrol.


"Buka-buka-buka," kata Meli yang sudah tidak sabaran.


"Sabar, dong. Nih, silakan!" Anjani mempersilakan Meli untuk mengambil kue klepon. "Eit, jangan lupa bismillaah," imbuh Anjani.


"Bismillaahirrahmaanirrahiim."


Anjani dan Meli melahap kue klepon pemberian Bang Ji. Lumer gula merah yang manis segera terasa di lidah. Segera menyatu dengan gurihnya parutan kelapa. Bulat-bulat hijau itu pun segera berpindah ke dalam mulut satu per satu.


Terdengar suara beberapa langkah kaki mendekat ke ruangan konsumsi. Anjani yang mendengar itu pun lekas menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang. Meli melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Anjani.


Rupanya yang datang ke ruang konsumsi adalah para senior. Anjani kaget karena tidak ada kabar dari koordinator bidang konsumsi bahwa ruangan itu akan didatangi oleh para senior. Anjani dan Meli pun kompak berdiri.


Anjani berdiri terlalu terburu-buru, hingga tanpa sengaja jilbabnya terkait di paku yang menancap kurang sempurna pada meja. Anjani menarik-narik perlahan agar kaitannya terlepas. Namun, ternyata tidak lepas juga. Tiba-tiba saja ada tangan yang membantu Anjani melepas kaitan pada jilbabnya, dan itu adalah tangan Mario.


"Pelan-pelan. Khawatir seperti waktu itu," kata Mario sembari tersenyum.


Kaitan pada jilbabnya sudah terlepas. Anjani seketika tersenyum karena teringat kejadian yang sama ketika jilbabnya terkait kawat bunga imitasi di toko bunga Kak Lisa. Waktu itu ada Mario dan setelahnya Anjani mendapat jilbab dan bros dari Mario.


"Iya, terima kasih. Aku akan lebih berhati-hati, kata Anjani sambil membalas senyum Mario.


Meli yang melihat adegan itu pun hanya bisa membungkam mulutnya, menutupi ekspresinya yang tersenyum berlebihan melihat Mario-Anjani.


"Hai Anjani, Meli." Ken menyapa, disusul oleh sapaan yang sama oleh senior ketua panitia tahun kemarin.


Anjani kemudian melihat ke arah Vina. Anjani sempat tidak sadar bahwa ada Vina di ruangan itu. Mimik wajah Vina terlihat tidak suka. Vina bahkan tanpa sungkan terus menatap tajam ke arah Anjani.


Setelahnya Ken melihat keberadaan kue klepon yang ada di meja. Anjani pun mempersilakan para seniornya untuk ikut merasakan kue klepon pemberian Bang Ji.


"Duduk, Ken." Mario mengingatkan Ken yang hendak memakan kuenya sambil berdiri.

__ADS_1


"Oh iya. Hehe," jawab Ken, lalu segera duduk.


Mario, Ken, Vina, dan ketua panitia tahun kemarin mengambil masing-masing satu kue klepon. Tiba-tiba ....


"Aaaa!" teriak Vina.


Semua menoleh ke arah Vina yang berteriak kencang. Benar-benar teriakan yang kencang.


"Ken! Moncrot ke muka gue, nih!" seru Vina sambil menunjuk gula merah yang belepotan di wajahnya.


Ken tetap mengunyah kue klepon miliknya yang barusan 'moncrot' karena Ken menggigitnya, harusnya langsung makan sekali hap. Begitu Ken selesai mengunyah dan menelan kue kleponnya, barulah Ken meminta maaf.


"Sorry, Vin. Beneran nggak sengaja. Tiba-tiba aja gula merahnya pengen ke wajahmu." Ken mendramatisir.


Kue klepon yang belum sempat dimakan oleh Vina segera diletakkan kembali di tempatnya. Sambil melihat ke arah Ken, tangan kanan Vina mengepal erat dan ditunjukkan di depan wajah Ken.


Melihat itu membuat Ken menelan ludah, lalu melirik ke arah Mario untuk meminta pertolongan. Namun, Mario hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum. Seketika Ken tepuk jidat dan pasrah.


"Lu sekarang ikut gue!" seru Vina sambil memberi kode pada Ken untuk mengikutinya.


"Selamat," kata ketua panitia tahun kemarin berniat menggoda Ken.


Ken mengekor di belakang Vina. Sementara Mario dan ketua panitia tahun kemarin melanjutkan memakan kue kleponnya. Anjani dan Meli bahkan duduk di kursi menggantikan Ken dan Vina.


"Enak. Nggak rugi datang ke ruang konsumsi," kata senior ketua panitia tahun kemarin.


"Anjani, Meli, sudah tahu kan kalau tempat mengajinya dipisah?" tanya Mario.


"Iya, sudah diberi tahu ustaza Nuri kemarin." Anjani menanggapi.


"Yah, jadi nggak bisa ketemu Pak Nizar, deh." Meli mulai lagi asal bicara. Padahal di depannya ada senior-seniornya.


"Sst, Meli." Anjani memberi kode untuk tidak melanjutkan kata-katanya, dan Meli segera paham. Meli lupa kalau di depannya ada senior lain, yakni ketua panitia tahun kemarin.


Kue klepon kembali dinikmati bersama. Sesekali Anjani melirik ke arah Mario, memperhatikan secara diam-diam.


Kalau aku tanya tentang Mbak Bida ataupun tentang Vina sekarang kira-kira sopan nggak, ya? batin Anjani.


Anjani memakan kue kleponnya, mengunyahnya perlahan sembari menikmati rasa manis dan gurihnya kue klepon. Namun, Anjani tetap memperhatikan Mario diam-diam.


Tidak-tidak. Tidak sopan kalau aku tiba-tiba bertanya seperti itu. Apalagi ada senior ketua tahun kemarin, batin Anjani lagi.


"Ada apa, Anjani?" tanya Mario yang sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan.


Untuk beberapa saat Mario-Anjani terjebak saling tatap. Hanya beberapa detik saja, setelahnya Anjani cepat-cepat menundukkan pandangannya.


"Anjani. Ditanya Kak Mario, tuh. Dijawab, dong. Ada apa tuh katanya." Meli berkata sambil menyenggol bahu Anjani.


"Tidak ada apa-apa, kok. Yuk, kleponnya dihabiskan." Anjani mengalihkan perhatian dengan menunjuk kue klepon yang masih tersisa beberapa.


Usai kue klepon habis. Ada beberapa obrolan ringan di sana. Lebih banyak obrolan tentang konsumsi acara hari itu dan persiapan konsumsi untuk OSPEK beberapa hari ke depan. Anjani bergantian dengan Meli menjawabnya sesuai pertanyaan dari senior ketua panitia tahun kemarin.


Lima belas menit berlalu, Mario dan senior ketua panitia tahun kemarin pun pamit dari ruangan konsumsi. Namun, sebelum Mario melangkah keluar, Mario sempat berkata sesuatu pada Anjani.


"Kamu pasti ingin tahu tentang Kak Bida, dan kenapa aku memberinya buket bunga kemarin," kata Mario.


"Em?" kata Anjani, kaget sekaligus tidak percaya bahwa Mario akan berkata seperti itu.


Kamu tukang ramal, ya? Sampai isi pikiranku pun kamu tahu, batin Anjani.


Mario tersenyum, lalu melanjutkan kata-katanya. "Aku tidak akan menjelaskan apa-apa, karena kamu akan tahu dengan sendirinya tentang kabar baik itu."


Mario meninggalkan Anjani dengan rasa penasaran yang tinggi. Anjani bisa mendengar jelas perkataan Mario dan bisa memahaminya dengan baik. Namun, Anjani gagal menebak apa yang dimaksud Mario dengan kabar baik.


"Hei, Anjani. Kenapa bengong?" tanya Meli.


"Nggak papa, kok." Anjani menjawab sekenanya.


"Eh-eh, barusan Kak Mario bilang apa? Aku kepo, nih!" imbuh Meli dengan rasa penasarannya.


Anjani menggelang. "Hanya ucapan terima kasih atas kleponnya," kata Anjani.


Anjani tidak berbohong. Sebelum Mario mengungkit tentang Mbak Bida dan kabar baik yang akan segera datang, Mario sempat mengucapkan terima kasih atas kue klepon yang dibagikan Anjani. Namun, tentang perkataan Mario yang lainnya, Anjani tidak mau memberi tahu Meli.


"Aku cuci kotak makan ini dulu, ya. Kamu tunggu di sini sebentar," izin Anjani.


"Oke-oke. Hati-hati," kata Meli.


"Hati-hati?" Anjani mengernyitkan dahi karena Meli berkata 'hati-hati', padahal Anjani tidak akan pergi jauh-jauh. Anjani hanya akan mencuci kotak makannya saja agar bersih saat dibawa pulang.


"Hati-hati digodain cogan. Hehe." Rupanya Meli bercanda.


"Hehe. Udah, aku pergi sebentar dulu. Ingat, jagain kuenya jangan sampai dimakan." Anjani mengingatkan sambil ikut bercanda.


"Iya, beres."


Anjani mencuci kotak makan bekas kue kleponnya begitu lama. Padahal hanya satu wadah saja. Semua karena Anjani masih terngiang perkataan Mario tentang si cantik bernama Bidadari, yang kemarin diberi buket mawar putih oleh Mario, juga tentang kabar baiknya.


Apa kabar baik yang dimaksud adalah sebuah pernikahan? Mungkinkah Mbak Bida itu calonnya Mario? batin Anjani dipenuhi dugaan-dugaan.


"Astaghfirullah," tutur Anjani kemudian menghembuskan nafas panjang.


Bersambung ....


***


Kabar baik apa yang dimaksud Mario? Siapa sebenarnya muslimah cantik bernama Bidadari itu? Apakah Anjani akan mencari tahu semua ataukah hanya akan menunggu saja hingga semua menjadi jelas?


Ingin tahu? Nantikan lanjutan novel Cinta Strata 1. Terima kasih. Krisan buat author selalu ditunggu, ya. 😊


***

__ADS_1


__ADS_2