CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Mengenal Lebih


__ADS_3

Minggu pagi yang cerah. Sungguh hari yang tepat untuk mengerjakan berbagai aktivitas. Kampus yang biasanya didominasi oleh mahasiswa pasca sarjana, Minggu ini begitu ramai oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai jurusan. Di lapangan kampus telah terpasang sebuah panggung besar lengkap dengan tenda, beberapa kursi untuk undangan dan penonton, juga sound system. Banner menarik yang terpasang di latar belakang panggung menjadi penjelas kegiatan. Acara 'Pemilihan Mahasiswa Berprestasi Tingkat Kampus', siap dimulai.


Anjani dan teman sesama mahasiswa baru dari jurusan ekonomi tidak sedang mengikuti ajang mahasiswa berprestasi. Mereka sedang menyelesaikan kegiatan terakhir dari serangkaian acara OSPEK jurusan ekonomi, yang mengusung tema 'mengakrabkan diri melalui kegiatan ekonomi'. Mahasiswa baru diajak lebih akrab dengan teman sesama mahasiswa baru, seniornya, juga lingkungan kampus melalui kegiatan wirausaha yang telah disepakati bersama kelompoknya masing-masing. Acara pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat kampus akan mengundang kerumunan penonton dan suporter, sekaligus menjadi kesempatan yang bagus untuk menawarkan jualan masing-masing kelompok.


Pagi itu Anjani dan kelompoknya mendapat stan jualan nomor sebelas dari dua puluh stan yang disediakan panitia. Anjani bertugas menata buket mini di atas meja. Buket mini yang dijual Anjani dan kelompoknya berisi kombinasi antara bunga carnation dan baby's breath. Ada pula mawar merah dan mawar putih segar yang dijual bijian, dilengkapi kertas kecil berbentuk hati yang diikat dengan pita perak. Siapa pun yang membeli, bebas untuk menulis sendiri pesannya. Buket mini dijual seharga sepuluh ribu rupiah. Sementara setangkai mawar lengkap dengan pesannya dijual seharga lima ribu rupiah.


"Anjani, perlu nambah mawar imitasi nggak?" tanya Meli yang sejak beberapa menit lalu berbicara dengan agen bunga langganan Kak Lisa. Sepertinya agen tersebut menawarkan sesuatu kepada Meli.


"Ini saja sepertinya sudah cukup, Mel."


"Oke."


Dika baru saja kembali dari mengambil kursi. Begitu selesai, dia bergegas membantu Juno promosi kepada siapa pun yang melewati stan mereka. Sementara itu, senior tahun kedua yang menjabat sebagai panitia acara OSPEK jurusan terlihat sibuk membantu beberapa kelompok yang kesulitan membawa barang dagangannya. Ada pula senior yang bertugas mendokumentasikan kegiatan mahasiswa baru saat itu. Yang tidak kalah penting, panitia inti dan beberapa mahasiswa senior akan berkeliling siang nanti untuk berkunjung dan bertanya ke masing-masing stan.


"Anjani, buket mini 1 buat pelanggan pertama kita. Yeah!" kata Dika sambil mengantar pelanggan yang dimaksud ke stan mereka.


"Terima kasih, Kak. Semoga suka." Anjani ramah melayani pelanggan.


Beberapa menit kemudian, Juno datang sambil berlarian kecil. Dia baru saja kembali dari depan panggung, tempat diselenggarakan pemilihan mahasiswa berprestasi. Lebih mengejutkan lagi, Juno tidak datang sendiri. Dia datang bersama tujuh mahasiswi senior dari fakultas lain. Tentu saja, mereka semua hendak membeli bunga di stan Anjani dan kelompoknya. Waw, Anjani jadi bertanya-tanya bagaimana cara Juno promosi.


"Tujuh mawar merah segar siap dipinang." Meli berteriak senang.


"Sekalian tolong dituliskan pesannya, ya. Disamakan semua saja. Tulisan 'Semangat, Kakak'!" pinta salah satu mahasiswi yang membeli.


"Baik, tunggu sebentar ya, Kak. Silakan boleh sambil melihat bunga lainnya." Dika mempersilakan.


"Juno!" panggil Anjani sambil memberi isyarat untuk mengajak ngobrol pembeli, sambil menunggu tulisan selesai.


Juno mengerti isyarat Anjani dan bergegas mencomot sembarang topik. Dari obrolan itulah Anjani tahu bahwa bunga-bunga itu akan diberikan kepada salah satu senior yang menjadi perwakilan mahasiswa berprestasi dari fakultas teknik.


"Selesai, Kak. Terima kasih sudah mampir ke stan kami. Semoga jagoan kakak menjadi juaranya." Anjani memberi dukungan sesaat setelah semua mahasiswi menerima bunga pesanan mereka.


"Sst, Anjani. Ngapain malah dukung mereka. Perwakilan dari fakultas kita juga ada, lho. Ah, kamu ini!" kata Meli sambil setengah berbisik, takut mahasiswi-mahasiswi tadi mendengarnya.


"Oh, ya? Siapa?" tanya Anjani.


"Ah, Anjani. Masa nggak tau, sih. Beritanya udah viral." Kali ini Meli sedikit mengeraskan suaranya.


"Beneran nggak tau, Mel."


"Udah, ah! Lihat sendiri aja ntar." Meli enggan menyebutkan dan kembali berteriak-teriak untuk promosi.


Gawat! Teriakan Meli disambut reaksi kurang enak dari stan yang berada persis di sebelah kelompok Anjani. Stan nomor sepuluh, stan Berlian dan delapan anggota kelompoknya. Berlian dan kelompoknya menjual aksesori dan barang-barang lucu yang disukai wanita. Sejak pagi tadi stan kelompok Berlian tidak kalah ramai dari stan kelompok Anjani. Meski barang yang dijual jauh berbeda, sepertinya atmosfir persaingan begitu kental terasa.


"Berisik banget, sih!" protes Berlian sambil melihat ke arah stan kelompok Anjani.


Anjani, Meli, dan Dika terkejut mendengarnya. Mereka merasa tidak membuat kesalahan, justru mereka sedang melangsungkan strategi memasarkan produknya. Menurut Anjani, masalahnya bukan terletak pada cara promosi tiap kelompok. Satu-satunya yang bermasalah adalah Berlian dan sikapnya.

__ADS_1


"Hei, Berlian. Marah-marah bisa bikin cepet tua. Keriput. Nggak akan bikin C-A-N-T-I-K." Juno yang maju menghadapi Berlian. Bahkan, dia menekankan kata 'cantik' seolah hendak menyindir.


"Diam kau, ya! Dasar cowok cupu, nggak modis!" ejek Berlian, mulai dengan kata-kata kasarnya.


"Hei, lupa nggak pakek kacamata, ya! Semua orang juga tau kalau aku itu KEREN plus TAMPAN plus BANYAK PENGGEMAR. Titik!" Juno tidak mau mengalah.


Anjani, Meli, dan Dika berusaha melerai adu mulut antara Juno dan Berlian, tapi usaha mereka sia-sia. Adegan itu ditangkap dan dilaporkan. Alhasil, beberapa senior hadir termasuk Mario dan Ken.


Kedatangan beberapa senior membuat Juno dan Berlian seketika terdiam. Setelah mendapat nasihat dari ketua pelaksana, emosi Juno dan Berlian mereda. Tanpa ada perkataan maaf, Juno dan Berlian kembali ke stan kelompoknya.


"Beri aku minum!" kata Juno pada teman kelompoknya. Ternyata dia masih kesal pada Berlian.


"Juno, tahan emosimu. Slow!" Ken mendatangi Juno, sesaat setelah ketua pelaksana dan beberapa senior pergi.


"Mas Ken, Mas Mario, kayaknya tuh anak dari kemarin cari gara-gara." Juno menegaskan dengan nada bicara yang sudah lebih tenang.


Mario ikut serta menenangkan Juno. Dia menepuk-nepuk bahu Juno kemudian berkata, "Jadikan kegiatan saat ini untuk mengenal lebih, bukan berkelahi. Sudah, lepaskan prasangka negatifmu."


Kata-kata Mario mirip sebuah mantra, yang sukses menghipnotis siapa pun yang mendengarnya. Juno, Ken, Meli, Dika, mereka berempat tersenyum mendengarnya. Begitu pula dengan Anjani. Senyum dan perasaan tenang seketika menguasai dirinya. Dia bahkan menggarisbawahi kata 'mengenal lebih'. Ya, dia sadar bahwa kegiatan saat itu tidak hanya sekedar kegiatan jual beli, tapi memang untuk mengenal lebih. Mengenal teman baru, karakter baru, lingkungan baru, hingga ilmu dan pengalaman baru.


Bolehkah aku lebih mengenalmu? batin Anjani.


Deg! Anjani merasa aneh dengan angan-angan yang tiba-tiba saja menyerang.


Tidak! Tidak boleh! Fokus Anjani! Fokus! batin Anjani lagi.


"Sst, itu dia perwakilan fakultas kita. Kak Mario!" Meli sedikit berbisik ke arah Anjani. Ekspresinya terlihat riang.


Anjani tidak terlalu kaget mendengarnya, meski dia terlambat mengetahui beritanya. Fakta bahwa Mario mendapat vote terbanyak karena pidatonya telah membuat Anjani yakin bahwa Mario layak mendapat kesempatan menjadi perwakilan.


"Kak Mario, semangat!" kata Anjani tiba-tiba sambil memberikan setangkai mawar putih untuk Mario. Anjani tidak sedang bermain tentang perasaan. Kali ini dia benar-benar ingin memberi dukungan.


Ken dan Juno tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Adegan itu benar-benar mengundang tanya bagi mereka. Namun, saat Anjani menegaskan niatnya untuk memberi dukungan sekali lagi, barulah Ken dan Juno mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak perlu.


"Terima kasih, Anjani. Niat baikmu sangat kuhargai." Mario berkata dengan nada khasnya. Dan .... Saat itu Mario tersenyum. Senyuman yang sama seperti saat pertama kali Anjani bertemu dengan Mario di toko bunga.


"Aku juga! Ini untuk Kak Mario. Semangat!" Meli memberikan mawar merah dan ikut menyemangati Mario.


"Ah! Aku juga kalau begitu. Ini untuk Mas Mario. Jangan kecewakan juniormu, Mas. Semangat!" Juno ikut-ikutan menyodorkan setangkai mawar merah.


"Kalian ini ngapain, sih! Ini untuk dijual. Kembalikan-kembalikan!" Dika tidak terima dan merebut satu per satu bunga yang masih ada di tangan Anjani, Meli, dan Juno.


"Hahaha .... Kalian pantas dinobatkan sebagai kelompok terlucu!" Ken tertawa melihat adegan itu.


Anjani, Meli, dan Juno kompak melirik ke arah Dika. Yang dilirik sama sekali tidak peka, justru tetap meneruskan aksinya.


"Aku beli satu. Yang ini ... mawar putih. Dan ... dua lagi. Yang ini dan ini ... mawar merah."

__ADS_1


Mario membeli tiga tangkai sekaligus. Warna yang dipilih pun adalah warna bunga yang tadi hendak diberi oleh Anjani, Meli, dan Juno. Mario seolah sedang mengajarkan sesuatu kepada juniornya. Menghargai, itulah pesan yang ingin disampaikan Mario.


***


Pukul 14.00 WIB


"Yei .... Jualan kita habis. Untung besar, nih!" Meli kembali berteriak.


"Sst, Meli. Pelankan sedikit. Bisa-bisa ada adu mulut lagi, ntar!" Anjani mengingatkan Meli.


"Ups, maaf!"


Siang itu acara berakhir. Mahasiswa baru terlihat puas dengan kegiatan di stan masing-masing. Tidak ketinggalan para senior tahun kedua, mereka juga puas sekaligus lega telah menyelesaikan semua rangkaian kegiatan OSPEK.


"Kerja bagus! Terima kasih banyak atas semangat mahasiswa baru dalam mengikuti rangkaian kegiatan OSPEK. Selanjutnya, kami ucapkan selamat menempuh perjalanan indah masa kuliah. Mari, kita sukses bersama meraih gelar sarjana!" kata ketua pelaksana dalam sambutan sekaligus menutup kegiatan.


Setelah penutupan acara, Anjani mendengar berita kekalahan Mario. Sejujurnya dia ingin menyemangati. Akan tetapi, melihat ekspresi Mario yang biasa saja membuat Anjani mengurungkan niatnya. Anjani hanya melihat Mario dari jauh. Dari tempatnya berdiri, dia menyaksikan banyak sekali teman seangkatannya yang memberi Mario bunga meski mereka tahu Mario kalah. Disaksikan pula oleh Anjani, Mario tidak menerima satu pun bunga-bunga itu. Ken-lah yang mewakili Mario mengambil bunga-bunga dari penggemarnya. Seperti biasa, Mario kembali hadir dalam balutan sikap dinginnya.


Melihat itu membuat pikiran Anjani sedikit terusik. "Tiba-tiba manis, tiba-tiba dingin. Tiba-tiba peduli, tiba-tiba juga acuh nggak mau tahu. Aneh." Anjani berkata pelan.


"Benar. Aneh, ya!" kata Meli.


Anjani kaget. Dia benar-benar lupa kalau Meli sedari tadi ada di sampingnya. Dia juga mengamati sikap Mario kepada penggemarnya.


"By the way, Kak Mario itu apa beneran nggak pernah jatuh cinta, ya? Ah! Jadi penasaran, deh!" Meli gemas karena rasa penasarannya.


Benarkah demikian?


***


Malam hari pukul 21.30 WIB


Anjani belum bisa terlelap, meski sedari tadi dia menguap. Dia memutuskan untuk memeriksa pesan di grup chat 'Geng Betulan'. Grup chat tersebut hanya beranggotakan empat orang saja, yaitu Juno, Dika, Meli, dan Anjani. Di antara pesan yang dikirimkan, ada satu pesan dari Juno yang membuat rasa kantuk Anjani menguap tak tersisa.


Bagi yang kepo sama kehidupan Mas Ken dan Mas Mario, acungkan tangan. Kita merapat! Sabtu depan pukul 9 pagi kita ketemu di cafe Bro-Sis.


Pesan itu membuat Anjani tertarik. Meli yang lebih dulu mengirim emoticon setuju, lalu disusul Dika satu menit kemudian. Itu artinya Dika dan Meli juga tertarik. Akhirnya .... Anjani pun ikut mengirimkan emoticon setuju.


Fakta baru seperti apa yang akan diketahui oleh Anjani?


***


💖 like, vote, dan jejak komentarnya ya, readers. See You. 💖


NB: Boleh juga rekomendasikan ke teman, biar obrolan kalian tentang novel makin seru. 😍


Mohon maaf bila ada typo 👧

__ADS_1


__ADS_2