
Terjadi kemacetan dalam perjalanan Mario menuju bandara. Tak biasa-biasanya jalanan kota macet kala itu. Mobil dan kendaraan roda dua mengular, tanpa bisa bergerak bebas. Mobil Mario terjebak di tengah-tengah. Tidak ada celah baginya untuk bisa menyalip kendaraan lainnya.
“Astaghfirullah,” ucap Mario sambil mengusap wajahnya.
Mario melongok ke luar kaca jendela. Samar-samar terdengar keluh pengendara lain lantaran kemacetan di depan sana. Tidak ingin menerka-nerka, Mario memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Beberapa meter Mario melangkah hingga mendekati sumber kemacetan.
Rupanya ada pick up bermuatan jeruk mengalami ban kempes. Melihat dari kondisi pick up yang melintangi jalan, pick up sempat mengalami oleng. Meski tidak ada pengguna jalan lain yang dirugikan, banyak jeruk-jeruk muatan pick up menggelinding di jalanan. Kondisi itulah yang mendukung kemacetan.
“Jeruknya menggoda,” celetuk seseorang di sana.
“Eh, bukan punya elu, tuh. Ayo, bantu pungut!" Seseorang lain menanggapi.
Mario bersama beberapa orang lainnya sempat membantu memunguti jeruk-jeruk yang berserakan di jalan. Usai membantu sebentar, Mario kembali ke mobilnya.
“Astaghfirullah. Kalau seperti ini bisa telat sampai di bandara,” gumam Mario.
Benar saja. Sudah lewat lima belas menit dari jadwal penjemputan, dan mobil Mario masih terjebak kemacetan.
Tetiba saja pikiran Mario melambung jauh teringat masa lalu. Dulu saat Alenna pertama kali datang ke Indonesia, saat Mario tidak menjemputnya tepat waktu, kala itu Alenna dirampok dan hilang kabar seharian.
“Astaghfirullah. Tidak-tidak. Tidak akan terjadi yang seperti itu lagi.”
Mario mencoba optimis. Dia berusaha mengusir pikiran buruknya.
Lima menit kemudian, petugas telah berhasil menepikan pick up dengan alat bantu. Jeruk-jeruk yang menggelinding di jalanan pun telah dipunguti semua. Lalu lintas kembali lancar dan perlahan mobil Mario kembali melaju di jalanan.
Mobil Mario hampir mencapai bandara, tapi niatan untuk pergi ke dalam sana tertunda karena sebuah pesan dari mama Alenna.
‘Hentikan mobilmu tepat di depan bandara. But, don’t forget, bawa polisi bersamamu!’
Begitulah bunyi pesan dari mama Alenna. Pesan itulah yang membuat Mario seketika menghentikan mobilnya, kemudian bertanya-tanya.
“Untuk apa ada polisi segala? Apa butuh pengawalan khusus dari bandara menuju rumah?” Mario menduga-duga.
Mario mencoba menelepon mama Alenna untuk bertanya maksud pesan darinya. Satu kali coba, panggilan seketika ditolak. Mario sempat menatap aneh ke layar smartphone miliknya. Kembali dia coba untuk menelepon mama Alenna, dan lagi-lagi panggilan itu ditolak. Mario mencoba lagi, tetap ditolak lagi.
"Aaaaa! Apa sih maunya?" Mario mulai emosi.
"Astaghfirullah. Aku ke sana saja tanpa polisi," katanya kemudian.
Mario tancap gas menuju bandara. Dia nekat mengabaikan pesan yang dikirim mama Alenna. Mobil melaju pelan hingga sampailah di area depan bandara. Dari sanalah Mario kembali dikejutkan.
"Astaghfirullah," ucap Mario lirih.
Mobil Mario menepi di tempat yang disarankan mama Alenna via pesan singkat tadi, yakni di depan bandara. Pemandangan tak biasa lekas tersuguh begitu Mario turun dari mobilnya.
Terlihat seorang wanita dengan wajah kebule-bulean, berbadan ramping dengan pakaian modis, rambut pirang panjang, dan kaca mata hitam. Wanita itu sedang berdiri dengan tangan bersedekap. Mario mengenalinya, meski dia dan wanita itu bertemu hanya beberapa kali di masa lalu. Itu mama kandung Alenna.
Yang mengejutkan bukan sosok mama Alenna yang begitu khas wajah kebule-buleannya. Di dekat koper silver besar, ada dua lelaki terduduk di trotoar dan kedua tangannya terikat di belakang punggung mereka.
"Ampun, Nyai. Kami kapok!" seru seorang lelaki berkaos hitam yang tangannya diikat.
Mama Alenna melepas kacamata hitamnya, dan melotot ke arah lelaki itu.
"Nyai, kami mau tobat! Tolong lepaskan kami," pinta lelaki lain berkaos abu-abu tua yang tangannya juga terikat.
"I dont care!" seru mama Alenna, sambil membuang muka.
Saat membuang muka itulah, mama Alenna melihat Mario mendekat menghampirinya.
"Mario!" seru mama Alenna.
Mario tersenyum maksimal kepada mama Alenna. Akan tetapi, Mario memiliki masalah kecil saat itu. Mario bingung dengan sapaan nama yang harus dia sematkan pada mama Alenna. Sebelumnya Mario tak pernah bisa menerima kehadiran mama Alenna. Oleh karena itu, Mario kikuk saat harus memanggil mama Alenna dengan sebutan mama.
__ADS_1
"M-m-a-ma Alenna, maaf Mario terlambat." Mario terbata.
"What? Kamu manggil aku dengan sebutan apa Mario?" tanya mama Alenna.
"M-ma-mama Alenna," ulang Mario, dan masih saja terbata saat kata 'mama' disebutkan.
"Aku yakin John sering menyebut namaku. Kamu lupa namaku?" tanya Mama Alenna lagi.
Mario menggeleng. "Ingat. Monika," jawab Mario.
"Thats good. Coba panggil aku sekali lagi dengan benar," pinta Monika.
"M-mama Monika," ucap Mario, masih sempat terbata.
"Sebut tanpa nama. Lets try!" pinta Monika.
"Mama," kata Mario, dan alhamdulillaah lancar.
"Sekali lagi versi inggris!" perintah Monika.
Mario mengangkat sebelah alisnya, lalu berkata. "Mom."
"Ouhh, so sweet. Finally. Sudah lama aku menantikan panggilan itu darimu, Sayang." Monika terharu.
Mario tidak menyangka bahwa sikap mama kandung Alenna akan selebay itu. Mario benar-benar baru tahu, karena sebelum-sebelumnya Mario sama sekali tidak mengenal sosoknya. Kini, Mario dibuat cengar-cengir kala sudah tahu bahwa mama Monika sifatnya tidak jauh beda dengan Alenna.
"Malah drama! Lepasin kita dong, Nyai." Lelaki berkaos hitam kembali memohon pada Monika.
"Mario, mereka ini rampok. Perlu diberi hukuman. Untung aku jago bela diri. Hap-hap-hap, and KO." Wajah Monika dipenuhi kemenangan.
"Ampun, Nyai!" seru lelaki berkaos abu-abu tua.
"Mario, mana polisinya?" tanya Monika.
"Biar Mario panggilkan petugas keamanan bandara saja. Tunggu di sini sebentar, Mom!" seru Mario, lalu meninggalkan Monika bersama dua rampoknya.
Mungkin sikap itulah yang membuat ayah jatuh cinta padanya, batin Mario.
***
Urusan rampok sudah teratasi. Mario dan Monika telah sampai di rumah. Bagi Mario, perjalanan dari bandara menuju rumah bukanlah perjalanan yang menyenangkan, karena Monika terus saja mengomel atas keterlambatan penjemputan. Meski demikian, Mario mencoba tetap menanggapi dengan baik, karena Mario sudah berniat untuk menerima Monika sebagai ibunya.
"Mario, Mom sudah bawakan kamu dan Alenna oleh-oleh dari Jerman. Masih ada di dalam koper. Nanti saja Mom berikan padamu," kata Monika, lalu turun dari mobil.
Mario hanya megangguk, sambil tersenyum.
"Wow. Suasananya masih sama seperti dulu. But, Mario. Sepertinya warna pot tanamannya perlu diganti. Besok Mom sendiri yang akan pilih warnanya." Monika terus saja bertutur kata.
Lagi-lagi Mario hanya mengangguk, sambil tersenyum. Dia lekas ke bagasi dan menurunkan koper Monika.
"Mommy!" seru Alenna yang baru saja muncul dari dalam rumah.
"Alenna!" Monika tak kalah heboh.
Monika dan Alenna, ibu dan anak berwajah kebule-bulean itu berlarian kecil, saling mendekat, dan berpelukan erat. Ada rindu yang akhirnya terlepas.
"Alenna, you look so beautiful!" puji Monika setelah pelukannya terlepas.
"Ouh, thank you, Mommy. Mommy harus coba gamis seperti Alenna, ya. Terus rambut pirang ini harus ditutupi. Terus, hmm ... warna lipstiknya terlalu menyala. Ganti!" seru Alenna sembari mengoreksi penampilan Monika.
"Tren fashion terbaru, ya?" tanya Monika.
Alenna manyun, dan menggeleng. Sesudahnya sebuah senyum menghiasi wajahnya.
__ADS_1
"Bukan sekedar tren, tapi lebih dari itu. Nanti Mom belajar bareng Alenna, ya. Kita hijrah bersama." Alenna tulus berkata demikian.
"Kalau begitu Mom mau baju seperti ini sekarang, deh. Yuk, ke mall!" ajak Monika.
"Lets go!" seru Alenna. "Mario, kunci mobil. Bye-bye!" Alenna mengambil kunci mobil dari tangan Mario.
Alenna dan Monika riang menuju mobil. Mobil itu lekas melaju meninggalkan rumah mewah keluarga John.
"Huft. Aku diabaikan dan tidak diajak." Mario berkacak pinggang sambil memandangi mobil yang sudah sampai di pintu gerbang.
***
Mario meraih smartphone dan lekas membuat satu panggilan suara untuk Ken.
"Assalamu'alaikum, Bro. Sudah sampai mana pesawatmu? tanya Ken.
"Wa'alaikumsalam. Sudah sampai Jember," jawab Mario.
"Wow. Gimana caramu membujuk pilot buat putar balik pesawat?" Ken kepo.
"Butuh pesona dan bakat alami seperti yang kumiliki," jawab Mario.
Mario mendengar Ken terkekeh di seberang sana.
"Sekarang ada waktu? Aku tunggu di rumah," kata Mario. "Urusan kita belum selesai," imbuhnya.
"Hal penting apa yang harus dibahas, nih?" Ken ingin tahu.
"Anjani," jawab Mario singkat.
"Anjani sama Meli sedang liburan ke Jogja, Bro." Ken menjelaskan singkat apa yang dia tahu.
"Jogja?" lirih Mario.
"Iya, Jogja. Eh, jangan-jangan Meli mau mengenalkan Anjani dengan cowok ganteng lainnya di sana. Mungkin aja temannya si Azka. Itu tuh, Azka yang namanya sering disebut Meli. Bisa aja di Jogja sana Azka punya teman, terus Anjani dikenalkan sama temannya. Jangan-jangan itu yang terjadi, Bro." Ken jadi kompor.
Mario terdiam. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Anjani memiliki rencana berlibur ke Jogja.
"Itu tidak mungkin terjadi, Ken. Kecil sekali kemungkinannya Anjani akan berpaling dariku. Kau tahu kan aku tampan," tutur Mario dengan PeDe. Akhir-akhir ini seringkali kePeDean melanda dirinya.
Lagi-lagi Ken terkekeh.
"Bro. Banyak cowok tampan di luaran sana!" seru Ken.
"Oke. Kutunggu di rumahku sekarang!" pinta Mario.
"Eh? Apa lagi yang mau dibahas di rumahmu?" tanya Ken.
"Kata-katamu tadi pagi, Ken. Niat busukmu yang akan merebut hati Anjani dariku. Assalamu'alaikum."
Tut-tut-tut.
Telepon dimatikan sepihak oleh Mario. Sebuah senyum penuh arti lekas menghiasi wajah tampan Mario Dana Putra. Sebenarnya Mario tahu bahwa Ken sedang bercanda dengannya. Namun, Mario asik saja menjalihi Ken balik. Lagipula Mario sampai detik ini belum mengatakan pada Ken bahwa dirinya batal pindah kuliah ke Jerman.
Aku yakin bahwa jodoh tidak akan kemana. Aku pun yakin bahwa Sang Pemilik Hati akan menjagakan hati Anjani, meski saat ini dia di Jogja bersama Meli. Batin Mario.
Bersambung ....
***
Penasaran dengan penampilan baru Monika? Lalu bagimana cara Mario mengatasi sikap Monika? Apakah keluarga Mario akan kembali utuh dengan hadirnya Monika? Kepo-in lanjutannya, ya.
Ingin tahu keseruan apa yang ditemui Anjani dan Meli di Jogja? Ingin tahu pula sosok Azka beserta keluarganya yang sudah mengundang Meli hadir di Jogja? Lekas kunjungi novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Dukung karya kami, ya. Like, dan tinggalkan jejak komentar kalian.
__ADS_1