CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Kerja Sama


__ADS_3

Hawa dingin AC mulai terasa saat Meli melangkahkan kakinya di ruang dosen. Tidak seperti ruangan Pak Koko yang tersendiri, karena memang beliau ketua jurusan. Ruang dosen yang Meli masuki terlihat bersekat-sekat antar meja dosen. Lebih dari belasan meja di ruangan tersebut. Di bagian tengah ruangan terdapat meja besar dengan kursi-kursi mengitarinya, yang biasa digunakan untuk rapat para dosen.


Ruangan besar itu terlihat sepi saat Meli masuk, karena dosen-dosen masih mengajar di kelas mata kuliah yang diampu. Meli memperhatikan tulisan pada name tag yang terpasang di masing-masing meja. Nama Pak Nizar dicarinya.


Wajah Meli terlihat ceria saat menemukan meja Pak Nizar. Meli lebih ceria lagi saat menengok ke belakang setelah mendengar bunyi sepatu pantofel. Salam sapaan juga terdengar kemudian.


"Pak Nizar," sapa Meli dengan nada ceria.


"Mencari saya?" tanya Pak Nizar ramah dengan nada khas kejawa-jawaan.


"Iya, Pak. Saya ingin bertemu dan konsultasi sama Pak Nizar," kata Meli bersemangat.


"Baik, silakan." Pak Nizar melangkah ke mejanya lalu meletakkan laptop yang sedari tadi dibawanya.


Meli mengekor di belakang Pak Nizar. Begitu dipersilakan duduk oleh Pak Nizar, Meli pun duduk.


Pak Nizar meminta izin sebentar mengangkat telepon dari Pak Koko. Meli mengangguk, dan tak henti-hentinya memperhatikan pesona Pak Nizar dengan nada khas kejawa-jawaannya. Saat Pak Nizar selesai menerima telepon pun, Meli masih saja memperhatikan sambil tersenyum ceria, hingga Pak Nizar pun berdehem.


"Ehem. Maaf, kamu ...." Kata-kata Pak Nizar segera disela oleh Meli.


"Saya Meli, Pak." Meli antusias sekali, membuat Pak Nizar sedikit terkekeh pelan lantaran melihat semangat Meli.


"Baik. Meli, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Nizar.


"Ini, Pak. Saya mau mengumpulkan tugas, milik saya dan teman-teman," jelas Meli tanpa mengurangi keceriaannya.


Pak Nizar tersenyum lalu mengambil tumpukan kertas yang diserahkan oleh Meli. Pak Nizar merapikan posisi kertas-kertas itu sebentar, lalu memeriksa namanya satu per satu.


"Juno, Meli Syahrani, Adinda Dewi Anjani, dan Dika Pratama. Baik, saya terima tugasnya. Terima kasih sudah mengumpulkan," jawab Pak Nizar ramah.


Meli mengangguk-angguk, tersenyum, dan masih saja berdiam diri di kursinya sambil melihat ke arah Pak Nizar. Sikap Meli yang seperti itu membuat Pak Nizar sedikit tidak enak hati, hingga akhirnya menduga-duga bahwa masih ada yang hendak ditanyakan oleh Meli.


"Apakah ada yang ingin ditanyakan lagi?" tanya Pak Nizar dengan nada yang masih sama ramahnya seperti sebelumnya.


"Ada, Pak. Apakah Pak Nizar benar-benar belum menikah?" tanya Meli tak sungkan sama sekali.


Pertanyaan tak terduga dari Meli membuat Pak Nizar langsung terkekeh. Pak Nizar tidak kaget dengan pertanyaan itu, karena sebelum Meli ternyata sudah ada beberapa mahasiswa lainnya yang juga menanyakan pertanyaan yang sama.


Status single Pak Nizar memang cepat sekali menyebar di kalangan mahasiswa. Itu semua karena Pak Nizar mendadak diidolakan lantaran paras wajahnya yang lumayan tampan.


"Kenapa kamu sangat ingin tahu?" tanya Pak Nizar kemudian.


"Penasaran, Pak. Sekarang Pak Nizar jawab saja biar saya tidak penasaran terus," kata Meli sedikit mendesak dan sama sekali tak sungkan.


Untungnya Pak Nizar memaklumi mahasiswa-mahasiswa seperti Meli. Status single-nya memang seringkali menjadi pertanyaan, dan Pak Nizar pun sudah terbiasa menanggapi pertanyaan seperti itu.


"Iya, benar." Pak Nizar membenarkan pertanyaan Meli.


Meli bersorak dalam hati. Senang sekali mendengar jawaban Pak Nizar yang membenarkan status single-nya.


"Terus-terus, Pak Nizar kapan mau menikahnya? Apa sekarang sudah ada yang mengisi hati Pak Nizar? atau .... Au, siapa nih?" Kata-kata Meli terputus lantaran ada seseorang yang menepuk bahunya.


Berlianlah yang menepuk bahu Meli. Suara Meli yang bernada ceria menggema di ruang dosen, hingga pertanyaan yang tadi diajukan untuk Pak Nizar terdengar oleh Berlian yang saat itu hendak mengumpulkan tugas juga.


"Sst, malu-maluin aja, sih. Nggak sopan tahu tanya gitu," bisik Berlian di telinga kiri Meli.


Meli hanya nyengir setelah dinasihati oleh Berlian. Agar tidak canggung, Berlian pun nyengir juga, lalu menyapa Pak Nizar. Setelah itu Berlian langsung menyerahkan tugas miliknya.


"Ini tugas milik saya, Pak." Berlian menyerahkan tugas miliknya.


"Terima kasih. Saya terima tugasnya," kata Pak Nizar seraya tersenyum ramah.


"Mel, ayo!" ajak Berlian sambil memberi kode mata pada Meli.


"Kemana?" tanya Meli bingung, dan masih tetap duduk di kursinya.


Berlian sedikit gemas dengan Meli.


"Hehe. Permisi, Pak. Saya dan teman saya pamit. Terima kasih," pamit Berlian.


"Iya, sama-sama." Pak Nizar menjawab dengan ramah.


Berlian seketika langsung menarik lengan Meli dan mengajaknya untuk segera keluar dari ruangan tersebut.


"Eh, eh. Kok tarik-tarik, sih. Permisi, dan terima kasih, Pak." Meli menyempatkan diri untuk berterima kasih sebelum Berlian membawanya keluar dari ruang dosen.

__ADS_1


"Hem ... ada-ada saja," tutur Pak Nizar sambil geleng-geleng kepala.


Begitu Meli dan Berlian keluar dari ruang dosen, ada dua rekan kerja Pak Nizar yang juga dosen pengajar memasuki ruangan. Setelah menyapa dua dosen tersebut, Pak Nizar membuka laptopnya untuk kembali mengerjakan tugasnya. Sembari mengerjakan tugas, Pak Nizar memasang headset dan mendengarkan rekaman suara favoritnya.


***


Tiba di luar ruangan dosen, Meli mulai protes pada Berlian. Protes itu dilayangkan karena Meli belum mendengarkan jawaban Pak Nizar atas pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya diajukan.


"Nggak sopan tanya gitu, Mel." Lagi-lagi Berlian menasihati Meli.


"Au ah," seru Meli berlagak ngambek.


"Sudah-sudah, aku mau curhat, nih. Boleh nggak?" tanya Berlian pada Meli.


"Ya boleh bangetlah. Pasti mau curhat masalah hati. Iya, kan?" goda Meli.


Awalnya Berlian berekspresi datar mendengar dugaan Meli. Rupanya hati Berlian tak kuasa menahan, hingga akhirnya Berlian pun tersenyum dan mengangguk membenarkan.


Meli dan Berlian mencari tempat duduk. Namun, tak ada tempat duduk kosong yang ditemukan. Alhasil, Meli pun kembali duduk di bangku panjang tempatnya bertemu dengan Juno dan Alenna tadi.


"Tunggu, bukan mau meratapi si Juno lagi, kan?" tanya Meli.


"Ih, gitu amat sih tanyanya. Rela nggak nih dengerin curhatku?" protes Berlian.


"Haha, gitu aja ngambek. Ayo cepat cerita! Bakal Meli Syahrani dengarkan full meski itu tentang Juno," jelas Meli antusias.


Berlian tersenyum lebih dulu, terlebih karena mendengar penuturan Meli yang seperti itu.


Curahan hati Berlian pun dimulai. Berlian menceritakan rasa sesaknya saat melihat Juno bersama Alenna tadi saat duduk di bangku panjang. Berlian juga menceritakan tentang Ken.


Saat itu Ken memang memperhatikan Berlian yang berdiri mematung sambil melihat ke arah Juno dan Alenna. Ken awalnya berniat mengangetkan, tapi urung lantaran menangkap kesedihan di wajah Berlian. Ken tak sengaja mendengar gumaman Berlian yang bingung menemukan cara untuk move on dari Juno. Tiba-tiba saja Ken nyeletuk, meminta izin pada Berlian untuk membantunya move on.


"What? Kak Ken bilang gitu? Beruntung banget kamu, Berlian." Meli kaget dan antusias menanggapi.


"Beruntung apanya? Yang ada aku malah bingung," jelas Berlian.


"Bisa aja Kak Ken diam-diam naksir kamu," duga Meli.


"Ah, mana mungkin. Haha," sangkal Berlian.


Berlian tidak langsung menjawab. Hembusan nafas terdengar kemudian. Sesudahnya Berlian tersenyum, hingga membuat Meli semakin penasaran.


"Tiba-tiba aja tadi aku ngangguk. Eh, tunggu. Jangan langsung mikir macam-macam. Aku sudah bilang sama Kak Ken mau fokus kuliah, dan Kak Ken bersedia membantuku kalau aku kesulitan dalam belajar," jelas Berlian.


"Eh. Boleh juga, tuh. Kak Ken pinternya sebelas dua belas sama Kak Mario, kok. Tepat deh kalau kamu mau tentor belajar sama dia. Tapi ... ehem." Kata-kata Meli terhenti.


Meli sengaja menjeda kalimatnya, hingga membuat Berlian ingin tahu dengan lanjutan kata-kata Meli.


"Tapi apa?" tanya Berlian.


"Tapi kalau nanti di tengah-tengah tentor tiba-tiba ada perasaan ya jangan menghindar. Itu namanya takdir. Lagipula Kak Ken lumayan tampan kayak Juno lho, cuma berkacamata aja. Ehem-ehem," goda Meli lagi-lagi.


"Apa'an sih Mel," kata Berlian.


Meski Berlian menyangkal, tapi ujung-ujungnya Berlian tertawa juga saat Meli menggodanya.


"Kerja sama, deh. Aku dukung kamu sama Kak Ken, dan kamu dukung aku sama Pak Nizar," usul Meli antusias.


"Kagak mau, Mel." Berlian menolak, dan selanjutnya tawa mereka pun pecah.


Curhat itu pun berakhir lima menit kemudian. Meli dan Berlian berniat pulang. Berlian berbaik hati menawari tumpangan untuk Meli. Meli pun mau, dan mereka berdua pun beranjak berdiri.


Tiba-tiba saja terlihat Mario mendekat, menyapa Meli dan Berlian. Meli yang tahu rutinitas Mario pun segera bertanya.


"Loh, tumben Kak Mario balik lagi? Nggak ke kantor, Kak?" tanya Meli.


"Mau ke ruangannya Pak Nizar. Ada perlu sebentar," jelas Mario sambil tersenyum ramah.


Sejak bersama Anjani, Mario memang lebih sering terlihat tersenyum khususnya pada teman-teman dekat Anjani, calon istrinya. Namun, tetap saja, sikap dingin dan jawaban super singkat Mario sesekali terlihat di depan teman-teman lainnya.


"Kak Mario mau ketemu Pak Nizar? Titip salam dari Meli," kata Meli dengan cepat dan bersemangat.


"Hus, apa'an sih, Mel. Yuk, pulang!" ajak Berlian


Berlian dan Meli pun berpamitan pada Mario. Sementara Mario pun melanjutkan langkahnya menuju ruang dosen untuk bertemu Pak Nizar.

__ADS_1


***


Di ruang dosen.


Senyum Mario mengembang ramah saat berpapasan dengan beberapa dosen yang mengajarnya. Setelahnya Mario mencari meja Pak Nizar di ruangan tersebut. Tidak susah mencarinya, karena Pak Nizar sedang duduk di mejanya dengan headset terpasang di salah satu telinganya.


Saat itu Pak Nizar sedang fokus menatap layar laptopnya, jemarinya mengetik cepat, sedangkan salah satu telinganya terpasang headset. Ya, saat itu Pak Nizar sedang mendengarkan rekaman suara. Sengaja hanya dipasang salah satu agar Pak Nizar bisa mendengarkan suara lainnya di ruangan itu juga.


"Permisi, Pak." Mario menyapa dan meminta izin untuk duduk.


"Mario .... Silakan duduk!" ujar Pak Nizar mempersilakan Mario.


Headset segera dilepas dari telinga, kemudian laptop ditutup dan sengaja dipindahkan ke sisi satunya. Pak Nizar memulai obrolan dengan Mario.


"Saya senang, ternyata mahasiswa yang berjabat tangan dengan saya di parkiran waktu itu adalah seorang leader, pebisnis sukses. Saya perlu banyak belajar darimu, Mario. Caramu mengatur waktu antara kuliah dan pekerjaan pastilah sangat unik," puji Pak Nizar.


Mario tersenyum mendengar pujian itu. "Terima kasih atas pujiannya, Pak. Terkait dengan pengajuan untuk bermitra antara jurusan dengan perusahaan sudah disetujui. Pak Leon, pimpinan utama perusahaan juga sangat mendukung," jelas Mario langsung pada topik.


"Syukurlah kalau begitu. Jadi mulai kapan bisa direalisasikan penempatan mahasiswa magang di perusahaanmu?" tanya Pak Nizar yang memang belum diberi tahu oleh Pak Koko.


"Bisa mulai semester depan ini, Pak. Saya juga sudah menyampaikannya pada Pak Koko. Saat mulai penempatan mahasiswa magang nanti, Pak Nizar bisa menyampaikan teknis dan kebutuhan kepada sekretaris perusahaan. Namanya Alenna, dan ... ini nomor yang bisa dihubungi." Mario menyodorkan sebuah kartu nama dan nomor milik Alenna.


Pak Nizar saat itu terkagum-kagum dengan sosok Mario. Baginya, Mario merupakan mahasiswa unik, berotak cerdas, pandai bertutur, dan banyak kekaguman lain yang saat itu benar-benar membuat kagum.


Kartu nama yang diberikan Mario diamati sebentar. Kemudian Pak Nizar manggut-manggut dan berterima kasih pada Mario.


"Saya nantinya hanya sebagai dosen pembimbing lapang bagi mahasiswa yang ditempatkan magang di perusahaanmu. Saya senang sekali karena itu kamu. Semoga kerja sama ini akan berjalan baik dan langgeng," jelas Pak Nizar yang saat itu terdengar kental warna suara kejawa-jawaannya.


Mario lagi-lagi tersenyum dan memberikan respon positif atas harapan baik Pak Nizar.


"Mario, apa Sabtu ini kamu ada waktu luang? Saya ingin berbincang banyak denganmu," tanya Pak Nizar.


Mario seketika meminta maaf karena tidak bisa memenuhi permintaan Pak Nizar. Bukan sengaja menolak karena tidak suka dengan ajakannya untuk mengobrol, tapi karena Sabtu ini Mario akan menikah dengan Anjani.


"Maaf, Pak. Sabtu ini saya akan melangsungkan pernikahan dengan pujaan hati saya," jelas Mario tak sungkan-sungkan.


"Wah, selamat ya. Beruntung sekali wanita itu. Baik-baik, lain kali saja kalau begitu." Pak Nizar menanggapi tanpa memudarkan senyum di wajahnya.


"Khusus buat Pak Nizar saya undang. Boleh hadir dengan siapa pun," kata Mario.


"Hehe. Terima kasih banyak Mario. Saya akan datang, tapi sendirian saja tidak apa-apa, ya. Sampai ketemu di sana," kata Pak Nizar berkata apa adanya, karena memang tidak ada yang ingin diajak bersamanya.


Obrolan masih berlanjut beberapa menit kemudian. Setelahnya Mario berpamitan, dan segera menuju kantornya untuk kembali bekerja.


***


Di kantor.


Mario baru saja memarkir mobilnya di halaman parkir perusahaan. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, tanda sebuah pesan masuk. Mario berhenti melangkah dan segera membaca pesan yang rupanya dari sekretaris pribadi ayah Mario.


Ekspresi Mario seketika berubah kaget setelah membaca pesan tersebut. Beda sekian detik, ponsel Mario kembali bergetar. Ada dua pesan, satu dari Alenna dan satu lagi dari Leon. Isi pesan yang dikirim Alenna dan Leon hampir serupa. Wajah Mario mulai menunjukkan perubahan ekspresi tidak suka.


Mematung sejenak, lalu Mario bergegas menelepon Anjani, calon istrinya. Dering pertama pada panggilan suara yang dibuat Mario tidak diangkat oleh Anjani. Mario kembali mencoba menghubungi dan akhirnya diangkat juga.


"Halo," sapa Anjani via telepon.


"Sayang, nanti malam aku akan datang bersama sekretaris ayahku ke rumahmu. Apa pun keputusan yang akan dibuat malam nanti, aku harap kamu tidak pernah membenciku," jelas Mario langsung pada topik.


"Untuk apa aku harus membencimu, Sayang. Aku mencintaimu. Sebenarnya apa yang sedang kamu maksud ini?" tanya Anjani bingung.


Sekian detik Mario hanya terdiam. Belum juga melanjutkan obrolannya via telepon dengan Anjani. Mario terlihat masih berpikir.


"Halo .... Halo, Sayang. Kamu baik-baik saja?" tanya Anjani.


"Akan kujelaskan nanti," kata Mario kemudian.


"Baiklah. Sampai nanti malam. Da!"


Sambungan telepon berakhir. Mario masih saja mematung, berdiri di tempatnya. Namun hanya bertahan sekian detik. Detik selanjutnya Mario berjalan memasuki kantornya, bertemu dan berdiskusi dengan Leon dan Alenna.


***


Bersambung ....


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan keseruan lanjutannya, ya 😊✨

__ADS_1


__ADS_2