
Rumah terasa sepi sejak Alenna dan Mommy Monika pergi berbelanja. Mario melangkah menuju kamarnya di lantai dua sambil menunggu kedatangan Ken di rumahnya. Mario duduk di karpet lembut berukuran 2x2 meter. Mario tidak sekedar duduk santai. Akan tetapi, Mario menyibukkan diri dengan bungkusan-bungkusan kotak sepatu pesanan pembeli di online shop yang sedang dikembangkan olehnya.
Sudah ada tiga kotak yang terbungkus rapi, lengkap dengan alamat pembeli. Tersisa dua kotak lagi yang belum dibungkus. Menit-menit berikutnya digunakan Mario menyelesaikan bungkusan-bungkusan kotak sepatu. Mario berniat mengirimkannya siang itu juga via kurir pengiriman barang.
"Meow!" Suara si Boy, kucing berwana hitam putih peliharaan Mario.
Mario tersenyum melihat si Boy berlarian mendekatinya. Dielusnya kepala si Boy tiga kali. Mario senang melihat si Boy tumbuh besar dan sehat. Badannya bahkan menggemuk dengan cepat karena doyan makan.
Puas berlarian di kamar Mario, si Boy pun keluar dari kamar. Mario tersenyum dengan tingkah si Boy yang selalu terlihat menggemaskan.
“Alhamdulillaah,” ucap Mario setelah merampungkan pekerjaannya.
Tangan Mario cekatan merapikan kembali kertas dan selotip yang berserakan. Tak lupa, Mario mengecek kembali alamat-alamat yang tertera pada masing-masing bungkusan kotak sepatu. Mario memastikan bahwa alamat dan kode posnya benar.
Tiba-tiba saja saja ada yang menimpuk kepala Mario dengan boneka sapi.
“Astaghfirullah!” ucap Mario beristighfar.
“Taraaa!” Ken muncul dengan wajah tanpa dosa.
“Ken!” seru Mario sambil melayangkan kembali boneka sapi itu ke arah wajah Ken.
“Hap!” Ken berhasil menangkap boneka sapi itu. “Yakin rela kehilangan boneka sapi penuh kenangan ini?” tanya Ken sembari melangkah perlahan masuk ke dalam kamar Mario.
Mario terdiam, enggan menjawab.
“Oke. Aku bawa pulang saja! Lagipula ini tadi geletakan di sofa ruang tamu.”
“Kembalikan!” seru Mario.
Ken terkekeh. Dia sungguh menikmati ekspresi Mario. Boneka sapi menjadi senjata ampuh untuk menggoda Mario. Ken sudah bisa menebak bahwa Mario tidak akan merelakan boneka sapi itu untuknya. Boneka sapi itu begitu berharga, karena Mario mendapatkannya saat bersama Anjani.
Boneka sapi milik Mario dikembalikan. Ken sengaja menggosok-gosokkan bagian wajah boneka ke pipi Mario. Seketika Mario merebut boneka itu dari Ken.
“Salammu mana, Ken?” tanya Mario setelah meletakkan boneka sapi itu di dekat bantal.
“Sudah tadi. Kau saja yang tidak dengar,” jelas Ken. "Lagi, deh. Assalamu'alaikum," salam Ken.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mario.
“Ehem." Ken memperbaiki posisi kacamatanya. "By the way. Masih lanjut aja nih olshop-nya?” Ken basa-basi.
Mario mengangguk. Tangannya gesit mendorong kotak-kotak sepatu yang sudah terbungkus itu ke depan Ken.
“Bantu aku kirimkan ini, ya?” pinta Mario.
“Upahnya apa, Bro?” Ken perhitungan.
“Olshop-ku berkembang pesat. Jadi, mulai detik ini kau dan Juno kuterima sebagai karyawanku. Itu upah yang sangat tak ternilai dengan apa pun juga,” terang Mario seraya tersenyum.
Ken menjentikkan jarinya di depan wajah Mario.
“Hello. Kapan aku melamar jadi karyawanmu, Bro?” tanya Ken.
Mario tersenyum penuh arti. Tangannya bersedekap. Bola mata indahnya menatap Ken.
“Ngomong-ngomong soal melamar. Kapan kau mau melamar Berlian?” tanya Mario dengan penuh penekanan kata.
Ken terkejut mendengar Mario berkata seperti itu. Mendadak Ken kehilangan kata-kata. Pipi Ken seketika menjelma semerah tomat. Ada rasa malu sekaligus denting merdu yang berdebaran dalam dadanya.
Sebenarnya saat Ken menyerahkan hoodie hadiah perpisahan untuk Mario, ada kata-kata yang begitu saja Ken lontarkan. Ken mengakui sebuah rahasia tentang cintanya. Tentang perasaannya pada Berlian, juga rencana jangka pendeknya untuk melamar Berlian. Ken mengatakan itu pada Mario, karena Ken mengira bahwa Mario akan benar-benar pindah kuliah ke Jerman. Ternyata, ZONK.
__ADS_1
“Kau sendiri kapan berani melamar Anjani lagi, ha?” Bukannya menjawab pertanyaan Mario, Ken malah balik bertanya.
“Tentu aku akan melakukannya lagi, Ken. Aku tahu betul perasaanku pada Anjani, dan aku yakin dengan perasaan Anjani kepadaku. Kami bahkan hampir saja melangsungkan pernikahan. Andai kasus ayahku tidak sampai mencuat ke publik. Kau tahu sendiri kan bagaimana masa laluku bersama Anjani, hingga rencana pernikahan itu dibatalkan,” terang Mario.
“Hesteg Curhat (#curhat),” celetuk Ken.
Buru-buru Mario mengambil gulungan kertas, hendak melemparkannya pada Ken.
“Hehe. Sorry, Bro. Bercanda doang. Lanjutkan ceritamu!” pinta Ken.
Mario mengambil jeda dalam kata-katanya.
“Aku rasa ini sudah bagian dari takdir-Nya. Pantas saja jika saat itu pernikahan kami batal, karena baik aku ataupun Anjani sama-sama belum memantaskan,” jelas Mario.
Kata-kata Mario terdengar begitu dalam. Ken bahkan dibuat terdiam. Untuk menyiapkan satu kalimat tanggapan saja Ken dibuat berpikir berulang.
“Terus?” Hanya kata tanya itulah yang berhasil Ken serukan.
“Jalan hijrah yang kami pilih sungguh mengubah segalanya. Anjani kini telah berhijab,” kata Mario. “Aku semakin kagum padanya,” imbuhnya.
“Terus kapan mau ngelamar Anjani lagi? Kita udah sama-sama tahu dan paham bahwa agama kita melarang yang namanya pacaran. So, kalau udah yakin, kenapa mesti berlama-lama.” Kata-kata Ken terdengar bijak.
Bola mata Mario beralih pandang. Ditatapnya boneka sapi di dekat bantalnya. Mario mencerna dengan baik kata-kata Ken sambil tetap memandang boneka sapi, kenangan bersama Anjani.
“Apa lagi yang membuatmu ragu, Mario. Kau tampan, cerdas, beriman, punya pendapatan tetap dari olshop yang kau kembangkan, juga pendapatan lain dari hasil sumbang ide perusahaan ayahmu. Ya, hanya saja kau masih kuliah. Tapi apa yang salah dengan masih kuliah? Menurutku sih oke-oke saja. Asalkan ada komitmen di antara kalian, juga kedua keluarga saling mendukung. Ingat ini, pernikahan itu bukan hanya tentang menyatukan cinta, tapi juga menyatukan dua keluarga.” Ken semakin bijak menasihati Mario.
Mario tersenyum mendengarnya.
“Apa Anjani akan bersedia jika tiba-tiba aku melamarnya?” tanya Mario tiba-tiba.
“Ya makanya cobalah, Mario. Sebelum itu sholat istikhoroh dulu. Minta petunjuk pada-Nya. Mantapkan hatimu. Ingat, jangan melakukannya hanya karena ‘kebelet nikah’!” tegas Ken. “InsyaAllah kalau ditakdirkan, pernikahan itu akan terlaksana, kok. Kalau kalian nggak nikah-nikah, ya itu namanya bukan jodoh. Em, tapi kudoakan Anjani itu jodohmu, deh."
“Kau bijak sekali hari ini,” puji Mario.
“Ehem. Inilah diriku yang sebenarnya,” kata Ken membanggakan dirinya.
Kata-kata Ken memang bijak. Di balik kata bijak itu tersimpan sebuah cerita yang disembunyikan dari teman-temannya, bahkan dari Mario sekalipun. Beberapa waktu lalu Ken berkonsultasi dengan Pak Nizar. Secara garis besar, kata-kata yang diucapkan Ken pada Mario sebenarnya adalah kata-kata yang dinasihatkan Pak Nizar padanya. Itulah sebab Ken terlihat bijak di depan Mario.
“Terima kasih atas nasihatmu, Ken. Lalu, akankah kau melamar Berlian dalam waktu dekat?” Mario kembali pada pertanyaan awal.
Pipi Ken kembali memerah.
“Cukup-cukup! Jangan bahas itu lagi. Sekarang lepas hoodie yang kau pakai! Itu bukan lagi hadiah perpisahan. Lepas!” perintah Ken.
“Wooo. Sejak kapan kau jadi cabul, Ken?” tanya Mario sambil menutupi bagian depan badannya.
Ken melongo. “What? Kau yang cabul! Lagi mikir apa kau, ha?” seru Ken sambil bersiap menyerbu Mario.
Mario tertawa. Dia senang sekali menjahili Ken. Seketika kamar Mario menjadi arena kejar-kejaran. Bantal guling pun tak luput dijadikan tameng perang.
Perang bantal guling dimulai. Gelak tawa mewarnai, dan sungguh terdengar renyah. Persahabatan Mario dan Ken sudah terjalin begitu lama. Banyak kisah yang telah terekam dalam memori mereka. Hingga kini, keduanya telah sama-sama dewasa dan telah sama-sama merasakan yang namanya cinta.
“Ups! Sorry,” ucap Ken spontan.
Ken tidak sengaja menyenggol buku milik Mario yang ada di atas meja belajarnya. Itu adalah buku catatan kuliah.
“Letakkan saja di meja, Ken!” perintah Mario.
“Wow. Mau selingkuh atau gimana, nih? Kok ada foto Vina di sini?” tanya Ken.
Mario terheran. Seingat Mario, dia sama sekali tidak memiliki foto Vina. Demi mengusir rasa penasarannya, Mario lekas mendekat dan memungut foto Vina yang ikut terjatuh bersamaan dengan buku kuliahnya.
__ADS_1
Ken merebut foto Vina dari tangan Mario. Ya, itu benar-benar foto Vina. Tampak jelas potret wajah Vina yang berbalut hijab warna peach.
“Siapa yang meletakkan foto Vina di bukuku?” lirih Mario.
“Ya yang pasti bukan aku. Eh, bisa jadi Vina sendiri yang naruh. Tuh anak kan masih naksir berat.” Ken menebak-nebak.”
“Bisa jadi,” jawab Mario lirih.
“Udah, mending cepetan nikah sama Anjani. Biar seorang Mario Dana Putra tidak menjadi rebutan cewek-cewek lagi di kampus!” seru Ken.
Mario tidak menanggapi perkataan Ken. Dia meletakkan foto Vina di rak yang memajang buku-buku kuliahnya. Mario berencana mengembalikan foto itu pada Vina saat liburan semester telah usai.
“Ohya. Untuk apa kau ke rumah Anjani?” tanya Mario yang tiba-tiba teringat.
Ken tepuk jidat. Dia mengira bahwa Mario tidak akan membahasnya.
“Maunya sih jadi pahlawan. Ujung-ujungnya malah aku yang telah jadi korban. Kau sih batal ke Jerman!” protes Ken.
Mario terkekeh. “Apa benar Anjani ke Jogja?” tanyanya.
Ken mengangguk. Hanya anggukan singkat, tanpa penjelasan. Ken tidak mau panjang lebar karena tidak tahu bahwa Anjani dan Meli berencana liburan ke Jogja.
“Ayo, kita ke Jogja nyusul mereka!” ajak Mario.
“What? Gila, Bro! Ya nggak segitunya juga. Masa iya karena pujaan hati lagi liburan ke Jogja kau mau nyusulin ke sana. Lama-lama Bucin juga kau!” seru Ken.
“Bercanda, Ken.” Mario terkekeh. “Eh, coba kirim pesan ke Meli. Suruh dia bawa oleh-oleh bakpia pathok Jogja!” suruh Mario.
“What? Kau aja sana yang minta oleh-oleh sama Anjani!” Ken balik menyuruh Mario.
“Ayolah, Ken!” Mario memohon sambil dekat-dekat ke arah Ken.
“Ih-ih-ih. Jauh-jauh sana! Geli banget liat kau yang seperti ini. Sejak kapan sih kau jadi out of character gini, Mario? Perasaan Mario yang kukenal dulunya begitu dingin, berhati dingin, tatapan dingin, kata-kata minim. Lah ini? Astaghfirullah. Setan mana yang telah merasukimu, Mario!” seru Ken sambil menjauh dari Mario.
Mario sengaja bersikap seperti itu, karena sudah lama sekali dia tidak bercanda dengan Ken, sahabat baiknya sejak di bangku SMP.
“Oh, jadi kalian semua suka dengan karakter dinginku? Oke, aku akan kembali pada diriku yang dulu!” kata Mario, membuat suaranya kembali berwibawa seperti dirinya yang dulu.
“Ya nggak gitu juga, Bro!” seru Ken.
“Hm.” Kata khas Mario kembali, sesuai permintaan Ken.
Ken mengacak-ngacak rambutnya. Dia frustasi menghadapi sikap Mario yang tidak biasanya.
Sementara itu, Mario menahan tawanya. Dia merasa senang dengan hobi barunya, yakni hobi menjahili Ken.
“Ayo, suguhi tamumu ini segelas jus melon!” pinta Ken yang merasa dirinya sebagai tamu di rumah Mario.
“Nanti setelah sholat dhuhur kubuatkan segelas jus melon untukmu,” kata Mario kemudian melangkah keluar dari kamarnya, meninggalkan Ken.
“What? Habis dhuhur? Ini masih jam sepuluh!” seru Ken.
Bersambung ....
***
Apakah Mario akan benar-benar melamar Anjani lagi? Bagaimana dengan Mommy Monika, apakah dia merestui jika Mario bersama Anjani? Kepo-in lanjutannya. ya.
Buat yang ingin tahu bagaimana keseruan Anjani dan Meli di Jogja, juga kisah Meli-Azka dengan keluarganya, silakan cari tahu di novel karya Kak Cahyanti, Selalu Ada Tempat Bersandar. Dukung karya kami berdua. Vote, Like, dan tinggalkan jejak komentar kalian. 😊
__ADS_1