
Senin pagi, Mommy Monika ber-VC ria dengan Alenna. Usai basa-basi seputar adaptasi Alenna di Jakarta, Mommy Monika membahas persiapan Mario-Anjani Sabtu nanti.
"Ini baju resepsi Mario-Anjani nanti. Untuk baju yang digunakan pengantin saat akad sudah Mommy kirimkan kepada Anjani, dan satu lagi ada di kamar Mario. Bagus kan?" Mommy Monika menunjukkan baju resepsi Mario-Anjani pada Alenna.
Terdengar ucap syukur dan seruan gembira dari Alenna dalam bahasa Inggris. Mommy Monika membiarkan putri tercintanya itu memandangi baju resepsi Mario-Anjani beserta pernak-pernik lain yang sudah disiapkan Mommy Monika dan John.
"Mommy, resepsi dilakukan di mana? Di rumah Anjani, di rumah kita, atau di mana?" tanya Alenna.
lMommy Monika mengubah mode kamera hingga kembali menampakkan wajahnya.
"Di hall hotel Dedaun Indah Permata. Hotel baru milik ayahmu dan rekan bisnisnya. Reservasi kamar untuk beberapa rekan bisnis dari luar kota juga sudah dilakukan ayahmu. Termasuk kamar untuk keluarga Anjani. Juga reservasi kamar tambahan jika ada yang mendadak harus menginap. Hampir semua rekan bisnis ayahmu diundang," terang Mommy Monika antusias.
"Wajar sih kalau banyak rekan bisnis yang diundang. Mario kan sempat menjabat sebagai pimpinan di anak perusahaan. Tentu sudah banyak yang mengenal Mario. Tinggal menunggu waktu saja Mario akan kembali memimpin." Alenna tampak mengangguk-angguk.
Ada jeda sejenak. Di seberang sana Alenna sedang diajak mengobrol oleh Paman Li.
"Mommy, sebentar lagi aku ada meeting. Oya, akad nikah di hall hotel jugakah?" tanya Alenna.
"Akad nikah di rumah Anjani. Sesuai permintaan Anjani dan keluarganya. Baru malam harinya resepsi dilakukan di hall hotel. Alenna, sebaiknya kamu segera kembali bekerja," saran Mommy Monika.
Alenna mengangguk. Paman Li sudah dua kali mengingatkan bahwa Alenna sedang ditunggu di ruang meeting.
"Baiklah. Sampaikan salamku pada Mario, Mom. Kado pernikahan super besar mendarat Sabtu nanti di hotel. Sampai nanti, Mommy. Assalamu'alaikum," salam Alenna seraya tersenyum.
"Wa'alaikumsalam. Jaga diri di sana!" nasihat Mommy Monika, kemudian mengakhiri VC.
Mommy Monika lanjut menghubungi asisten John, bertanya kesiapan dekorasi hall beserta hidangan dan souvenir tamu undangan. Mommy Monika sangat antusias. Momen inilah yang dia nantikan. Mommy Monika memang mengharapkan Anjani sebagai menantunya.
***
Di kampus. Seperti biasa, dosen-dosen memiliki trik sendiri untuk membuat para mahasiswa di kelasnya memperhatikan materi kuliah. Bukan hanya Pak Nizar yang diidolakan mahasiswa ekonomi, ada juga Pak Koko yang sukses membuat mahasiswanya fokus memperhatikan dengan suasana kelas yang sengaja dibuat menyenangkan. Tugas yang diberikan setelahnya pun sama sekali tidak dijadikan beban. Semua mahasiswa antusias mengerjakan.
Kelas Pak Koko berakhir. Dilanjut kelas mata kuliah yang diampu Pak Nizar. Di samping materi kuliah, mahasiswa di kelas itu mendapat begitu banyak motivasi kehidupan. Tak sedikit yang tergugah dengan kata-kata bijak Pak Nizar. Hingga menit-menit pun berlalu, kelas pun usai.
"Anjani," panggil Pak Nizar begitu kelas usai.
"Iya, Pak."
Teman-teman Anjani beberapa sudah keluar kelas. Kebetulan dia, Meli, dan Berlian masih mau beranjak. Langsung saja Anjani menghampiri Pak Nizar.
"Mario memberiku undangan. Selamat, ya. Semoga dilancarkan sampai hari-H," ucap Pak Nizar.
"Aamiin. Mbak Bida apa kabar, Pak?" tanya Anjani. Sudah lama dia tidak mendengar kabar tentang Bidadari, istri Pak Nizar.
"Alhamdulillah baik. Saat ini istriku sedang mengandung. Mohon doanya, ya." Terpancar aura bahagia di wajah Pak Nizar.
Anjani senang mendengar kabar baik itu. Meli dan Berlian yang juga mendengarnya ikut mendoakan. Tak lama kemudian, Pak Nizar pamit. Anjani, Meli, dan Berlian pun keluar kelas.
"Anjani, aku bisa bantu apa dong kalau semuanya sudah disiapkan mamanya Kak Mario?" Berlian tampak kecewa karena tidak bisa membantu apa-apa.
"Bantu doa saja. Kamu harus hadir sama Kak Lisa. Ingat, tidak perlu membawa kado yang model-model. Cukup bawakan aku setangkai mawar putih," pinta Anjani.
Berlian mengangguk dan langsung merangkul Anjani. Namun, lekas mendapat cubitan gemas dari Meli.
"Kamu temani aku saja nanti pas acara resepsi di hotelnya. Aku pasti bakal mondar-mandir nggak jelas sendirian. Suamiku kan lagi di Medan," kata Meli sedikit sendu.
Berlian ganti merangkul pundak Meli. Dia membesarkan hati sahabatnya itu.
__ADS_1
"Nanti kutemenin hunting makanan prasmanan di sana, deh. Kak Mario kan terkenal di rekan bisnis ayahnya. Pasti makanan yang disuguhkan di sana juga enak-enak. Gimana?" Berlian memanas-manasi Meli yang sejatinya doyan makan.
"Hayuuuk. Lagipula Mas Azka sama sekali nggak keberatan kok kalau aku gendutan." Meli cekikikan sambil membayangkan makanan-makanan di pesta pernikahan Mario-Anjani.
"Ehem!" dehem Anjani yang merasa diacuhkan kehadirannya.
"Eh, lupa kalau masih ada yang punya acara di sini." Meli cengar-cengir tanpa dosa.
Anjani hanya geleng-geleng kepala melihat sikap dua sahabatnya itu.
"Mel, Mas Azka, Via, dan Ratna sudah kamu kasih undangannya kan? Kalau mereka nggak bisa datang nggak perlu dipaksa. Yang penting doanya," tutur lembut Anjani.
Tak langsung ada jawaban dari Meli. Sedari tadi Meli cengar-cengir.
"Em, aku belum kasih tau mereka. Nanti aku kabari mereka, deh. Kalau untuk Mas Azka, sudah fix nggak bisa hadir. Minggu ini jadwal sidang tesis. Pasti setelah itu ada yang harus diurus," terang Meli.
Anjani tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan bahu Meli. "Nyonya Azka yang sabar, ya. Sepertinya aku duluan yang akan merasakan ibadah nikmat itu," bisik Anjani di telinga Meli.
Meli melongo. Tak disangka Anjani akan menjahilinya dengan kata-kata seperti itu. Satu cubitan gemas andalan Meli pun meluncur di hidung mancung Anjani.
"Anjani, Meli. Ada Juno tuh!" Berlian memberi tahu.
Anjani dan Meli langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Berlian. Benar saja, Juno berjalan mendekat ke arah mereka bertiga.
"Berlian, dapat salam dari Mas Ken. Katanya pesannya belum kamu balas," terang Juno.
Berlian seketika meminta izin untuk menelepon Ken. Menjauh beberapa meter dari Anjani, Meli, dan Juno.
"Apa itu, Jun?" Meli menunjuk bungkusan yang dibawa Juno.
Dasar Meli. Kalau urusan makanan saja dia begitu jeli.
"Buat siapa cokelatnya?" tanya Meli lagi.
Juno terkekeh. Dia hafal betul dengan sikap sahabat baik Anjani itu.
"Yang pasti bukan buat kamu, Mel. Minta beliin sama suamimu sana!" suruh Juno.
Meli manyun. Dia seketika membuang muka dari Juno.
Juno berganti melihat Anjani. Tatapannya saat itu tidak bisa diartikan. Antara sedih, kecewa, bahkan senang juga ada. Sedikit sedih dan kecewa karena Anjani akan menikah dengan Mario. Senang juga dirasakan karena Juno sangat percaya bahwa Mario akan membahagiakan Anjani.
"Anjani, selamat. Berbahagialah dengan Mas Mario. Aku ikut bahagia dan akan mendoakan kebahagiaan kalian," tutur Juno tulus.
Anjani tersenyum, lantas mengangguk.
"Terima kasih, Juno." Hanya kata itu yang mampu diucapkan Anjani.
"Adakah yang bisa aku bantu untuk persiapan acaramu?" tanya Juno pada Anjani, tapi yang menjawab justru Meli.
"Sudah nggak ada. Semua sudah diurus Mommy Monika. Kamu bagi kita cokelat itu aja. Itu juga terhitung membantu kok," kata Meli tanpa sungkan.
"Aduuuh. Mel, kamu ini sudah jadi istri orang tapi sikapmu masih gini-gini aja. Kuaduin loh ntar sama suamimu," ancam Juno dengan nada canda.
"Tuh cokelat sebenarnya buat siapa, sih?" tanya Meli.
"Buat Mas Rangga dan dua karyawati baru di ruko sepatu Mas Mario," terang Juno dengan ringannya.
__ADS_1
Anjani kaget. Pasalnya Anjani sama sekali tidak tahu kalau Juno mengenal Rangga, bahkan Juno juga mengenal dua karyawati baru yang bernama Anin dan Sinta.
"Kamu kenal Mas Rangga? Kenal di mana? Kapan kenalnya?" Anjani memburu Juno dengan banyak tanya.
"Aku kenal di bandara tempo hari. Saat Alenna mau ke Jakarta," terang Juno.
"Jangan bilang kamu mau caper sama dua karyawati baru itu," tuduh Meli.
Tawa Juno begitu lepas. Dia geleng-geleng kepala menepis tuduhan Meli padanya.
"Aku justru akan mendekati adik owner ruko itu," aku Juno.
Anjani dan Meli kompak dibuat kaget dengan pengakuan Juno. Mereka berdua saling tatap dan kompak berkedip cepat.
"Alenna," kata Anjani dan Meli bersamaan.
Juno mantap mengangguk. Dia membenarkan.
"Aku balik duluan, ya. Anjani, aku akan datang ke pesta pernikahanmu."
Setelah berkata demikian, Juno mengucap salam dan berlalu pergi. Meninggalkan Anjani dan Meli yang masih kaget dengan pengakuan Juno barusan. (ingin tahu kebenaran perkataan Juno? tengok novel baru author yang berjudul Ikatan Cinta Alenna)
***
Mario dan John duduk berhadap-hadapan. Hari itu John meluangkan waktunya untuk sang putra. Selain memberi nasihat-nasihat untuk sang putra, John juga dengan sabar menemani Mario berlatih ijab qobul.
"Mau sekali lagi?" tanya John menawarkan.
"Mario rasa sudah cukup, ayah. Sudah lima kali coba. Insya Allah hari-H sekali tarikan nafas langsung sah," kata Mario sedikit ragu.
Bukan tanpa sebab keraguan itu ada. Pengalaman pernikahan Azka-Meli, tiga kali ijab qobul baru mereka sah. Itu semua bukan karena iseng, bercanda, atau apa pun deh itu namanya. Semua itu karena rasa gugup, padahal dalam hati sudah mantap dan saat berlatih pun tak gagap.
"Baiklah. Mas kawin sudah kamu siapkan?" tanya John pada Mario.
"Sudah. Seperangkat alat sholat, dan emas sembilan puluh sembilan gram."
"Cincin?" tanya John lagi.
"Sudah siap juga. Baju akad dan baju resepsi juga sudah disiapkan Mommy. Petugas KUA juga sudah siap. Insya Allah semua sudah siap," terang Mario dengan mantap.
"Hatimu siap?" tanya John lagi.
"Kalau itu insya Allah sudah siap sejak pertama kali Mario melamar Anjani." Senyum Mario merekah. Hatinya memang sudah mantap.
John tampak mengangguk-angguk. Dapat dirasakan olehnya keseriusan dan ketulusan sang putra.
"Alhamdulillaah. Kalau begitu selanjutnya OTEWE SAH!"
Bersambung ....
Next episode, Big Day Mario-Anjani, ya. 😉 Voting kisah Mario-Anjani end atau harus lanjut masih dibuka nih. Bantu kasih pendapat, ya.
Hayuuuuk semua. Penggemar Meli-Azka apakah ada yang merindukan mereka bersama-sama? Eit, intip dulu ke novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Kisah Azka dan keluarganya lengkap ada di sana. Dukung karya kami, ya. See You.
Intip juga cerita Alenna-Rangga-Juno di novel baru author yang berjudul Ikatan Cinta Alenna 😉
__ADS_1