
Bentor langganan Paman Sam baru saja tiba dari pasar. Di belakangnya, Paman Sam membuntut sambil mengendarai motornya. Banyak sekali belanjaan yang tadi dibeli di pasar. Beras, minyak, telur, makanan ringan, keperluan dapur, dan masih banyak lagi yang lainnya. Melihat barang sebanyak itu, membuat Anjani bergegas membantu abang bentor dan Paman Sam.
"Kubelikan kau kue serabi. Mantap kali rasanya. Kau coba," kata Paman Sam sambil memberikan bungkusan berisi kue serabi.
Selesai membantu abang bentor dan Paman Sam, Anjani mengambil sling bag miliknya yang sudah disiapkan di ruang tamu. Dia sempatkan pula berlari ke dapur mengambil sebuah mangkuk dan sendok. Sedikit berteriak dari dalam rumah, Anjani pun menyuruh abang bentor untuk menunggu.
"Mau kemana lagi kau, Anjani?" tanya Paman Sam.
"Ke toko Kak Lisa. Habis itu janjian sama teman kuliah mau diskusi kegiatan Minggu besok," jelas Anjani sambil menuangkan kue serabi ke dalam mangkuk yang telah dia ambil.
"Oh, untuk acara itu rupanya. Baiklah, aku dukung kau. Kalau misal Minggu nanti dagangan kau tidak habis, hubungi saja paman kau ini, ya. Dijamin langsung beres."
"Ah, paman ini. Sebentar ...." Anjani mulai memakan kue serabi oleh-oleh Paman Sam.
"Nah, aku sudah coba. Uenak banget. Sekarang giliran paman, ya!" pinta Anjani kemudian.
Anjani mengenal betul karakter pamannya. Dia tidak akan diizinkan berangkat sebelum memakan oleh-olehnya walaupun hanya satu gigitan. Anjani memahami itu sebagai bentuk perhatian terhadap dirinya. Sehingga, dia pun tidak lagi membantah dan menghargai kebaikan pamannya.
"Haha .... Lain kali kubawakan kau kue cenil pakek gula kicir. Eh ... jangan lupa makan siang kau, ya!" teriak Paman Sam saat Anjani sudah duduk manis di bentor.
"Siap, Paman. Laksanakan!"
***
Bentor yang dinaiki Anjani melaju pelan, dan memang sejauh ini abang bentor yang pernah ditemui Anjani tidak ada yang suka main kebut-kebutan. Anjani menikmati hiruk-pikuk kota. Di sampingnya, Meli duduk manis sambil memantau pesan di grup chat angkatannya.
Lima belas menit berlalu, bentor telah sampai di depan toko bunga Kak Lisa. Meli mengeluarkan dompet, kemudian memberikan selembar uang sepuluh ribuan dan selembar uang lima ribuan. Ucapan terima kasih sekaligus keramahan dari pelanggan menjadi bonus tersendiri bagi abang bentor.
"Ntar gantian aku yang bayar, ya. Oke?" tanya Anjani.
"Okey. Yuk, masuk!" ajak Meli.
Anjani dan Meli baru saja hendak melangkah ke arah pintu toko bunga Kak Lisa, tapi tidak jadi. Anjani meminta Meli untuk memastikan bahwa dirinya sedang tidak salah dengar. Meli menurut, dan memang terdengar sesuatu dari dalam toko bunga Kak Lisa. Itu suara pertengkaran. Dan ... lebih mengejutkan lagi saat Anjani dan Meli tahu siapa yang keluar dari toko bunga Kak Lisa.
"Berlian?" ucap Anjani lirih, seolah tidak percaya.
Berlian terdiam untuk sesaat. Dia sama sekali tidak menyapa Anjani ataupun Meli meskipun tahu bahwa mereka berdua adalah teman kuliahnya. Amarahnya masih terlukis jelas di wajahnya. Entah apa yang membuatnya sampai seperti itu.
"Kamu kenapa, Berlian?" tanya Anjani tanpa basa-basi. Di sebelahnya, Meli tidak berani bertanya.
"Bukan urusanmu! Dasar cupu, nggak modis!" seru Berlian dengan nada sedikit kasar.
Setelah berkata demikian, Berlian bergegas menuju mobil merah yang terparkir tidak jauh dari toko bunga Kak Lisa. Mobil merah itu adalah mobil pribadinya. Begitu masuk, terdengar bunyi klakson berulang kali dari mobil tersebut, yang sepertinya menjadi pelampiasan atas amarah yang masih terpendam. Sesaat setelah puas dengan klaksonnya, Berlian menancap gas dan pergi.
Anjani terheran, begitu juga dengan Meli. Mereka berdua bergegas menemui Kak Lisa untuk menanyakan hal yang sebenarnya terjadi. Namun, di luar dugaan, Kak Lisa terlihat baik-baik saja dan sama sekali tidak menunjukkan ekspresi marah atau kesal sama sekali.
"Itu tadi pelanggan juga, Kak? Kenapa dia seperti marah gitu? Apa ada layanan yang tidak puas?" tanya Meli ingin segera tahu, karena Meli lebih mengenal Kak Lisa.
__ADS_1
"Pelanggan? Ah, yang itu. Tidak apa-apa. Bukankah sifat tidak puas memang sering melekat pada manusia?" Kak Lisa menjelaskan sambil tersenyum ramah seperti biasanya, seolah menjelaskan pula bahwa yang tadi terjadi bukanlah hal besar menurutnya.
"Ah, benar juga, Kak." Meli menanggapi.
Sejujurnya Anjani kurang puas dengan penjelasan Kak Lisa. Anjani setuju dengan kalimat terakhir Kak Lisa, tapi yang belum dijelaskan adalah alasan Berlian tiba-tiba ke toko bunga Kak Lisa lalu keluar tanpa membeli bunga dan justru terlihat marah-marah. Anjani yakin ada sesuatu yang tadi sempat terjadi sebelum dia dan Meli datang, dan hal itu masih menjadi misteri. Akan tetapi, Anjani menghargai privasi Kak Lisa.
"Itu tadi teman kuliah kami," kata Anjani.
Kak Lisa sedikit terkejut, "Kalau begitu, bertemanlah yang baik dengan dia, ya." Kak Lisa kembali tersenyum ramah.
"Baik, Kak."
Anjani teringat alasan utama menemui Kak Lisa. Segera dia memulai topik pembicaraan baru. Dia menjelaskan kembali rencana kegiatan Minggu nanti. Sebenarnya tadi malam Meli sempat menjelaskan sedikit via pesan singkat. Namun, kali ini Meli menambahkan penjelasan tentang detail-detail penting yang akan dilakukan bersama kelompoknya.
Rupanya rencana tersebut disambut baik oleh Kak Lisa. Dia akan membantu Anjani dan kelompoknya. Tapi, Kak Lisa juga ingin bertemu dengan teman kelompok Anjani yang lainnya, Juno dan Dika. Tanpa dikomando, Meli segera mengeluarkan smartphone miliknya.
"Telepon siapa, Mel?" tanya Anjani.
"Kak Ken, senior kita yang tampan itu. Juno kan tinggal di rumahnya." Meli menjelaskan sambil tertawa, dan tetap menunggu teleponnya diangkat.
"Ngapain? Kamu kan punya nomor ponsel Juno." Anjani merasa ada yang aneh.
"Ah, Anjani. Sekali-kali modus dikit juga nggak masalah, kan." Lagi-lagi Meli terlihat senang dengan pemikirannya.
Dua kali mencoba menghubungi Ken, akhirnya diangkat juga. Telepon itu langsung diberikan pada Juno. Meli segera menyampaikan maksudnya dan Juno bersedia berangkat saat itu juga. Meli berganti menghubungi Dika, dan dia sama sekali tidak memiliki masalah untuk segera merapat di toko bunga Kak Lisa.
"Tidak-tidak. Tidak perlu. Cukup kita berempat saja." Anjani berkata serius.
"Ahaha, santai dikit Anjani. Lagi pula aku nggak punya nomornya, kok." Meli jelas-jelas ingin menggoda Anjani.
Tidak ingin menanggapi Meli yang jelas sedang ingin bercanda, Anjani memutuskan untuk membantu Kak Lisa membuat buket bunga, sembari menunggu Juno dan Dika datang. Hitung-hitung agar dia tidak lupa dengan tekniknya, sekaligus membuat Kak Lisa merasa senang karena ada yang menemaninya.
***
Sebuah mobil terlihat berhenti di perempatan jalan saat tanda lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Mobil itu milik Mario, dan dia sedang fokus mengemudi. Ken duduk di sebelahnya, sementara Juno duduk di belakang. Tidak ada obrolan berarti saat itu. Juno sibuk membalas chat dan Ken bernyanyi ringan.
Saat Meli menelepon tadi, Ken dan Juno sedang menemani Mario menemui ayahnya di pabrik. Mario pun menawarkan diri untuk mengantar Juno ke toko bunga yang dimaksud Meli. Juno tidak sendirian, Ken juga akan menemaninya. Sementara Mario, dia tidak ingin bergabung karena merasa tidak diundang.
Lampu kembali menyala hijau. Mobil Mario kembali melaju. Beberapa menit kemudian, tiba-tiba saja ada mobil lain melaju kencang dari arah berlawanan. Mobil itu seakan dikemudikan dengan asal. Persis saat di belokan, laju mobil tidak lagi bisa dikendalikan.
Mario panik. Dia membanting stir ke kiri jalan. Mobilnya seketika berhenti sebelum akhirnya menyenggol pembatas jalan. Sementara mobil lawannya tidak bisa menghindari mobil Mario, hingga kemudian sukses membuat lecet sisi kanan mobil Mario.
Begitu mobil lawan berhenti, terlihat seorang gadis keluar sambil memaki-maki ke arah mobil Mario. Juno dan Ken yang masih dalam keadaan kaget seketika mengenali gadis itu. Rupanya, gadis yang mengemudikan mobil merah tadi adalah Berlian.
"Hei, Berlian. Ingin celaka kau, ya!" Juno berteriak juga karena emosinya tersulut oleh Berlian yang lebih dulu marah-marah.
"Kau aja yang nggak jago nyetir. Ah! Jadi nyerempet, deh! Ayo, ganti rugi." Berlian tidak mau mengalah, padahal sudah jelas dia yang salah.
__ADS_1
"Apanya yang perlu diganti rugi? Lihat nih, mobil ini yang lecet, bukan mobilmu!" seru Juno tidak mau kalah.
Mendengar adu mulut antara Juno dan Berlian, Ken dan Mario seketika turun dari mobil. Dan .... Aneh! Mendadak ekspresi wajah Berlian berubah. Dia terkejut. Sejujurnya dia sama sekali tidak menyangka kalau di dalam mobil yang diserempet olehnya ada kakak seniornya.
"Ahaha, halo Kak. Ma ... maaf, tadi nggak sengaja. Secepatnya aku akan ganti rugi. Permisi." Berlian bergegas masuk ke dalam mobilnya, kemudian cepat-cepat pergi meninggalkan lokasi.
Mario menyuruh Ken dan Juno kembali masuk ke dalam mobil. Di dalam sana, Mario menasihati Ken dan Juno agar permasalahan tersebut tidak perlu diperpanjang. Yang terpenting baginya adalah tidak ada yang terluka. Perkara mobilnya yang lecet, itu tidak jadi masalah.
***
Di depan toko bunga Kak Lisa, Meli memberikan buket bunga pesanan pelanggan yang beberapa menit lalu memesan. Tidak sengaja, Meli melihat Juno dan Ken turun dari sebuah mobil yang berhenti beberapa meter dari toko. Melihat itu, Meli cepat-cepat menghampiri Juno dan Ken.
"Juno, Kak Ken!" sapa Meli. "Loh, ada Kak Mario juga," kata Meli kemudian.
Mario tidak menyangka akan bertemu Meli, padahal dia merasa sudah cukup jauh memarkir mobilnya.
"Anjani, Dika, ada Kak Mario juga, nih!" Meli berteriak kencang.
Mario kaget, demikian pula dengan Ken dan Juno. Tak lama kemudian, Anjani dan Dika sudah berada di depan toko bunga Kak Lisa karena mendengar teriakan Meli yang khas. Pada akhirnya, Mario tidak punya pilihan lagi selain ikut ke dalam toko bunga.
Anjani memperhatikan Mario yang saat itu mengenakan pakaian formal. Ditambah lagi, Mario, Ken, dan Juno datang mengendarai sebuah mobil mewah.
"Kak, itu mobil siapa?" tanya Meli penasaran. Sejujurnya Anjani hendak menanyakan hal yang sama, tapi kata-katanya tertahan.
"Mobil dinas!" jawab Mario singkat. Sebenarnya jawaban itu ada benarnya. Mario baru saja menggunakan mobil itu untuk bertemu ayahnya dan sedikit membahas tentang produk sepatu di sana.
"Kak Mario masih kerja jadi sales sepatu rupanya." Anjani menimpali, dan perkataannya mengundang reaksi terkejut dari Ken dan Juno.
"Hm." Mario menjawab singkat dan tetap santai seperti biasanya. Mario seolah tidak masalah dengan kesimpulan yang dibuat Anjani.
Di dalam toko bunga, Kak Lisa ramah menyapa. Setelah itu obrolan berubah seputar kegiatan Minggu nanti. Rencana matang pun disusun saat itu juga. Tidak lupa, mereka memilih bunga-bunga yang cocok untuk dijual. Semua semakin mudah karena di toko bunga Kak Lisa ada begitu banyak jenis bunga.
"Ah, sepertinya bunga ini cocok." Anjani mengambil setangkai bunga berwarna cerah. "Ini bunganya ...." Kata-kata Anjani terhenti saat dia berbalik badan. Niatnya ingin menunjukkan bunga itu kepada teman-temannya. Tapi, persis saat dia berbalik, di hadapannya ada Mario.
Kedua bola mata itu bertemu. Tidak ada kedip untuk beberapa saat. Mendadak atmosfir ruangan terasa hangat. Waktu pun seakan berhenti berdetak. Bila adegan itu direkam dalam potret gambar, maka akan terasa aura romantis di sana. Anjani seolah sedang memberikan bunga kepada lelaki pujaannya, Mario.
"Anjani, apakah kau berniat menggodaku dengan bunga itu?" tanya Mario dengan nada khasnya.
Anjani kaget. Tidak seharusnya dia tadi menatap mata Mario. Akhirnya, malah dirinya yang merasa malu.
"Hahaha. Kalian ngapain, sih?" Ken tertawa melihat adegan tersebut.
"Ah, bunga itu untukku saja!" Juno merebut bunga yang ada di tangan Anjani. "Ini sebagai obat karena hampir kecelakaan mobil," kata Juno kemudian.
Anjani, Meli, Dika, bahkan Kak Lisa terpancing untuk mendengar kronologinya. Mereka dibuat terkejut untuk kedua kalinya saat nama Berlian disebut. Akan tetapi, wajah Kak Lisa yang paling terlihat kaget. Saat Anjani berusaha bertanya kepada Kak Lisa tentang ekspresinya, lagi-lagi Kak Lisa enggan membahas dan langsung mencari topik bahasan lain. Itu benar-benar masih menjadi misteri bagi Anjani. Ada apa sebenarnya dengan Berlian dan Kak Lisa?
***
__ADS_1
💖 like, vote, dan jejak komentarnya ya, readers 💖 See You 😉