CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Meli Kembali


__ADS_3

Hawa dingin menusuk tulang. Meli merapatkan sweater yang sengaja dipakai begitu turun dari kereta. Pandangan diedarkan ke segala arah di area parkir. Tampak sepi, karena memang mendekati pukul setengah empat pagi. Hanya ada beberapa penumpang kereta yang tadi turun bersamanya.


"Meli," panggil seseorang.


Mimik wajah Meli seketika cerah begitu melihat sang ayah. Berlarian kecil Meli menghampiri beliau, mengucap salam, lantas mencium punggung tangannya.


Menerobos dinginnya udara pagi, Meli dibonceng motor oleh sang ayah. Pipinya terasa dingin, rahangnya juga sedikit kaku karena hawa yang begitu dingin. Berhasil menahannya, kini Meli sampai di rumah. Terlihat sang ibu yang sudah menanti kehadirannya.


"Dingin, ya? Ibu buatkan teh hangat dulu, ya." Fatimah langsung menuju dapur usai menyambut sang putri.


"Adit, kok jam segini udah bangun? Tumben?" Selidik Meli pada Adit.


"Mulai latihan qiyamul lail, Mbak. Kan Mbak Meli yang sering ceramahin Adit. Mulai istiqomah, nih!" terang Adit.


Setelah ikut menyambut kedatangan Meli, Adit yang masih SMA itu seketika pamit menuju kamarnya. Adit hendak memulai hafalan surat pendeknya sembari menunggu azan subuh.


Meli tersenyum melihat Adit yang sudah seperti adik kandungnya sendiri. Ke kamar sebentar, Meli meletakkan barang-barangnya lantas kembali duduk bersama ayah dan ibunya.


"Minum dulu. Biar hangat," perintah Fatimah.


Anggukan kecil tercipta. Meli menyeruput teh buatan sang ibu. Kehangatan lekas menjalar menghangatkan tubuh.


"Ayah mau langsung ke pasar setelah ini?" tanya Meli.


"Iya. Nanti sehabis sholat subuh. Bagaimana eyang Nak Azka?" Roni ingin tahu.


"Alhamdulillaah sudah stabil. Semoga akan terus membaik. Oh iya, ada salam dari Mas Azka," tutur Meli.


Roni dan Fatimah menyambut salam itu dengan bahagia. Meski hanya beberapa kali bertemu, tapi Azka telah mendapat label sebagai menantu tampan yang bisa diandalkan.


"Nak Azka apa tambah ganteng?" tanya Roni.


"Ketahuan banget nih ayahmu Nduk, mengidolakan mantu," celetuk Fatimah.


"Eh, jangan salah. Walau bagaimana pun kita harus bangga memiliki mantu seperti Nak Azka. Sudah tampan, solih pula." Roni terus membanggakan menantunya.


Bibir Meli manyun. Dia tidak habis pikir dengan kebanggaan ayahnya. Seharusnya dialah yang bangga memiliki suami seperti Azka.


"Nduk, siap-siap sholat subuh, gih!" saran Fatimah pada Meli.


Roni lebih dulu beranjak memanggil Adit dan mengajaknya ke mushola. Begitu sang ayah pergi, Meli berbisik pada sang ibu.


"Meli lagi halangan, Bu. Jadi nggak sholat," bisik Meli.


Fatimah sedikit terkejut mendengarnya. Bukan tentang Meli yang sedang kedatangan tamu bulanan, melainkan Fatimah sadar bahwa putrinya belum bisa menikmati ibadah sunah yang nikmat bersama suaminya. Seketika bibir Fatimah terkulum senyum.


"Nak Azka kurang beruntung," gumam Fatimah yang ternyata didengar Meli.


"Ah ibu nih. Mas Azka nggak apa-apa, kok. Mas Azka suami yang pengertian. Meli bahkan sudah diberi nafkah lahir," terang Meli disusul cerita singkatnya tentang kartu ATM yang diberikan Azka.


"Alhamdulillaah kalau begitu. Gunakan dengan sebaik mungkin. Kamu harus bersyukur punya suami seperti Nak Azka. Ibu doakan semoga nafkah batin segera diberikan pula. Kamu tidak boleh menolak andai saatnya tiba," nasihat Fatimah pada putrinya.


Pipi Meli bersemu. Siapa juga yang mau nolak. Aku pun bersedia jika Mas Azka memintanya, batin Meli. Tawa pelan menyusul kemudian.


"Kalau begitu segera istirahat. Sebentar tidak apa-apa. Biar nanti saat kuliah wajahnya nggak kusut seperti ini," saran Fatimah.


Meli mengangguk. Dia bergegas ke kamarnya. Usai membasuh muka dan sedikit bebersih diri, Meli merebahkan tubuhnya. Terasa nyaman, karena selama di kereta Meli tidak bisa tertidur dengan benar. Perasaannya tidak enak. Kakinya juga pegal.


Kantuk perlahan menyerang. Sebelum kesadarannya menghilang, Meli menyempatkan diri untuk mengirim pesan pada suaminya. Memberi kabar bahwa dirinya sudah tiba dengan selamat tanpa kurang satu apa pun.


"Aku ngantuk," lirih Meli.


Smartphone terlepas dari genggaman tangan. Meli mulai memasuki alam mimpi. Terbuai sosok yang tergambar dalam mimpinya. Sosok Azka, sang suami tercinta.


Tanpa disengaja, Meli terlelap begitu lama. Awalnya Fatimah membiarkan putrinya terlelap. Hingga kemudian Fatimah ke dapur, sibuk berkutat dengan adonan-adonan kue. Fatimah lupa membangunkan Meli.


Debug!

__ADS_1


Meli terjatuh dari ranjangnya. Entah apa yang dimimpikan Meli hingga dia terjatuh.


"Eeeem, Mas Azka. Meli jatuh," rengek Meli sambil mengucek pelan kedua matanya.


Matanya mengerjap, melihat jarum di jam dinding. Seketika bola matanya membulat.


"Astaghfirullah. Setengah jam lagi masuk kuliah!" Meli panik.


Mandi bebek. Gamis tanpa pilah-pilih. Tas diraih dan greeeeeng, Meli berangkat kuliah setelah pamit terburu-buru pada sang ibu.


Meski sudah mendekati terlambat, Meli mencoba tenang saat menyetir. Tidak mau ngebut. Namun, usai motor terparkir rapi di parkiran kampus, Meli kembali panik dan berlarian menuju ruang kelas. Meli menggenggam smartphonenya dengan erat sambil berlarian kecil menuju ruang kelas.


Ceroboh. Meli ceroboh. Dia menyenggol bahu seseorang saat berlarian. Orang yang tanpa sengaja disenggol Meli adalah Dika. Saat itu Dika tiba-tiba balik badan dan tidak tahu pula ada Meli yang berlarian di belakangnya.


Cetak!


Smartphone Meli terlepas dari genggaman. Jatuh menghantam ubin dengan kerasnya. Mimik wajah Meli seketika gusar mengetahui layar ponselnya retak. Tidak ada tanda pula bahwa ponselnya akan bisa dinyalakan.


Anjani yang kebetulan baru datang dan melihat kejadian itu langsung menghampiri Meli.


"Aduh Nyonya Azka. Kok bisa begini, sih?" Anjani memandangi smartphone Meli yang sudah rusak.


"Anjani, HPku rusak!" keluh Meli sambil memajukan bibirnya, lucu.


"Mel, maaf. Nanti akan kuganti HPmu," kata Dika tidak enak hati.


"Tidak perlu, Dik. Salahku juga karena lari terburu-buru." Meli menyesali.


Meli memandangi smartphone miliknya yang sudah tidak bisa menyala. Mendadak Meli khawatir tidak bisa berkomunikasi dengan Azka. Balasan pesan dari Azka pun belum sempat dicek karena Meli langsung terlelap pagi tadi.


"Tunggu, kok kalian santai sih? Bukankah kita udah telat masuk kelas?" Meli terheran.


"Telat? Kuliah masih setengah jam lagi, Mel. Nih, coba lihat!" Anjani menunjuk jam digital di ponselnya.


Meli seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Anjani benar. Mereka tidak terlambat. Kuliah bahkan akan dimulai setengah jam lagi.


Anjani menenangkan Meli. Sementara Dika yang merasa tidak enak seketika berjanji akan mengganti HP Meli. Tetap menolak, Meli tidak mau Dika mengganti. Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Dika mengalah.


"Kita masuk kelas dulu. Ini kita pikirkan nanti. Yuk!" Anjani menarik lengan Meli pelan.


Meli mengikuti langkah Anjani dengan langkah gontai. Untungnya mata kuliah pagi itu diisi oleh Pak Koko yang terkenal handal mencairkan suasana kelas agar mahasiswa konsentrasi penuh memperhatikannya. Fokus Meli seketika teralihkan oleh mata kuliah. Mata kuliah Pak Koko mencuri perhatiannya. Namun, begitu kelas usai, Meli kembali teringat dengan kondisi smartphone miliknya.


Dika pamit lebih dulu menuju ruko. Meli dan Anjani berjanji akan menyusul segera.


"Mel, wajahmu kondisikan dulu, gih. Lucu, lho!" Anjani menepuk-nepuk pelan pipi sahabatnya itu.


"Udah pengen nangis gini dibilang lucu. Anjani jahat banget, sih!" protes Meli semakin mencebik.


"Cup-cup-cup. Jangan nangis ih. Masa Nyonya Azka baperan gini." Anjani berusaha menghibur.


Begitu nama Azka disebut, Meli seketika ingat dengan nafkah lahirnya. Gerakan Meli begitu lincah mengajak Anjani ke mesin ATM terdekat. Anjani menurut saja, dan mengantar Meli dengan terlebih dulu mengambil motor masing-masing.


Kartu ATM dimasukkan. Mengetik PIN mengundang desir merdu tersendiri. Meli seketika ingat tanggal pernikahannya dengan Azka.


"M-mas Azka kenapa ngasih Meli banyak banget!" Meli seketika terkaget sekaligus terharu melihat nominal rupiah yang tertera.


Setelah mengucap basmallah, Meli tarik tunai sejumlah uang yang cukup untuk membeli smartphone. Bahkan, saldo ATM masih saja tersisa banyak.


"Anterin beli HP, ya?" Meli riang mengajak Anjani.


"Uangnya cukup?" tanya Anjani.


"Alhamdulillah. Nafkah lahir dari Mas Azka sangat cukup. Nanti aku mau minta maaf sekaligus bilang tentang kecerobohanku," kata Meli. Ada rasa tidak enak dalam hati. Namun, Meli yakin sekali suaminya akan memahami.


Usai mendapatkan smartphone baru, Anjani dan Meli menuju ruko. Sengaja Meli tidak membeli smartphone yang terlalu mahal, karena Meli mengutamakan fungsinya daripada gaya.


"Baru ingat, nih. Beneran Kak Mario segera akan melamarmu?" tanya Meli.

__ADS_1


Malu-malu Anjani mengangguk. Senyumnya merekah. Hatinya berbunga-bunga.


"Insya Allah Sabtu ini Mario dan keluarganya akan melamar," terang Anjani.


"Sudah di depan mata, dong. Asik. Nggak sabar deh lihat kalian sah." Meli antusias.


Obrolan singkat itu dilakukan di depan ruko. Anjani dan Meli sempat mengedarkan pandang ke halaman parkir, tapi tidak melihat motor Dika. Padahal tadi Dika pamit menuju ruko. Anehnya lagi, ruko tutup dan ada mobil Alenna terparkir di sana.


"Astaghfirullah, Mel. Aku lupa kalau ruko diliburkan sampai kondisi Mas Rangga pulih. Ah, pasti Dika juga lupa dan sekarang sudah balik ke kos." Anjani baru sadar.


Meli hanya geleng-geleng kepala. Meli begitu mengenal Anjani. Sahabatnya itu akan menjadi pelupa jika sudah ada hal yang sedang difokuskan. Besar kemungkinan Anjani begitu fokus pada kebahagiaannya dengan Mario.


"Memang Kak Rangga sebonyok apa, sih?" Meli mendadak penasaran.


Anjani sendiri bingung menjelaskannya, karena memang wajah Rangga kehilangan label tampan karena lebam. Anjani mengajak Meli untuk melihat kondisi Rangga.


"Niatnya aku mau ceramahin Kak Rangga karena sudah berani nembak kamu. Dipikir-pikir lagi nggak jadi deh," kata Meli.


"Sst. Sudah, nggak perlu. Toh sebentar lagi aku akan menikah dengan Mario." Anjani senyum-senyum.


Meli pamit lebih dulu memindahkan kartu SIM ke smartphone barunya. Anjani lebih dulu naik ke lantai atas untuk menemui Rangga dan Alenna.


Alangkah terkejutnya Anjani begitu sampai di ujung atas tangga. Anjani melihat Alenna mengelus lembut pipi Rangga, lantas mencium bibir Rangga sepihak. Usai menciumnya, wajah Alenna berseri sembari memandangi Rangga yang terlelap.


"Alenna," panggil Anjani.


Begitu terkejutnya Alenna mendengar suara Anjani. Alenna seketika bangkit dari duduknya dan langsung salah tingkah.


"A-Anjani. A-aku, aku tadi itu ..." Alenna bingung memulai kata-katanya.


"Apa yang kamu lakukan Alenna?" tanya Anjani lembut, khawatir membuat Alenna ketakutan. Anjani mendekat.


"Ak-aku, aku hanya ... em, dosis rendah. Mas Rangga akan segera bangun." Alenna kelagapan.


"Hai, Alenna." Meli yang baru naik ke lantai dua pun menyapa.


Alenna melambaikan tangan kanannya sembari nyengir kuda.


"Kamu nggak ke kantor?" tanya Meli sembari berjalan mendekat.


"Iya, ini mau kembali ke kantor. Aku pergi dulu," kata Alenna.


Sebelum pergi, Alenna menyempatkan diri untuk berbisik di telinga Anjani.


"Kumohon jangan adukan perbuatanku pada Mario. Aku sungguh mendukung pernikahanmu dengan kakakku," bisik Alenna.


Anjani bingung harus merespon apa. Pada akhirnya Anjani memilih untuk mengangguk saja. Begitu melihat anggukan Anjani, Alenna tersenyum, berterima kasih, dan langsung pergi dari ruko.


"Kok begong?" tanya Meli sambil menepuk bahu Anjani.


"Enggak, kok. Oya, kamu nggak mau nelpon Mas Azka dulu?" Anjani berusaha mencari topik.


"Iya, deh. Aku kasih kabar dulu. Ups, ada yang ketinggalan di bawah. Sebentar, ya." Meli berlarian kecil menuruni anak tangga.


Anjani masih bingung. Tiba-tiba saja Anjani mendengar Rangga mengigau.


"Alenna," gumam Rangga, mengigau.


Semakin sulit Anjani mengartikan semua. Rangga mengigau menyebut nama Alenna. Sementara Alenna berani membuat Rangga terlelap, bahkan berani menciumnya sepihak.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi antara Rangga dan Alenna?" Batin Anjani, diselimuti tanda tanya.


Bersambung ....


Tunggu lanjutan ceritanya, ya. Yuk, ikuti kisah suami Meli yang tampan, Azka, juga keluarganya di Jogja. Dijamin seru deh ceritanya. Cari tahu di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami, ya. Tinggalkan jejak komentar kakak-kakak semua di setiap bab. See You and Bye bye. 😊


__ADS_1


__ADS_2