CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Menikmati Hari


__ADS_3

Senja mulai menunjukkan pesonanya. Semburat jingga mewarnai langit yang cerah. Sesekali awan-awan menghiasi pula. Tidak lupa, kawanan burung terbang bergerombol, bergegas kembali menuju sarangnya. Pertanda penghujung sore telah tiba, dan bersiap berganti rupa menjadi malam bertabur bintang.


Tatkala langit malam berhamburan bintang, ada sosok yang terkagum dengan kerlipnya. Tidak henti-hentinya senyum itu merekah, lantaran lukisan langit malam yang indah. Kagum, senang, juga menenangkan. Itulah yang saat ini dia rasakan. Cukup memandang jauh ke atas langit sana, angannya pun melayang mengingat semua kenangan saat di desa. Juno, telah hanyut dalam lamunan.


Saat ini Juno berada di balkon lantai dua rumah Mario. Setelah dari rumah sakit tadi, Juno mengira akan diajak ke kampus oleh Mario dan Ken. Rupanya, Juno disuruh menunggu di rumah Mario. Terang saja, tujuan Mario dan Ken ke kampus memang untuk rapat persiapan penyambutan mahasiswa baru. Mengetahui bahwa Juno adalah juniornya, tentu saja Mario tidak mengizinkan Juno untuk ikut bersamanya.


Tidak disangka, kata 'tunggu sebentar' yang sempat diucapkan Ken siang tadi akan menjadi begitu lama. Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Juno bolak-balik naik turun tangga rumah Mario hanya untuk mengusir kejenuhan. Baru saat malam tiba, dia pun mengambil waktu nyaman untuk sekedar mengingat masa-masa di desa.


"Juno!" panggil Mario.


"Mas Mario sudah pulang. Yeah! Gimana tadi hasil rapatnya, Mas?" tanya Juno sambil menuju bangku di sebelah Mario.


"Kalau hasil rapatnya kuberitahukan, sama saja dengan aku berkhianat pada tim. Segala yang dirapatkan akan sia-sia. Kejutan yang seharusnya menghasilkan 'bum' akan berujung 'payah, hanya begitu saja'." Mario dengan santai memaparkan pemikirannya.


"Ahaha .... Ngomong apa sih, Mas. Jauh banget." Juno kehabisan kata untuk menanggapi Mario.


"Lupakan! Minggu depan jangan lupa hadir untuk pertemuan pertama sesama mahasiswa baru. Masih ada waktu seminggu. Pergunakan waktu yang ada untuk bisa lebih berguna." Mario kembali menegaskan.


Juno yang merasa perlu belajar banyak dari seniornya, sigap memasang sikap hormat laksana prajurit yang mengerti akan perintah komandannya. Setelahnya, suasana semakin renyah dengan obrolan-obrolan ringan tentang kehidupan Mario. Tentu saja, semua bermula karena Juno memaksa Mario untuk bercerita.


Dari sekian banyak basa-basi malam itu, satu yang Juno berhasil tangkap. Senyuman Mario. Semenjak bertemu, Juno mengenali Mario sebagai sosok yang dingin, dan tidak pernah sama sekali terlihat tersenyum. Namun, malam ini persepsi itu runtuh. Mario tersenyum saat menyebut dirinya sebagai 'sales sepatu'. Ada apa dengan sebutan itu?


Juno baru saja ingin bertanya lebih jauh, sebelum akhirnya Ken muncul sambil membawa piring dan gelas kosong.


"Junoooo! Kenapa makan malamnya kau habiskan sendiri?" tanya Ken sambil terlihat kesal.


"Loh, tadi kata Mas Ken aku disuruh makan duluan." Juno menjawab santai seolah memang dirinya tidak bersalah.


"Makan duluan bukan berarti dihabiskan, Juno!" ujar Ken semakin terlihat kesal.


Di balik perang kata antara Ken dan Juno, justru Mario terlihat santai menonton. Dia tidak membela siapa pun, juga tidak menengahi pertengkaran Ken dan Juno.

__ADS_1


Lima menit berlalu, akhirnya perang mulut itu pun mereda. Pada akhirnya, Juno kalah. Ken terlihat membusungkan dada, sambil tertawa bangga. Akan tetapi, adegan itu pun tidak berlangsung lama. Mario datang menjadi penengah.


"Tunggu! Ken, sebagai senior tunjukkan keramahan dan sikap pedulimu. Juno, junior tidak harus selalu mengalah dan menuruti kata-kata seniornya. Sekarang, kalian berdua berdamai. Lakukan!" pinta Mario. Kata-katanya terdengar bijak.


"Baiklah, Mario. Tapi, bagaimana dengan makan malam kita? Bibi yang biasa masak untukmu bukankah sedang pulang kampung?" tanya Ken. Dia masih saja memikirkan tentang makan malam yang tidak lagi tersisa.


"Mudah, delivery saja. Di kota banyak kan, Mas." Juno memberi ide.


"Aha, benar juga. Pinter juga kamu, Jun." Ken memuji dan kini terlihat benar-benar berdamai dengan Juno.


"Nah, karena kalian sudah menyebabkan keributan di rumahku. Delivery makanan, kalian yang bayar." Mario berkata santai sambil beranjak dari kursinya.


"What?" tutur Ken dan Juno bersamaan.


***


Warung Paman Sam hari ini tutup lebih awal. Bukan karena tidak laku, tapi karena sedang ada tamu di rumahnya. Kakak yang tinggal di desa, kini bersedia mengunjungi adiknya di kota setelah sekian tahun lamanya.


Paman Sam duduk santai di teras depan rumahnya. Dia tidak sendiri, ada Anjani dan Ma yang menemani. Terlihat pula ada tiga cangkir teh dan beberapa kue beras yang terhidang. Tidak hanya itu, tawa renyah dari obrolan yang diangkat sukses membuat suasana malam semakin bersahabat.


"Kuliahnya belum masuk, itu cuma acara perkenalan saja, Ma. Biar banyak teman baru." Anjani terlihat ceria.


"Oh. Jadi belum masuk, ya. Anjani, kau harus ingat. Berteman yang baik. Kalau ada yang jahat sama kau, tak perlu kau jahat balik sama dia. Inget pesan Ma kau ini."


"Kalau ada yang jahat sama kau, bilang saja padaku. Biar anak buah yang turun tangan. Hahaha, siapa pula yang berani jahat sama kau. Siap-siap saja berurusan dengan paman kau ini, he!" tegas Paman Sam ikut bicara.


"Hus, tak perlu kau dengarkan kata paman kau itu. Jadi anak baik saja di kota. Kalau sudah sukses, jangan lupa sama desa kau ya."


Entah kenapa saat Ma menyebut kata desa, terbersit kehangatan di hati Anjani. Mulanya dia menyusun rencana kabur ke kota untuk kuliah demi menghindari perjodohan dengan Juno. Namun, sekarang niatnya sudah terpatri untuk benar-benar bisa meraih gelar sarjana. Membayangkan kesuksesan saja sudah membuat bahagia, apalagi benar-benar meraihnya.


Di balik itu semua, Anjani sadar bahwa jalan yang dituju tidak melulu akan mulus. Terkadang, kerikil hingga bebatuan tajam pun ikut andil mengiringi perjalanan. Apalagi, dunia pertemanan yang nanti dialami Anjani bisa saja berujung pada perasaan. Lagi-lagi hati ikut berperan dalam menjalani kehidupan.

__ADS_1


"Anjani, kenapa tiba-tiba kau melamun seperti itu? Sedih kau karena Ma besok pulang? Tak perlu sedih kau, Nak. Ma akan sering-sering ke sini. Biar kau tak rindu masakan Ma. Besok pagi sebelum pulang, Ma akan masak pecel lele kesukaan kau. Semangatlah!" ujar Ma terlihat antusias.


"Tunggu dulu, Kak. Kasihlah anak kau itu nasihat. Masih kelihatan cupu begitu anak kau!" kata Paman Sam sambil terlihat bercanda.


"Iya juga. Kau tak punya bedak? Nih, pakek bedak Ma. Nih, lipstiknya juga!" Ma terlihat mengaduk tas yang sedari tadi di sebelahnya.


"Ma, Anjani nggak terbiasa. Udah kayak gini aja!" tolak Anjani.


"Harus terbiasa. Anak Ma sekarang sudah kuliah, sudah dewasa. Besok-besok, kalau sudah mau berangkat kuliah, kau pakai make-up pis-tipis dulu. Habis itu selfie dan kirim fotonya pada Ma."


"Buat apa kirim foto segala?" tanya Paman Sam.


"Ya buat pamer ke tetangga. Ahaha." Ma terlihat bahagia, hingga tawanya pecah.


Anjani tidak lagi menanggapi. Semakin ditanggapi, maka Ma dan Paman Sam akan semakin membuat obrolan menjadi nasihat yang tidak-tidak. Anjani tidak ingin hal itu terjadi. Akhirnya, diam menjadi satu-satunya jalan demi memilih aman.


***


Pukul 21.00 WIB


Sebuah pesan singkat diterima Anjani. Pesan itu dari Meli. Dia mengabari kalau besok ada banyak pesanan buket bunga. Ya, itu kabar baik. Kabar buruknya, agen yang biasanya bertugas mengirim stok bunga segar tidak bisa mengirim untuk besok. Alhasil, Meli menyarankan untuk memetik beberapa di halaman rumah Kak Lisa. Tentu saja, semua itu sudah atas izin Kak Lisa.


Anjani setuju. Dia pun bersedia menemani Meli memetik bunga besok pagi. Lagi pula Ma akan pulang ke desa saat pagi-pagi buta, jadi dia pun bisa pergi bekerja setelahnya.


"Beberapa jam lalu aku mampir ke rumah temanku di sekitar perumahan Kak Lisa. Aku lihat Mario masuk ke kompleks perumahan itu naik motor. Mungkin saja dia tinggal di sana. Kepo-in bentar yuk besok." Meli akhirnya berbicara via telepon.


"Mana mungkin, Mel. Udah ah, nggak perlu buang-buang waktu. Besok banyak pesanan buket, kan?" tanya Anjani memastikan sekaligus mengingatkan Meli.


"Buketnya untuk sore. Bentar saja besok, yuk! Temenin aku lihat-lihat. Bentar saja, habis itu balik ke toko." Meli kembali membujuk Anjani.


Kali ini Anjani mengalah, dan memilih menuruti keinginan Meli. Bisa saja sebenarnya Anjani gigih menolak ajakan Meli, tapi nada sahabatnya itu dalam meminta sesuatu benar-benar membuatnya tidak enak hati untuk berkata tidak. Akan tetapi, entah kenapa setelah dipikir-pikir lagi Anjani justru ikut penasaran. Akankah besok Anjani bisa bertemu Mario?

__ADS_1


***


Suka dengan ceritanya? Kepo dengan lanjutannya? Tunggu update selanjutnya ya. Jangan lupa like dan tinggalkan jejak komentar di bawah. See You.


__ADS_2