CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Cek CCTV


__ADS_3

Cintamu


Ketulusanmu


Niat baikmu


Kurengkuh menjadi satu


Aku terima lamaranmu


Segera, aku kamu menjadi kita


Susah senang berdua


Menua bersama


Bunga-bunga cantik bermekaran memenuhi hati Anjani. Lelaki tampan yang kini duduk bersama keluarganya di ruang tamu rumah Paman Sam memberi kebahagiaan yang berarti. Mario datang bersama John, Mommy Monika, dan Alenna. Keluarga Anjani menerima lamaran itu.


Lamaran kali ini sungguh berbeda dengan lamaran sebelumnya. Lamaran kali ini ada Joko, sang ayah yang telah kembali mengutuhkan keluarganya. Sungguh menambah rasa syukur dan bahagia.


"Terima kasih sudah menerima lamaranku," kata Mario di saat keluarganya berpamitan dengan keluarga Anjani.


"Jaga hati. Jaga diri. Dua minggu lagi kita menikah," tutur lembut Anjani.


Mario tersenyum. Anggukan pelan menyusul.


"Aku pulang dulu. Assalamu'alaikum, Tuan Putri." Mario pamit.


"Wa'alaikumsalam, Calon Imam." Anjani malu-malu menjawab salam itu.


Mario mengikuti langkah John dan Mommy Monika menuju mobilnya. Alenna lebih dulu berpamitan pada Anjani sebelum menyusul langkah yang lainnya.


"Anjani, aku sungguh senang akhirnya kamu dan kakakku akan segera bersatu. Emmm, terima kasih juga sudah tidak mengadukan perbuatanku waktu itu ya," bisik Alenna.


"Janji tidak akan mengulanginya lagi, ya?" balas Anjani ikut berbisik.


"Siap. Aku pulang dulu," pamit Alenna.


Mario dan keluarganya pulang. Lamaran baru saja selesai dilangsungkan. Kesepakatan tanggal pernikahan juga sudah didapatkan. Mario-Anjani akan menikah dua minggu lagi.


Paman Sam membantu istrinya membereskan ruang tamu. Sementara Ma dan John lanjut mengobrol seputar pernikahan Anjani dengan Mario. Mereka duduk bertiga di teras depan.


"Nduk, kelengkapan yang diperlukan unuk penerbitan buku nikah akan dibantu urus sama pamanmu. Kamu bisa bantu persiapkan undangannya saja. Lain-lainnya, biar ayah dan Ma yang mengurus persiapannya," terang Joko.


"Nduk, semakin mendekat pada-Nya. Insya Allah semua dilancarkan," kata Ma.


Anjani tersenyum lantas mengangguk. Ma berkata demikian karena yakin rencana pernikahan kali ini tidak akan sama seperti rencana yang sempat gagal di masa lalu.


Ya Allah. Mudahkanlah. Lancarkanlah, batin Anjani menyeru doa.


***


Senin pagi. Wajah Anjani berseri-seri. Momen lamaran Sabtu malam lalu masih membekas dalam ingatan. Anjani masih mengingat jelas sorot mata Mario. Ketulusan dan keseriusan terpancar dari mata calon imamnya itu.


"Mel, ayo!" Anjani menepuk pelan pundak Meli.


Meli menoleh dan memberi kode tangan agar Anjani menunggu sebentar.


"Semangat selesai tesis, Mas Azka Sayang. Semoga dilancarkan ketemu dosennya. Meli matiin dulu ya, Mas. Anjani udah nggak sabar nih pengen ketemu Kak Mario. Da-da. Assalamu'alaikum. Muuaah." Meli mengakhiri VC dengan suami tercinta, Azka.


Anjani berdiri di hadapan Meli ketika sahabatnya itu masih senyum-senyum sambil meletakkan ponselnya. Anjani seketika mencubit gemas pipi Meli.

__ADS_1


"Siapa yang kamu maksud udah nggak sabar ketemu Mario, ha?" Anjani mencubit gemas.


"Hihihi, kamu!" sahut Meli sambil memegangi tangan Anjani yang mencubit pipinya.


Anjani melepas cubitannya.


"Nyonya Azka, kita kan cuma mau pergi ke ruko. Bantu Mas Rangga, Ken, dan Dika ngurus toko. Mario lagi sibuk bantu ayahnya. Tidak akan ada di sana. Dia sibuk. Em, sibuk mempersiapkan pernikahan juga sih," terang Anjani agak malu-malu ketika menyebut kata pernikahan.


Meli spontan merangkul Anjani.


"Iya-iya. Tahu deh yang lagi berbunga-bunga. Ini nggak ada jadwal kuliah lagi, kan?" tanya Meli.


"Sudah selesai untuk hari ini," jawab Anjani.


"Yuk, ke ruko!" ajak Meli.


Dua motor berjalan depan belakang menyibak jalanan kota. Tanpa mereka sadari, ada sebuah mobil yang membuntuti. Lelaki dalam mobil itu terus-terusan tersenyum licik sambil mengikuti Anjani dan Meli.


Sepuluh menit berlalu. Perjalanan menuju ruko aman. Anjani dan Meli segera menuju posisi masing-masing untuk membantu Rangga, Dika, dan Ken mengurus ruko. Seperti biasa, tidak ada Mario di sana. Anjani memaklumi kesibukan calon suaminya itu.


"Anjani, tolong cek pembukuannya, ya. Rangga hari ini nggak fokus, tuh! Padahal muka bonyoknya sudah hilang," kata Ken, lalu berjalan menuju lantai dua untuk mengambil size sepatu yang diinginkan.


Anjani menghampiri Rangga. Melihatnya, selalu saja Anjani teringat perlakuan Alenna kala itu. Hingga saat ini Anjani masih tutup mulut. Tidak berani memberitahu siapa pun.


"Anjani, Meli mana?" tanya Dika.


"Tuh jaga di depan!" tunjuk Anjani.


"Oh. Kirain nggak datang." Usai berkata demikian Dika lanjut packing orderan.


Anjani kembali memperhatikan Rangga. Sedari tadi Rangga belum menyapa dirinya. Hanya senyuman sekilas saja yang sempat Anjani terima.


"Mas Rangga lagi nggak enak badan, ya?" tanya Anjani.


"Em, apa Alenna ke sini tadi?" tanya Anjani hati-hati.


"Nggak juga. Terakhir Alenna ke sini yang waktu itu ada kamu, Meli, sama Bos." Rangga mengingat-ingat.


Rupanya Alenna tidak ke sini lagi setelah perlakuannya pada Mas Rangga waktu itu, batin Anjani.


Usai basa-basi, Anjani mulai mengecek pembukuan. Tulisan rapi Rangga memenuhi area buku. Anjani fokus mengecek. Di sebelahnya juga ada Dika yang irit bicara sambil tetap melakukan pekerjaannya. Sementara Rangga, dia pamit menuju halaman depan ruko untuk mengambil barang di jok motor, yang dia bawa dari rumahnya.


Rangga tidak sengaja menangkap sosok lelaki mencurigakan berkacamata hitam yang menatap inten ke arah ruko. Begitu lelaki itu sadar Rangga melihat ke arahnya, laki-laki tadi segera berjalan cepat menuju mobilnya.


"Siapa, ya?" gumam Rangga.


Rangga penasaran dengan lelaki misterius itu. Gelagat lelaki yang dilihatnya benar-benar mencurigakan. Rangga lekas teringat bahwa Mario dan keluarganya berasal dari keluarga pebisnis.


"Katanya, pebisnis sukses itu banyak musuhnya. Apa iya ada yang punya niat nggak baik sama Bos?" duga Rangga.


Pikiran Rangga semakin menduga banyak hal. Dia khawatir pada Bosnya. Meski alasan cintanya ditolak adalah karena Anjani memilih Mario, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa Rangga sangat peduli pada Bosnya itu. Rangga khawatir bosnya dijahati oleh orang-orang jahat.


"Anjani, bisa minta bantuan?" tanya Rangga.


"Boleh. Kak Ken, Dika, aku tinggal dulu ke lantai dua. Tolong bantu Meli kalau dia butuh bantuan, ya." Anjani memberi pesan dan langsung mendapat tanda OK dari Ken dan Dika.


Anjani mengikuti langkah Rangga menuju lantai dua. Dari gestur tubuh Rangga, terlihat sekali bahwa Rangga dalam kondisi gelisah.


"Ada apa, Mas?" tanya Anjani setelah sampai di sofa lantai dua.


"Apakah Bos punya musuh?" tanya Rangga to the point.

__ADS_1


"Setauku sih nggak ada. Di kampus malah Mario banyak penggemarnya, para cewek." Anjani menjelaskan fakta yang dia tahu.


"Kalau di kantor ayahnya? Apa Bos pernah punya musuh?" tanya Rangga lagi.


Anjani tampak mengingat-ingat. Anjani minim info. Anjani hanya tahu musuh Mario dalam hal cinta, yakni Juno. Namun itu sudah masa lalu. Anjani bahkan sudah mendengar bahwa Juno sudah ikhlash.


"Setauku sih nggak punya musuh, Mas. Memang ada apa?" Anjani kepo deh.


"Tadi aku lihat ada lelaki yang mencurigakan di depan. Boleh aku minta akses untuk lihat CCTV?" izin Rangga.


Anjani mengangguk. Dia mengizinkan Rangga. Usai mengotak-atik sebentar, Anjani mempersilakan Rangga duduk di depan monitor untuk melihat rekaman yang ingin dilihat. Anjani memilih berdiri di sebelah Rangga sambil ikut memperhatikan layar.


"Nah ini dia!" seru Rangga.


Rangga memperlihatkan rekaman CCTV yang menyorot halaman depan ruko. Ada sosok lelaki yang tadi mencurigakan.


Anjani menajamkan matanya. Diperhatikannya sosok lelaki yang kini gambarnya di zoom. Meski ragu, Anjani mengenali sosok itu.


"Mas Rangga coba cek rekaman beberapa hari terakhir. Di bagian depan dan dalam ruko," perintah Anjani.


Rangga menurut. Dia meneliti, mencari rupa-rupa dan penampilan yang mirip dengan lelaki mencurigakan itu.


"Ketemu. Dua hari lalu lelaki misterius tadi juga berdiri di sana, di jam yang sama. Bahkan mau masuk ke dalam ruko," terang Rangga.


Bola mata Anjani membulat. Dugaannya benar. Namun, Anjani ingin memastikannya sekali lagi.


"Coba cari di rekaman di hari lainnya, Mas." Anjani kembali meminta.


Butuh waktu untuk mengeceknya. Anjani setia menunggu Rangga mengecek satu per satu rekaman. Hingga menit-menit berlalu, Rangga pun menemukan satu rekaman.


"Empat hari lalu. Agak sore ini. Lelaki yang tadi malah berbelanja sepatu. Sama cewek nih!" Rangga menunjuk-nunjuk layar monitor di depannya.


Rangga sedikit mengingat-ingat, karena di rekaman terlihat jelas bahwa dialah yang melayani lelaki dan cewek yang dimaksud tadi. Gagal, Rangga tidak ingat karena memang begitu banyak pembeli yang mampir ke ruko.


"Aku tahu siapa orang ini, Mas." Anjani mantap berbicara.


"Siapa?" Rangga makin penasaran.


"Leon. Pimpinan di perusahaan tempat Alenna bekerja," tegas Anjani. "Dialah orang yang posisinya akan diganti begitu Mario lulus kuliah," imbuh Anjani dalam hati. Tidak memberi tahu Rangga.


"Apa dia musuhnya Bos?" tanya Rangga.


"Dia teman Mario. Cewek berhijab di sebelahnya itu Vina. Mas Rangga, tolong rahasiakan ini, ya. Aku sendiri yang akan menjelaskan pada Mario. Kita sama-sama tidak tahu motif Leon apa. Mungkin dia tidak sengaja mengamati. Atau mungkin dia memang punya maksud tersembunyi," terang Anjani.


Rangga hanya mengangguk. Setelahnya dia melihat Anjani turun ke lantai bawah. Rangga iseng lanjut melihat-lihat rekaman CCTV. Berharap bisa mengumpulkan info lainnya dari rekaman yang dia lihat. Namun, bukan info tentang Leon yang dia dapat, melainkan sebuah fakta yang membuatnya langsung beristighfar.


"A-apa yang dilakukan adik Bos padaku?" Rangga tidak percaya dengan rekaman yang ditontonnya.


Rangga menonton bagian saat Alenna mengelus lembut pipinya saat dia terlelap. Rangga refleks memegangi bibirnya ketika melihat rekaman saat Alenna menikmati sensasi lembut bibirnya.


"Adik Bos menciumku?"


Mata Rangga mengerjab cepat sambil melihat Alenna yang begitu menikmati aksinya. Rangga tidak pernah menduganya. Kini, Rangga malah bingung dibuatnya.


"Apa adik Bos menyukaiku?" Rangga bertanya-tanya.


Bersambung ....


Apa yang akan dilakukan Rangga setelah melihat rekaman CCTV tentang aksi Alenna? Nantikan jawabannya di novel "Ikatan Cinta Alenna".


Eit, apakah Leon dan Vina akan kembali menggagalkan pernikahan Mario-Anjani seperti dulu kala?

__ADS_1


Hayuuuuk, yang rindu Azka-Meli, yang terpesona dengan Azka sama seperti ayah Meli, segera meluncur ke novel kece karya Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami dan tinggalkan jejak komentar di setiap babnya. See You. Barakallah. 😊



__ADS_2