
Parkiran motor jurusan ekonomi terasa berbeda sekali suasananya. Siang itu di parkiran motor cuacanya sedang panas. Akan tetapi, panasnya menjadi terlalu berlebih. Ada Anjani, Mario, dan Vina di sana. Vina masih mendesak Mario agar segera memilih. Sementara Anjani, meski khawatir dengan yang terjadi, tapi dirinya juga menanti jawaban apa yang diberikan Mario. Anjani pun penasaran siapa yang akan dipilih oleh Mario.
"Ayo, Mario! Pilih aku atau dia?" tanya Vina sekali lagi dengan raut wajah yang serius.
Mario, aku pun penasaran dengan jawabanmu. Namun, bila kamu tidak ingin menjawabnya, tidak apa-apa. Jangan dipaksakan untuk menjawab pertanyaan dari Vina. Iya, jangan terpaksa memilih salah satu di antara kami, batin Anjani.
Mario terdiam. Tidak ada rasa khawatir yang tampak di wajahnya. Mario terlihat biasa saja menghadapi pertanyaan dari Vina. Meski demikian, Mario tak kunjung segera memilih salah satu di antara pilihan yang diberikan oleh Vina.
"Mario, jawab dong!" rengek Vina sembari bersikap kekanakan.
Rengekan Vina berlanjut, hingga kedua tangannya memegangi lengan kanan Mario. Vina bahkan tak sungkan menyandarkan kepalanya di bahu Mario sambil terus menyuruh Mario agar segera memilih salah satu di antara pilihan yang diberikannya.
Anjani refleks menutup mulutnya. Anjani sama sekali tidak percaya Vina bisa seberani itu pada Mario. Dulu saat Anjani dan Mario hampir saja menikah, belum pernah sekalipun Anjani bersikap manja di bahu Mario.
Mario tidak tinggal diam. Mario berusaha melepaskan genggaman tangan Vina pada lengan kanannya. Namun, Mario tetap menjaga sikap agar tidak terkesan terlalu kasar pada wanita.
"Vin, tolong jangan seperti ini!" pinta Mario. Tangan kirinya berusaha melepas genggaman tangan Vina pada lengan kanannya.
"Nggak mau! Pokoknya jawab dulu! Pilih aku atau dia!" rengek Vina lagi sambil tetap menyandarkan kepalanya di bahu Mario.
Anjani tidak kuat melihat adegan yang ada di depannya itu. Mendadak saja ada sesak di dadanya. Ingin sekali Anjani menarik lengan Vina dan menjauhkannya dari bahu Mario.
Astaghfirullah. Aku tahu inilah yang dinamakan rasa cemburu, karena dulu aku pernah merasakan hal yang sama terhadap
sosok yang sama pula, batin Anjani.
"Vina, kumohon lepas dulu!" Mario sampai memohon tapi dengan nada yang masih sama, tidak terlalu kasar.
"Nggak mau! Aku maunya kamu jawab dulu pertanyaanku! Cepat pilih, aku atau dia?" Vina semakin mempererat genggaman tangannya pada Mario, sementara kepalanya tetap disandarkan pada bahu Mario.
"Sudah cukup! Tidak perlu dijawab Mario!" seru Anjani tiba-tiba. "Maaf. Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum," kata Anjani pamit pergi.
Anjani seketika berbalik badan sambil terus menggumamkan istighfar. Setelahnya Anjani berlarian kecil, meninggalkan Mario dan Vina di parkiran.
"Mepet terus!" seru Ken tiba-tiba sembari mengambil posisi di tengah-tengah Mario dan Vina dengan paksa.
Ken sengaja melakukan itu. Alhasil, Vina terpaksa tergeser ke samping. Genggaman tangan Vina pada lengan Mario pun terlepas.
Ken segera memberi kode pada Mario untuk mengejar Anjani. Namun, Mario malah menggeleng dan tetap diam di tempatnya berdiri.
"Ken!" seru Vina. "Gangguin aja sih!" Iri liat gue sama Mario, ha? Makanya sana cepet jadian sama Berlian biar nggak lama-lama jomblo!" protes Berlian menjadi-jadi.
"Hei! Tau apa lu soal Berlian, ha? Ngaca dong! Situ juga jomblo!" balas Ken.
Vina hendak meraih lengan Mario lagi untuk bermanja-manja ria lagi, sekaligus meminta Mario membalas perkataan Ken. Namun, rencana itu segera digagalkan oleh Ken.
"Eh-eh-eh. Minggir-mingir! Minggir lu! Nggak usah mepet-mepet Mario!" cegah Ken dengan merentangkan kedua tangannya di depan Mario.
"Lu apaan sih? Kok lu nyolot? Lu iri bilang!" seru Vina semakin menjadi-jadi.
"Kalian berdua bisa berhenti bertengkar nggak?" tanya Mario di tengah perdebatan Ken dan Vina.
"Nggak!" sahut Ken dan Vina bersamaan, juga kompak melihat ke arah Mario.
Mario pun memilih diam. Tidak ingin melerai Ken dan Vina. Percuma saja hal itu Mario lakukan. Vina terlalu keras kepala untuk bisa menurunkan egonya. Ken pun memiliki watak yang hampir serupa, meski pada dasarnya Ken jauh lebih bisa diajak berbicara. Hanya saja saat itu Ken sedang berhadapan dengan Vina. Kemungkinan untuk mengontrol emosi bisa dikatakan sangat kecil untuk bisa terjadi.
Tiba tiba saja, seorang dosen menghampiri Mario, Ken, dan Vina. Dosen itu adalah dosen idola di jurusan ekonomi. Seorang dosen yang saat berbicara terdengar khas logat kejawa-jawaan. Dosen yang masih berstatus single itu datang ke parkiran dengan sengaja, karena beberapa menit lalu ada mahasiswa yang melaporkan adanya perkelahian di parkiran. Dosen itu adalah Pak Nizar.
"Assalamu'alaikum," salam Pak Nizar.
"Wa'alaikumsalam," jawab Mario lebih dulu.
Ken membetulkan letak kacamatanya, lalu menjawab salam dari Pak Nizar. Sementara Vina paling akhir menjawab salam itu karena kaget dengan kehadiran Pak Nizar.
__ADS_1
Mario segera menyalami Pak Nizar dan mencium punggung tangannya. Begitu pula dengan Ken, juga melakukan hal yang sama. Sementara Vina hanya mengatupkan kedua tangannya sambil cengar-cengir.
"Saya dengar dari beberapa teman, ada keributan di parkiran. Rupanya kalian," kata Pak Nizar memulai obrolannya dan langsung pada topik.
Ken seketika menunjuk ke arah Vina. Vina terbengong-bengong karena Ken berani mengadu pada Pak Nizar. Kode mata lekas dilayangkan pada Ken. Kode mata itu adalah kode kekesalan Vina, dan segera dibalas dengan kode mata yang sama oleh Ken.
"Maaf, Pak. Kami tidak bermaksud demikian," terang Mario. "Vin, bukankah kamu mau kerja kelompok?" tanya Mario pada Vina tiba-tiba.
"Eh? Hehe, iya. Kalau begitu aku pamit ke kelompokku dulu, ya. Permisi, Pak." Vina pamit.
Vina memang ada kegiatan kerja kelompok. Mario dan Ken juga ada jadwal kerja kelompok. Namun, Vina tidak satu kelompok dengan Mario dan Ken.
Sebenarnya Vina masih ingin melanjutkan perdebatannya dengan Ken. Tak hanya itu, Vina juga ingin mendengar nama yang dipilih Mario. Namun, dengan Mario berkata demikian mau tidak mau Vina harus pergi ke kelompoknya. Lagipula, Vina sudah merasa puas melihat ekspresi Anjani yang terakhir kali sebelum memutuskan untuk pergi.
"Bro, ke gazebo, yuk! Sudah ditunggu yang lain," kata Ken mengajak Mario kerja kelompok.
"Oke," jawab Mario.
Ken pamit lebih dahulu pada Pak Nizar, disusul oleh Mario. Namun, Pak Nizar bertanya sesuatu setelah Mario bersalaman dengannya.
"Bagaimana?" tanya Pak Nizar.
Mario tersenyum karena paham dengan yang dimaksud oleh Pak Nizar. "Alhamdulillaah, lancar. Buket mawar putih ketiga akan saya kirimkan padanya bulan depan usai acara talk show di gedung yang sama. Gedung Dedaun Permata," terang Mario.
Pak Nizar mengangguk-angguk. Lalu menepuk pundak Mario.
"Semoga rencana baik selanjutnya dimudahkan," kata Pak Nizar seraya tersenyum.
"Aamiin," sahut Mario.
Setelahnya Mario benar-benar pamit pada Pak Nizar. Mario menghampiri Ken yang masih menunggunya. Mario dan Ken menuju gazebo untuk kerja kelompok bersama kelompoknya.
"Tadi siapa yang kamu bicarakan dengan Pak Nizar?" tanya Ken yang tadi tidak sengaja mendengar obrolan Mario dan Pak Nizar.
"Kak Bida? Siapa itu?" tanya Ken lagi. Dia kepo.
Mario hanya tersenyum, lalu menjawab pertanyaan Ken. "Nanti kamu juga tahu. Tunggu saja kabar baiknya," jelas Mario.
Ken tidak paham dengan apa yang dimaksud Mario. Ken pun tidak bertanya lebih lanjut dan memilih melanjutkan langkahnya bersama Mario menuju gazebo.
***
Anjani baru saja selesai membasuh mukanya dengan air wudhu di mushollah jurusannya. Usai merapikan jilbabnya, Anjani segera memakai sepatunya.
"Sepatu pemberian Mario yang kupilih hari ini," lirih Anjani sembari memandangi sepatunya.
Tapi, hati siapa yang akan Mario pilih? batin Anjani.
Anjani masih terngiang perkataan Vina tadi di parkiran. Anjani tidak habis pikir Vina bisa seberani itu mengajukan pilihan pada Mario. Anjani sungguh ingin tahu pilihan Mario, tapi menunggu jawaban itu hanya akan membuat hatinya bertambah sesak karena harus menguatkan diri melihat Vina yang terus mendekat kepada Mario.
"Begini deh jadinya kalau berharap selain kepada-Nya. Yang ada malah sakit hati, bingung sendiri." Anjani berkata sendiri.
"Bismillaah. Anjani, ayolah. Jangan pikirkan apa pun lagi. Fokus saja memperbaiki diri," imbuh Anjani dan masih berkata sendiri.
"Woi!" seru Meli tiba-tiba mengagetkan, sambil menepuk bahu Anjani.
Anjani terkaget-kaget hingga refleks mengelus dadanya.
"Mel!" seru Anjani berniat protes, tapi Meli lebih dulu meminta maaf.
"Maaf. Hehe, aku nggak sengaja dengar yang barusan. Semangat, ya. Jangan galau masalah jodoh terus, dong. Setiap dari kita diciptakan berpasang-pasangan kok," terang Meli sambil memainkan kedua alis matanya.
"Iya, ustaza Meli. Siap!" sahut Anjani.
__ADS_1
Anjani berdiri. Tak lupa pula membenahi letak bros pada kerudungnya. Anjani juga sempat memperhatikan bros di jilbab Meli. Seketika Anjani tersenyum. Anjani tahu bros yang dipakai Meli baru, karena tadi Meli tidak memakai bros itu.
Dehem Anjani meluncur kemudian. Kata 'cie' mengekor di belakang dehem yang baru saja diluncurkan. Dehem dan kata 'cie' itu khas di kalangan Anjani dan teman-temannya saat ada barang baru yang dipakai.
"Ehem, cie!" seru Anjani sekali lagi.
"Apa?" Meli kepo dengan dehem Anjani.
Anjani senyam-senyum. Bola matanya memberi kode agar Meli melihat ke arah benda cantik yang menghias jilbabnya. Seketika Meli paham bahwa yang dimaksud Anjani adalah bros.
"Oh. Ini?" tanya Meli, dan langsung mendapat anggukan dari Anjani. "Bros ini dapat pinjem. Bukan punyaku," imbuh Meli.
"Eh? Punya siapa, dong?" Sekarang giliran Anjani yang kepo, karena Anjani tahu bahwa sahabatnya itu jarang meminjam sesuatu kalau bukan dari orang yang benar-benar dikenal olehnya.
Meli berganti posisi berdiri. Kini Meli menyejajari Anjani. Tangan kiri Meli bahkan merangkul bahu Anjani. Setelahnya, Meli membisikkan sesuatu di telinga Anjani.
"Jangan bilang-bilang, ya! Bros ini kado dari Kak Ken untuk Berlian," bisik Meli.
"Ha? Trus ngapain kamu pakai, Mel? Nanti dikira Berlian nggak suka sama kadonya kalau sampai Kak Ken tahu brosnya kamu yang pakai," kata Anjani dengan nada normal.
Meli seketika memberi isyarat pada Anjani untuk memelankan suaranya.
"Kok aku nggak tahu Kak Ken ngasih kado itu ke Berlian? Seharian ini kan aku bareng kalian," kata Anjani meneruskan.
"Ih, kamu sih ke parkirannya lama banget. Jadi terlewat, kan. Apa yang membuat sahabatku yang satu ini begitu lama di parkiran, ya? Apa digangguin cogan lagi?" tebak Meli.
Meli sebenarnya tidak terlalu kepo dengan alasan Anjani sehingga lama di parkiran. Meli hanya sedang menggoda Anjani. Apalagi sejak Anjani berhijab, banyak cogan yang diam-diam hingga terang-terangan menggoda Anjani. Tak terhitung lagi sudah berapa kali Anjani menerima panggilan suara iseng dari nomor yang tidak dikenal. Ya, Anjani memang terlihat jauh lebih cantik saat berhijab.
"Ehem, ada apa di parkiran? Beneran ada cogan?" tanya Meli sekali lagi.
"Iya, banyak banget di sana. Udah, yuk gabung lagi sama yang lain. Ada Juno sama Dika juga kan di sana?" ajak Anjani.
"Iya-iya. Yuk!" sahut Meli dan mengekor di belakang Anjani.
Anjani sama sekali tidak ingin membahas apa yang tadi dialami olehnya di parkiran. Vina memang keterlaluan, tapi tidak ada untungnya bagi Anjani untuk menyimpan dendam pada Vina.
***
"Bro, tadi kenapa nggak ngejar Anjani?" tanya Ken setelah kegiatan kerja kelompok selesai.
Mario memakai helmnya, baru menjawab pertanyaan dari Ken.
"Ken, kamu tahu sendiri bagaimana karakter Vina. Kemungkinan Vina akan bertindak lebih jauh lagi andai aku tadi mengejar Anjani. Aku tidak ingin Vina menyakiti Anjani." Mario berpikiran demikian.
Ken manggut-manggut. "Benar juga, sih. Si Vina ini suka nekat. Harus sering-sering kita ceramahin biar tobat!" seru Ken.
Setelah berpikiran seperti itu, Ken tiba-tiba menyampaikan idenya.
"Bagaimana kalau beneran kita suruh si Vina buat tobat?" Ken menyampaikan idenya.
"Maksudmu?" tanya Mario.
"Tunjukin sisi religiusmu, Mario. Dengan begitu Vina pasti akan memilih jalan yang sama agar bisa sejajar dengamu. Kita ajak Vina belajar ngaji," kata Ken mengusulkan lagi.
Mario awalnya ragu dengan ide yang disampaikan oleh Ken. Namun, Mario berpikiran tidak ada salahnya jika ide itu dicoba. Teman yang baik pasti ingin teman-temannya baik. Saat ada kesempatan untuk mengajak pada kebaikan, maka sangat perlu untuk diusahakan.
"Setuju," ucap Mario dengan mantap.
Bersambung ....
Apakah ide itu benar-benar akan direalisasikan? Andai itu terjadi, apa jadinya jika Vina sampai satu kelompok mengaji dengan Anjani? Tunggu lanjutan ceritanya hanya di novel Cinta Strata 1. Terima kasih sudah membaca karyaku. Kritik saran buat author ditunggu, ya. Vote-nya juga boleh, lho. Vote aja seikhlashnya. See You. 😊 Thanks.
***
__ADS_1