CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 ViCall Azka


__ADS_3

“Ayah mau video call Mas Azka-mu.”


“Apa?” Meli terperanjat, spontan berdiri.


Meli panik. Pasalnya, dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang direncanakan sang ayah sehingga menelepon Azka di Jogja sana. Meli menoleh ibunya, berharap sang ibu tahu sesuatu tentang rencana ayahnya. Namun, sang ibu justru juga berekspresi kaget sampai-sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Em, ayah mau ngapain video call Mas Azka?” tanya Meli sambil melangkah mendekat ke samping ayahnya.


Roni tidak menjawab. Jemarinya masih asik menyalin nomor Azka di gawainya. Beberapa kali salah ketik angka. Hapus, ketik lagi, hapus lagi, ketik lagi. Di saat itulah ritme jantung Meli tak karuan rasanya.


“Ayah …. Mau ngapain sih video call Mas Azka?” rengek Meli sambil memegangi lengan kanan sang ayah.


“Kan sudah ayah bilang. Ayah harus memastikan Azka itu cocok sama kamu atau tidak. Sudah, kamu duduk saja di sana.” Roni menunjuk kursi yang tadi ditempati Meli.


“Sst. Duduk saja dulu,” pinta sang ibu.


Meli mengangguk, tapi tak lekas duduk. Dia hanya berpindah selangkah saja menjauhi gawai ayahnya. Meli mengintip layar smartphone ayahnya. Ada debaran merdu, gelisah, juga rasa penasaran yang teraduk jadi satu.


“Ehem!” dehem Roni sambil meletakkan smartphone miliknya di meja.


“Kenapa, Yah? Nggak jadi video call Nak Azka?” tanya Fatimah.


“Tolong ambilkan sisir sama minyak rambut milik ayah di kamar, ya.” Roni meminta Fatimah mengambilkannya.


Fatimah mengangguk. Tanpa banyak bertanya dia segera ke kamar mengambil sisir dan minyak rambut yang diminta suaminya. Sementara itu, Meli masih tetap terdiam di posisi berdirinya. Meli juga bertanya-tanya mengapa sang ayah meminta sisir dan minyak rambut.


Sisir dan minyak rambut milik Roni sudah ada di meja. Roni segera beraksi mengambil minyak rambut dan dioles-oleskan ke rambutnya. Fatimah bahkan disuruh untuk memegangi cerminnya. Beres dengan minyak rambut, Roni lekas mengambil sisir dan menyisir rapi rambutnya.


“Gimana penampilan ayahmu ini, Mel?” Roni bergaya di depan Meli sambil meminta pendapat.


“OK. Sudah mirip pemain sinetron papan atas,” puji Meli sambil mengacungkan jempolnya.


“Baiklah. Sekarang saatnya video call calon mantu,” tutur Roni mengambil kembali smartphone miliknya.


“Jadi ceritanya nih ayah dandan dulu sebelum video call Nak Azka?” Fatimah melontarkan tanya sambil menatap tak percaya.


“Iya dong,” jawab Roni santai.


Meli mengusap wajahnya dengan gemas. Sementara Fatimah pijit-pijit kening yang sama sekali tak terasa pusing. Kadang kala baik Fatimah ataupun Meli tidak paham dengan tingkah laku Roni.


Jemari tangan Roni kembali memainkan smartphone. Roni bersiap video call calon menantunya, Azka. Simbol kecil penanda panggilan video lekas dipilih Roni. Sang istri di sebelahnya memperhatikan. Meli juga mengintip layar smartphone ayahnya dengan ritme jantung yang masih tak karuan.


Satu detik. Dua detik. Tiga detik, dan … video call diterima oleh Azka.


Meli lekas menutup mulutnya begitu wajah Azka tampil di layar smartphone ayahnya. Terbersit rasa senang karena Meli bisa melihat wajah Azka lagi via layar smartphone ayahnya. Namun, di satu sisi lainnya ada rasa cemas yang melanda.


Aneh. Ada yang aneh. Meli sama sekali tidak mendengar sang ayah mengucap salam ataupun memulai obrolan dengan Azka. Meli lekas melirik ayahnya. Meli kembali dibuat terheran dengan ekspresi wajah sang ayah.


“A-ayah,” lirih Meli bermaksud memberi kode untuk mengingatkan agar segera memulai obrolan dengan Azka.


Roni tak menghiraukan kode dari putrinya. Tangan Roni bergerak cepat dan ‘klik’. Screenshot wajah Azka telah didapatkan sebelum akhirnya video call dimatikan secara sepihak.


“Ayah ngapain, sih? Kok malah nggak ngomong apa-apa sama Mas Azka?” Meli kesal, sekaligus gemas dengan sang ayah.


Kekesalan Meli sama sekali tidak digubris. Raut wajah Roni kini berubah menjadi secerah terang matahari. Roni senyum-senyum, lalu memperlihatkan hasil screenshot wajah Azka ke istrinya.


“Sayang, lihat nih wajah calon mantu kita. Tampan betul!” seru Roni sambil men-zoom screenshotan wajah Azka.


“MasyaaAllah. Meli, kamu beruntung banget sih bisa kenal sama artis ini. Artis Jogja pasti ini, ya?” Fatimah antusias sambil menunjuk-nunjuk screenshotan wajah Azka.


“Hehe.” Meli salah tingkah. Malu-malu bahagia sembari memainkan jemarinya.

__ADS_1


Meli berjalan mendekat, menuju belakang sofa. Kepala Meli diposisikan di antara ayah dan ibunya yang tengah asik mengamati screenshotan wajah Azka. Diliriknya ayah dan ibunya secara bergantian dari jarak dekat.


“Ini aku ambil!” seru Meli merampas gawai sang ayah.


“Eh-eh-eh. HP ayah itu!” protes Roni.


Meli kembali duduk di tempat semula dengan wajah ceria. Gawai sang ayah masih tetap dipegangnya. Meli ikut-ikutan memandangi screenshotan wajah Azka. Wajah Meli mulai menunjukkan senyum-senyum tidak jelas.


“Kemarikan HP ayah, Meli!” Roni merebut kembali HP miliknya.


“Yaaah. Ayah!” protes Meli.


Meli kembali manyun. Fatimah justru terkekeh melihat tingkah suami dan putrinya.


“Jangan dilihatin terus. Belum halal!” tegas Roni.


“Nah, makanya kasih restu biar cepat halal. Lampu ijonya, Ayah. Putrimu ini perlu lampu ijo!” Meli lagi-lagi terlihat tak sabaran.


Roni berbisik pada istrinya. Fatimah hanya mengangguk-angguk sambil mendengarkan. Meli yang rasa penasarannya sudah memuncak pun sedikit mendoyongkan tubuhnya ke depan, berharap bisa mendengar. Namun, sama sekali tidak bisa didengarnya. Begitu Roni dan Fatimah selesai berbisik-bisik, Meli lekas memperbaiki posisi duduknya. Kembali duduk manis dengan senyum ceria.


"Sudah ijo belum?" tanya Meli penuh harap. Bola matanya berbinar menatap ayah ibunya bergatian.


Setelah saling lirik, Roni dan Fatimah kompak mengangguk. Mereka berdua memberikan restunya untuk Meli dan Azka.


"Alhamdulillaah," ucap Meli mendalam, penuh rasa syukur.


Segera Meli meraih kedua tangan sang ayah dan lekas mencium punggung tangannya takzim. Bergantian, sekarang Meli melakukan hal yang serupa pada sang ibu. Meli memeluk sang ibu dengan erat. Meli begitu bahagia sampai-sampai terharu, mengeluarkan air mata.


"Kamu nangis, Nak?" tutur lembut sang ibu.


"Meli bahagia, Bu. Terima kasih. Terima kasih. Terima kasih tak terhingga atas restu ayah dan ibu." Meli terisak.


Roni menunjukkan kertas yang sedari awal Meli datang menjadi fokusnya. Kertas itu bukanlah kertas untuk berhitung laba rugi seperti yang biasa Roni lakukan. Kertas itu digunakan Roni untuk menghitung persiapan acara lamaran sekaligus pernikahan putrinya.


"Ayah dan ibumu sebenarnya sudah merestuimu untuk menikah bahkan sebelum video call Nak Azka. Ayah dan ibumu pikir, buat apa berlama-lama kalau sudah sama-sama suka. InsyaAllah niat baik Nak Azka dan keluarganya ayah dan ibu terima," terang Roni dengan penuh kasih sayang.


"Jadi, segera hubungi Mas Azka-mu, Nduk. Minta dia dan keluarganya segera datang ke Jember," pinta Fatimah. "Mumpung masih liburan kuliah, nih. Sekalian saja lamar-nikah, biar cepat SAH," imbuh Fatimah, antusias.


Meli mengangguk mantap. Tiada lagi kata tercurah sangking bahagianya. Rasanya hari itu mendadak begitu cerah, berhias pelangi indah, dan sekitarnya dipenuhi taman bunga aneka warna. Tak pernah terlupa, di atas rasa yang membuncah dalam dada, turut didengungkan rasa syukur atas segala kemudahan yang diterima.


***


Meli mondar-mandir di depan cermin kamarnya. Smartphone ada dalam genggaman tangannya. Sesekali langkah Meli terhenti. Dirinya tampak berpikir, lalu kembali mondar-mandir.


Smartphone di tangan kembali ditatapnya. Tak lagi mondar-mandir, kini Meli duduk di tepian kasur. Jemarinya lincah mengetik pesan. Namun, mendadak berhenti dan pesan yang telah diketik dihapus.


"Kirim pesan atau langsung telepon Mas Azka, ya?" Meli menimbang.


Menit-menit berlalu tanpa ada kemajuan. Lantaran pesan yang akan disampaikan bukanlah pesan sembarang, Meli jadi penuh pertimbangan. Nomor Azka sudah tertera di layar, siap di-klik kapan pun agar bisa segera terhubung. Namun, menit berikutnya Meli justru mengganti tujuan panggilannya. Meli menghubungi Anjani.


"Wa'alaikumsalam."


...


"Alhamdulillaah. Ijo!" seru Meli.


...


"Belum kuhubungi, sih. Bingung nyusun kata-katanya. Hehe. Eh, Anjani. Kamu wajib bantu segala persiapannya, lho. Wa-jib!"


...

__ADS_1


"Oke-oke. Mas Azka akan segera kuhubungi. Sampai besok, ya. Assalamu'alaikum."


Meli menutup teleponnya. Matanya terpejam. Senyum kembali menghiasi wajahnya. Tak lama, mata Meli kembali terbuka. Diawali dengan mengucap basmallah, Meli mulai menelepon seseorang di Jogja sana. Bukan Azka, melainkan Bu Aisyah.


***


Sore hari saat Anjani selesai membantu Bibi Sarah memasak untuk makan malam, terdengar salam dari seseorang yang sangat dikenal oleh Anjani. Paman Sam mempersilakan untuk duduk, dan Anjani lekas menemuinya.


"Dika," panggil Anjani.


"Hai. Maaf mengganggu sore-sore," kata Dika seraya tersenyum.


Anjani duduk di sofa. Dia juga membalas senyum Dika. Bahkan, Anjani sempat memuji penampilan baru Dika. Ya, setelah liburan kuliah berjalan beberapa hari, potongan rambut Dika baru. Terlihat lebih segar dan lebih rapi.


"Aku mau ngantar ini. Cokelat terima kasih. Satu untukmu, dan satu lagi untuk Meli. Terima kasih atas oleh-olehnya dari Jogja," tutur Dika.


"Makasih, ya Dik. Eh, kok nggak langsung diantar sendiri ke rumah Meli, sih? Kosmu kan lebih dekat dari rumah Meli daripada ke rumahku?" Anjani basa-basi, tapi juga ingin tahu.


"Kamu tahu sendiri kan aku sama Meli gimana. Suka berantem terus. Nggak lucu kalau berantem di rumahnya. Em, tapi Meli baik-baik saja, kan?" tanya Dika.


Anjani menangkap rasa ingin tahu yang sangat besar dari wajah Dika. Menurutnya, sungguh sikap yang tak biasa.


Aneh. Pas ketemu sukanya ngajak ribut. Pas nggak ketemu malah antusias ingin tahu. Batin Anjani.


"Alhamdulillaah Meli baik. Sangat baik malah. Hatinya sedang berbunga-bunga, tuh." Anjani antusias menanggapi.


"Berbunga-bunga karena apa? Atau Meli sudah pacaran sama seseorang?" Dika memberondong Anjani dengan tanya.


"Pa-car? Ya nggak mungkinlah Meli berani pacaran. Meli sudah tahu kalau pacaran itu bikin dosa. Meli itu berbunga-bunga karena dapat banyak oleh-oleh dari Jogja. Kue-kue juga banyak, kan? Ada bakpia, geplak, yangko. Tau sendiri kan Meli suka ngemil." Anjani meluruskan agar Dika tidak terus bertanya. Tidak mungkin juga Anjani memberi tahu Dika kalau sebenarnya Meli sudah dilamar Azka.


Dika manggut-manggut. Dia membenarkan bahwa Meli memang suka ngemil.


"Dik, kamu naksir Meli, ya?" Anjani memberanikan diri untuk bertanya.


"Meskipun aku punya rasa, Meli nggak bakalan nerima, kan? Bukankah selama ini Meli menganggapku sebagai teman ribut?" Dika tersenyum menjelaskan fakta yang ada.


"Tapi kamu ada rasa sama Meli?" tanya Anjani lagi, mendesak Dika agar tidak berbelit saat menjelaskan.


Dika mengangguk sambil tersenyum.


Astaghfirullah. Bagaimana jika Dika tahu kalau Meli akan segera menikah? Batin Anjani.


"Tapi mustahil banget buat Meli juga memiliki perasaan yang sama. Di mata Meli, aku kan hanya partner ribut." Dika terlihat pasrah.


Anjani sungguh tak menduga sore itu akan menjumpai sebuah fakta tentang perasaan Dika pada Meli.


"Dika, kamu pasti sering dengar kan bahwa yang namanya jodoh itu nggak akan kemana. Andai kalian berjodoh, maka akan ada jalan untuk kalian bersatu. Tapi ...." Anjani mengambil jeda sebelum akhirnya melanjutkan kata-katanya. "Tapi, andai kalian tidak berjodoh dan Meli memilih orang lain untuk menjadi imamnya, maka kamu harus mengikhlaskan." Anjani menekan kata ikhlash.


Dika mengangguk pelan. Tampak ada keraguan saat Dika mengangguk.


"Terima kasih atas nasihatnya, Anjani. Aku pamit dulu. Jangan lupa tolong berikan satu kotak untuk Meli. Sampaikan rasa terima kasihku padanya," kata Dika.


"InsyaAllah," jawab Anjani sambil beranjak dari tempat duduk.


Dika pulang. Anjani masih berdiri di teras depan hingga sosok Dika menghilang. Anjani tak bergeming. Dia kepikiran dengan sebuah fakta yang baru saja diketahui. Namun, Anjani tetap berdoa untuk kebaikan sahabatnya, Meli. Juga, Anjani mendoakan Meli-Azka agar segera SAH.


Bersambung ....


Lampu ijo sudah menyala, tuh. Tapi, apakah Azka sudah tahu tentang itu? Yuk, cari tahu di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Nantikan selalu update kami berdua. Terima kasih yang sudah mendukung karya kami. Tetap vote, Like, dan tinggalkan jejak komentar kalian ya. See You. Barakallah. 😊


__ADS_1


__ADS_2