
“Ma-Mario?” kata Anjani lirih, mengulang nama yang disebutkan oleh Mbak Bida.
Mbak Bida mengangguk pelan, lalu tersenyum sambil menoleh ke arah Anjani.
Anjani masih tertegun. Hatinya seketika bergejolak, penuh prasangka, menduga-duga. Anjani sungguh tak dapat mengontrol dirinya saat itu di depan Mbak Bida. Anjani spontan memandang ke arah Mbak Bida dengan tatapan aneh. Bahkan matanya tak berkedip.
Rasa sesak menelusup dalam dada. Pertanda rasa cemburu tengah melanda. Anjani menyadari kehadiran gejolak yang tak biasa itu, dan lekas tahu bahwa itulah yang dinamakan rasa cemburu.
“Anjani,” panggil Mbak Bida.
Mbak Bida merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Anjani yang mendadak. Mbak Bida mencoba tersenyum kepada Anjani, tapi Anjani tidak menunjukkan reaksi apa pun. Bola mata Anjani terus menatap dengan pandangan aneh ke arahnya.
“Anjani, kamu tidak apa-apa?” tanya Mbak Bida ragu-ragu.
“Astaghfirullah,” ucap Anjani sambil menundukkan kepalanya.
Mbak Bida semakin merasa ada yang aneh dengan sikap-sikap yang ditunjukkan oleh Anjani. Mendadak ada rasa tidak enak dalam hati Mbak Bida.
Anjani menarik nafas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Sekali lagi terucap istighfar dari mulutnya. Susah payah Anjani menahan diri untuk tidak menitihkan air mata. Sungguh saat itu di kala hujan menyapa, rasa cemburu telah membuat pedih hatinya.
“Anjani, maaf. Apakah ada kata-kata saya yang menyinggung hatimu?” tanya Mbak Bida mulai khawatir melihat Anjani.
Mbak Bida melihat Anjani mendongakkan kepalanya sambil tersenyum. Meski Mbak Bida melihat Anjani tersenyum, tapi dia tahu bahwa senyum Anjani adalah senyum yang dipaksakan. Segera Mbak Bida menduga-duga dalam hati, dan lekas mengajukan tanya pada Anjani.
“Maaf, apakah kamu familiar dengan nama Mario? Em, karena mendung seketika menggantung di mata indahmu saat mendengar nama itu,” kata Mbak Bida.
Rasanya Anjani enggan menjawab pertanyaan Mbak Bida. Namun, Anjani juga tidak ingin mendustai rasa dengan berbohong bahwa tidak mengenal seseorang yang bernama Mario. Setelah yakin, Anjani pun memutuskan untuk balik bertanya.
“Apa Mario yang Mbak Bida maksud adalah seorang mahasiswa jurusan ekonomi?” tanya Anjani.
Mbak Bida mengangguk mantap, membenarkan pertanyaan dari Anjani.
“Bolehkah saya tahu nama lengkap dari Mario yang Mbak Bida maksud?” tanya Anjani lagi.
“Maaf, aku tidak tahu nama lengkapnya karena baru bertemu beberapa kali. Yang jelas aku senang bertemu Mario,” kata Mbak Bida sambil tersenyum manis di depan Anjani.
Deg!
Hati Anjani semakin teriris saja mendengar penuturan Mbak Bida. Kondisi hatinya saat itu senada dengan hujan yang kian turun dengan derasnya. Bahkan petir pun tiba-tiba menggelegar di langit sana.
Astaghfirullah. Mbak Bida senang bertemu Mario. Pertanda apa ini? Batin Anjani.
Kembali Anjani mengalihkan pandang dengan melihat ke arah hujan. Guyur deras hujan mengiringi kegalauan hati Anjani. Ingin sekali Anjani berlari ke arah hujan, menikmati guyurannya sambil melepas sesak yang kala itu terasa menyiksa.
"Anjani," panggil Mbak Bida sambil menepuk bahu Anjani.
Anjani kaget. Lamunannya pun buyar. Seketika meluncur bacaan istighfar untuk ke sekian kalinya saat Anjani tersadar.
__ADS_1
"Hei, Anjani. Maaf jika ada tutur kataku yang menyinggungmu," kata Mbak Bida sambil menyentuh tangan kanan Anjani.
Sentuhan tangan Mbak Bida terasa begitu dingin terasa di kulit tangan Anjani. Wajar, Mbak Bida usai basah kuyup karena guyuran air hujan.
"Bukan apa-apa, kok. Maaf, em mungkin Mario yang dimaksud Mbak Bida beda orang dengan Mario yang kukenal. Hehe," kata Anjani mendustai fakta.
Astaghfirullah .... Astaghfirullah, kenapa aku berkata seperti itu? batin Anjani terusik.
Mbak Bida tahu Anjani tidak sedang baik-baik saja. Mbak Bida lekas kembali mengaitkan nama Mario dengan ekspresi wajah Anjani yang berubah-ubah.
"Anjani, apakah kamu juga seorang mahasiswa jurusan ekonomi?" tanya Mbak Bida.
Anjani mengangguk.
"Bolehkah saya tahu di mana kamu kuliah?" tanya Mbak Bida lagi.
Anjani lekas menjawab pertanyaan Mbak Bida. Anjani menyebutkan nama kampusnya lengkap beserta alamatnya. Anjani juga memutuskan untuk tidak menutup-nutupi lagi tentang nama Mario yang dikenal Anjani sebagai kakak tingkat di jurusan yang sama. Hanya sebuah penjelasan singkat, tapi rupanya penjelasan Anjani telah mampu membuat mimik wajah Mbak Bida berubah.
Ya. Ada keterkejutan yang tampak di wajah Mbak Bida. Keterkejutan itu lekas disusul dengan senyum manis di wajah ayu Mbak Bida.
Anjani sungguh terheran dengan perubahan mimik wajah Mbak Bida. Senyum di wajah ayunya juga menghias di wajahnya.
Tangan Mbak Bida lekas meraih kedua tangan Anjani dan menggenggamnya erat. Mbak Bida pun tak memudarkan senyumannya dan terus melihat ke arah Anjani.
"M-Mbak Bida, ke-kenapa?" tanya Anjani terbata.
"Sungguh takdir Allah itu indah, ya?" tanya Mbak Bida tiba-tiba.
Anjani hanya mengangguk pelan, tapi masih belum memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh Mbak Bida.
Mbak Bida kemudian melepas genggaman tangannya. Setelahnya Mbak Bida merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan smartphone miliknya. Jemari tangan Mbak Bida selanjutnya lincah mencari-cari sebuah file di galeri foto smartphone miliknya.
"Em, Anjani. Apa kamu juga mengenal dia sama seperti Mario?" tanya Mbak Bida sambil mendekatkan smartphone-nya kepada Anjani.
Anjani memperhatikan sebuah foto di smartphone Mbak Bida. Seketika Anjani tersenyum dan mengangguk-angguk.
"Pak Nizar," kata Anjani.
"Kamu mahasiswanya juga?" tanya Mbak Bida antusias.
"Iya, saya ada mata kuliah yang diajar oleh beliau," jelas Anjani. "Mbak Bida kenal sama Pak Nizar?" tanya Anjani.
Mbak Bida mengangguk. "Iya. Aku dulu teman kuliahnya dan berada di jurusan yang sama," terang Mbak Bida sambil tersenyum.
"Oh. Jadi Mbak Bida ini kenal dekat dengan Pak Nizar?" Anjani antusias pula menanggapi.
"Tidak juga sih. Dulu kami hanya sebatas kenal. Tidak akrab meski satu jurusan. Em, tapi itu dulu. Sekarang .... " Mbak Bida tersenyum lebih lebar, lalu melanjutkan kata-katanya. "Sekarang Nizar telah mengisi hari-hariku," imbuh Mbak Bida.
__ADS_1
Mimik wajah Anjani seketika cerah. Mendung di wajahnya telah sirna. Prasangka-prasangka yang sebelumnya menggema dalam dada pun telah musnah.
Apa ini artinya aku sudah salah sangka? batin Anjani.
Anjani masih memperhatikan Mbak Bida yang masih tersenyum sambil memandangi foto Pak Nizar. Barulah saat itu Anjani bisa merasakan bahwa muslimah cantik bernama Bidadari yang berdiri di depannya itu sedang dilanda virus cinta.
"Apakah Mbak Bida dan Pak Nizar saat ini sedang menjalin hubungan khusus?" tanya Anjani, dan kali ini dengan ekspresi wajah yang jauh lebih baik.
Lagi-lagi Mbak Bida mengangguk mantap. "InsyaAllah, bulan depan kami menikah," kata Mbak Bida.
"Allahu Akbar. Sungguh ini kabar baik yang menggembirakan. Semoga dilancarkan, ya Mbak. Anjani ikut senang mendengarnya." Anjani menyalami Mbak Bida dengan hati riang gembira.
"Aamiin," kata Mbak Bida menanggapi doa dari Anjani.
Cuaca hari itu seolah melambangkan suasana hati. Segera setelah kabar baik yang disampaikan oleh Mbak Bida, hujan deras pun perlahan mereda. Kini hanya menyisakan gerimis manja.
Mario, inikah yang kamu maksud dengan kabar baik itu? batin Anjani.
Mbak Bida memasukkan kembali smartphone miliknya ke dalam tas selempangnya. Setelahnya, Mbak Bida kembali menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk menciptakan rasa hangat.
"Mbak Bida pasti kedinginan, ya?" tanya Anjani basa-basi, karena tanpa ditanya pun sudah terlihat jelas Mbak Bida sedang kedinginan.
"Sedikit," jawab Mbak Bida disusul tawa ringan.
"Kita ke rumah temanku sekarang, yuk! Gerimisnya juga tidak akan terlalu membuat basah," ajak Anjani.
"Baik. Sekalian aku ceritakan tentang maksud Mario beberapa kali menemuiku, ya. Sepertinya kamu penasaran sekali dengan Mario. Iya, kan?" kata Mbak Bida.
"Hehe," tawa Anjani sambil menunduk malu.
Anjani memang tidak mengiyakan penuturan Mbak Bida, tapi Anjani juga tidak mengelak bahwa memang benar dirinya penasaran tentang Mario yang bisa mengenal sosok Bidadari.
Hari ini di kala hujan, ada dua kabar baik tentang rencana pernikahan. Paman Sam akan menikah dengan seorang janda idaman, sementara Pak Nizar akan menikah dengan Bidadari impian. Semoga lancar hingga hari H. Aamiin, batin Anjani kembali menggema bahagia.
"Yuk, Mbak!" ajak Anjani sambil memberi kode untuk menuju motor.
"Ayuk!" sahut Mbak Bida.
Anjani dan Mbak Bida menuju motornya masing-masing. Setelah mesin dihidupkan, kedua motor itu pun melaju melewati jalanan beraspal yang masih menyisakan genangan air hujan. Melaju perlahan hingga sampai di tempat tujuan.
Bersambung ....
Bagaimanakah cerita Mbak Bida tentang Mario? Apa sebenarnya maksud Mario beberapa kali menemui Mbak Bida? Lalu, akankah ada bara-bara api cinta antara Mario-Anjani di episode selanjutnya? Nantikan lanjutan cerita Cinta Strata 1.
***
Gimana? Sudah terjawabkah rasa penasarannya? Hehe. Dukung author selalu ya, agar author senantiasa semangat berkarya. Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. See You. 😉
__ADS_1