CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Celengan Rindu


__ADS_3

Detik telah berganti menit. Menit berlalu dan telah menjadi jam yang terus bertambah satu per satu. Hari ini pun bergegas beralih menjadi masa lalu. Lembaran-lembaran baru setiap hari tersuguh, terisi aneka macam goresan dengan tinta pelangi. Tidak hanya abu-abu yang mengisi hari, tapi warna-warni cerah turut menghiasi.


Telah satu minggu berlalu sejak masa liburan di desa. Hari-hari berganti dengan meninggalkan jejak yang pasti. Jejak rindu yang memenuhi ruang hati, telah membekas begitu jelas. Semua berlalu sembari menumpuk rindu. Keping-keping rindu itu pun terus bertambah memenuhi celengan rindu. Berdenting merdu tiap kali keping itu terjatuh. Akan tetapi, rasa sesak itu pun menjadi begitu menyiksa tatkala celengan rindu terisi penuh.


Niat hati ingin meluapkan segala kerinduan yang tersimpan


Pun berterus-terang akan cinta kasih yang tertanam


Apalah daya hati hanya mampu menyimpan bak celengan


Hingga keping-keping rindu itu pun penuh sesak


Menyiksa, tapi terkadang sensasinya mengundang bahagia


Anjani jatuh hati pada Mario. Hatinya telah mengakui itu. Akan tetapi, lisan yang enggan berterus terang telah membuat dirinya menjelma menjadi pengagum rahasia. Sosok Mario telah menjadi bagian sekaligus telah mengisi ruang hatinya. Nama Mario terpatri indah di sana.


Menyimpan perasaan itu sendirian menjadi pilihan bagi Anjani. Meli, teman dekatnya pun tidak diberi tahu oleh Anjani. Bukan takut diolok-olok, takut ditertawakan, atau bahkan takut dibuat bahan lelucon oleh Meli saat Anjani bercerita. Anjani hanya ingin menikmati rasa itu sendirian, hingga saatnya tiba untuk berbagi perasaan.


"Woi, ngelamun terus, woi!" ujar Meli sekaligus mengagetkan Anjani.


"Duh, Meli!" protes Anjani karena kaget.


"Sudah-sudah. Masih kurang tiga buket lagi, nih. Yuk, cepat!" tegas Berlian.


Anjani sudah beberapa hari freelance di toko bunga Kak Lisa. Lumayan, sambil menunggu kuliah semester berikutnya aktif kembali. Anjani tidak sendirian, ada Meli juga. Adik Kak Lisa, Berlian, juga ikut freelance di sana.


Hari itu ada beberapa pesanan buket bunga. Tepatnya, lima buket bunga mawar merah, dua buket bunga kombinasi, dan satu buket bunga mawar putih. Buket-buket bunga itu baru saja dipesan pagi tadi, tepat saat toko buka, dan akan diambil pukul dua belas siang.


Lima buket mawar merah telah jadi. Tiga buket bunga sisanya sedang dalam proses penyelesaian. Meli dan Berlian kebagian membuat buket bunga kombinasi, dan Anjani tidak memiliki pilihan lain selain membuat buket mawar putih.


Sebelumnya Anjani dikagetkan Meli karena kepergok melamun. Ya, saat itu Anjani memang sempat teringat Mario, hingga kata 'rindu' menyesakkan hatinya. Pertemuan terakhirnya dengan Mario adalah saat drama berpelukan di tepi sungai desa. Sejak saat itu, Anjani sadar dengan perasaannya. Rasa itu terus tumbuh hingga saat ini.


Melihat mawar putih, pikiran dan hati Anjani kembali dibayang-bayangi oleh sosok Mario. Bayang-bayang yang kehadirannya sulit dikendalikan, juga sulit didefinisikan. Kadang membuat senyum-senyum sendiri, kadang pula marah-marah tanpa arti.


"Uh, peluk-peluk terus!" ujar Anjani tiba-tiba.


Mendapati reaksi Anjani yang tiba-tiba, membuat Berlian dan Meli seketika berhenti membuat buket bunga. Mereka berdua kompak memandang aneh ke arah Anjani.


"Hei, kamu mau dipeluk?" tanya Berlian.


"Sini-sini aku peluk!" seru Meli menggoda.


"Eits, tidak mau!" tolak Anjani.

__ADS_1


"Lama-lama aneh, deh. Lagi jatuh cinta, ya?" tanya Berlian lagi.


"Iya, nih. Pasti lagi jatuh cinta. Wow, aku jadi kepo," ujar Meli ikut-ikutan.


Anjani enggan menanggapi lagi, karena apa pun jawabannya, pasti Berlian dan Meli akan terus menggoda dirinya. Seketika Anjani pun nyengir, membuat gerakan tangan minta maaf, dan tanpa berkata-kata dia memberi isyarat pada Berlian dan Meli untuk bergegas melanjutkan membuat buket bunga.


Sepuluh menit berlalu dengan keseriusan. Anjani, Meli, dan Berlian fokus membuat buket bunga pesanan hingga akhirnya terselesaikan. Tepat saat buket-buket bunga pesanan selesai, Kak Lisa datang ke toko sambil membawa minuman segar.


"Kerja bagus semua. Yuk, istirahat dulu!" ajak Kak Lisa.


"Wow, es jeruk dalam wadah plastik. Eh, jadi ingat seseorang," tutur Meli.


"Alenna," sahut Anjani.


Anjani langsung ingat pada Alenna, termasuk saat-saat Alenna memeluk Mario di tepi sungai desa. Sekilas Anjani tampak kesal saat mengingatnya. Ya, Anjani cemburu. Namun, kali ini Anjani dapat menguasai dirinya sehingga Meli, Berlian, dan Kak Lisa tidak sampai tahu.


"Kak Lis, lebih satu, tuh. Buat aku lagi boleh?" tanya Berlian saat melihat es jeruk masih tersisa satu wadah plastik.


"Haus apa doyan, nih? Ambil saja, Dik!" suruh Kak Lisa.


Tangan Berlian hendak menggapai es jeruk dalam wadah plastik di depan tempat duduk Kak Lisa, tapi gerakan itu terhenti karena ada seseorang yang berteriak dan berlari mendekat.


"No-no-no! Jangan sentuh es jeruk itu! Itu milikku!" teriak si bule cantik, Alenna.


"Alenna?" tutur Anjani dan Meli bersamaan.


"Ini milikku!" tegas Berlian.


"Punyaku!" sahut Alenna.


"Milikku!" teriak Berlian sembari mempertegas.


"Jangan pelit-pelit! Ini punyaku!" teriak Alenna tidak mau kalah.


"Cie .... Ada anak kecil rebutan es jeruk cie," goda Leon yang tiba-tiba sudah ada di dekat meja kasir toko.


Kedatangan Leon yang tiba-tiba membuat semua mata menuju ke arahnya. Meli, Berlian, bahkan Kak Lisa tentu saja tidak mengenal Leon. Anjani-lah yang mengenal sosok Leon. Itu pun hanya sebatas pertemuan singkat di dalam bus yang sama sekali tidak diharapkan oleh Anjani.


Kak Lisa bertindak cepat dengan membujuk Berlian agar memberikan es jeruk dalam wadah plastik pada Alenna. Awalnya Berlian enggan, tapi seketika es jeruk itu pun dilepaskan saat Kak Lisa berjanji akan membelikan satu lagi untuk Berlian.


Alenna berseru senang, dan cepat-cepat dia meminum es jeruk dalam wadah plastik itu hingga tandas. Selesai dengan es jeruknya, Alenna membuang bungkusnya ke tempat sampah, kemudian melangkah menghampiri Leon.


"Kalian berdua saling kenal?" tanya Anjani tanpa basa-basi lagi.

__ADS_1


"Iya, baru kenal nama dua hari lalu. Anjani sayang, aku rindu. Sini peluk!" seru Alenna.


Tanpa meminta persetujuan, Alenna langsung saja memeluk Anjani erat-erat. Beberapa detik berlalu, Alenna pun melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Meli sambil mengucapkan kata 'rindu' yang sama.


Nih anak sepertinya memang suka asal peluk, batin Anjani.


"Hai, Manis. Kita ketemu lagi," sapa Leon pada Anjani.


Anjani pura-pura tidak mendengar sapaan Leon. Sembari memperlihatkan catatan toko kepada Kak Lisa, Anjani mengingatkan untuk segera mengerjakan pesanan buket pelanggan lainnya.


"Aw, aku dicuekin sama si Manis," keluh Leon sambil memperhatikan Anjani.


Berlian mendadak tersadar bahwa jam dinding sudah menunjukkan pukul dua belas siang lewat sepuluh menit. Seketika Berlian langsung bertanya pada Leon dan Alenna tentang keperluan mereka datang ke toko. Benar saja, ternyata Leon dan Alenna adalah pelanggan yang memesan buket-buket bunga yang baru saja beberapa menit lalu selesai dikerjakan.


"Oh, jadi ini toh yang menelepon tadi pagi. Duh, maaf. Pesanannya sudah selesai semua, kok. Mau dibawa sekarang?" tanya Kak Lisa dengan nada sangat ramah pada Leon dan Alenna.


"Minta tolong dibawakan ke mobil, ya. Bisa?" pinta Leon pada Kak Lisa.


"Bisa, kok. Berlian, Anjani, Meli, minta tolong dibawakan ke mobil pelanggan," suruh Kak Lisa tanpa menyurutkan senyum di wajahnya.


Anjani, Berlian, dan Meli membawa buket-buket bunga pesanan ke mobil yang dikendarai Leon dan Alenna. Mulanya Anjani melakukannya dengan riang gembira, tapi seketika senyum itu luntur dari wajahnya saat melihat sosok yang duduk di bangku kemudi.


"Mario," ucap Anjani lirih.


Meli melambaikan tangan ke arah Mario, disusul Berlian juga melakukan hal yang sama sesaat setelah meletakkan buket-buket bunga di bangku mobil paling belakang. Terakhir Anjani, raut wajahnya saat itu sulit diartikan. Anjani tidak tersenyum, tidak kesal, dan tidak pula berekspresi yang dilebih-lebihkan. Raut wajah Anjani berekspresi datar. Padahal jelas-jelas Mario tersenyum kepada Anjani. Namun, sapaan Mario melalui senyumannya sama sekali tidak ditanggapi oleh Anjani.


Mario terheran dengan sikap Anjani yang mendadak dingin terhadapnya. Untuk beberapa saat, Mario masih memperhatikan sikap Anjani. Hingga Leon dan Alenna sudah bersiap di dalam mobil, barulah Mario melambaikan tangannya lagi. Akan tetapi, lagi-lagi hanya Meli dan Berlian yang menanggapi, sementara Anjani tidak.


Ada apa denganku? Aku senang bisa melihat senyum Mario, tapi kenapa reaksiku seperti itu? batin Anjani.


"Hei, Anjani. Kenapa mendadak murung begitu?" tanya Meli saat melihat ekspresi aneh Anjani sesaat setelah mobil Mario, Leon, dan Alenna pergi.


"Ngidam es jeruk lagi dua wadah plastik," jawab Anjani sekenanya.


"Hahaha, rupanya kau suka es jeruk juga, ya. Nanti aku bilang ke Kak Lisa, deh. Tapi ... ceritain lagi tentang Juno," pinta Berlian.


"Idih, lama-lama tebakanku benar, nih. Jangan-jangan Berlian naksir Juno. Uhuy!" goda Meli.


"Sepertinya benar. Dari kemarin Berlian tanya terus," timpal Anjani sembari mengalihkan topik agar teman-temannya tidak membahas ekspresi wajahnya.


"Hahaha, kepo-in aja terus!" ujar Berlian sambil bergegas menuju Kak Lisa.


Aktivitas hari itu pun berlanjut. Berlian masih terus-terusan bertanya tentang Juno, membuat Anjani dan Meli semakin semangat bercerita sekaligus menggoda Berlian. Meli masih sama cerianya seperti biasanya. Sementara Anjani, masih terus menambah kepingan pada celengan rindu di hatinya.

__ADS_1


Sepertinya celengan rindu ini akan semakin penuh. Uh! batin Anjani


***


__ADS_2