CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Tenang Saja


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Anjani dan Meli freelance di toko bunga Kak Lisa. Penampilan baru Anjani dan Meli membuat Kak Lisa terkagum-kagum, bahkan tak henti-hentinya Kak Lisa memuji Anjani dan Meli.


"Adem bener lihat kalian," puji Kak Lisa.


"Aduh, Kak. Kepala aku bisa membesar kalau terus-terusan dipuji, nih. Hehe, tapi aku makin cantik, kan?" tanya Meli pada Kak Lisa.


"Iya, cantik!" sahut Kak Lisa.


"Uh, gemes!" seru Anjani sambil mencubit gemas hidung Meli.


"Ih, Anjani nggak boleh sirik, ya. Kamu kan udah banyak yang muji. Sekarang giliranku yang dipuji." Meli mengedip-ngedipkan matanya pada Anjani.


Anjani terkekeh pelan melihat tingkah sahabatnya itu. Memiliki sahabat seperti Meli membuat Anjani lebih sering tersenyum karena keceriaan yang dibawanya.


"Tinggal satu buket bunga lagi yang belum dibuat, nih. Biar aku selesaikan. Kamu bantu Kak Lisa saja memilah bunga yang baru datang," saran Anjani.


"Siap, deh." Meli segera menuju ke tempat Kak Lisa dan meninggalkan Anjani beserta buket bunga yang sedang dikerjakannya.


Anjani cekatan merangkai bunga kombinasi dan dijadikan sebuah buket berhias pita perak. Tidak butuh waktu lama bagi Anjani untuk menyelesaikan buket bunga itu.


Begitu buket selesai dibuat, Anjani kembali teringat tentang kegelisahan hati yang beberapa hari belakangan ini menyerang hatinya. Itu semua karena Anjani terlalu khawatir, hingga dirinya pun berulang kali istighfar sesaat setelah gelisah itu datang dan dirasakan.


"Dor!" Meli mengagetkan.


"Astaghfirullah!" seru Anjani kaget.


"Lagi mikir apa sampai kelihatan gelisah gitu?" tanya Meli blak-blakan.


Anjani yang semula tidak bercerita, akhirnya menceritakan kegelisahan hatinya pada Meli. Anjani khawatir, gelisah, bingung, dan campur aduk rasanya. Semua itu terjadi karena sore nanti Anjani dan Mario jelas-jelas akan bertemu di satu tempat untuk belajar mengaji.


"Oh, jadi kamu enggan bertemu Kak Mario? Begitu?" tanya Meli.


"Bukan enggan, sih. Em, gimana ya ngejelasinnya. Kamu tahu kan masa laluku dengan Mario seperti apa. Sempat menjalin hubungan serius, lalu berpisah. Lama tak bersua, eh tiba-tiba nanti sore akan berada di satu tempat yang sama." Anjani mencoba mengungkapkan isi hatinya.


"Oke-oke, tidak perlu dilanjutkan lagi. Aku mengerti. Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Meli mencoba menenangkan Anjani.


"Huft. Benar. Lagipula nanti sore niatan kita kan untuk belajar dengan temannya Pak Nizar." Anjani menarik nafas dalam lalu menghembuskannya, mencoba menenangkan dirinya.


Tenang saja, Anjani. Tenangkan dirimu. Semu akan baik-baik saja. Astaghfirullah, batin Anjani.


Meli melangkah menuju etalase dekat meja kasir. Meli mengambil dua es jeruk dalam wadah plastik dan menyodorkannya pada Anjani.


"Nih. Minum dulu biar seger," kata Meli.


"Es jeruk dalam wadah plastik? Punya siapa, tuh?" tanya Anjani terheran, karena sebelumnya tidak melihat es jeruk yang masih terasa dingin itu.


"Eits. Tenang saja. Ini bukan punya Alenna, kok. Hehe. Barusan aja Kak Lisa yang bawain. Kamu sih sibuk ngelamun, jadi nggak sadar kan." Meli mencoba menjelaskan.


"Hehe. Iya. Makasih, ya!" Anjani menerima es jeruk itu dan meminumnya.


Nanti sore ... bismillaah, batin Anjani


***


Ujian akhir semester telah berlalu. Kampus jurusan ekonomi terlihat lebih sepi, karena tidak banyak terlihat mahasiswa yang beraktivitas di sana. Hanya mahasiswa yang berkepentingan dengan urusan akademik yang ada di sana. Ada pula beberapa mahasiswa yang memang sedang mengurusi organisasi kampus.


Mahasiswa baru akan segera bergabung dalam dunia perkuliahan. Senior yang tergabung dalam panitia penyambutan mahasiswa baru pun mempersiapkan segala hal terkait acara penyambutan. Kegiatan tersebut diketuai oleh Juno, yang telah ditunjuk oleh teman-teman seangkatannya untuk menjadi ketua.


Pagi itu pukul setengah sembilan, Juno telah hadir di kampus guna koordinasi awal dengan panitia inti. Juno duduk di salah satu gazebo. Juno tidak sendirian, ada Dika, Berlian, dan Ken yang juga duduk di gazebo itu. Namun, ada yang aneh. Sejak beberapa menit lalu saat semuanya tiba di gazebo, tidak ada yang berbicara. Semua terdiam.


Terlihat Berlian dan Dika membuang muka dari Juno. Sementara Juno duduk bersedekap sambil memejamkan mata.

__ADS_1


Ken sebenarnya bingung melihat sikap junior-juniornya itu, tapi tidak tahu harus mulai menengahinya dari mana.


"Ehem!" dehem Ken disengaja kencang.


Tetap tidak ada yang membuka suara meski dehem Ken cukup kencang. Satu-satunya yang bereaksi hanyalah Juno. Itu pun hanya sebuah reaksi kecil berupa mata yang terbuka.


"Oke, jadi mau sampai kapan kita bersikap seperti anak kecil?" tanya Juno membuka obrolan pertamanya.


"Nah!" seru Ken dengan girang, karena Juno memulai obrolan di antara mereka. "Jangan terlalu dijadikan beban. Tenang saja. Kalian akan bekerja secara tim, kok. Para senior pun juga siap membantu," imbuh Ken.


"Tuh. Dengar apa kata Mas, Ken. Jadi, kalian mau ya jadi wakil ketua dan sekretaris?" tanya Juno pada Dika dan Berlian.


Sebenarnya, dua jam sebelum pertemuan di gazebo itu, Juno mengirim pesan pada Dika dan Berlian. Pesan itu disertai dengan file berisi susunan kepanitiaan penyambutan mahasiswa baru. Juno sengaja langsung mengirimkan susunan kepanitiaan yang sudah disetujui tanpa meminta persetujuan dari Berlian dan Dika. Juno sudah mengira, Berlian dan Dika akan tetap menolak meski Juno lebih dulu meminta persetujuan untuk menjadi wakil ketua dan sekretaris. Ya, Juno menunjuk Dika sebagai wakil ketua dan Berlian sebagai sekretaris.


Usai pesan singkat dari Juno dibaca Berlian dan Dika, secara bergantian mereka berdua menelepon Juno. Telepon itu berisi protes sekaligus menolak posisi yang tertera dalam susunan panitia.


"Bagaimana?" tanya Juno sekali lagi.


Berlian yang lebih dulu luluh hatinya. Perlahan raut wajahnya berubah.


"Oke, deh. Aku bersedia. Kak Ken harus bantuin aku. Aku beneran nggak ada pengalaman, nih!" Berlian terus terang.


Diminta Berlian seperti itu membuat hati Ken senang. Apalagi, Ken memiliki perasaan khusus pada Berlian.


"Siap. Aku akan membantumu," jawab Ken.


"Bagus. Lalu ... Dika." Juno melirik Dika yang masih belum bersuara.


"Dika, udah mau aja!" saran Berlian.


"Ah, gini nih kalau punya hati baik. Suka nggak tega lihat permintaan teman. Oke, aku bersedia!" Dika akhirnya setuju.


"Yes!" seru Juno dan segera menyalami Dika.


"Wakil ketua tahun lalu itu Mario, tapi saat ini dia sibuk dengan dunia barunya. Belajar ngaji terus dia," jelas Ken.


Juno, Dika, dan Berlian mendengarkan penjelasan Ken dengan antusias.


"Maksudnya Kak Mario hijrah? Seperti Anjani, dong. Ah, jangan-jangan mereka berdua memang jodoh," celetuk Berlian.


Seketika Juno menunjukkan ekspresi kurang suka dengan perkataan Berlian yang menjodoh-jodohkan Mario dengan Anjani. Ken menangkap raut wajah Juno, tapi tak segera membahasnya lebih lanjut.


"Ehem," dehem Ken sembari membetulkan letak kacamatanya. Ken bermaksud mengalihkan perhatian Juno agar tidak berekspresi kurang sedap dipandang.


"Dika, aku yang akan membantumu. Tanyakan saja yang membuatmu bingung. Senior-senior lain juga siap membantu. Tenang saja," imbuh Ken.


Suasana tercairkan seiring hati yang telah lapang untuk mengemban tugas yang diamanahkan. Wajah Juno terlihat lebih cerah dibanding yang lainnya, karena urusan susunan panitia telah beres.


"Terus ini boleh balik nggak? Mau ke toko, nih. Ada Anjani sama Meli mulai freelance hari ini," terang Berlian.


"Nanti dulu, dong. Belum juga bahas rencana kegiatan. Sejam lagi, deh. Habis itu selesai. Ohya, nanti sekalian nitip sesuatu buat Anjani, ya." Juno kali ini berwajah teramat cerah saat membahas Anjani.


"Modus," celetuk Dika.


Juno cuek dengan celetukan Dika. Hanya sebuah senyum mengembang sebagai tanggapannya. Namun, senyum itu tak lama bertahan. Selanjutnya senyum memudar karena Juno melihat kehadiran seseorang.


"Mas Ken, tuh lihat. Ada Leon," tunjuk Juno.


Tak jauh dari gazebo tempat Ken dan lainnya duduk, terlihat Leon sedang berdiri di dekat sebuah pohon rindang sambil memandang ke arah tempat duduk Ken dan kawan-kawan.


"Kalian lanjutkan saja diskusinya. Biar aku yang temui dia," pinta Ken.

__ADS_1


Ken segera berjalan menghampiri Leon. Senyum Leon menyambut kedatangan Ken. Turut serta menyertai senyum itu, sebuah jabat tangan di antara mereka. Baik Ken ataupun Leon mencoba untuk bersikap ramah.


"Kalau mencari Mario, dia sedang tidak ada di kampus." Ken membuka obrolan.


Leon tersenyum dan melangkah ke samping Ken. "Aku tahu itu, Ken. Barusan aku mengantar Vina lihat-lihat sekitar sini. Masih ingat Vina?" tanya Leon.


Ken sebenarnya ingat. Tak banyak temannya yang memiliki nama Vina. Vina yang paling melekat dalam ingatannya adalah Vina teman sekelasnya dulu waktu SMA. Vina yang sempat dekat dengan Mario.


Leon semakin mendekat ke tempat Ken berdiri. Leon bahkan merangkul pundak Ken.


"Tidak perlu dijawab, Ken. Aku tahu kamu ingat dengan Vina," kata Leon. "Salam untuk Mario. Vina akan satu jurusan dengannya, mulai semester depan di kampus ini," jelas Leon lalu menepuk-nepuk pundak Ken.


Leon melambaikan tangan, tanda pamit. Leon pun berjalan menjauh setelah ucapan 'bye' dilayangkan pada Ken yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


"Vina. Semoga ini bukan salah satu rencanamu untuk kembali dekat dengan Mario," gumam Ken.


Ken bergegas kembali ke gazebo menemui Juno, Dika, dan Berlian. Ken sengaja tidak membahas Leon di depan mereka bertiga, dan menyuruh junior-juniornya itu untuk melanjutkan koordinasi acara penyambutan mahasiswa baru.


***


Tas belanja berisi bahan makanan diletakkan di atas meja ruang tamu kontrakan. Mario baru saja kembali dari pasar. Sengaja Mario tidak membeli di minimarket. Belanja di pasar membuat Mario bisa leluasa berkeliling melihat-lihat toko-toko di dekat area sekitaran pasar, sekaligus melihat penjualan produk sepatu keluaran perusahaan yang saat ini dipimpin Leon.


Mario duduk di sofa setelah meletakkan tas belanjanya. Segera Mario mengeluarkan smartphone yang sedari tadi sempat dia abaikan saat sedang berkeliling di pasar.


Deretan chat langsung tersuguh. Mario membaca satu per satu pesan itu. Namun, pesan yang paling menarik perhatiannya adalah pesan dari Ken. Melalui pesan itu Ken bercerita singkat tentang pertemuannya dengan Leon, juga kabar tentang Vina yang dibawa Leon tadi.


"Vina?" gumam Mario sembari mengerutkan dahi.


Mario tidak mau ambil pusing. Saat ini dirinya fokus dengan langkah barunya, memperbaiki diri agar lebih dekat kepada-Nya.


Tetiba saja Mario teringat dengan perkataan Pak Nizar yang menjelaskan bahwa akan ada Anjani dan Meli yang ikut mengaji sore nanti. Ingatan itu sontak membuatnya tersenyum. Senyuman yang hangat. Namun, istighfar segera dituturkan saat Mario tersadar dari lamunan.


"Astaghfirullah," ucap Mario untuk kedua kalinya.


"Mario, tenang saja. Percayakan semua pada-Nya. Rencana-Nya sungguh indah. Dan ... aku harus bersikap sewajarnya saja saat bertemu Anjani sore ini," kata Mario seraya tersenyum.


Drrt ... drrt ....


Smartphone Mario bergetar. Ada satu panggilan suara. Junolah yang sedang menelepon Mario. Panggilan itu pun diterima.


"Mas Mario!" sapa Juno lebih dulu.


"Assalamu'alaikum," salam Mario.


"Hehe, iya. Wa'alaikumsalam." Juno menjawab salam itu. "Mas Mario, sore ini aku main ke kontrakan, ya. Mau sharing, nih. Aku jadi ketua tahun ini, Mas. Bisa, ya?" imbuh Juno, menjelaskan dan meminta kesediaan Mario.


"Besok saja, ya. Aku ada acara sore ini," jelas Mario.


"Acara apa?" Juno kepo.


"Belajar ngaji," jawab Mario.


"Sekalian aja deh aku belajar juga sama Pak Nizar. Kalau gitu sampai ketemu sore ini, Mas." Juno asal main ikut saja.


"Eh, tapi ...." Mario mencoba menjelaskan, tapi Juno lebih dulu menutup teleponnya.


Tut-tut-tut.


Astaghfirullah. Sore ini akan ada aku, Juno, dan Anjani. Seperti masa lalu. Apa yang akan terjadi nanti? batin Mario.


***

__ADS_1


Bersambung ....


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Krisan buat author, dong 😊 See You.


__ADS_2