
Hari telah berganti, tapi perasaan bahagia karena lamaran Mario semalam masih membuat Anjani senyum-senyum sendiri. Anjani masih mengingat dengan jelas, manik mata Mario yang menatapnya, sentuhan hangat tangan Mario yang menggenggam tangannya, juga kata-kata manis Mario yang menyebutnya dengan panggilan 'Sayang'.
Senyum Anjani kian merekah, seiring bunyi ketukan pisau saat mengiris wortel dan buncis. Sesekali Anjani berhenti mengiris, berdiam sambil menatap tutup teflon yang meski samar memantulkan wajah bahagia Anjani. Anjani kembali senyum-senyum sendiri.
"Mario ...." Gumaman Anjani terhenti saat dikagetkan oleh Ma yang tiba-tiba menepuk bahunya.
"Dor! Anak gadis melamun, senyum-senyum pula. Wortel tuh iris dulu biar tangan kau tak teriris pula," kata Ma mengingatkan.
"Ma .... Aku kaget, nih!" protes Anjani pada Ma.
"Hehe. Ya habisnya kau ini. Sejak Nak Mario melamar semalam, Ma malah sering lihat kau senyum-senyum pula. Suka kau ya?" tanya Ma sambil mulai membantu Anjani mengiris wortel-buncis untuk sup.
"Ya gitu, Ma. Ah, sudah-sudah. Jangan ditanya lagi. Jadi malu, nih!" protes Anjani lagi.
"Heleh. Bilang malu, tapi mau juga kau," sahut Ma kemudian terkekeh pelan.
Anjani seketika beralih mencuci potongan kubis agar tidak digoda Ma, sedangkan wortel-buncis yang belum terpotong dilanjutkan oleh Ma.
Beberapa menit berlalu, sarapan pagi sudah terhidang di meja. Anjani dan Ma makan lebih dulu, sedangkan Paman Sam masih menyelesaikan melayani pembeli di warungnya.
Obrolan tercipta seiring menyantap sarapan. Ma berencana pulang ke desa selama dua hari untuk menyelesaikan urusan di sana, termasuk menitipkan ladang yang digarapnya kepada rekan di desa. Selanjutnya Ma akan kembali lagi ke kota, karena sesuai obrolan tadi malam pesta pernikahan akan dilaksanakan di sebuah gedung yang akan disewa oleh perusahaan ayah Mario.
"Ajak Meli buat bantu kau menyiapkan keperluan yang bisa disiapkan. Lusa, Ma akan kembali lagi ke kota," terang Ma.
"Nanti Meli kuajak, Ma. Jangan kuatir. Nanti Anjani akan cerita tentang rencana pernikahan itu ke teman-teman dekat Anjani," jawab Anjani.
"Eh, Juno mau kau beri tahu juga?" tanya Ma.
"Tentulah, Ma. Juno kan teman Anjani juga," kata Anjani.
"Tak akan marah dia, tahu kalau kau akan nikah?" tanya Ma lagi.
"Tenang, Ma. Juno baik, kok. Dia pasti akan mengerti," jawab Anjani sambil tersenyum.
Anjani ringan menjawab. Dia sama sekali tidak tahu bahwa Juno telah menyimpan emosi yang siap diledakkan, terutama pada Mario.
***
Anjani mengatur janji temu dengan Meli dan Berlian di toko bunga Kak Lisa pukul delapan pagi. Kebetulan juga, jadwal kuliah masih tengah hari nanti.
Anjani sampai lebih dulu di toko bunga Kak Lisa. Ternyata yang menjaga toko adalah Berlian sendiri, sedangkan Kak Lisa tidak ada. Anjani menunggu kedatangan Meli sembari melihat-lihat bunga segar di sana. Anjani ingin di pesta pernikahannya nanti ada satu buket bunga mawar putih untuk dia bawa.
"Hei, ngapain lihat mawar putih sambil senyum sendiri. Lagi happy, ya?" tanya Berlian sambil meletakkan buket bunga yang baru dia selesaikan.
"Iya, nih. Lagi happy banget!" seru Anjani sambil kemudian memeluk Berlian dengan tiba-tiba.
"Eit-eit-eit. Ada apa, nih? Haha, jadi ketularan happy, deh." Berlian membalas pelukan Anjani.
Tepat di saat yang sama, Meli datang dengan membawa keceriaannya. Tanpa perlu permisi ataupun bertanya, Meli bergegas ikut berpelukan dengan Anjani dan Berlian.
"Lagi main apa, nih?" tanya Meli kemudian saat mereka semua tak lagi berpelukan.
Anjani terkekeh, kemudian tak mampu lagi membendung kegembiraannya, hingga senyum khas Anjani tertoreh indah di wajah manisnya. Tentu saja hal itu mengundang tanya bagi Berlian dan Meli. Tak kuasa melihat ekspresi kedua temannya, Anjani pun memutuskan untuk segera bercerita.
"Minggu depan aku akan menikah," kata Anjani sambil menarik setangkai mawar putih lalu diciumnya.
"Ha? Menikah? Sama siapa?" kata Berlian terkejut.
Meli yang segera bisa menebak langsung mendekat, berdiri persis di samping Anjani.
"Sama Kak Mario, ya?" tanya Meli memastikan.
__ADS_1
Anjani manggut-manggut, kemudian kembali mendapat pelukan dan ucapan selamat dari Meli. Sementara itu Berlian masih terlihat bingung, karena memang Berlian sama sekali tidak tahu tentang kisah Mario-Anjani.
"Tunggu-tunggu. Maksudmu menikah sama Kak Mario, si idola kampus kita?" tanya Berlian.
"Iya," jawab Anjani singkat tanpa mengurangi senyum di wajahnya.
"Beneran nikah? Tinggal bareng, trus punya anak, gitu?" tanya Berlian lagi.
"Iya, Berlian." Anjani kembali menjawab sambil tetap tersenyum.
"Gila! Wow, bakal jadi berita heboh kalau teman-teman tahu, nih! Haha, selamat deh!" seru Berlian kemudian.
"Terus kita bantu apa, nih?" tanya Meli.
Belum sempat Anjani menjawab, tiba-tiba ada yang masuk ke toko bunga Kak Lisa. Ternyata yang datang adalah Mario. Seketika itu suasana di toko bunga Kak Lisa sedikit heboh. Itu terjadi lantaran seruan Meli dan Berlian yang memang berniat menggoda Mario-Anjani, pasangan yang akan segera melangsungkan pernikahan minggu depan.
"Cieee!" seru Meli terang-terangan, membuat Anjani dan Mario sama-sama tersenyum.
"Kak Mario, bisa bantu apa, nih?" tanya Berlian dengan segera.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Mario yang memang tidak paham karena baru saja datang.
"Ya pernikahan Kak Mario sama Anjani. Kita juga ingin bantu-bantu persiapannya. Boleh, ya?" tanya Berlian antusias.
Mario mengangguk. "Kalian boleh membantu dengan cara menemani pengantin wanita sebelum prosesi pernikahan, siapa tahu nanti dia gugup. Setelahnya, biarkan pengantin pria yang menemani pengantin wanita," jelas Mario.
Penuturan Mario sukses membuat pipi Anjani memerah. Anjani malu-malu. Sementara Berlian dan Meli semakin gencar menggoda Anjani.
"Mana Alenna? Katanya mau datang juga buat milih bunga?" tanya Anjani pada Mario.
"Alenna masih antri di pojok sana. Ada pedagang es jeruk," terang Mario tanpa mengalihkan pandangan ke bola mata indah Anjani.
Anjani rupanya kembali terjebak dalam tatapan maut Mario. Tatapan itu bagai hunusan pedang yang seketika menancap di dada, tapi tiada rasa sakit, hanya terasa berbunga-bunga. Ibarat tusukan pedang cinta.
"Ehem, kami berdua cuma nyamuk. Ehem!" seru Meli.
"Ehem-ehem." Berlian ikut-ikutan. "Aaaa!" seru Berlian tiba-tiba.
Buk-buk-buk!
"Juno!" seru Anjani.
Saat Mario-Anjani larut dalam tatapan cinta, Juno datang tiba-tiba dan langsung melayangkan tinjunya ke bagian wajah tampan Mario. Sekali di bagian wajah, dan dua kali di bagian perut Mario.
Raut wajah Juno dipenuhi emosi. Kedua tangannya mengepal, dan bersiap melayangkan tinju berikutnya.
"Juno, hentikan!" teriak Meli.
"Sudah cukup, Jun!" seru Berlian, ikut mencegah sambil berusaha memegangi lengan kiri Juno.
Mario berusaha berdiri tegak setelah sebelumnya mengendalikan rasa sakit di bagian perutnya. Mario meringis menahan sakit, lalu menampilkan senyum di wajah tampannya yang kini terdapat lebam di ujung bibir kanan.
"Aku tahu masalahmu, Juno. Mari kita bicarakan baik-baik," kata Mario.
"Apanya yang baik-baik, ha? Jelas-jelas kau yang tidak bisa baik! Kau tahu aku cinta pada Anjani. Aku yang mengenalnya lebih dulu. Kenapa kau malah memintanya buat jadi istrimu, ha? Harusnya kita saingan dulu, Mario!" seru Juno tanpa mengindahkan sapaan sopan yang biasa dilakukan.
"Hah!" Buk! Tinju Juno pada wajah Mario sekali lagi.
"Juno cukup!" teriak Anjani, tapi tidak dihiraukan oleh Juno.
Buk-buk!
__ADS_1
Dua tinju lainnya menyusul di bagian perut Mario, membuat Mario terduduk di lantai. Anjani memegangi lengan Juno agar tak melayangkan tinjunya lagi, sementara air matanya menetes karena tak kuasa melihat kondisi Mario di depannya.
Usaha Anjani percuma. Satu lengan Juno memang sudah dicegah, tapi lengan lainnya masih berusaha melampiaskan emosinya. Seruan Anjani agar Juno berhenti bahkan sama sekali tak mempan, tak cukup untuk menghentikan aksi Juno pada Mario.
Meli yang melihat itu semua kebingungan. Sedari tadi dia membelalakkan mata, sempat berusaha mencegah, tapi akhirnya gagal juga. Berlian yang berdiri di samping Meli seketika maju, menyeret lengan Juno lalu menamparnya keras di bagian pipi kirinya.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi kiri Juno yang mulus, meninggalkan sedikit bekas merah di sana. Berlian tidak menghentikan aksinya. Tangan satunya terangkat dan kembali mendaratkan tamparan di pipi kanan Juno.
Plak!
"Kau bodoh!" seru Berlian sambil menatap tajam ke arah Juno.
"Apa masalahmu, ha?" bentak Juno.
"Sikapmu yang seperti ini yang jadi masalah, Juno. Anjani sudah memilih Kak Mario. Harusnya kau lapang menerima itu. Bukan malah bertingkah bodoh seperti ini!" seru Berlian kencang, hingga bulir bening mengalir membasahi pipinya.
Anjani bergegas memanfaatkan situasi untuk membantu Mario, berjongkok di sampingnya sambil memeriksa kondisinya. Meli memposisikan diri di dekat Berlian, takut Juno berbuat yang tidak-tidak atau bahkan menyakiti Berlian. Sementara Berlian dan Juno masih dalam tatapan tajam.
"Ck. Apa hakmu ikut campur urusanku?" kata Juno tegas.
"Aku punya hak, karena aku menyukaimu Juno! Tidakkah kau merasakan itu, ha? Cukup adilkah ini untukku?" tegas Berlian dengan bulir air mata yang kian deras.
Juno kaget mendengar penegasan Berlian. Juno sampai terpaku diam di tempatnya berdiri. Perlahan Berlian berjalan mendekati Juno. Berlian bergegas memeluk tubuh Juno. Sungguh sebuah pelukan yang sangat erat, hingga Juno bisa merasakan perihnya hati yang saat itu Berlian alami.
Pluk!
Es jeruk dalam wadah plastik terjatuh dari tangan Alenna. Di depan pintu masuk toko bunga Kak Lisa, Alenna melihat sendiri dengan mata kepalanya, Berlian memeluk Juno, dan Juno pun tidak menolak pelukan itu. Mata Alenna terbelalak, dan seketika ada sesak yang melanda hatinya.
Untuk beberapa saat Berlian menangis sambil memeluk Juno. Juno memang tidak menolak pelukan itu, tapi dia tidak membalas pelukan Berlian. Tatapan mata Juno lurus ke depan, seolah banyak hal rumit yang tengah dirasakan hingga dirinya tak tahu lagi harus bagaimana.
Sesaat kemudian, Juno melepaskan pelukan Berlian perlahan.
"Terima kasih. Tapi, maaf. Aku tidak bisa, Berlian," kata Juno dengan nada melembut, tidak seperti sebelumnya.
Berlian masih sesenggukan. Juno kemudian melirik tajam ke arah Mario, lalu melangkah pergi keluar dari toko bunga Kak Lisa.
"Juno," sapa Alenna lirih saat melihat Juno.
Sayangnya Juno hanya melewati Alenna, tanpa berniat membalas sapaannya. Sikap itu membuat Alenna kecewa, hingga membuatnya tersenyum kecut.
Tidak jauh dari toko bunga Kak Lisa, Leon terlihat bersembunyi sambil tetap mengamati. Leon tahu betul situasi yang terjadi. Leon-lah yang memberi tahu Juno keberadaan Mario, karena sebelum pergi Mario sempat bercerita tentang rencana pernikahannya pada Leon, lalu pamit ke toko bunga Kak Lisa sebelum nanti ke kampus. Leon pun memanfaatkan momen itu dengan mengompori Juno lebih dulu. Jadilah, Juno datang ke toko bunga Kak Lisa dan langsung meluapkan emosinya.
"Hahaha, ini menarik!" seru Leon, lalu melangkah pergi dan kembali ke perusahaan.
***
Alenna membantu Meli menenangkan hati Berlian. Sedari tadi Berlian masih sesenggukan. Sementara Anjani masih menemani Mario, duduk di lantai.
"Jangan takut, Sayang!" kata Mario, tersenyum menenangkan hati Anjani yang saat itu terlihat gusar.
"Kenapa kamu tidak membalas pukulan Juno? Kenapa kamu rela dihujani pukulan seperti ini?" tanya Anjani.
"Aku hanya ingin Juno meluapkan emosinya padaku. Asal bukan kamu yang disakiti, aku akan baik-baik saja." Mario kembali menguatkan hati Anjani.
"Apakah kita benar-benar akan menikah?" tanya Anjani lagi.
Mario seketika tersenyum pada sosok manis yang akan segera menjadi istrinya. Sesaat kemudian Mario mengangguk. "Hadirmu melengkapiku, dan hadirku melengkapimu. Kita berdua akan menikah minggu depan. Jangan ragu, Sayang!" ujar Mario dan langsung disambut senyuman dan anggukan oleh Anjani.
***
__ADS_1
Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Kritik saran buat author, dong. Vote juga boleh, lho. 😊💕