
"Mario, tolong aku!" teriak Anjani.
"Lupakan saja, Mario. Dia tidak berguna saat ini!" Daniel memulai niat busuknya.
"Menyingkir kau, gila!"
Kaki yang bebas membuat Anjani leluasa menendang Daniel. Anjani menendang asal dan ternyata mengenai bagian vital Daniel. Sontak saja Daniel menjerit dengan keras merasakan sakit luar biasa.
Posisi Anjani masih tak menguntungkan. Kedua tangan masih diikat ke belakang dengan kedua mata masih tertutup kain yang diikatkan. Anjani mencoba turun dari ranjang, tapi tak tahu kemana kaki harus dilangkahkan. Kembali Anjani kebingungan.
"Anjaniiii!" teriak Daniel, geram.
Sungguh Anjani bergidik ngeri mendengar teriakan Daniel. Semakin bingung dirinya harus mencari jalan keluar kemana dengan akses pandang dan gerak yang terbatas.
Tetiba saja Anjani merasakan dekapan pada tubuhnya. Tubuh Anjani didekap dari belakang oleh Daniel. Anjani mengira Daniel akan menyakiti, menyiksa, atau bahkan melukainya. Daniel justru membalik tubuh Anjani dan memeluknya dengan erat.
"Tenanglah, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya akan membuatmu nyaman bersamaku," bisik Daniel di telinga Anjani.
"Dasar gila! Mario akan segera menemukanku!" Anjani terus meronta, tapi tak terlepas juga pelukan Daniel dari tubuhnya.
"Kau kira suamimu itu akan dengan mudah menemukanmu? Hahaha. Jangan harap, Sayang. Sebelum itu terjadi, kau harus menikmati kebersamaan denganku," ucap Daniel.
Ketakutan Anjani bertambah setelah Daniel mengucapkan kalimat itu. Terus saja dirinya meronta, tapi yang didapatkan justru Daniel semakin mengeratkan pelukannya. Daniel bahkan berani membuat rambut indah Anjani terlihat. Bersamaan dengan itu ikatan kain pada kedua mata Anjani terlepas. Kini Anjani bisa melihat wajah Daniel dengan bebas.
"Dasar licik kau! Apa maumu ha?" Kebencian jelas terlihat dari sorot mata Anjani.
Daniel tidak menjawab, dia justru mengusap rambut indah Anjani.
"Singkirkan tangan kotormu itu!" desis Anjani.
"Jangan galak begitu dong! Em, aku baru sadar. Pantas saja Mario memilihmu. Kau sungguh cantik, Anjani. Aku semakin ingin memilikimu," ungkap Daniel.
Anjani mengumpat. Memaki Daniel habis-habisan. Namun, tak mampu mengurangi niat busuk Daniel yang sudah tak dapat dipendam. Apalagi Daniel sudah terlampau lama pisah ranjang dengan sang istri yang sudah lama meninggalkannya pergi. Tentu saja kali ini Daniel tergoda oleh Anjani.
"Lepaskan aku!" Anjani terus berupaya melepaskan dirinya.
"Sst, cukup nikmati saja, Anjani!" bisik Daniel dengan nafas yang mulai menderu.
Detik berikutnya Daniel membuat jejak di leher Anjani. Sekuat tenaga Anjani kembali meronta dan tak henti-hentinya berteriak minta tolong.
"Menjauh! Tolooong!" Teriakan Anjani begitu keras.
Daniel tetap melakukan aksinya. Tangan Daniel juga dengan lancang menyapu bagian bawah leher Anjani meski masih tertutup rapat oleh pakaian. Anjani begitu takut terbawa suasana. Sekuat mungkin Anjani berusaha untuk tidak mendesah.
"Tolong!" teriakan Anjani melemah. Dirinya pasrah. Bulir bening jatuh membasahi pipinya. Anjani tak lagi mampu mencegah Daniel yang terus menyapu leher dan bagian dada.
"Tolong," lirih Anjani, sambil terus mengalirkan bulir bening air mata.
Daniel menginginkan lebih. Tangannya sudah bersiap menyingkirkan pakaian Anjani. Hingga kemudian, pintu terbuka.
Brak!
Daniel menoleh. Dia hendak marah karena ada yang berani mengganggunya. Namun, begitu tahu siapa yang datang, Daniel lekas menundukkan pandangannya. Cepat-cepat Daniel menghempaskan tubuh Anjani ke ranjang, lantas dengan gesit menutup kembali kedua mata dan menutup mulutnya dengan lakban.
Anjani tak dapat berteriak dan melihat. Akses pandang dan suaranya terhalang. Anjani sedikit lega karena Daniel tidak melanjutkan aksi tidak pantasnya. Akan tetapi, Anjani justru dibuat bingung dengan atmosfir ruangan yang mendadak berubah. Dalam diam, Anjani mendengar obrolan Daniel dengan seorang pria dewasa yang sempat dilihat sekilas wajahnya tadi.
"Bodoh!"
Suara berat si pria yang baru datang mampu membuat Daniel bungkam.
"Susah payah aku merekomendasikanmu pada John agar bisa menduduki kursi pimpinan anak perusahan, sehingga Mario tak mudah menduduki posisi itu. Kini apa yang kau perbuat?! Bodoh!" umpatnya lagi, memaki Daniel.
"Maaf, Bos!" Daniel masih menunduk.
Si pria beralih melihat ke arah Anjani. Mendadak saja emosinya bertambah.
"Bukankah dia Anjani? Istri Mario?" tanya si pria.
"Benar, Bos!" sahut Daniel tanpa berani melihat bosnya.
"Mau cari mati kau, ha? Mario punya akses bebas di anak perusahaan. Mario bahkan bisa menggunakan orang-orang profesional yang biasa bekerja untuk John. Dia bisa dengan mudah melacakmu, membuat perhitungan denganmu." Si pria tampak geram.
"Mario hanya seorang mahasiswa, Bos." Daniel tak percaya dengan omongan bosnya.
__ADS_1
"Bodoh! Aku saja tidak berani meremehkan mahasiswa. Mereka bahkan bisa mengubah dunia dengan kecerdasan otak mereka. Satu lagi, Mario Dana Putra. Dia bukan mahasiswa biasa. Dia putra seorang John. Dia bahkan sudah dikenal oleh beberapa pimpinan perusahaan di Jakarta sana. Cih, Daniel, kau bahkan tidak mengenal targetmu dengan baik!" Kembali si pria mengumpat.
"Ma-maafkan aku, Bos!" Daniel semakin tertunduk.
"Maaf kau bilang? Aku memintamu untuk menghancurkan anak perusahaan secara perlahan. Kenapa kau malah terang-terangan menggelapkan dana perusahaan di masa kerjamu yang masih baru, ha? Kau malah bertindak jauh tanpa persetujuanku. Kau lupa bekerja untuk siapa, Daniel?" Nada si pria terdengar membentak, membuat Daniel langsung tertunduk dalam.
Ada jeda. Anjani terus mendengarkan mereka. Merekam semua dalam ingatannya. Rupa si pria yang sempat dilihatnya tadi juga diingatnya.
"Kau ikut aku! Kita mundur!" tegas si pria.
"Ma-maksudnya kita melarikan diri, Bos?" tanya Daniel yang masih saja terbata.
"Kebusukanmu terhadap dana perusahaan sudah terbongkar. Apalagi kau menculik istri Mario. Lihat dia! Kau bahkan berniat memilikinya. Ini sudah jelas melenceng jauh dari rencana!" Si pria uring-uringan. Kecewa berat dengan Daniel.
Daniel tak lagi mampu membuat kata balasan.
"Kita mundur. Kau ikut aku! Kita menjauh dulu dari kota ini!" perintah si pria.
"Baik, Bos. Akan kubantu menyusun ulang rencana." Daniel antusias kali ini.
Si pria yang dipanggil bos oleh Daniel melangkah duluan. Begitu sampai di ambang pintu dirinya berbalik karena tidak mendapati Daniel menyusulnya. Daniel justru menghampiri Anjani.
"Daniel, mau apa lagi kau pada istri Mario?"
"Lima menit saja, Bos. Aku langsung bermain di inti. Yang tadi nanggung," sahut Daniel.
"Haaah! Kenapa kau tidak pintar-pintar, sih? Melakukannya pada istri Mario hanya akan mempercepat kau tertangkap. Mario tidak akan melepasmu dengan mudah. Tinggalkan dia! Cepat pergi dari sini!" Si pria memerintah dengan tegas.
Daniel tak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah bosnya. Akan tetapi, Daniel juga tidak tega meninggalkan Anjani di gedung itu seorang diri.
"Tapi Anjani bagaimana, Bos? Tempat ini jauh dari hunian penduduk. Kalau mati kelaparan bagaimana?" Daniel iba juga.
"Masa bodoh, cepat pergi!" perintah si pria.
Daniel pun mengekori bosnya. Meninggalkan Anjani dengan mata, mulut, dan kedua tangan yang masih terbatas aksesnya.
"Astaghfirullah," batin Anjani. "Mario, aku percaya kau akan menemukanku di sini."
Air mata terus mengalir. Kain penutup mata sampai basah karena ulah bulir beningnya. Anjani terus terisak hingga tak kuasa lagi mengeluarkan air matanya.
"Alhamdulillaah," batin Anjani menyeru kala ikatan penutup mata melorot.
Bagian belakang ikatan untunglah merenggang. Anjani mengedarkan pandang ke sekitar. Tampak jelas ruang yang ditempatinya saat ini adalah sebuah kamar. Hawa dingin AC kali ini terasa dingin menusuk tulang. Mungkin saja sangat terasa karena Anjani kelelahan dan belum makan.
Anjani turun dari ranjang yang hampir saja membuat dirinya dilecehkan. Anjani berjalan mendekati jendela.
"Ini hunian siapa, sih? Dan ... tinggi sekali?" Anjani geleng-geleng kepala. Di sekitaran hunian tampak jelas pepohonan lebat dan tinggi.
Beralih, Anjani menuju pintu. Knop diputar dengan menggunakan tangan yang terikat di belakang. Susah payah Anjani melakukannya. Hingga dia pun tersadar bahwa pintu kamar itu terkunci.
"Astaghfirullaah. Lalu untuk apa kau tadi kasihan dan takut aku mati kelaparan di sini, Daniel? Nyatanya pintu kamar ini pun kau kunci." Anjani berseru dalam batinnya.
Anjani terduduk lemas. Air matanya kembali mengalir. Satu-satunya akses untuk keluar hanyalah jendela. Namun, mustahil baginya untuk lompat ke bawah sana. Sama saja dengan mempertaruhkan nyawa.
"Astaghfirullah. Apa yang harus kulakukan.
Tenaga Anjani terkuras. Tubuhnya lemas. Hati dan pikirannya pun letih terasa. Isak tangis lama-lama tak berwujud air mata. Hanya sesak yang terasa amat nyata. Mata Anjani kemudian terpejam. Perlahan, dia terlelap dalam tidurnya karena rasa lapar dan kelelahan.
Bangun-bangun, Anjani mendapati hari sudah gelap saja. Fakta bahwa dirinya belum punya rencana untuk keluar dari sana langsung membuatnya kembali melemah. Hingga kemudian, Anjani mendengar ada langkah kaki di luaran sana. Semakin lama semakin mendekat.
"Heem! Heeem!" Anjani mencoba berteriak, tapi tak bisa.
"Sepertinya mobil Daniel sengaja ditinggalkan begitu saja, Tuan. Tidak ada siapa-siapa di rumah ini."
"Kita harus menemukan Anjani, Paman."
Suara itu terdengar samar. Namun, Anjani masih dapat mendengarnya. Anjani yakin sekali kalau itu adalah Mario.
"Heeem! Heeeem!" Kembali Anjani mencoba berteriak.
Sia-sia. Mario tidak akan mendengarnya. Entah di mana lokasi kamar yang saat ini Anjani tempati hingga Mario dan seorang yang bersamanya tidak menemukannya.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, Tuan. Kita lanjutkan pencarian setelah isya'."
__ADS_1
"Baiklah, Paman."
Anjani masih bisa mendengarnya. Sontak dia panik karena Mario akan meninggalkan tempat itu. Anjani tidak ingin terkurung lebih lama di tempat itu.
"Heeem! Heeem!"
Langkah kaki yang tadi didengarnya mulai menjauh. Anjani semakin panik.
"Heeeeeeem!"
Anjani mengedarkan pandang ke ruang kamar. Segera didekatinya lampu tidur di sebelah kanan. Kedua tangan yang masih terikat lekas menyenggolnya hingga terjatulah dan pyaar! Anjani mendekati benda lainnya. Remote AC disenggolnya dan jatuh juga. Terus seperti itu, Anjani membuat sinyal agar Mario menyadari keberadaannya.
"Dari arah kanan, Tuan!"
"Ada pintu tersembunyi di sana, Paman!"
Suara Mario dan seorang lagi kali ini semakin jelas.
"Alhamdulillaah. Aku di dalam sini Mario!" Batin Anjani berseru. Ingin sekali meneriakkan kata-kata itu.
Bergegas Anjani menghampiri pintu. Diputar-putarnya knop pintu dengan kedua tangan yang masih terikat. Sebisanya saja Anjani melakukannya, yang penting usaha.
"Anjani. Sayang, apa kau di dalam sana?!" teriak Mario di balik pintu.
"Heeeeem! Heem-heem!"
Percuma, suara Anjani tak mampu didengar Mario. Anjani terus memutar-mutar knop pintu.
"Sayang, aku yakin kamu di dalam sana. Tolong menjauhlah sebentar dari pintu. Aku dan Paman akan mencari cara untuk membukanya."
Anjani menurut. Knop pintu tak lagi diputarnya. Dia menjauh beberapa langkah.
Dalam masa tunggu terbukanya pintu, Mario terus mengajak Anjani mengobrol. Ingin sekali Anjani menyahuti kata-kata suaminya, tapi apalah daya.
"Sayang, kau sudah aman. Paman dan anak buahnya sudah mulai mencongkel pengait pintunya." Mario terus mengajak Anjani mengobrol.
And now ... Brak! Pintu terbuka.
Anjani terdiam sambil terisak. Tangisnya pecah. Ada haru bercampur rasa syukur yang membuncah.
"Alhamdulillaah. Alhamdulillaah." Batin Anjani.
Mario tak kuasa melihat kondisi sang istri. Bergegas Mario menghampiri lantas memeluknya erat. Tak berlama-lama, Mario segera melepas lakban yang menutupi mulut Anjani.
"Akan terasa sedikit sakit. Tahan, ya." Mario perlahan melepas lakban itu.
"Alhamdulillaah," ucap syukur Anjani seketika.
"Terima kasih," lirih Anjani sambil menatap bola mata Mario.
Mario menggeleng. "Aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak bisa menjagamu dengan benar." Mario membetulkan anak rambut sang istri. Satu kecupan lembut mendarat di kening.
Setelahnya Mario melepas ikatan tangan Anjani. Begitu bebas, Anjani lekas memeluk Mario dengan eratnya. Tak kalah dari Anjani, Mario pun membalas pelukannya. Lebih dari itu, Mario bahkan mengikis jarak bibir mereka demi memberi sensasi nyaman untuk sang istri.
"Apa ini?" Mario menyentuh tanda jejak Daniel di leher Anjani. "Apa Daniel yang melakukan ini padamu?" Ada murka yang kentara di wajah Mario.
Anjani lekas menangkup wajah Mario. Diyakinkannya sang suami lewat tatapan matanya.
"Sempat iya, tapi tidak sejauh itu. Kamu bisa menghapus dan mengganti jejak ini dengan jejakmu malam ini," pinta Anjani.
Tatapan Mario melembut. Dia mengangguk. Ditatapnya sekitar untuk mencari kain penutup kepala Anjani. Dalam hati, Mario merutuki Daniel yang sudah melecehkan Anjani.
"Sekarang sudah cantik lagi." Mario selesai membantu Anjani memakai hijabnya lagi.
Anjani tersenyum sambil tetap menatap bola mata Mario.
"Sayang, ayo kita pulang. Alenna, ayah dan mommy sudah menunggumu," ajak Mario. "Ada berita baik. Besok Alenna dan Rangga akan menikah," imbuhnya.
"Alhamdulillaah," sahut Anjani penuh syukur dengan berita baik yang dibawa Mario.
Anjani mengangguk. Senyum Anjani merekah. Anjani dibimbing Mario keluar dari ruang penyekapan lantas menuju mobil dan pulang ke rumah.
Bersambung ....
__ADS_1
Suka? LIKE-nya dong buat author. Terima kasih buat kakak-kakak yang sudah vote dan memberi tip koin untuk author. 😘
Hayuuuuk intipin juga si Meli dan Azka di Jogja. Kunjungi novel Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Jangan sampai ketinggalan update terbaru kami. Dukung dan tinggalkan jejak komentar kalian. 😉 Terima kasih.