
Dua pasang mata yang lama tidak saling tatap, pagi itu usai jadwal kelas kuliah kembali bertemu. Tidak ada salam, sapa, atau obrolan di antara keduanya. Hanya sebuah tatapan mata tanpa ada senyum yang menghias di masing-masing wajah. Tatapan mata sekilas itu pun terjadi tanpa disengaja, akibat berpapasan langkah. Hanya berlangsung beberapa detik saja, Mario-Anjani pun kompak membuang pandang setelahnya dan kembali melangkah ke masing-masing tempat tujuan mereka.
"Abaikan saja sikap Mario-Anjani yang seperti itu sampai semua membaik," kata Ken sembari membenahi letak kaca matanya.
Ken yang pagi itu bersama Mario pun membisiki Juno yang memang sedang bersama Anjani dan teman-temannya. Juno hanya mengangguk pelan, lalu menepuk-nepuk bahu Ken. Usai membisiki Juno, Ken pun segera menyusul langkah Mario.
Satu bulan telah berlalu sejak keputusan itu. Hari-hari yang semula terasa sesak untuk dilalui, perlahan sudah tidak lagi. Anjani semakin semangat pergi kuliah, bahkan lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan. Semua tugas dari dosen segera diselesaikan, tidak pernah ditunda-tunda seperti yang sempat terjadi sebelumnya.
Anjani tidak seorang diri. Ada teman-teman yang pengertian dan selalu mendukungnya. Apalagi niatan Anjani untuk kembali fokus kuliah juga sejalan dengan niatan Berlian. Alhasil, sering pula Berlian menemani Anjani di perpustakaan. Tentu saja, dalam aktivitas itu Meli hampir tidak pernah absen untuk ikut bersama dengan dua teman perempuannya itu.
Dika dan Juno sesekali juga ikut-ikutan nimbrung, mengekori Anjani, Berlian, dan Meli ke perpustakaan. Meski pada kenyataannya Dika dan Juno lebih sering pamit pulang lebih dulu lantaran memang kurang berminat mengunjungi perpustakaan. Dika dan Juno memang tergolong mahasiswa cerdas. Namun, mereka berdua lebih suka belajar dengan media digital daripada buku-buku tebal.
“Anjani … ikut lagi boleh, ya?” tanya Juno.
“Ya bolehlah. Masa iya aku ngelarang buat ikutan belajar di perpustakaan,” kata Anjani.
“Yaelah. Paling-paling nanti pamit pulang duluan,” celetuk Meli.
“Stt, Mel. Sudah! Jangan mulai, nanti ribut lagi!” Berlian mengingatkan.
“Iya, nih. Meli protes melulu,” sahut Juno yang mendengar perkatan Berlian. “Eh, Dika. Ayo, ikut juga! Sekalian ngerjain tugas dari Pak Nizar,” ajak Juno.
Dika memberi isyarat tangan pada Juno untuk menunggu sebentar. Dika sedang berbalas pesan dengan pelanggan cokelat batangannya. Rupanya bukan hanya Juno yang menangkap isyarat itu, Anjani, Berlian, bahkan Meli pun ikut-ikutan menunggu Dika.
“Ada pesanan, ya?” tanya Anjani sambil melangkah ke samping Dika.
“Iya, nih! Sorry, aku nggak bisa gabung, ya!” ujar Dika.
“Yah, aku ganteng sendirian, dong!” protes Juno yang merasa dirinya akan menjadi laki-laki seorang diri dalam kelompok itu. “Aku balik aja, deh!” ujar Juno pada akhirnya.
“Hahaha, nyerah juga akhirnya!” ejek Meli.
Meli memang suka asal bicara pada Juno, tapi Juno memahami bahwa itu semua hanya candaan. Otomatis Juno hanya garuk-garuk kepala saja meski tidak gatal, menanggapi candaan Meli. Sementara Berlian terus terkekeh.
Ya, hubungan Berlian dan Juno sudah membaik. Tidak lagi terlihat seperti bermusuhan. Berlian sudah merelakan Juno untuk Alenna. Meski demikian, Berlian masih dalam tahapan masa move on, agar tidak selalu ingat pada perasaan masa lalu yang sempat disematkan pada Juno dulu.
“Dika, kamu tinggal pergi aja. Semoga makin laris dagangannya,” kata Anjani.
“Makasih, Anjani. Aku pamit dulu. Bye, semua!” pamit Dika.
Dika pun pergi meninggalkan teman-temannya. Awalnya Dika melangkah ditemani Juno, lalu berpisah di parkiran.
***
Tas ransel segera diganti dengan tas kecil biasa sesaat setelah Dika sampai di tempat kos. Lima kotak berukuran sedang berisi cokelat-cokelat batangan pesanan pelanggan telah siap untuk diantarkan. Namun, Dika masih menunggu alamat pemesan yang tadi mengiriminya pesan singkat via whatsapp.
“Lama banget, sih? Jangan-jangan ini prank!” duga Dika.
Tetiba perut Dika keroncongan. Biasanya Dika mampir dulu ke warung dekat kampus untuk membeli nasi bungkusan, tapi tadi Dika tidak sempat kepikiran untuk mampir membeli makanan.
Seketika sebungkus mie instan terasa memanggil-manggil Dika, meminta untuk segera memasaknya. Gerak cepat, Dika pun memasak mie instan tersebut ditambah dengan sebutir telur mata sapi.
Dua puluh menit berlalu, Dika telah selesai menyantap mie instan dan telur mata sapi yang telah dimasaknya tadi. Perutnya pun sudah tidak lagi keroncongan. Selesai dengan urusan perut, Dika kembali melihat smartphone miliknya. Ternyata ….
“Loh, tiga panggilan tak terjawab? Aduh, kenapa aku lupa kalau HP masih mode senyap! Duh, pelanggan bakal ngamuk, nih!”
Dika panik lantaran melewatkan panggilan telepon dari pemesan cokelatnya. Jemari tangan Dika segera bergerak cepat untuk mengirim pesan pada si pemesan. Baru beberapa kata saja, tiba-tiba si pemesan menelepon lagi. Kali ini Dika dengan segera menerima panggilan suara itu.
“Halo,” sapa Dika via telepon.
__ADS_1
“Dika …. Lama banget sih angkat teleponnya!” protes pemesan.
Dika merasa tidak asing dengan suara pemesan cokelat. Namun, tetap saja Dika masih berhati-hati untuk tidak menebak, khawatir tebakannya salah.
“Woi, Dika! Kok diam, sih? Masih di situ, kan? Aku Alenna,” seru si pemesan cokelat yang ternyata adalah Alenna.
Dika seketika terkejut. Dika baru saja ingat, beberapa hari lalu Alenna bersama Juno memang menemuinya. Alenna juga mengatakan bahwa akan memesan cokelat dalam waktu dekat. Dika juga ingat saat itu Alenna menyuruhnya menyimpan nomor telepon milik Alenna, tapi Dika lupa.
“Hahaha. Iya Alenna, maaf. Jadi kamu yang pesan cokelatnya. Mau diantar ke mana, nih?” tanya Dika pada akhirnya.
“Tolong antar ke kantor saja, ya. Sekalian nambah dua lagi. Ini Pak Bos Leon ikut-ikutan pesan, mau diberikan pada teman ceweknya yang mau ke kantor katanya. Masih bisa nambah, kan?” tanya Alenna.
“Bisa banget. Aku langsung meluncur sekarang. Nanti kalau sudah sampai di kantormu aku telepon lagi,” jelas Dika bersemangat.
“Oke. Aku tunggu,” jawab Alenna.
Sambungan telepon terputus. Dika melonjak kegirangan lantaran cokelat-cokelatnya laku dan laris dibeli Alenna. Segera Dika mengambil dua kotak cokelat lagi, membungkusnya, lalu menjadikan satu dengan kotak-kotak cokelat sebelumnya. And now … tujuh kotak cokelat siap diantarkan.
***
Baru saja Dika memarkir motornya di area parkir khusus tamu. Usai meletakkan helm, Dika mengambil kotak-kotak cokelat yang sudah diletakkan dalam paper bag berukuran besar. Dika sedikit merapikan hiasan pita di bagian luar paper bag sebelum akhirnya mulai melangkah menuju dalam kantor.
Sembari melangkah, Dika memperhatikan dari jauh dua security yang berjaga persis di depan pintu masuk kantor. Dika sedikit terheran kenapa ada begitu banyak penjagaan. Padahal di pos security juga sudah ada dua penjaga. Barulah Dika tahu tentang alasan penjagaan itu setelah dia sampai di depan pintu masuk kantor.
“Maaf, bisa sebutkan nama dan keperluannya?” tanya salah satu security.
“Dika. Mau mengantar pesanan cokelatnya Alenna dan Pak Leon. Saya telepon saja ya, biar ambil sendiri di sini?” tanya Dika.
“Oh, maaf. Silakan Anda boleh masuk. Tadi Nona Alenna sudah berpesan,” terang security lainnya.
Dika tersenyum lega mendengar penuturan security. Dika pun mulai melangkah ke dalam kantor tersebut. Baru dua langkah, Dika berhenti, mundur pelan-pelan, lalu kembali menemui security.
“Maaf, Mas. Untuk mencegah awak media yang nekat meliput berita. Pasti Mas Dika ini sudah mendengar juga kan apa yang ada di berita beberapa waktu lalu?” tanya salah satu security.
“Hus! Kenapa malah menjelaskannya. Ah, kau ini!” protes security lainnya.
Dika hanya manggut-manggut. Meski Dika memahami betul dan memang tahu pemberitaan yang dimaksud, tapi Dika enggan membahasnya lagi. Segera Dika berterima kasih dan melanjutkan langkah menuju ruang kerja Alenna.
Sesampainya di depan ruang kerja Alenna, Dika segera menelepon Alenna. Dika tidak enak hati jika langsung masuk ke dalam ruangan kerja Alenna.
“Hai, Dika. Mana cokelat-cokelatku?” tanya Alenna bersemangat begitu keluar dari ruangannya.
“Ini,” kata Dika sembari menyerahkan paper bag berisi cokelat-cokelat yang telah dipesan.
Kotak-kotak cokelat segera dikeluarkan dari paper bag oleh Alenna. Satu kotak cokelat dibuka perlahan, dan langsung dicomot begitu saja. Satu gigitan besar, dan yummy …. Alenna menikmati rasa manis-gurih cokelat yang lumer di mulutnya.
Dika memperhatikan Alenna dengan ekspresi wajah aneh. Terlihat jelas oleh Dika, wajah Alenna belepotan cokelat. Tidak hanya itu, mulut Alenna juga terlihat penuh oleh potongan-potongan cokelat yang telah digigit.
Juno suka sama cewek bule model begini? Cantik sih, tapi agak aneh, batin Dika
“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Alenna setelah menelan cokelat-cokelat yang dicomotnya.
“Tidak, kok. Haha ….” Dika tertawa untuk menghilangkan pikiran yang tidak-tidak.
“Oh, iya. Ini …. Aku bayar. Tidak perlu kembalian. Anggap saja ongkos kirim dan bonus keramahan penjual,” terang Alenna sembari kembali mencomot sebatang cokelat lainnya.
Dika terlebih dulu menyimpan uang tersebut di dalam dompetnya. Hati Dika senang luar biasa karena dagangannya laris manis.
“Wow, enak-enakan makan cokelat di sini rupanya,” tegur Leon yang tiba-tiba keluar dari ruangan kerjanya.
__ADS_1
Leon melihat ke arah Dika, lalu tersenyum padanya. Senyuman itu segera dibalas dengan senyum ramah dari Dika.
“Nih, cokelat pesananmu! Udah aku bayarin juga dan tidak perlu berterima kasih. Em, itu cokelat buat siapa, sih?” tanya Alenna.
“Buat Vina. Sebentar lagi dia datang. Nanti biar aku kenalkan padanya. Oh ya, Vina juga kenal baik dengan Mario, lho. Bahkan mereka sempat dekat,” terang Leon.
“Hm? Benarkah?” Alenna terheran dengan penjelasan Leon karena merasa tidak pernah tahu tentang itu.
Dika yang menangkap penjelasan itu pun sempat tertarik untuk tahu lebih lanjut. Namun, dipikir-pikir lagi untuk apa Dika melakukan itu. Juga, semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan Dika. Alhasil, Dika pun memutuskan untuk acuh.
“Kalau gitu aku pamit, ya. Alenna, terima kasih!” ujar Dika.
“Iya-iya. Kapan-kapan kamu jual es jeruk dalam wadah plastik juga, dong. Pasti aku bakalan pesan tiap hari." Alenna mengusulkan.
“Hehe. Boleh juga idenya. Oke, aku pamit. Terima kasih,” ucap Dika.
“Hati-hati. Salam buat Junoku tersayang!” seru Alenna sembari melambaikan tangan dan tersenyum ceria.
Alenna merapikan cokelat miliknya, lalu nyengir kuda. Tampak deretan gigi dengan noda-noda cokelat saat Alenna nyengir kuda, membuat Leon tak bisa menahan tawa.
"Hahaha." Tawa Leon pecah, tak tertahankan.
"Terus aja ketawa sana. Bye!" seru Alenna sambil meninggalkan Leon yang masih terus tertawa.
Sementara itu, Dika.
Dika berdiri santai sambil menunggu lift terbuka. Angka digital lengkap dengan anak panahnya sebagai penunjuk lantai lift terus diperhatikan. Sesekali Dika berdendang, demi mengusir kesendirian menunggu di depan pintu lift itu.
Ting!
Lift pun terbuka. Dan ... seketika bola mata Dika melebar, mulutnya pun sedikit menganga. Dika mematung di tempatnya, terpesona dengan sosok cantik di depannya.
Sosok cantik berambut sebahu itu melangkah keluar dari lift. Dika terus memperhatikannya. Terasa pula debaran jantung yang tanpa permisi lebih dulu tiba-tiba sudah dag-dig-dug saja. Debaran itu terus terasa seiring wajah yang mendadak jadi merona.
Sosok cantik berbalut dress motif bunga dipadu dengan celana kulot itu pun mendekat ke arah Dika. Lebih mengejutkan lagi, sosok cantik itu pun berhenti persis di hadapan Dika, lalu tersenyum.
"H-hai," sapa Dika sedikit terbata.
Sosok cantik itu masih saja diam sambil tersenyum. Dika tanpa sungkan membalas senyuman itu, lalu memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"A-ada yang bisa saya bantu?" tanya Dika tanpa memudarkan senyumannya.
Saat Dika bertanya seperti itu, tiba-tiba saja senyum sosok cantik itu pun memudar. Wajahnya seketika ketus dan menyuruh Dika untuk minggir karena menghalangi jalannya.
"Minggir! Kau menghalangi jalanku!" seru sosok cantik itu.
Dika menyesal sempat terpesona pada wajah dan penampilan modis wanita di hadapannya itu. Sekilas Dika berpikir, hati wanita cantik di depannya itu tak secantik parasnya.
Dika segera menggeser langkah, agar sosok cantik itu bisa leluasa lewat. Segera Dika masuk ke dalam lift dan memencet tombol ke arah lantai dasar. Sesaat sebelum pintu lift tertutup, Dika sempat mendengar Leon menyapa sosok cantik itu.
"Vina, hai! Cepat ke sini!" seru Leon pada sosok cantik itu.
Yang dipanggil pun segera melambaikan tangan, terlihat ceria, dan berlarian kecil menuju ke tempat Leon.
"Hm? Vina?" gumam Dika, dan pintu lift pun tertutup.
***
Bersambung ....
__ADS_1