
Tinju yang dilayangkan Juno ke wajah Mario telah menyisakan luka lebam yang cukup sekali terlihat. Takut membuat khawatir orang di sekitar, Mario pun memutuskan untuk izin tidak masuk kerja ataupun kuliah. Mario memilih istirahat di rumahnya setelah ditemani Anjani ke dokter untuk mendapat obat pereda nyeri dan salep penyamar lebam.
Usai mengantar Mario pulang, Anjani yang memang sejak awal ditemani Meli dan Berlian pun pergi kuliah bersama mengendarai mobil Berlian. Tentu saja Berlian menutup toko bunga Kak Lisa lebih dulu sebelum pergi ke kampus bersama teman-temannya. Meski Berlian dalam suasana hati yang buruk, tapi dia tetap mengemudikan sendiri mobilnya. Ya, memang tidak ada pilihan lain lagi. Itu semua karena Anjani dan Meli tidak bisa menyetir mobil.
Sesampainya di kampus, saat di parkiran terlihat Juno baru saja memarkir motornya. Anjani, Meli, Berlian dan Juno memang ada kelas mata kuliah yang sama saat itu. Wajar saja bila mereka bertemu. Juno sempat menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan Anjani, Meli, dan Berlian. Juno hanya memandang sekilas ke arah Anjani, lalu berganti memandang ke arah Berlian. Cukup lama Juno melihat ke arah Berlian, seolah ada rasa tidak enak dalam hatinya. Namun, Juno pun akhirnya berlalu juga, mendahului menuju kelas.
“Berlian, kamu harus bersikap biasa. Jangan sampai teman-teman yang lain tahu kalau kamu habis ditolak Juno,” kata Meli.
“Hus, Mel. Gitu amat sih bilangnya. Lihat, tuh! Ekspresi wajah Berlian makin buruk!” seru Anjani sambil sedikit berbisik ke telinga Meli, memberi kode sambil menunjuk ke wajah Berlian.
“Ups. Maaf,” kata Meli kemudian.
“Sudah-sudah. Lebih baik kita segera ke kelas. Nanti keburu keduluan dosen datang,” saran Anjani.
“Ayo,” jawab Berlian lemah, lalu melangkah menuju kelas.
Mata Kuliah Pak Koko dimulai. Cara mengajar Pak Koko yang memang asyik membuat mahasiswa antusias mendengarkan bahkan aktif menjawab saat ada pertanyaan. Anjani dan Meli mengikuti mata kuliah dengan penuh perhatian, tapi tidak dengan Berlian. Sedari tadi Berlian terus-terusan melihat ke arah Juno yang sengaja memilih tempat duduk paling depan.
“Sst, Mel. Lihat, tuh!” kode Anjani pada Meli agar melihat ke arah Berlian yang melamun sambil pandangan matanya tertuju ke arah Juno.
“Ck. Gimana, nih. Nggak tega lihatnya,” kata Meli setengah berbisik.
“Ehem!” dehem Pak Koko sedikit mengagetkan Meli dan Anjani.
Seketika Meli dan Anjani kembali memperhatikan mata kuliah Pak Koko. Sesekali coretan tangan menghiasi buku catatan kuliah saat ada hal penting yang disampaikan oleh Pak Koko. Anjani dan Meli memang antusias mengikuti mata kuliah Pak Koko. Namun, hingga detik ini Berlian masih saja tidak bergairah untuk mengikuti mata kuliah.
“Cukup sekian mata kuliah kali ini. Ada pertanyaan?” tanya Pak Koko setelah selesai menjelaskan materi kuliah.
Sebagian besar mahasiswa di kelas mata kuliah Pak Koko menjawab tidak. Memang penjelasan Pak Koko sangat mudah dipahami oleh mahasiswa di kelasnya, karena Pak Koko sering menggunakan bahasa ala mahasiswa sehingga begitu mudah merasuk ke pikiran mahasiswanya.
“Baiklah kalau begitu. Sebelum Bapak akhiri, ada pesan untuk kalian semua. Tidak hanya satu-dua tahun Bapak menjadi dosen, mengajar mahasiswa. Bapak sampai terbiasa melihat karakter mahasiswa yang memang ada begitu macam rupanya. Masa-masa bangku kuliah memang indah, ya. Selain kalian belajar mendalami materi di jurusan yang kalian pilih, kalian pun belajar mendewasakan diri, mandiri, dan banyak lagi. Bapak juga tahu, ada pula di antara kalian yang tidak hanya memilih untuk fokus kuliah, tapi juga mengizinkan hati untuk merasakan cinta. Bukan begitu?” tanya Pak Koko berniat memancing reaksi mahasiswanya.
Sebagian besar mahasiswa di kelas tersebut mulai gaduh. Ada yang langsung berteriak membenarkan pertanyaan Pak Koko, ada yang kemudian saling lirik teman di sebelahnya dan berujung tawa, ada pula yang berseru ‘cie-cie’ karena memang di kelas tersebut ada pasangan mahasiswa yang baru saja memutuskan untuk bersama menjalin cinta.
__ADS_1
Tidak ketinggalan, Anjani mendadak senyum-senyum sendiri. Senyum Anjani langsung ditangkap oleh Meli dan segera mendapat godaan kata ‘cie’. Di tengah kegaduhan, hanya Berlian dan Juno yang terdiam. Berlian masih saja melihat ke arah Juno di deretan bangku paling depan. Sementara Juno hanya terus memperhatikan Pak Koko tanpa bereaksi berlebihan.
“Oke. Tenang-tenang! Bapak akan melanjutkan,” kata Pak Koko memberi instruksi agar mahasiswanya kembali mendengarkan.
“Merasakan cinta itu hal wajar. Yang membuatnya tidak wajar itu apabila kalian bereaksi berlebihan. Sikapi semua dengan sewajarnya, tidak perlu berlebihan apalagi dilebih-lebihkan. Ingat, kehidupan itu bukan hanya tentang cinta,” jelas Pak Koko dengan bijak.
“Kalau putus cinta atau ditolak cintanya bagaimana, Pak?” tanya salah satu mahasiswa, tiba-tiba nyeletuk.
“Coba sikapi dengan bijak. Buka hati, pikiran, dan jangan sampai bertingkah bodoh apalagi sampai menyakiti diri sendiri atau orang lain. Pahami keadaan, ikhlashkan, dan ambil hikmahnya. Saat hati rela melepaskan cinta masa lalu yang tidak bisa bersatu, sesudahnya akan ada cinta lain yang lebih indah di luar sana. Cinta dari seseorang yang memang telah dipersiapkan untuk menemani kisah hidup hingga masa tua tiba,” jawab Pak Koko kembali bijak.
Kata-kata Pak Koko mengundang reaksi antusias dari mahasiswanya. Mendadak para mahasiswa semakin mengidolakan Pak Koko dan memberinya gelar dosen favorit. Pak Koko tidak hanya menguasai materi kuliah, tapi beliau juga memahami mahasiswanya.
“Pak, mau bertanya satu lagi, Pak. Boleh?” tanya Meli yang tiba-tiba sudah mengangkat tangannya.
“Silakan,” jawab Pak Koko mempersilakan Meli untuk menyampaikan pertanyaannya.
Sebelum itu Meli melirik ke arah Juno, kemudian tanpa basa-basi lagi mengajukan pertanyaannya pada Pak Koko. “Kalau rebutan cinta? Maksud saya, sampai jotos-jotosan karena rebutan mendapatkan cinta seseorang, Pak.”
“Hem. Rupanya sampai ada yang seperti itu, ya. Menurut Bapak, kalau sampai ada adegan seperti yang kamu maksud, jotos-jotosan, itu artinya mata hatinya sedikit terbutakan. Terbutakan oleh apa? Nah, ada banyak hal. Bisa buta karena rasa kecewa yang terlalu berlebihan. Bisa juga karena terbutakan oleh pikiran dan angan-angan yang mungkin sudah terlalu berlebihan pula. Nah, kembali lagi, seperti yang Bapak katakan sebelumnya, sikapi semua dengan sewajarnya. Semua akan bertemu dengan titik temu penyelesaian apabila disikapi dengan tenang, dan dibicarakan baik-baik,” jelas Pak Koko lagi.
Beberapa mahasiswa manggut-manggut setelah mendengar penuturan dari Pak Koko. Rupanya mata kuliah Pak Koko kali ini sungguh berbeda, tidak hanya membahas materi kuliah. Ada sesi tanya jawab urusan cinta pula di akhir jam mata kuliah. Beberapa mahasiswa lain berebut mengacungkan tangan hendak bertanya hal lainnya. Namun, Pak Koko memilih menyudahinya saja. Lagipula jam mata kuliah sudah berakhir juga.
“Sudah cukup, ya. Lama-lama Bapak seperti konsultan cinta saja. Haha. Kalau begitu sekian dari Bapak. Sampai ketemu di mata kuliah selanjutnya. Selamat siang.”
Pak Koko mengakhiri kelasnya. Tepuk riuh mahasiswa mengiringi langkah kaki Pak Koko hingga tak lagi terlihat sosoknya yang memang penuh wibawa. Satu per satu mahasiswa meninggalkan ruangan kelas. Ada yang lanjut untuk menempuh mata kuliah selanjutnya, ada pula yang memilih langsung pulang. Jam mata kuliah mereka memang ada yang tidak sama, meski mereka satu jurusan kuliah.
Anjani mengajak Meli untuk pergi ke rumah Mario. Meli langsung antusias menyambut ajakan Anjani. Bukan tanpa sebab Meli langsung setuju, itu semua karena Meli ingin tahu mewahnya bagian dalam rumah Mario. Meli bahkan langsung membayangkannya saat itu juga.
Berlian tidak berniat untuk ikut. Perasaannya buruk, dan dia ingin menghibur diri dengan membantu Kak Lisa menyelesaikan pesanan buket bunga. Berlian menyampaikan niatannya pada Anjani dan Meli, dan segera mendapat kata penyemangat dari mereka berdua.
“Sst, itu!” Meli memberi isyarat pada Anjani dan Berlian saat melihat Juno berjalan mendekat.
Juno memang berjalan mendekat. Setelah beberapa langkah, sampailah Juno di hadapan Berlian. Juno sempat melirik sekilas ke arah Anjani, tidak lama, lalu kembali melihat Berlian di hadapannya.
__ADS_1
Jarak Juno dan Berlian tidak kurang dari satu meter. Mereka berdua saling berhadapan. Awalnya Berlian hanya menunduk, karena tidak kuasa melihat mata Juno. Namun, saat Juno memanggil namanya, Berlian pun mengangkat kepala dan pandangannya langsung tertuju pada kedua mata Juno.
“Ada apa?” tanya Berlian karena Juno tak kunjung berbicara.
“Cafe Bro-Sis, pukul tujuh malam. Aku tunggu di sana. Mari bicara baik-baik,” ajak Juno.
“Iya,” jawab Berlian singkat.
Anjani dan Meli mendengar percakapan singkat itu. Saat Juno meninggalkan kelas, Anjani dan Meli bergegas mendekati Berlian.
“Berlian, perlu ditemani?” Anjani menawari.
“Anjani, aku tidak ingin Juno menyakitimu di sana kalau kamu ikut. Biar aku sendiri saja,” tolak Berlian.
“Em, kamu yakin?” tanya Anjani lagi.
Berlian mengangguk, kemudian tersenyum agar teman-temannya tidak terlalu khawatir padanya.
“Kalau ada apa-apa hubungi aku sama Anjani, ya. Tidak ada apa-apa sekali pun, kamu tetap harus mengabari aku sama Anjani,” pinta Meli.
“Iya, nanti akan kukabari kalian berdua,” kata Berlian.
Obrolan pun terhenti. Anjani dan Meli berpisah dengan Berlian di depan kelas. Berlian bergegas ke toko bunga Kak Lisa untuk membantu menyelesaikan pesanan buket bunga. Sementara Anjani dan Meli langsung memesan ojek mobil via aplikasi online menuju rumah Mario.
***
“Saat hati rela melepaskan cinta masa lalu yang tidak bisa bersatu, sesudahnya akan ada cinta lain yang lebih indah di luar sana. Cinta dari seseorang yang memang telah dipersiapkan untuk menemani kisah hidup hingga masa tua tiba.”
Pak Koko
***
Nantikan lanjutannya, ya. Dukung author dengan cara like, comment, dan rate5. Vote juga boleh, lho. 😊✨ Terima kasih.
__ADS_1