CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Diperhatikan dan Memperhatikan


__ADS_3

Suasana kehidupan kampus tidak lepas dari mahasiswa, dosen, pembelajaran kuliah, hingga unit kegiatan yang mendukung beragam bakat minat mahasiswa. Tugas berbatas deadline pun turut mewarnai aktivitas perkuliahan. Lebih beragam lagi, lika-liku yang mengiringi perjuangan dalam meraih gelar sarjana pun menjadi pernak-pernik yang begitu berarti dan memberi kesan tersendiri.


Bumbu manis masa kuliah itu beragam. Salah satu di antaranya adalah bumbu cinta yang manisnya sungguh berbeda. Masa kuliah yang indah pun di dalamnya tersuguh kisah cinta. Ada yang menyikapinya dengan serius, beriringan dengan pencapaian perkuliahan. Ada pula yang biasa saja menyikapinya, bahkan ada pula yang mengabaikan dan memilih fokus menyelesaikan perkuliahan hingga gelar sarjana didapatkan. Ya, semua itu adalah pilihan. Pilihan itu dianggap salah ataupun benar, salah-benar itu hanyalah sebuah penilaian.


Tidak akan muncul sebuah pernyataan benar jika tidak diperbandingkan dengan suatu kesalahan.


Seperti halnya kisah Mario-Anjani, yang sempat memilih serius dengan kisah cinta mereka. Namun, pada akhirnya memilih mundur dan kembali berniat memperjuangkan kehidupan yang lebih bermakna di masa kuliah mereka, yakni jalan hijrah.


Anjani, Mario, Meli, Juno, Alenna, Berlian, Ken, Dika, Vina, Leon, Ma, John, Paman Sam, hingga Kak Lisa. Jalinan kekeluargaan, persahabatan, bahkan cinta kasih yang terjalin di antara mereka bukanlah suatu kebetulan. Begitu pula dengan pilihan-pilihan, semua itu bukanlah suatu kebetulan. Itu semua bagian dari takdir dari-Nya, Dia Sang Pemilik Takdir.


Ikhtiarlah semampumu. Biar Allah yang menentukan mana yang terbaik untukmu.


***


“Apa kesimpulan yang aku buat sudah sesuai dengan topik bahasan, Kak?” tanya Berlian pada Ken.


Berlian menggeser posisi laptopnya ke samping kiri agar Ken bisa lebih jelas mengoreksi. Selembar kertas buram dan bolpoin juga diletakkan di dekat Ken, sebagai media jika Ken ingin corat-coret di sana saat menuangkan pemikirannya.


Ken memperbaiki letak kacamatanya lebih dahulu, lalu mulai membaca setiap kalimat yang diketik Berlian pada bagian kesimpulan. Ken terlihat manggut-manggut sebentar, lalu kembali membacanya hingga selesai. Ken sempat menggunakan kertas dan bolpoin yang disodorkan Berlian. Bukan untuk menuangkan pemikirannya, melainkan sekedar untuk corat-coret garis tidak penting demi mengurangi tingkat gerogi yang saat itu Ken rasakan.


"Ehem, sudah bagus. Aku akui bahasamu kaya," jelas Ken sambil kembali menggeser posisi laptop milik Berlian.


"Aku kan ngikutin saran dari Kak Ken. Sering baca buku, jadi kaya deh bahasaku. Hehe. Makasih ya, Kak." Berlian terlihat bahagia.


"Ehem. Sama-sama," jawab Ken sambil kembali memperbaiki letak kacamatanya lagi.


Berlian tidak menyadari kalau sedari tadi Ken sedang berusaha keras mengontrol dirinya agar tidak sampai bertingkah aneh. Jantung Ken berdebar. Dag-dig-dig seiring dehem dan lirikan yang sedari tadi dilayangkan untuk Berlian.


"Sudah selesai, kan?" tanya Dika yang sedari tadi duduk di seberang Ken dan Berlian.


"Tumben banget tanya gitu, sih. Biasanya kamu yang paling semangat kalau ada tugas kelompok seperti ini. Lah sekarang malah pasrah apa kataku saja. Untung ada Kak Ken yang bantuin," protes Berlian.


"Yaelah. Baru kali ini doang. Tuh, subbab latar belakang aku yang buat, kan. Itu terhitung sebagai kontribusi dalam tugas. Daripada tidak ikut sama sekali?" Dika malah membuat perbandingan.


Berlian terdiam. Jarang sekali Berlian melihat Dika bersikap demikian, kurang begitu peduli pada tugasnya. Padahal, biasanya Dika yang paling antusias dalam menyelesaikan tugas-tugas.


"Bro, tumben jutek?" tanya Ken.


"Bawaannya emosi, Kak. Perjalanan ke sini tadi habis ketemu cewek super nyebelin," jelas Dika.


Dika akhirnya curhat juga setelah dipancing dengan sebuah pertanyaan oleh Ken. Melihat Dika yang mulai terbuka, Ken dan Berlian pun memperhatikan curhatan Dika dengan seksama.


"Tadi aku habis ngantar pesanan cokelat di dekat pertokoan ujung jalan sana. Begitu balik ke motor, eh nggak sengaja nyenggol tasnya tuh cewek. Duh, Kak. Masa iya cowok ganteng kayak aku dikira mau nyopet. Parahnya lagi, muka aku yang ganteng ini disiram pakek air mineral." Dika kembali menjelaskan.


"Hahahaha," tawa Ken dan Berlian pecah.

__ADS_1


"Kok kalian ketawa, sih? Harusnya prihatin, dong!" protes Dika.


"Jangan-jangan tuh cewek jodohmu, Dik!" goda Berlian.


"Ogah, deh. Dulu di kantor Alenna ketemu tuh cewek juga sikapnya sombong banget," imbuh Dika.


"Di kantor Alenna? Kamu kenal? Siapa sih namanya?" tanya Berlian penasaran.


"Sepertinya tuh cewek temannya si Leon. Namanya Vina," kata Dika.


"Temannya Leon? Vina?" Ken terkejut begitu nama Leon dan Vina disebut-sebut oleh Dika.


"Kak Ken kenal?" tanya Dika.


Awalnya Ken terdiam, lalu menggeleng sebagai jawabannya.


Apa mungkin itu adalah Vina teman sekelasku dan Mario waktu SMA? batin Ken.


"Assalamu'alaikum."


Sapaan salam membuat Ken, Dika, dan Berlian kompak menoleh ke sumber suara. Terlihatlah paras wajah yang tidak asing bagi mereka. Namun, penampilannya sungguh berbeda. Tubuhnya berbalut gamis tak terawang. Bagian atas berbalut hijab yang terjulur hingga menutupi bagian dada. Senyumnya manis. Sungguh penampilan yang jauh berbeda dari sebelumnya.


"Uwu, cantiknya." Dika terpesona.


"Wa'alaikumsalam, Cantik." Berlian menjawab salamnya.


"Woi, kalian gitu amat, sih!" protes Meli yang segera menjentik-jentiknya jarinya di depan Dika, Ken, dan Berlian.


"Apa'an sih, Mel?" tanya Dika.


"Yang punya penampilan baru bukan Anjani doang. Aku juga, nih. Masa kalian mujinya ke Anjani aja. Pujian untukku mana? Aku juga hijrah, nih." Meli bersungut-sungut.


"Meli, berarti kamu hijrah hanya karena ingin dipuji?" tanya Ken.


Meli seketika diam, lalu nyengir.


"Hayo," kata Anjani menggoda sahabatnya itu.


"Hehe. Ya nggaklah. Udah, batalin aja deh pujiannya." Meli pun menyerah.


Penampilan baru Anjani tidak hanya menarik perhatian Ken, Dika, dan Berlian saja. Beberapa teman mahasiswa yang kebetulan lewat seketika juga spontan menyapa Anjani, bahkan sampai ada yang memuji. Tidak heran, Anjani memang terlihat jauh lebih cantik saat memakai hijab.


"Anjani, kamu beneran hijrah?" tanya Dika.


"InsyaaAllah," jawab Anjani sembari tersenyum.

__ADS_1


"Jadi ikutan seneng nih dengernya. Hei, Mel. Nggak perlu cemberut gitu. Kamu juga cantik dengan penampilan barumu," puji Dika.


"Hehe, makasih Dika." Meli akhirnya tersenyum.


Anjani dan Meli bergabung dengan Dika, Ken, dan Berlian. Obrolan selanjutnya tak jauh dari penampilan baru Anjani dan Meli. Tanpa mereka semua sadari, ada lelaki tampan yang sedang memperhatikan keseruan dan keakraban yang terjalin saat itu. Lelaki itu adalah Mario.


Mario berdiri di samping pot besar dengan daun tanaman yang rimbun. Salah satu daun ditepikan agar Mario bisa lebih jelas memperhatikan. Seuntai senyum pun menghiasi wajah tampan Mario.


"Anjani," gumam Mario.


Lagi-lagi senyum Mario mengembang.


"Astaghfirullah. Aku tidak boleh seperti ini," lirih Mario.


Mario pun berhenti memperhatikan Anjani. Begitu Mario berbalik badan, telah berdiri sosok dosen yang begitu diidolakan di kampusnya.


"Pak Nizar, assalamu'alaikum." Mario lekas menyapa dan bersalaman dengan Pak Nizar.


"Wa'alaikumsalam. Apakah ada yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Pak Nizar.


Mario enggan menjawab dan menjelaskan, tapi di satu sisi Mario tidak mau mendustai perasaan. Alhasil, Mario pun hanya mengangguk sebagai jawaban.


Pak Nizar menepuk-nepuk bahu kiri Mario dengan tangan kanannya. Sembari tersenyum Pak Nizar memberi nasihat untuk Mario.


"Perbanyak istighfar. Jika ingin, maka kamu bisa berbagi cerita dengan saya. Oh ya, kapan kamu menempati kontrakannya?" tanya Pak Nizar.


"Sore ini," jawab Mario.


"Baiklah. Maghrib nanti kita bertemu di mushollah dekat sana, ya. Saya tunggu. Assalamu'alaikum," kata Pak Nizar sekaligus pamit hendak mengajar di kelas mata kuliah.


Mario mengangguk lalu menjawab salam Pak Nizar, "Wa'alaikumsalam."


Astaghfirullaah, batin Mario


***


Jika tadi ada Anjani yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Mario, kini Mariolah yang tidak menyadari bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Juno. Diam-diam Juno memperhatikan Mario yang saat itu sedang memperhatikan Anjani.


Jujur, meski sudah memiliki Alenna sebagai kekasihnya, tapi perasaan Juno kepada Anjani masih tersisa. Anjani dengan penampilan barunya telah mematik api cinta di dada Juno, kembali membara seperti dulu kala. Bukan salah Anjani dengan penampilan barunya, Junolah yang belum bisa seutuhnya melepaskan perasaan cintanya.


Salahkah aku bila masih mencintaimu, Anjani? batin Juno


***


Bersambung ....

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Sembari menunggu lanjutan ceritanya, krisan buat author yaa 😊.


__ADS_2