CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Semakin Dekat dengan Rangga


__ADS_3

Rutinitas kuliah berjalan sebagaimana mestinya. Mendengar penjelasan dosen, kuis, tugas kelompok, paper, bahkan presentasi telah menjadi suatu kebiasaan yang semakin hari semakin mengasah ilmu dan kemampuan Anjani di bidang ilmu ekonomi.


Ruko juga menjadi perhatiannya. Lambat laun Anjani semakin terbiasa membagi waktu antara kuliah dan tanggung jawabnya di ruko. Berminggu-minggu sudah Anjani menggeluti rutinitasnya itu. Anjani pun menyaksikan peningkatan tajam penjualan sepatu-sepatu baik di toko maupun via oderan olshop.


“Mel, tinggalkan sebentar catatan itu. Minum ini!” Anjani menyodorkan segelas es jeruk.


“Heem.” Meli meraih minumannya dan langsung meneguk tanpa memalingkan wajahnya dari layar komputer.


Mimik wajah Meli seketika berubah. Jelas sekali Meli menahan sensasi rasa nyilu.


“Ini es? Pantas dingin!” celetuk Meli. Pandangannya teralihkan dari layar komputer.


Anjani iseng menempelkan wadah es jeruk ke pipi Meli.


“Aw, iseng banget sih. Sini kucubiiiit!” Meli gemas, bersiap mendaratkan satu cubitan ke hidung Anjani.


Anjani terkekeh dan mundur beberapa langkah untuk menghindar. Ceroboh. Maksud Anjani mundur demi menghindar cubitan Meli, eh malah dia jatuh ke dalam pelukan seorang lelaki.


Anjani yang mundur tanpa memperhatikan sekitar langsung menyenggol Rangga yang kebetulan lewat. Anjani menginjak kaki Rangga. Karena pijakan kakinya yang tidak rata dan keterkejutan Rangga membuat Anjani kaget dan salah menentukan posisi kakinya. Anjani terjerat kakinya sendiri dan hampir saja jatuh karena tidak seimbang.


Deg-deg-deg!


Degup jantung Rangga terdengar. Iramanya terlalu cepat. Tubuh Anjani masih ditopangnya. Gadis cantik yang berhasil mengacaukan tidurnya itu sukses membuatnya berdebar-debar. Wajah mereka bisa dikatakan terlalu dekat.


“Ehem.” Dika berdehem dari tempat packing orderan.


Rangga kelagapan dan langsung melepas tubuh Anjani. Rangga melepas tanpa aba-aba, membuat Anjani kembali limbung dan membulatkan matanya. Meli sigap menghambur hendak menahan tubuh Anjani. Sayanganya Meli tidak kuat dan malah ikutan jatuh bersama Anjani.


“Duuuuh!” keluh Meli spontan.


“Kalian ngapain, sih?” Dika yang risih memperhatikan drama yang dilakukan teman-temanya pun meneriaki.


“Em. Kamu tidak apa-apa?” tanya Rangga pada Anjani.


“Tidak apa-apa, Mas.” Anjani menjawab tanpa menoleh pada Rangga.


“Aku juga jatuh, nih! Nggak ada yang nanyain aku jugakah? Mas Azkaaaa, Meli jatuh. Huaaa. Pengen ketemu kamu, Mas. Pengen peluk cium.” Meli melow. Sengaja, membuat pengalihan suasana agar Rangga tidak terlalu fokus mencuri perhatian Anjani.


“Mel. Sudah-sudah.” Anjani menyenggol bahu Meli.


Meli hendak tertawa, tapi sebisa mungkin menahan diri. Misinya berhasil. Rangga tidak lagi fokus pada wajah Anjani.


“Aku bantu Dika dulu. Anjani, hati-hati.” Rangga berlalu setelah memberi sebuah senyuman untuk Anjani.


Anjani membalas senyuman Rangga. Itu membuat Meli sedikit tidak suka. Bukan berarti Meli cemburu atas sikap Rangga pada sahabatnya. Meli hanya ingin Anjani menjaga dirinya agar tidak terjebak cinta segitiga. Mario-Anjani-Rangga. Ahh. Itu tidak boleh terjadi. Meli tidak ingin kisah Mario-Anjani-Juno terulang lagi. Untung saja saat ini Juno sedang menjaga jarak dengan Anjani, kalau tidak entahlah apa yang akan terjadi.


Tidak bosan-bosan Meli mengingatkan Anjani tentang hal ini. Namun, Anjani menganggap semua perlakuan Rangga itu wajar-wajar saja. Anjani yakin bahwa Rangga tidak memiliki perasaan khusus pada dirinya.


“Tenang saja, Mel. Tidak akan terjadi apa-apa.” Anjani meyakinkan Meli.


“Huft.” Meli membuang nafas pelan, kemudian mengangguk.


Pengunjung toko berdatangan silih berganti. Benar-benar Jumat berkah. Pengunjung ruko melimpah. Anjani dibantu Meli bergantian melayani pembeli dengan ramah. Sudah lima belas pasang sepatu yang berhasil mereka jual hingga sore itu.


Anjani tersenyum senang. Dia benar-benar menikmati rutinitasnya. Sesekali Anjani dan Meli juga mengerjakan tugas kuliah. Menyelesaikannya bersama Meli di sela aktivitas menjaga ruko. Pemandangan itu sudah lumrah di sana. Dika dan Ken juga melakukannya. Hanya Mario saja yang tidak seperti itu. Terkadang Anjani begitu penasaran dengan cara Mario membagi waktu antara kuliah, mengurus ruko, bahkan membantu perusahaan sang ayah yang semakin menjamur di banyak kota.


“Setelah aku menikah dengan Mario, apakah dia juga akan membagi waktunya untukku?” Anjani bertanya-tanya dalam hati.


Suara seseorang yang memanggil namanya membuat Anjani tersadar dari lamunan. Anjani mendengarkan dengan seksama, dan kembali dia dengar suara yang memanggilnya. Rupanya Rangga yang memanggilnya.

__ADS_1


“Aku temui Mas Rangga dulu. Sepertinya ada yang penting.” Anjani mengisyaratkan pada Meli untuk istirahat dulu.


“Iya, deh. Aku mau chattingan sama Ratna aja. Atau mungkin kakak ipar. Ibu mertua juga boleh. Atau mungkin .... ViCall Mas Azka. Hehe.” Meli mulai senyum-senyum tidak jelas. Anjani membiarkannya.


Tidak ada pengunjung lagi, sehingga Anjani meninggalkan Meli sendirian di dekat meja kasir. Anjani menemui Rangga dan langsung bertanya keperluan memanggilnya.


Benar. Rangga butuh bantuannya. Ada salah satu pelanggan olshop yang mengajukan protesnya karena warna sepatu yang dikirimkan tidak sesuai dengan pesanan.


“Coba cek riwayat transaksinya,” pinta Anjani.


Rangga menurut dan kembali memeriksa. Sama sekali tidak ditemukan kesalahan. Pengiriman sudah sesuai. Kode yang tertera di riwayat transaksi dengan pembukuan khusus orderan olshop sesuai. Itulah yang membuat Rangga keheranan. Kenapa bisa barang yang diterima konsumen bisa berbeda warna.


“Ada banyak faktor. Bisa saja kode warna yang tertera di box berbeda dengan isinya. Lain kali kita pastikan juga untuk mengecek isinya,” kata Anjani.


Rangga mengangguk-angguk. “Terus ini gimana?” tanyanya lagi.


“Kirimkan saja satu box sesuai pesanan. Tidak perlu retur. Beri juga gift sebagai permintaan maaf. Biar aku balas chatnya. Nanti akan kuberi tahu Mario soal ini.” Anjani mengambil sikap.


Anjani mengambil alih smartphone yang dipegang Rangga. Jemari Anjani lincah membalas chat pelanggan yang mengajukan protesnya. Beberapa menit berlalu, senyum Anjani mulai merekah.


“Alhamdulillaah. Yang ini beres. Tolong dahulukan orderan yang satu ini, ya.” Anjani ramah meminta Rangga.


Rangga mengangguk. Tanpa Anjani sadari, sedari tadi Rangga sibuk mengaguminya. Dadanya bergemuruh. Fakta bahwa Anjani kekasih Bos sama sekali tidak mampu mencegah perasaannya. Rangga tidak menyesalinya, karena perasaan yang mengalir dalam dirinya terasa begitu indah.


“Mas Rangga,” panggil Anjani.


“Hem? Iya?” Rangga yang baru tersadar dari angannya pun mencoba fokus.


“Yakin Mas Rangga tidak perlu satu tenaga bantuan lagi? Biar tugas Mas Rangga sedikit ringan. Mario bilang, Mas Rangga sering kerja sampai larut malam.” Anjani ingin mendengar sendiri penjelasan Rangga.


Rangga tersenyum. Dalam hati Rangga begitu senang karena merasa Anjani begitu memperhatikannya.


“Baiklah.” Anjani tidak bisa memaksa.


Anjani hendak beranjak, kembali ke tempat Meli. Namun, Rangga kembali mengajak Anjani mengobrol. Anjani tampak menikmati obrolannya dengan Rangga. Apalagi, sesekali Rangga menyelipkan humor receh tapi mampu membuat Anjani tertawa. Semakin lama, Anjani semakin akrab dengan Rangga dan Anjani menikmatinya.


Senang sekali melihat wajah ceriamu, Anjani. Bos, maafkan aku yang tak lagi bisa menahan perasaanku. Batin Rangga.


Dika sedari tadi menjadi saksi kedekatan Anjani dan Rangga. Namun, Dika cuek saja. Tidak mau ikut campur dengan urusan hati orang lain. Bagaimana mungkin dia mengurusi hati orang lain, hatinya sendiri saja belum bisa teratasi.


“Anjani, tuh!” kode Dika. Ada pengunjung lainnya.


“Oke. Ke depan dulu, ya.” Anjani pamit.


Rangga terus melihat sosok Anjani hingga tidak terlihat lagi.


“Eheem! Sudah pergi!” celetuk Dika.


“Eh, kamu haus? Nih minum dulu!” Rangga menyodorkan segelas es jeruk.


Dika yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rangga pun memilih acuh. Segelas es jeruk yang disodorkan Rangga diraihnya. Dika tersenyum, berterima kasih dan langsung meminumnya.


Menjelang pukul lima sore, Ken datang. Sebenarnya sudah sejam lalu Ken menyelesaikan kuliah terakhirnya di hari itu, tapi Ken mampir dulu ke toko bunga Kak Lisa. Basa-basi, membeli setangkai bunga sambil menyapa Berlian di sana.


“Kak, Mario mana?” tanya Anjani.


“Sepertinya nanti malam baru ke sini. Dia ke kantor Alenna. Ayahnya yang memintanya. Biasa, urusan bisnis,” terang Ken.


Anjani sedikit kecewa. Beberapa hari ini dirinya tidak bertemu tatap dengan Mario. Komunikasi dilakukan via telepon dan chat jika ada urusan yang mendesak. Anjani memaklumi, posisi Mario memang penting untuk membantu perusahaan ayahnya. Mario begitu bisa diandalkan. Pantas saja jika dibutuhkan banyak orang.

__ADS_1


“Lebih baik kalian segera pulang dan beristirahat,” saran Ken pada Anjani dan Meli.


“Betul. Terutama kamu Anjani. Bukankah kemarin kamu sempat demam lagi?” Rangga datang mendekat sambil membawa sepasang sepatu yang akan dia pajang di rak.


Anjani nyengir. Kemarin Anjani memang sempat demam lagi. Seperti biasa, Anjani terlalu khawatir dengan beberapa hal, terutama kemarin lusa Anjani tidak sengaja berpapasan dengan ayah kandungnya. Ada luka masa lalu yang masih menganga. Membuat Anjani sedikit banyak seringkali teringat dengan rasa perihnya.


“Ta-tapi kemarin kan aku tidak bersikap aneh.” Anjani membela diri.


“Iya, kamu tidak memelukku lagi seperti waktu itu, kok. Untung ada Meli yang sadar dengan kondisimu.” Rangga tersenyum manis mengingatkan Anjani dengan kejadian kemarin.


“Sudah, nggak perlu dibahas. Itu sudah kemarin. Sekarang sudah hari baru. Besok pun akan menjadi hari baru. Akan ada langkah dan kebahagiaan baru.” Meli berapi-api.


“Aku suka sekali melihat Meli yang bijak seperti ini,” puji Anjani.


Meli mendekat dan berbisik di telinga Anjani. “Semisal aku tidak bersamamu di ruko ini, jaga dirimu baik-baik. Jangan dekat-dekat Kak Rangga. Kalau ada gejala demam langsung hubungi Kak Mario, kalau bisa jangan datang ke ruko.”


“Insya Allah. Tapi kan jadwal kita selalu barengan. Mel. Pasti bareng sama kamu. Eh, memang kamu ada rencana pergi kemana?” tanya Anjani yang juga berbisik.


“Andai. Ini pengandaian, Anjani Sayang. Andai aku mendadak pergi keluar kota atau mungkin diculik suamiku, kan aku tidak bisa menemanimu. Jadi ingat, jaga jarak dengan Kak Rangga,” bisik Meli lagi.


"Suut. Memang Mas Azka punya niatan mau nyulik kamu? Kapan?" Bisik-bisik berlanjut.


"Kepo kan? Mau tau kapan?" goda Meli, tetap berbisik.


“Hei, kalian berdua ini nggak sopan banget bisik-bisik. Ada dua cowok keren nih di depan kalian. Pasti ngegosip kan barusan?” tuduh Ken.


“Astaghfirullah. Kak Ken suudzon. Udah, yuk pulang aja Anjani!” Meli menarik lengan Anjani.


“Mas Rangga, Kak Ken, kami pulang dulu. Assalamu’alaikum.” Anjani mengikuti langkah Meli.


“Wa’alaikumsalam,” jawab Rangga dan Ken bergantian.


Anjani dan Meli meninggalkan ruko. Meli sengaja membiarkan Anjani dengan rasa keponya. Meli sengaja tidak bercerita banyak agar Anjani terus kepo, sehingga tidak memikirkan hal lain yang tidak-tidak hingga membuatnya demam.


***


Mario tampak lelah. Beberapa hari terakhir Mario sering berkunjung ke ruko saat malam tiba. Kadang tidak berkunjung sama sekali. Begitu banyak yang Mario urus. Dia sudah separuh jalan merampungkan misinya. Mario sudah bisa mengakrabkan diri dengan ayah kandung Anjani. Bahkan, akhir pekan ini Mario telah merencanakan untuk mengunjungi Ma di desa, tentu secara diam-diam sembari mengajak ayah kandung Anjani ikut bersamanya.


“Anjani,” gumam Mario sambil tersenyum.


Mario merindukan sosok wanita yang dicintainya itu. Sudah lama dia tidak bertatap muka. Mengingat Anjani membuat Mario teringat cerita Ken tentang Rangga yang terlihat begitu dekat dengan Anjani saat di ruko.


“Meski aku sempat cemburu pada Rangga saat itu, tapi aku yakin dia tidak akan berani merebut Anjani dariku.” Mario begitu yakin.


Berbanding terbalik dengan pemikiran Mario, Rangga justru telah merencanakan sesuatu. Bukan rencana busuk untuk menjatuhkan bisnis Mario. Rangga hanya berencana untuk lebih dekat dengan Anjani dan mengutarakan perasaannya.


“Selama janur kuning belum melengkung, aku masih punya kesempatan. Lagipula Anjani dan Bos tidak punya ikatan apa-apa. Jadi aku berhak untuk mencobanya. Bila perlu aku akan langsung mengajak Anjani menikah. Aku siap bekerja keras agar bisa menafkahinya,” pikir Rangga di sela aktivitasnya mengecek orderan.


Rangga yang telah lama mengenyam dunia kerja dan lebih sering bergaul dengan orang-orang dewasa tentu membuat pemikirannya lebih matang. Saat dia memutuskan untuk menikahi Anjani pun itu tidak luput dari pemikirannya. Dia sudah memperhitungkannya dengan matang. Rangga begitu yakin sampai-sampai dia lupa dengan kuasa yang dimiliki Mario.


“Sepertinya akhir pekan ini aku harus mengungkapkannya pada Anjani. Iya, lebih cepat lebih baik. Aku akan mengutarakan perasaanku pada Anjani, besok!” Rangga mantap mengambil keputusan.


Bersambung ....


Apakah Anjani akan mengikuti nasihat Meli untuk menjaga jarak dengan Rangga? Apakah rencana Rangga terlaksana? Bagaimana reaksi Mario jika mengetahui rencana Rangga? Ikuti lanjutannya, ya.


Penggemar Meli dan Azka mana nih? Ikuti kisah suami Meli dan keluarganya di novel karya Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung kami selalu ya kakak kakak semua 😉 See You. Barakallah 😊


__ADS_1


__ADS_2