CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Tentang Hati Yang Bahagia dan Hati Yang Merana


__ADS_3

Ma mengeluarkan bahan makanan yang dibawanya dari desa dengan dibantu Anjani. Ada jagung, sayur kangkung, ketela, cabai, kubis, dan beberapa gulung tempe buatan tetangga Ma di desa. Ma dan Anjani meletakkan semua bahan makanan itu dalam wadah cekung yang lumayan lebar.


"Jadi ke sini tamunya?" tanya Ma.


"Sekretaris pribadi ayah Mario saja yang ke sini, Ma. Sepertinya jadi. Kita tunggu saja," jelas Anjani.


"Sambil nunggu, bantu Ma menyiapkan makan siang, ya. Paman kau juga belum makan sepertinya. Potong kecil-kecil kubisnya. Ma akan goreng tempenya," jelas Ma memberi perintah.


Anjani memotong kubis. Saat baru selesai seperempat bagian, smartphone Anjani berdering. Sebuah panggilan masuk dari calon suaminya, Mario.


Dag-dig-dug


Hati Anjani masih saja sering berdebar saat Mario meneleponnya. Padahal panggilan masuk siang itu bukan pertama kalinya. Seiring jantung yang berdebar-debar, dan senyuman Anjani yang mengembang, panggilan masuk itu pun diterima.


"Halo," sapa Anjani.


"Halo, Sayang. Sudah makan siang?" tanya Mario via telepon.


"Em, ini masih masak buat makan siang bareng Ma di dapur," jelas Anjani.


"Sedang masak rupanya. Jangan sampai lupa bumbu ajaibnya, ya." Mario mengingatkan.


Anjani mengernyitkan dahi karena kurang paham dengan perkatan Mario.


"Bumbu ajaib?" tanya Anjani mengulangi.


"Iya, bumbu ajaib. Bumbu utama yang harus ada di setiap masakan," jelas Mario.


"Apa itu?" tanya Anjani lagi.


"Cinta," kata Mario kemudian terkekeh pelan.


Mario terkekeh lantaran bisa menebak ekspresi wajah Anjani yang pasti saat ini pipinya sudah memerah.


"Baik Tuan Raja, akan kutambahkan cintaku ke dalam masakannya," sahut Anjani menanggapi.


"Eit. Wahai permaisuriku, kalau begitu jangan izinkan siapa pun memakan masakan itu selain aku," kata Mario.


"Loh, kenapa?" Anjani belum paham juga.


"Karena cintamu milikku," jawab Mario.


Tawa pelan Anjani terdengar. Anjani baru tersadar bahwa Mario sedang merayunya dengan kata-kata gombal. Namun, tetap saja hati Anjani telah sukses menjadi berbunga-bunga.


"Oh, ya. Aku menelepon karena mau mengatakan sesuatu. Sekretaris pribadi ayahku baru bisa berkunjung ke rumahmu malam nanti. Masih ada yang harus diurus katanya. Tidak apa-apa, kan?" tanya Mario.


"Oh, oke. Tidak apa-apa, kok. Akan kuberi tahu Ma dan Paman Sam. Terima kasih sudah mengabariku," kata Anjani.


"Sama-sama. Aku tutup teleponnya, ya? Kamu jangan lupa makan." Mario mengingatkan.


"Hehe, siap."


Anjani meletakkan smartphone miliknya. Sambil tetap tersenyum, Anjani kembali mengiris-iris kubis.


Senangnya .... Sepertinya keraguan itu perlahan memudar dengan sendirinya, batin Anjani.


***

__ADS_1


Kampus jurusan ekonomi siang itu ramai oleh mahasiswa. Ada mahasiswa yang terlihat baru saja keluar kelas, dan ada pula yang baru memulai kelas. Karena sudah memasuki waktu makan siang, tidak sedikit pula mahasiswa yang menuju kantin, mengantri makanan dan minuman di sana. Beberapa sisi antrian bahkan terlihat mengular.


Pada antrian salah satu minuman dingin, terlihat Meli berada di paling depan. Meli baru saja mendapatkan pesanannya, segelas es jeruk. Segera Meli mencari-cari tempat duduk kosong di sekitar kantin untuk duduk. Akan tetapi, tidak ada satu pun tempat duduk tersisa.


Meli berjalan menjauhi kantin dengan harapan bisa menemukan tempat duduk kosong di salah satu gazebo. Sia-sia, karena semua gazebo terisi penuh siang itu.


"Ah, tumben rame banget, sih!" gumam Meli.


Siang itu Meli memang sendirian, tanpa ditemani Anjani. Meli hendak mengumpulkan tugas kepada Pak Nizar. Ada tugas milik Dika, dan Anjani yang memang sengaja dititipkan pada Meli. Alasannya, Anjani ada perlu karena kedatangan sekretaris pribadi John, ayah Mario guna membahas dan melaporkan persiapan pernikahan Mario-Anjani. Sedangkan Dika, dia kebetulan harus mengantarkan pesanan cokelat-cokelat ke beberapa rumah pelanggan siang itu. Sebagai teman baik, Meli selalu mendukung usaha teman-temannya.


Keceriaan Meli juga berimbang dengan baiknya hati. Meli dengan senang hati bersedia membantu teman-temannya mengumpulkan tugas-tugas itu ke Pak Nizar. Lagipula, Meli antusias lantaran merasa memiliki kesempatan untuk bisa mengobrol dengan dosen baru yang mendadak jadi idola di kalangan mahasiswi, yaitu Pak Nizar.


"La ... lala ... lala. Nah, bukankah itu Juno?" gumam Meli dengan ceria.


Terlihat Juno sedang duduk di bangku memanjang di dekat salah satu pohon yang tidak terlalu rindang. Ada sedikit sinar matahari yang menyinari bagian pinggir bangku sehingga terkesan panas. Pantas saja tidak ada yang berebut untuk duduk di bangku tersebut. Hanya Juno seorang yang rela duduk sedikit panas-panasan di sana.


Meli mendekat ke bangku panjang tempat Juno duduk. Meli iseng langsung menempelkan bagian gelas minuman dingin ke pipi kanan Juno, membuat Juno tersentak kaget dan menghindar.


"Dingin, woy! Ah, Meli. Ngagetin aja, sih!" protes Juno.


"Lagian kelihatan serius amat, sih. Ngapain?" tanya Meli.


Saat itu Juno memang terlihat serius menatap layar smartphone-nya. Di samping Juno tergeletak beberapa lembar kertas.


"Aku mau ngumpulin tugas ke Pak Nizar. Ini baru selesai," jelas Juno.


"Sama, dong. Ini aku mau ngumpulin tugas juga, sama punya teman-teman. Mau bareng ke ruangannya setelah Pak Nizar selesai ngajar?" Meli menawarkan.


"Ngapain nunggu Pak Nizar selesai ngajar? Bukankah sama Pak Nizar disuruh mengumpulkan di mejanya?" tanya Juno memastikan bahwa dia tidak salah mendengar informasi pengumpulam tugas.


"Heleh. Mau modus, ya. Meli ... Meli. Terserah aja, deh. Nih, kalau gitu aku titip juga!" pinta Juno dan langsung meletakkan kertas tugasnya jadi satu dengan tumpukan kertas yang dibawa Meli.


"Loh, loh. Lah main nitip aja, memang mau buru-buru kemana, ha?" tanya Meli terheran.


Juno mendadak tersenyum saat mendengar Meli bertanya seperti itu. Dehem pelan terdengar sebelum Juno memberi tahu Meli tentang rencananya siang itu.


"Aku mau kencan," jawab Juno dengan penuh percaya diri.


"What? Nggak salah denger, nih?" tanya Meli. "Sama siapa, Jun?" imbuh Meli.


"Ya sama pujaan hatiku," kata Juno mantap.


Drrt ... drrt ... drrt.


Smartphone Juno bergetar. Ada sebuah pesan masuk. Melihat nama pengirim pesan, Juno seketika tersenyum sembari mengirim pesan balasan untuk pengirim pesan.


"Kepo, kan?" tanya Juno setelah selesai mengirim pesan balasan.


"Bangetlah. Cepat beri tahu. Berita heboh, nih. Teman-teman yang lain kalau tahu pasti juga bakal heboh," tutur Meli.


"Ya-ya, itu pasti. Juno tampan ini kan punya banyak penggemar, nggak kalah sama jumlah penggemarnya Mas Mario." Juno membanggakan dirinya.


"Huh, PD banget. Yaudah, cepat beri tahu siapa cewek itu. Hebat benar tuh cewek bisa langsung menggantikan posisi Anjani di hatimu," terang Meli, dan seketika dia tersadar dengan ucapannya. "Eh, sorry. Nggak bermaksud," imbuh Meli, dan Juno sama sekali tidak tersinggung dengan perkataan Meli.


"Tunggu di sini. Sebentar lagi dia datang," jelas Juno.


Bangku panjang yang bagian tempat duduknya sedikit terkena panas matahari itu kini tidak hanya diduduki Juno seorang. Ada Meli yang duduk di sana, meminum es jeruknya, sembari menunggu pujaan hati yang dimaksud Juno.

__ADS_1


Sepuluh menit berlalu, akhirnya yang ditunggu pun tiba. Terlihat Alenna dengan pesona cantik kebule-buleannya berlarian kecil menuju bangku panjang tempat Meli dan Juno duduk. Begitu sampai di bangku panjang, Alenna langsung memposisikan diri duduk persis di samping Juno dan segera menggandeng tangan Juno erat.


Adegan tersebut mengundang reaksi Meli. Otomatis Meli dibuat melongo melihat itu. Meli masih saja melongo saat Alenna menyapa dan melambaikan tangan ke arahnya. Sungguh, Meli tidak pernah menyangka bahwa sang pujaan hati yang dimaksud Juno adalah Alenna.


"Woy, Meli. Hallo. Kok mulutmu terbuka lebar gitu, sih? Kalau ada lalat masuk gimana?" kata Alenna mulai blak-blakan seperti biasanya.


"Meli terpesona dengan wajah cantikmu, Sayang." Juno ikut dalam pembicaraan.


"Aw-aw-aw. Aku suka panggilan itu. Sayang .... Em, mendadak aku jadi malu, tapi suka. Juno, i love you." Alenna malu-malu mengatakannya.


Meli semakin melongo menyaksikan adegan mesra di depannya. Sungguh-sungguh Meli tak menyangka.


"Meli, please. Aku khawatir kalau mulutmu terbuka terus," kata Alenna.


Seketika Meli bisa mengendalikan pikirannya. Meli berdehem pelan, lalu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Jadi, kalian berdua ...." Kata-kata Meli seketika langsung disahuti oleh Alenna.


"Pasangan baru yang sedang dilanda virus merah jambu," jelas Alenna lalu mencubit gemas hidung Juno.


"Oh hei. Kenapa malah aku yang jadi korban pencubitan, nih?" tanya Juno setengah bercanda.


"Habisnya ... hatiku gemas lihat kamu. Tiap hari cintaku makin nambah terus," kata Alenna malu-malu.


"Uwu, so sweet. Ehem, sebaiknya aku tinggal ke ruangannya Pak Nizar saja, deh. Kalian berdua, selamat ya. Da!" pamit Meli.


"Bye-bye, Meli!" ujar Alenna. "And, Juno sayang. Ini aku bawakan makan siang. Tapi ... maaf aku tidak bisa menemani karena disuruh Bos Leon hadir rapat," jelas Alenna dengan wajah memelas.


"Tidak apa-apa, tapi kamu nanti jangan sampai telat makan, ya. Janji?" kata Juno sambil menerima bungkusan makanan yang dibawakan oleh Alenna.


"Sip. Oh, ya. Besok ikut bantuin persiapan pernikahan Mario-Anjani, ya. Em, datang sebentar juga tidak apa-apa, kok. Yang penting nongol," kata Alenna hati-hati seperti bisa membaca suasana hati Juno saat pernikahan Mario-Anjani diungkit.


Juno tidak langsung menjawab. Ditatapnya bungkusan makanan yang tadi dibawakan Alenna, seolah ada pemandangan menarik di sana. Sekian detik, akhirnya Juno pun tersenyum dan mengangguk bersedia.


"Yeee, terima kasih, sayangku. Em, kalau gitu aku pamit dulu, ya." Alenna pamit.


"Yuk, aku antar sampai mobil." Juno menawarkan diri untuk mengantarkan Alenna.


Juno dan Alenna berjalan beriringan menuju parkiran. Tanpa mereka sadari, sedari tadi Berlian memperhatikan.


Cinta yang pernah bersemi untuk Juno di hati Berlian, kini telah layu, bahkan menjelma pedih. Sedari tadi Berlian menahan rasa yang menyesakkan. Meski demikian, tetap saja Berlian tak memalingkan pandang dan malah terus memperhatikan Juno dan Alenna.


"Huft." Hembusan nafas Berlian. "Meski sudah mencoba untuk rela, tapi rasa sakitnya masih saja terasa. Ah, apa yang harus kulakukan untuk bisa move on dari Juno?" gumam Berlian.


"Bolehkah aku membantumu untuk move on, Berlian?" tanya seseorang di samping Berlian.


Berlian yang terkejut mendengar penuturan itu pun seketika menoleh, karena sebelum ini tidak ada siapa pun di sebelahnya.


"Kak Ken?" kata Berlian kaget melihat Ken.


"Hai."


***


Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya 😊✨


Boleh like, rate, komentar apa pun, dan vote sebanyak-banyaknya ❤

__ADS_1


__ADS_2