
Jogja, kediaman rumah Bunda Aisyah, bundanya Azka.
Sayup-sayup kedua mata Anjani terbuka. Ada sedikit rasa kantuk yang masih menggelayuti kelopak matanya. Anjani lekas memperbaiki posisi tidurnya hingga bisa leluasa melihat langit-langit kamar. Mata Anjani mengerjap, berusaha mengusir rasa kantuknya.
Beberapa menit kemudian, Anjani terduduk di atas kasur. Ditolehnya Meli yang masih berselimut mimpi. Anjani tersenyum mendapati sahabatnya itu tertidur dalam keadaan tersenyum. Seolah ada perasaan bahagia yang dibawa serta dalam mimpi indahnya.
"Meli, kamu pasti sedang memimpikan Mas Azka," lirih Anjani seraya tersenyum.
Untuk sesaat, Anjani teringat curhatan Meli sebelum mereka berdua terlelap dalam mimpi. Lagi-lagi Anjani tersenyum. Anjani tahu betul bagaimana perasaan Meli saat ini. Anjani yakin, rasa bahagialah yang saat ini dominan menyelimuti hati Meli. Wanita mana yang tidak bahagia saat dilamar oleh lelaki yang didamba.
Anjani pernah berada di posisi Meli, saat Mario memintanya untuk menjadi pendamping hidup. Kala itu Anjani bahagia. Seolah hati dipenuhi taman aneka macam bunga. Lebih bahagia lagi saat Ma, Paman Sam, bahkan keluarga Mario sama-sama mendukung. Ya, kala itu begitu indah. Hingga pada akhirnya pernikahan itu harus batal terlaksana.
"Huft." Anjani menghela nafas panjang. Ada sedikit rasa sesak saat dia mengingat kenangan beberapa bulan lalu, saat dia harus mengambil keputusan dalam waktu singkat, memilih antara menunda pernikahan atau membatalkan. Batal nikah, itulah keputusan yang diambil Anjani saat itu.
"Astaghfirullah. Tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali atas kehendak-Mu Ya Rabb," lirih Anjani seraya memejamkan mata.
Anjani kembali melihat Meli yang masih terlelap. Posisi tidurnya telah berubah, tapi senyum yang menghiasi wajah Meli masih saja sama. Meli benar-benar terlihat bahagia.
Mel, kamu beruntung bisa dipertemukan dengan orang-orang baik. Bu Aisyah, Pak Haris, Via, Farhan, Ratna. Juga Mas Azka yang insyaAllah akan segera menjadi imammu. Batin Anjani.
Anjani ikut senang karena ada yang berniat baik pada Meli. Namun, di satu sisi Anjani khawatir. Kekhawatiran Anjani akan hal yang sama seperti yang dulu pernah dia alami, yakni batal menikah.
Anjani lekas menggeleng-geleng cepat. Dia berusaha mengusir kekhawatiran dalam dirinya dengan memperbanyak istighfar.
"Astaghfirullah. Itu adalah masa laluku. Insya Allah masa depan akan jauh lebih indah. Aamiin," gumam Anjani. "Tapi .... akankah Mario melamarku lagi? dan jika itu terjadi, apakah rasa khawatir ini akan masih tetap ada?" imbuhnya.
"Hoaaam!"
Meli tiba-tiba terjaga. Kedua matanya mengerjap cepat dengan wajah menggemaskan khas Meli. Seketika Meli terduduk karena melihat Anjani terduduk di kasur.
"Anjani, kamu begadang?" tanya Meli. "Kok nggak ajak-ajak sih. Kita kan bisa curcol bareng. Hihi," Meli terkekeh.
"Ish. Siapa yang begadang, sih. Aku baru aja terbangun. Eh, mumpung masih di sepertiga malam, sholat dulu yuk!" ajak Anjani.
Meli terkekeh. Lalu asal main cubit pipi Anjani.
"Kamu mau memantapkan hatimu untuk Kak Mario, ya!" goda Meli.
Balik Anjani kini yang mencubit gemas hidung Meli.
"Aw-aw. Anjani, kok cubit-cubit hidung sih. Nanti kalau hidungku tambah mancung, terus Mas Azka makin suka gimana?" kata Meli setengah merengek ala anak kecil.
"Bagus dong. Hihi. Kamu tuh yang harus memantapkan hatimu buat Mas Azka," kata Anjani.
Meli spontan memegangi pipinya yang saat itu sudah pasti semerah tomat. "Insya Allah hatiku sudah mantap menerima Mas Azka sebagai calon imam. Tapi ya gitu, ayah ngijinin nggak, ya?" Bibir Meli manyun, ada sedikit rasa khawatir di sana.
"Kalau gitu kita sholat dulu, yuk. Sama-sama berdoa agar semua hajat dan niat baik kita dilancarkan," tutur Anjani seraya tersenyum.
Meli mengangguk cepat, tanda setuju. Meli bahkan mendahului langkah Anjani cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi. Anjani hanya terkekeh melihat tingkah sahabatnya itu.
***
__ADS_1
Jember, di kediaman rumah mewah John.
Masih di sepertiga malam. Terlihat Mario masih larut dalam doa-doa. Tangannya menengadah. Begitu khusuk memohon ampunan atas segala dosa dan khilafnya.
"Alhamdulilillaah," ucap Mario dengan senyum teduh menghias wajah tampannya.
Tak ingin cepat-cepat beranjak dari sajadahnya. Mario lekas mengambil Alquran. Surat Ar Rahman, menjadi pilihan untuk dibaca. Akhir-akhir ini Mario seringkali suka membaca surat tersebut. Bahkan Mario dengan sendirinya hafal beberapa ayat pertama surat Ar Rahman.
Tepat setelah Mario selesai membaca Alquran, terdengar salam dan ketukan dari pintu kamarnya. Mario lekas beranjak untuk membuka pintu kamarnya.
"Ayah," sapa Mario.
"Boleh ayah masuk?" izin John.
Mario mengangguk. Lekas dia melebarkan pintu kamarnya dan mempersilakan ayahnya masuk.
John tersenyum melihat sajadah yang masih tergelar di kantai kamar Mario. John begitu bersyukur dengan perubahan baik Mario. Langkah kakiJohn membawanya untuk melihat-lihat isi kamar Mario. Langkahnya lantas terhenti saat melihat ada boneka sapi di sebelah bantal tidur.
"Boneka ... sapi? Sejak kapan putra ayah suka menyimpan benda seperti ini?" John terheran.
Mario lekas mengambil boneka sapi itu dari tangan ayahnya. Mario berjalan mendekati lemari bajunya, dan lekas meletakkan boneka itu di dalam sana.
"Em, pasti ada hubungannya sama Anjani. Iya, kan?" tebak John dengan senyum menggoda. "Tidak perlu disembunyikan, Nak. Ayah tahu karena ayah juga pernah muda sepertimu," terang John.
Mario tersenyum. Mario pun mengambil posisi duduk tepat di sebelah ayahnya, sesaat setelah John duduk di pinggiran kasurnya.
"Dulu saat ayah mengejar cinta ibumu, ayahmu ini lebih aneh lagi. Kakekmu dulu bahkan sering mengomeli ayah karena ayah menyimpan macam-macam benda di kamar ayah." John tersenyum mengenang istri pertamanya, ibu kandung Mario.
"Bunga kering, hehe. Kakekmu marah karena melihat kamar ayah seperti tempat sampah. Ayah tidak pandai merapikan koleksi bunga kering yang ayah kumpulkan bersama ibumu dulu," terang John.
Mario hanya mampu tersenyum mendengarnya. Rupanya dirinya masih mendingan hanya menyimpan satu boneka sapi saja.
"Apa kamu rindu ibumu?" tanya John tiba-tiba.
"Sebenarnya iya, tapi kabar terakhir yang Mario dapat, ibu sudah bahagia dengan keluarga barunya. Insya Allah Mario ikhlash dengan semua yang telah terjadi," jelas Mario.
John menoleh, lantas menepuk-nepuk bahu putranya itu.
"Maafkan ayah, Mario. Kamu tidak seharusnya mengalami masa lalu yang ..." Kata-kata John terjeda.
"Jangan terus menyesalinya, ayah. Mulai saat ini ayah harus membuat keluarga baru ayah ini harmonis seperti keluarga pada umumnya. Ayah juga harus berjanji tidak akan pernah selingkuh-selingkuh lagi." Mario serius dengan kalimat terkahirnya.
"InsyaAllah, ayah berjanji. Untuk selanjutnya ayah ingin menikmati kebersamaan waktu bersama Mommy, Alenna, tentunya juga bersama putra ayah yang bisa diandalkan ini. Kamu harus selalu membantu perusahaan ayah sambil tetap menyelesaikan kuliah juga menjalankan olshopmu, ya. Wah, kalau dipikir-pikir lagi anak ayah ini sudah bisa dikatakan sukses, lho. Ayah bangga padamu, Mario!" John bangga.
Mario tersenyum tulus. Dia menikmati obrolan bersama ayahnya. Suasana usai menunaikan sholat malam jadi terasa begitu berkesan.
"Ayah tadi mendengarmu membaca Alquran.
Rasanya hati ayah begitu damai mendengarnya. Surat apa yang kamu baca tadi?" tanya John.
"Surat Ar-Rahman. Akhir-akhir ini Mario begitu suka membacanya," tutur tulus Mario seraya tersenyum.
__ADS_1
"Apa kamu menyiapkannya untuk mahar menikahi Anjani?" tanya John tiba-tiba.
Mario sukses dibuat terkejut. Dia tak menyangka ayahnya itu menghubung-hubungkannya dengan mahar pernikahan.
"Jika kamu mantap mau mempersunting Anjani, bilang ayah. Ayah akan datang lagi ke rumah Anjani, melamarnya untukmu." John meyakinkan Mario.
Mendengarnya membuat senyum Mario seketika merekah. Jantungnya mendadak berdebar-debar saat nama Anjani disebut. Mario senang dengan dukungan yang diberikan padanya. Secara tidak langsung hati Mario semakin mantap saja.
"Em, ayah. Mommy jadi belajar ngaji bareng Anjani, kan?" tanya Mario, menanyakan hal lain demi mengatasi debaran merdu yang melanda dirinya.
"Tentu saja. Bahkan diam-diam Momnymu itu tanya-tanya pada ayah gimana sosok Anjani. Saat tahu Anjani juga jago masak, wuuuu tambah nggak sabar pengen cepet-cepet ketemu rasanya. Selain belajar ngaji, sepertinya Mommy pengen main masak-masakan sama Anjani, hehe." John terkekeh mengingat tingkah laku istrinya saat tahu Anjani suka memasak.
"Alhamdulillaah," ucap Mario.
"Kenapa alhamdulillaah?" John terheran.
"Alhamdulillaah, dengan begitu lampu hijau dari Mommy sudah semakin jelas." Wajah Mario terlihat ceria.
John terkekeh. "Semoga semua dilancarkan, ya. Ayah kembali ke kamar dulu," pamit John.
"Aamiin. Terima kasih, ayah."
Mario melihat punggung ayahnya menghilang di balik pintu. Senyum di wajahnya tak henti-hentinya mengembang. Hati Mario dipenuhi rasa syukur yang mendalam.
***
Begitu John melangkah keluar dari kamar Mario, sudah ada Alenna dan Mommy Monika yang menunggunya.
"Gimana-gimana?" Monika tak sabar mendengar cerita obrolan suaminya dengan Mario.
"Apakah Mario akan segera melamar Anjani?" Alenna bahkan lebih tak sabaran lagi.
"Sabar-sabar. Kita semua harus bersabar. Ayah sudah bisa menangkap sinyal jelas, Mario pasti akan segera melamar Anjani," lirih John, takut Mario mendengarnya.
"Horee. Yee!" Alenna dan Mommy Monika kegirangan, keduanya sampai berpelukan karena terlalu senang mendengar kabar dari John.
"Sst-sst. Sayang, untuk sementara ini biar kamu lebih mengenal Anjani lebih dulu. Belajar ngaji yang serius sama Anjani, ya." Saran John pada Monika.
"Mom, sambil pendekatan sama calon mantu," celetuk Alenna.
"Siaap! Mommy rasa, Mommy punya ide yang bagus, deh." Mommy Monika senyum-senyum sambil memainkan alisnya.
"Wow!" seru John dan Alenna bersamaan.
Bersambung ....
***
Apa sebenarnya ide Monika? Sepertinya John dan keluarganya semakin mendesak Mario untuk segera melamar Anjani lagi, tuh. Lalu, bagaimana dengan Anjani? Apakah masa lalunya itu masih akan menghantui? Anjani juga kepikiran tuh di Jogja sana. Padahal Meli sedang bahagia dengan Azka dan keluarganya. Dukung kolaborasi kami, ya. Baca novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti. Vote, Like, dan tinggalkan jejak komentar kalian. See You 😉.
__ADS_1