
Si profesional telah selesai mengumpulkan bukti-bukti, bersiap menjebloskan tiga pelaku ke penjara. Si tukang potret, si penyabotase ponsel, dan si mantan karyawan mau tidak mau harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka.
"Apa sih yang kamu pikirkan, Sayang?" Mario tidak habis pikir dengan jalan pikiran Anjani yang menginginkan semua pelaku untuk dimaafkan saja.
"Kasihan mereka," lirih Anjani. Wajahnya tertunduk.
Mario menghela nafas perlahan. Bibirnya ditarik membentuk lengkung senyum yang menentramkan. Tatapan mata Mario pada sang istri melembut.
"Ayo, kita pulang!" ajak Mario. "Sebentar lagi sudah masuk waktu sholat jumat," imbuh Mario.
Anjani mengangguk. Kembali dia merangkulkan tangan di lengan sang suami.
Mario-Anjani pulang ke rumah. Tiga pelaku akan diurus oleh si profesional. Ketiganya akan menuju meja hijau atas tindakan pencemaran nama baik. Untuk Leon, tentu akan kembali bertanggung jawab meski dirinya sudah mendekam di penjara.
***
Usai menunaikan ibadah sholat jumat, Mario didampingi si profesional dan kuasa hukum mengunjungi lapas tempat Leon ditahan. Tak disangka. Sungguh tak pernah Mario sangka akan melihat Leon yang bertingkah jauh berbeda.
"Apa yang terjadi pada Leon, Paman?" tanya Mario pada si profesional.
"Dugaan kuat, Leon mengalami gangguan jiwa. Leon terus-terusan menyebut nama Tuan Mario dan Nona Anjani untuk membalas dendam," terang si profesional.
Mario sama sekali tidak terkejut dengan kabar itu. Fakta Leon yang sudah dipenjara tapi masih bisa menyusun rencana balas dendam telah mengubah pandangan Mario pada Leon.
"Tuan Mario dan Nona Anjani tidak perlu risau. Kondisi Leon yang seperti sekarang sama sekali tidak akan memungkinkan baginya untuk balas dendam lagi. Leon juga akan mendapat pendampingan khusus setelah penambahan kasus yang dia ukir hari ini."
"Baiklah, Paman. Terima kasih banyak atas semua bantuannya," ucap Mario.
"Sudah menjadi tugas saya untuk melayani Tuan Besar dan Tuan Muda Mario. Jangan pernah sungkan untuk menghubungi saya," sahut si profesional seraya menunduk takzim.
Hati Mario lega. Namun, masih ada yang mengganjal di pikirannya. Tetiba saja Mario teringat kata-kata Anjani.
"Entah sejak kapan istriku itu menjelma bak bidadari," gumam Mario seraya tersenyum. "Oya, Paman. Mario boleh minta tolong satu hal lagi?" imbuhnya.
"Silakan, Tuan."
Anak si pemotret dan si penyabotase ponsel akan diberi bantuan dana pendidikan hingga ayah mereka bebas dari penjara. Bahkan, Mario memberikan modal usaha untuk sang istri para pelaku agar mereka tetap bisa menjalankan hidup dengan baik sebagaimana mestinya.
"Atas namakan istriku jika mereka bertanya. Darinyalah aku bisa merasakan kebaikan juga," imbuh Mario.
"Sungguh senang bisa bertemu orang-orang baik seperti Tuan Mario dan Nona Anjani. Akan saya bantu mengurus semuanya," sanggup si profesional.
Tujuan selanjutnya adalah ruko. Anjani tengah berada di sana. Mario ingin segera memeluk istri tercintanya itu. Menghujaninya dengan kecupan mesra, lantas memadu kasih bersama.
"Hm, lupa. Di sana tempat kerja." Mario teringat, dan mengurungkan niat penuh cintanya. "Bisa-bisa kena tegur Ken lagi!"
***
Di ruko. Anjani kedatangan Juno. Jarang-jarang Juno berkunjung ke ruko. Setelah Anjani bertanya, rupanya Juno izin hendak bertemu dengan Rangga sebentar.
__ADS_1
"Mas Rangga masih beli makanan buat teman-teman di sini. Tunggu aja bentar," saran Anjani.
"Oke. Em, Anjani. Kamu baik-baik saja, kan? Waktu aku balik dari Jakarta, tiba-tiba saja ada yang mengirimiku foto itu," terang Juno, prihatin.
"Alhamdulillaah aku baik. Suamiku juga baik, dan aku sangat percaya bahwa Mario tidak selingkuh," senyum Anjani. "Kamu ngapain waktu itu ke Jakarta sampai bolos kuliah, Jun?" tanya Anjani.
"Ehm ... aku ..." Juno tampak berpikir.
Juno bingung harus menjelaskannya. Sama sekali dirinya tidak berniat menceritakan kekhilafan dirinya dengan Ranti di apartemen malam itu.
Meski aku pernah dekat dengan Anjani, nggak mungkin juga aku cerita padanya kalau aku habis bermain cinta dengan sahabat baik Alenna. Batin Juno. (Kepo? Baca novel baru author di sebelah ya)
"Apa kamu ketemu Alenna di Jakarta?" tanya Anjani yang tak kunjung mendapat jawaban atas pertanyaannya yang pertama.
"Nggak kok. Aku nggak ketemu Alenna sama sekali. Aku ... A-aku cuma ikut ayah yang lagi sibuk-sibuknya nambah relasi bisnis. Bisnis rukomu sendiri gimana, nih?" Juno mengganti topik.
"Alhamdulillaah. Tim sangat mendukung. Ada dua karyawati, Ken, Dika, juga Mas Rangga yang super rajin kerjanya. Oya, ada Meli juga yang selalu menyumbang ide-ide segar. Tak jarang juga Meli malah ngasih ide desain sepatu terbaru," terang Anjani yang begitu bangga dengan sahabatnya.
Juno mengangguk-angguk. Dalam hati dia senang karena topik telah berhasil dia belokkan.
"Btw, Meli mana? Biasanya tuh anak yang paling heboh kalau lihat aku datang nemuin kamu, hehe." Sejujurnya Juno hanya basa-basi.
"Meli pagi tadi berangkat ke Jogja. Bareng ayah ibunya silaturahmi," terang Anjani.
"Ada Mas Azka juga di sana? Sudah kelar tesisnya?" tanya Juno.
"Ya tentu, dong. Mas Azka kan suaminya Meli. Ya pasti Meli ketemu Mas Azka di sana. Iya, tesisnya Mas Azka sudah selesai," ungkap Anjani.
"Heeee, Jun. Keras banget sih ngomongnya!" tegur Anjani.
Juno kembali terkekeh. Tetiba saja dia teringat begitu saja dengan menit-menit penyatuan nikmat antara dirinya dengan Ranti, malam ketika dia berduaan saja di apartemen Ranti di Jakarta. Detik berikutnya, Juno terdiam. Hingga Juno kemudian merasakan tepukan pelan di bahunya.
"Juno. Apa yang sedang kau bahas bersama istriku?"
"Eh, ada Mas Mario. Ini, Mas. Lagi bahas bikin anak," terang Juno sambil menyalami Mario.
"Kebetulan sekali. Kami berencana akan membuatnya nanti malam," ungkap Mario.
Anjani melotot. Kata-kata sang suami membuat pipinya memerah lantaran malu, meski dirinya sebenarnya selalu mau. Namun, Anjani tidak habis pikir suaminya itu justru terang-terangan di depan Juno. Langsung saja satu cubitan mendarat di perut Mario.
"Aw. Sayang, kamu suka sekali nyubitin aku!" keluh Mario dengan nada menggoda.
Anjani makin gemas dengan tingkah suaminya.
"Hehe. Sudah-sudah. Aku pamit aja deh. Lama-lama di sini bikin aku baper," seru Juno. Bikin aku ingin melakukannya lagi dengan Ranti, batin Juno.
"Loh, nggak nunggu Mas Rangga?"
"Nanti kutelpon aja, deh. Pamit dulu ya. Assalamu'alaikum." Juno pamit.
__ADS_1
Mario-Anjani menjawab salam Juno berbarengan.
"Juno bilang dia habis dari Jakarta lho," terang Anjani.
"Oya? Kalau begitu nanti coba kamu VC Alenna. Siapa tahu Juno sempat ketemu dia. Sst. Sekalian bahas persiapan pernikahan Rangga-Alenna. Bantu Mommy bersiap," pinta Mario.
"Oke siap. Pernikahan mereka jadi bulan depan, kan?" Anjani memastikan.
"Insya Allah. Semoga semua dilancarkan," doa Mario.
Mario mengajak Anjani untuk segera pulang. Setelah skandal yang merusak citra pernikahan mereka, Mario sungguh ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan istri tercintanya.
"Alhamdulillaah. Anak-anak itu jadi terjamin kehidupan dan pendidikannya. Sayangku jenius, solih, dan baik hati deh." Anjani memuji usai Mario bercerita sedikit tentang nasib keluarga si pelaku beserta balasan untuk mereka.
"Peluk dong!" Mario manja, minta hadiah pelukan pada istrinya.
Karena posisi di dalam mobil, Anjani pun langsung memeluk sang suami. Dirinya bersyukur memiliki suami yang pengertian lagi baik seperti Mario.
"Terima kasih, Sayangku. Uhm ..."
Tanpa aba-aba Mario lebih dulu mengikis jarak mereka. Anjani merasakan sensasi lembut nan kenyal itu berulang, semakin lama semakin dalam. Mario-Anjani saling berbalas kelembutan. Hingga kemudian berakhir dengan sama-sama menghirup udara yang sempat mereka tahan.
"Ayo kita pulang! Mommy sudah menunggumu di rumah," ajak Mario.
"Okeey. Pasti Mommy mau ngajak nonton TV malam nanti," tebak Anjani.
"No-no! Tidak malam ini, Sayang. Kamu masih punya tugas," tegas Mario.
Anjani menautkan alisnya. Rasa-rasanya tugas kuliah sudah dirampungkan semua olehnya.
"Tugas kuliahku sudah kukerjakan kok," jawab Anjani dengan polosnya.
Mata Mario terpejam. Kadang dia sedikit gemas dengan sikap Anjani yang kurang peka atas permintaan dirinya.
"Iya, deh. Hm. Nanti kutempelin pengumuman larangan nonton TV untuk malam ini. Di layar TV-nya," ide Mario spontan saja.
"Eh?" Anjani terkejut.
"Ups. Tidak boleh protes, Sayang. Banyak protes nanti jerawatan." Mario menakut-nakuti.
Anjani tertawa ringan. Dia menyerah dan akan membiarkan suaminya itu.
"Dahlah. Pulang saja!" pinta Anjani yang langsung disetujui.
Mario-Anjani pulang ke rumah dengan perasaan bahagia. Tanpa Anjani ketahui, Mario sudah menyiapkan kejutan-kejutan kecil di kamar mereka. Mario berniat menebus rasa bahagia yang sempat keruh akibat ulah Leon beberapa hari ini. Berdua saja dengan Anjani, malam nanti.
Bersambung ....
Semoga suka 💖😘 Tunggu next chapter yaa.
__ADS_1
Hayuuuk kepoin kebersamaan Meli dan Azka di Jogja sana. Akak thor kasih bocoran nih. Mereka lagi mesra tuh berdua. Hihi. Cap cus ke novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR yuk. Dukung karya kami dan tinggalkan jejak komentar kalian. 💖