CINTA STRATA 1

CINTA STRATA 1
CS1 Aku Mencintaimu, Mario


__ADS_3

Skill mengemudi Mario menjelma pembalap profesional. Pandangannya fokus menatap jalanan kota. Salip kanan. Melaju kencang. Terus dilajukan menuju ruko.


“Rangga,” desis Mario. Auranya begitu dingin.


Setir dibanting ke kiri begitu ada mobil yang hendak menabrak mobilnya. Berhasil. Tidak ada hal buruk terjadi. Mobil Mario kembali melaju kencang. Wajah Anjani dan Rangga membayang secara bergantian.


“Aaaah. Rangga!” teriak Mario sambil menambah kecepatan mobilnya.


Hati Mario terbutakan api cemburu. Mario tidak ingin wanita yang dicintainya jatuh ke pelukan lelaki lain. Apalagi laki-laki itu adalah Rangga yang sudah dia percaya.


Lima belas menit berlalu. Mobil Mario diparkir asal-asalan di halaman ruko. Pintu mobil ditutup kasar. Mario melangkah cepat ke dalam ruko.


Langkah Mario seketika berhenti. Dia berdiri mematung. Dilihatnya dengan jelas Anjani dan Rangga berdiri berhadapan dengan jarak satu meter. Anjani tersenyum pada Rangga kemudian mengangguk. Melihat anggukan Anjani, senyum manis Rangga merekah.


"Iya, Mas. Aku bersedia," jawab Anjani.


Mario mendengar jelas kesediaan Anjani. Dada Mario begitu sakit. Senyum wanita yang dicintainya terus tersuguh pada Rangga. Anjani tidak menghentikan senyumannya. Tetap disuguhkan untuk Rangga.


Hati Mario semakin panas. Mario melangkah cepat menghampiri Rangga. Tangan kanan mengepal, siap dilayangkan.


Buk!


“Astaghfirullah!” Anjani terkaget.


Anjani melihat Rangga tersungkur setelah mendapat tonjokan keras di bagian wajah. Berganti melihat Mario, Anjani menyaksikan mimik wajah penuh amarah. Mario terus menatap Rangga penuh kebencian.


“Mario! Apa yang kamu lakukan?” seru Anjani.


Kekhawatiran Anjani semakin menjadi saat mendapati Mario tidak merespon pertanyaannya. Mario terus saja menatap Rangga. Saat Rangga hendak berdiri, kembali Mario menghampirinya. Amarah Mario tersalur melalui kepalan tangan kanannya. Siap mendaratkannya di perut Rangga.


Kali ini Rangga lebih siap. Ditepisnya tangan Mario. Rangga berdiri tegak, lalu membalasnya. Mario tersungkur setelah wajahnya menjadi sasaran kekesalan Rangga.


“Hentikan!” teriak Anjani.


Sia-sia. Mario ataupun Rangga tidak ada yang mendengarkannya. Teriakan Anjani hanya didengar oleh Ken yang masih berdiri di anak tangga. Ken menyaksikan semuanya. Keputusan Ken selanjutnya adalah mencoba memisahkan Rangga dan Mario. Namun, percuma. Tidak ada yang mendengarkan Ken.


“Apa masalahmu?” Rangga menatap Mario dengan kesal.


“Kaulah masalahku!” tegas Mario dengan aura dingin yang masih saja terpancar.


Tidak terima dilabeli sebagai pembuat masalah. Rangga maju dan kembali mendaratkan kepalan tangannya di wajah tampan Mario. Setitik darah menodai ujung bibir Mario.


“Sudah-sudah! Hentikan. Ini kekanakan!” seru Anjani sambil mendesak Rangga mundur menjauhi Mario.


Rangga mundur dengan masih menatap lekat mata Mario. Sementara itu, Ken segera membantu Mario berdiri. Namun, Mario menyuruh Ken agar tidak ikut campur.


"Tenangkan dirimu, Bro. Kemana perginya Mario yang bijak dan berkepala dingin?" Ken bingung melihat sikap Mario.


"Bukan urusanmu, Ken. Menyingkir!" perintah Mario.


Ken tidak pernah melihat sahabatnya semarah itu. Ken tidak punya ide sama sekali untuk mendamaikan mereka.


“Tunjukkan kalau dirimu laki-laki. Lawan aku!” Emosi Mario tak lagi terkendali.


Rangga yang semula mundur, kembali maju. Langkah yang sama ditunjukkan pula oleh Mario. Tanpa bisa dicegah, Mario dan Rangga kembali terlibat baku hantam. Wajah dan perut menjadi sasaran. Keduanya sama-sama bertahan. Tak ada yang merasa kesakitan.


Anjani panik. Berulang kali dia berseru, meneriaki dua lelaki gagah yang sedang beradu. Percuma. Sungguh sia-sia usahanya. Mario ataupun Rangga mengabaikannya. Hingga kemudian, bulir bening mengalir membasahi pipi. Anjani menangis. Dia hampir putus asa.


"Hentikan. Tolong hentikan," lirih Anjani di sela tangisnya.


Tak ada lagi seruan sekeras tadi. Teriakan Anjani terbungkam oleh isak tangisnya. Anjani begitu putus asa menghentikan Mario dan Rangga. Di dekat mereka memang ada Ken, tapi tak lagi ada gunanya mengharapkan Ken untuk membantu menjadi penengah. Ken baru saja tersungkur karena terkena imbas kekesalan Mario dan Rangga.


"Astaghfirullah. Apa yang harus kulakukan?" batin Anjani.


Wajah Mario dan Rangga sudah terlihat kacau. Ada lebam, juga darah segar di dekat bibir. Getir hati Anjani melihat kondisi Mario dan Rangga.


Hingga kemudian, Rangga kembali tersungkur. Dia sudah kualahan, tak lagi sanggup berdiri. Mario yang masih memiliki tenaga untuk menyerang tidak tinggal diam. Mario mendekat dan bersiap melayangkan kepalan tangan.


"Tolong hentikan!"

__ADS_1


Itu seruan Anjani. Anjani yang putus asa memilih untuk menghentikan Mario dengan cara gila. Anjani menghadang langkah Mario. Gerakan tangan Anjani begitu cepat. Tangan kanan Anjani menekan kepala Mario hingga membuat wajah mereka saling bertemu. Detik berikutnya, Anjani memutus jarak bibir mereka.


Mario seketika mematung. Ada rasa hangat yang menjalar. Menenangkan hatinya dengan perlahan. Kepalan tangan Mario pun merenggang. Pandangan mata Mario berganti pada Anjani yang masih saja menciumnya dengan lembut.


Ken memanfaatkan situasi itu untuk membawa Rangga pergi dari ruko. Cepat-cepat dia membawa Rangga ke klinik terdekat untuk mengobati lukanya.


Anjani sudah bisa mengatasi Mario dengan cara yang tak pernah diduga. Cukup lama Anjani menautkan bibirnya dengan Mario. Merasa Mario sudah lebih tenang, Anjani pun melepas. Ditatapnya lekat-lekat mata Mario.


"Aku mencintaimu, Mario." Air mata Anjani kembali mengalir.


"Anjani. Kamu menangis?" Akal Mario kembali.


Anjani tidak masalah dengan air matanya yang terus mengalir. Anjani hanya ingin kesadaran Mario kembali. Tak lagi emosi.


"Aku mencintaimu, Mario." Anjani mengulang kata-katanya.


"Untuk apa kamu mengatakan itu padaku jika kamu sudah menerima cinta Rangga?" Mario ketus.


"Menerima cinta Rangga? Kapan aku melakukannya?" Anjani tampak bingung.


"Bukankah kamu tadi mengangguk, bilang bersedia, lalu tersenyum? Rangga juga ikut tersenyum. Bukankah kamu sudah menerima pengakuan cintanya?" terang Mario.


Anjani mulai memahami situasi. Mario seperti orang yang sedang kesetanan karena cemburu pada Rangga. Mario sudah salah sangka mengartikan apa yang dia saksikan tadinya.


"Mario. Kau bodoh!" ledek Anjani, sengaja.


Mario menaikkan sebelah alisnya karena tidak paham.


"Bodoh? Sejak kapan orang jenius sepertiku menjadi bodoh, Anjani?"


"Sejak kau mencintaiku dengan buta, Mario."


Mario terdiam. Dia mengerti apa yang dimaksud Anjani. Anjani meledek sikapnya yang sembarangan hanya karena cemburu pada Rangga.


"Dengarkan ceritaku baik-baik Tuan Muda Mario," pinta Anjani. Dia memulai ceritanya.


"Aku mencintaimu, Anjani."


Rangga baru saja memberikan panah cinta. Sempat Anjani tertegun karena kaget. Meli benar dengan dugaannya. Namun, Anjani abai dengan nasihat Meli untuk menjaga jarak dengan Rangga. Kini, saat dugaan Meli menjadi nyata, Anjani justru bingung harus bersikap bagaimana.


"Mas Rangga sudah tahu kan kedekatanku dengan Mario?" kata Anjani.


Rangga tersenyum kecut. Dia memang sudah tahu fakta itu. Namun, Rangga lebih memilih untuk tetap mengungkapkan perasaannya.


"Jadi, aku ditolak nih?" tanya Rangga.


"Maaf, Mas. Aku lebih nyaman jika kita berteman." Anjani mengambil keputusan tegas untuk menolak Rangga.


"Huft. Sudah kuduga kau akan menolakku dan lebih memilih Bos."


Rangga terlihat kecewa. Selama ini Rangga hanya sibuk bekerja. Dia baru pertama kali jatuh cinta. Wanita pertama yang berhasil mengusik tidurnya adalah Anjani. Begitu perasaan itu terungkap, justru penolakanlah yang diterima Rangga.


"Baiklah. Kukira butuh waktu untuk move on darimu, Anjani. Kamu wanita pertama yang membuatku jatuh cinta seperti ini. Huft." Rangga menghela nafas dalam.


"Maaf," kata Anjani. Hanya itu saja kata yang ingin dia sampaikan saat ini.


Anjani berdiri, hendak ke lantai atas menyusul Ken dan membantunya. Namun, Rangga mencegah langkahnya.


"Mau kemana?" tanya Rangga tiba-tiba. Kini mereka berdua berdiri berhadapan dengan jarak satu meter. "Apa kamu marah?" imbuh Rangga.


"Aku tidak marah, Mas. Terima kasih atas perasaan Mas Rangga, tapi maaf aku tidak bisa membalasnya."


"Aku mengerti," jawab Rangga singkat.


Beberapa detik mereka terdiam. Anjani masih bersabar meladeni Rangga yang masih sendu, tanpa senyum di wajahnya.


"Anjani, apakah kamu bersedia tetap berteman denganku setelah semua ini?" Rangga penuh harap.


Anjani tersenyum pada Rangga kemudian mengangguk. Melihat anggukan Anjani, senyum manis Rangga merekah.

__ADS_1


"Iya, Mas. Aku bersedia," jawab Anjani.


Belum sempat Rangga mengucapkan terima kasih, Mario lebih dulu datang dengan kepalan tangannya.


Buk!


[Flashback OFF]


Mario terdiam. Dia telah salah sangka. Dia berhutang maaf pada Rangga.


"Astaghfirullah. Apa yang sudah kulakukan pada Rangga?" Perasaan bersalah menjalar.


"Kamu tadi menghajarnya hingga babak belur. Sungguh sikap yang bodoh. Aku pun terkena imbas kebodohanmu. Aku melakukan hal bodoh demi mencegahmu," terang Anjani. Pipinya bersemu jika mengingat kegilaannya.


Untung saja Meli ke Jogja. Kalau ada Meli di sini pasti aku dan Mario sudah diceramahi habis-habisan. Bisa-bisa aku sama Mario disuruh nikah detik ini juga. Batin Anjani.


Senyum mengembang di bibir Mario. Dia mengingat jelas bagaimana cara Anjani menghentikan kegilaannya. Tidak disangka wanita seperti Anjani bisa bertindak di luar dugaan.


"Anjani, apa kamu tadi terpaksa menciumku?" tanya Mario.


"Jangan dibahas lagi. Aku tadi sudah putus asa. Mas Rangga sudah tidak berkutik tapi kamu masih mau menghajarnya. Aku tidak ingin kamu jadi kriminal. Kalau sampai kamu mendekam di penjara karena tindakanmu, kita berdua tidak akan bisa menikah," terang Anjani panjang lebar.


Penjelasan Anjani justru membuat senyum Mario semakin mengembang.


"Anjani, apa kamu bersedia menikah denganku? Melanjutkan niatan kita yang sempat gagal di masa lalu?" Mario serius meminta.


"Insya Allah aku bersedia," jawab Anjani tulus.


Bunga-bunga cantik bermekaran mengelilingi mereka. Mario-Anjani sedang diselimuti rasa bahagia.


"Sabtu depan orangtuaku akan datang lagi ke rumahmu. Kembali memintamu menjadi istriku. Tunggulah!"


"Tidak mau," sahut Anjani.


"Kenapa?" tanya Mario.


"Minta maaf dulu sama Mas Rangga," pinta Anjani.


"Akan kulakukan. Juga, besok kamu harus ikut denganku. Aku ingin mempertemukanmu dengan seseorang," terang Mario.


"Siapa?" Anjani tidak mau menduga-duga.


"Lihat sendiri besok. Sekarang, temani aku meminta maaf pada Rangga. Mau?"


Bukannya Mario tidak berani datang sendiri. Hanya saja, keberadaan Anjani bisa sangat membantu meluruskan kesalahpahaman yang terjadi.


"Aku mau. Tapi tidak ada adegan kekanakan seperti tadi." Anjani memperingatkan.


"Kalau tidak ada yang seperti tadi, artinya kamu tidak akan menciumku seperti tadi lagi." Sengaja Mario mengungkitnya.


"Oke, aku pulang saja!" Anjani kesal.


"Jangan dong. Ayo temani aku minta maaf pada Rangga. Sepertinya Ken juga. Aku berhutang banyak maaf pada mereka berdua." Mimik wajah Mario tak bisa berdusta. Dia benar-benar merasa bersalah.


Anjani tersenyum. Baru kali ini dia melihat mimik wajah yang seperti itu. Sedikit banyak Anjani memaklumi sikap Mario hari ini. Kisah masa lalu Mario dan keluarganya tidak lepas dari rasa pahit karena perselingkuhan. Alhasil, Mario begitu sensitif dengan kata mendua, selingkuh, apalagi menikung teman sendiri.


"Ayo berangkat Tuan Muda Tampan. Keburu Mas Rangga melaporkanmu pada polisi," canda Anjani.


"Jangan berdoa yang macam-macam Tuan Putri. Ayo kita berangkat!" Mario memberi isyarat mata agar Anjani menuju mobil.


Anjani terkekeh pelan, lalu mengikuti langkah Mario. Dalam hati Anjani berdoa, semoga Rangga bisa memaafkan Mario dengan mudah.


Bersambung ...


Maaf, khayalan author hari ini agak liar 😁. Tunggu lanjutan ceritanya, ya. Eit, apa nih yang dilakukan Meli-Azka di Jogja? Apakah mereka telah melaksanakan ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh sepasang suami istri, layaknya pengantin baru lainnya? Yuk, cari tahu kisah Meli-Azka di novel kece Kak Cahyanti, SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR. Dukung karya kami, ya. Barakallah. 😊



Vote, like, fav, rate5. See You 😘

__ADS_1


__ADS_2