
Mendung telah memegahkan singgasananya sejak pagi tadi. Celah tuk melihat mentari tak lagi didapati. Sesekali kilatan petir menampakkan diri di antara awan-awan pekat. Gelegar guntur terdengar menyusul kemudian. Hingga siang hari pesona kelabu sang langit masih tetap sama, belum mau menjatuhkan rintik-rintik yang tertahan di sana.
Mendung di langit saat itu bukanlah inspirasi bagi Anjani tuk merias wajahnya dengan rona yang sama. Mendung yang terpancar di wajahnya adalah cerminan nuansa hatinya. Tidak ada bulir air mata layaknya rintik hujan. Hanya ada warna kelabu yang telah menjelma topeng wajah.
"Saos?" tawar Meli sambil menyodorkan sebotol saos tomat.
Gelengan pelan menjadi kode yang diberikan Anjani untuk menolak tawaran Meli. Anjani mulai memakan bakso yang telah dia pesan beberapa menit lalu. Meski tak lagi hangat, semangkuk bakso tanpa diberi tambahan saos kecap tetap dimakan perlahan oleh Anjani. Sungguh suasana makan siang yang kurang menyenangkan, karena tidak ada obrolan atau bahkan keceriaan.
"Ah, lama-lama capek juga bujuk sahabatku yang satu ini!" keluh Meli sambil mengusap keningnya yang sedikit berkeringat karena ulah tiga sendok sambal dalam semangkuk bakso.
"Kalau capek mending kamu pulang dulu aja, Mel. Aku masih pengen duduk di sini. I'm oke!" kata Anjani dengan nada kurang bersemangat.
"I'm oke gimana? Ah, Anjani ...! Kamu butuh pulang kampung sesegera mungkin sepertinya." Meli heboh sendiri lantaran gemas dengan jawaban Anjani.
Seketika rasa gemas Meli tergantikan oleh rasa heran. Kali ini bukan heran kepada sikap Anjani, melainkan dengan seorang lelaki yang tiba-tiba mendekat. Lelaki itu bertubuh gempal dengan tompel di bawah bibirnya. Anehnya, lelaki itu tidak berkata apa pun dan terus menatap ke arah Meli. Bisa dibayangkan bagaimana ekspresi Meli ditatap orang asing yang menurutnya aneh.
"Apa'an sih lihat-lihat!" ketus Meli.
"Kamu ini namanya Anjani, ya?" tanya lelaki itu.
"Iya, kalau aku Anjani kenapa?" tantang Meli.
Tiba-tiba saja lelaki itu menggelengkan kepalanya, kemudian mengeluarkan setangkai mawar putih dari keranjang tertutup yang sedari tadi dibawa di punggungnya layaknya ransel.
"Kamu bohong, ya? Kata customer pemesan bunga ini yang bernama Anjani itu baik hati. Jadi, kalau begitu pasti kamu yang bernama Anjani, ya?" tebak lelaki itu sambil mengubah pandangan matanya dari Meli menuju Anjani.
"Kamu kurir ya?" tanya Meli. Dia tiba-tiba bangkit dan berdiri di dekat tempat duduk Anjani.
"Iya, benar. Saya tadi lupa wajah penerima bunga ini. Padahal udah dikasih tau fotonya sama customer," terang lelaki itu.
Foto? Siapa yang berani nunjukin fotoku pada kurir ini? Anjani bertanya-tanya dalam batinnya.
__ADS_1
Ada ekspresi lain mulai tergambar di wajah Anjani. Tidak lagi lesu seperti sebelumnya, dia lebih terlihat penasaran.
Siapa yang tidak penasaran saat tiba-tiba ada kurir yang mengantarkan bunga. Pengirim juga tidak sungkan menunjukkan foto Anjani pada kurir agar kiriman sampai di tangan yang benar, meski pada kenyataannya hampir saja salah orang. Lebih membuat penasaran lagi, kurir itu tidak mau memberi tahu siapa nama pengirimnya, karena sudah ada perjanjian.
Tersenyumlah, Anjani
Begitulah pesan singkat yang tertera pada kertas berbentuk hati yang tersemat pada tangkai mawar putih. Mulanya Anjani hanya memandang biasa bunga mawar di tangannya. Lalu, tiba-tiba sebuah senyum menghiasi wajahnya. Hanya sekejab senyum itu terlihat, tapi sudah mampu menjadi obat.
Seketika Meli memanfaatkan kesempatan yang ada. Sesaat setelah melihat Anjani tersenyum, Meli bergerak cepat untuk menggoda. Berhasil. Anjani kembali tersenyum. Sekali lagi Meli menggoda, akhirnya pecah sudah tawa Anjani karena tidak sanggup menahan diri melihat tingkah Meli.
"Akhirnya tersenyum juga ...!" tutur Meli lega, karena setelah sekian lama bisa kembali melihat wajah ceria sahabatnya.
"Mel, aku minta maaf atas sikap kekanakanku selama ini. Jujur, fakta tentang Mario hanya sebagian kecil saja. Aku sempat perang batin dengan kenangan pahit masa lalu. Uh!" jelas Anjani.
"Mau berbagi cerita denganku?" ujar Meli menawarkan.
"Maaf, Mel. Belum untuk saat ini. Tapi, aku berterima kasih sekali atas perjuanganmu mengembalikan senyumanku. Terima kasih ya buat bunganya. Aku suka!" kata Anjani dengan ekspresi ceria.
"Loh, terus siapa dong, Mel?"
Bahu Meli terangkat, kode bahwa dia juga tidak tahu siapa yang telah mengirim setangkai mawar putih lengkap dengan pesan penyemangat. Meli bahkan menyebutkan beberapa nama yang mungkin menjadi pengirimnya, mulai dari Kak Lisa yang memang memiliki toko bunga, Juno yang sempat memiliki perasaan pada Anjani, hingga Mario yang memang tengah berurusan langsung dengan rasa kecewa Anjani.
Tepat setelah Meli selesai dengan dugaan-dugaan tentang pengirim bunga, kurir berbadan gempal tadi kembali menemui Anjani. Kali ini dia mengantarkan tiga tangkai mawar putih lengkap dengan pesan yang sama seperti sebelumnya. Namun, lagi-lagi kurir itu tidak mau memberi tahu siapa nama pengirimnya.
"Ah, aku kepo deh!" tutur Meli setelah kurir pamit pergi.
"Udahlah, Mel. Yang penting aku senang lihat mawar-mawar putih ini, meski nggak tau pengirimnya," kata Anjani sambil tersenyum lebih ceria.
Meli kembali menduga-duga nama pengirim bunga untuk Anjani. Dia sama sekali tidak memedulikan perkataan sahabatnya untuk mengabaikan nama pengirimnya. Bagi Anjani, yang terpenting si kurir sudah menyampaikan pesanan pelanggan dengan baik, tepat kepada si penerima.
"Tapi tetep aja aku penasaran, Anjani. Atau mungkin .... Loh, kok kamu nongol lagi, sih!" tutur Meli tiba-tiba saat si kurir kembali lagi.
__ADS_1
"Kiriman bunga lagi untuk Anjani," ucap kurir sambil memberikan satu buket mawar putih, dengan isi pesan yang sama seperti sebelumnya.
"Wah, mulai horor ini. Jangan-jangan kamu yang ngirim bunga ini, ya? Oh, aku tahu. Pasti kamu salah satu penggemar berat sahabatku yang super polos ini!" tegas Meli asal tuduh.
"Enak aja asal tuduh! Sorry, aku udah punya TIGA gebetan. Gini-gini banyak yang naksir aku. Sudah ya, disampaikan terima kasih karena sudah menerima bunganya. Aku permisi dulu!" tegas si kurir. Penjelasannya tentang gebetan yang dimiliki membuat Meli melongo tak sanggup berkata-kata lagi.
Anjani kaget mendengar tuduhan Meli. Dia tampak menahan tawa menikmati adegan yang tersuguh di depannya. Namun, itu hanya berlangsung sesaat saja. Setelah itu tawanya langsung pecah.
"Sudah yuk, Mel. Kita pulang aja. Paling-paling bunga itu dari Mario sebagai tanda permintaan maaf," tebak Anjani. Dia tidak mau pusing memikirkan nama pengirim mawar putih.
"Mungkin, sih. Ah, aku pengen dapat bunga juga. Ayo, mampir ke toko bunga Kak Lisa. Mau beli bunga sendiri aja, deh!" pinta Meli agar Anjani mau menemani.
"Yuk!"
***
Deg!
"Paling-paling bunga itu dari Mario sebagai tanda permintaan maaf. Uh, mendengar itu membuatku sedikit sakit tapi tak berdarah!"
Kesal, itulah yang tengah dirasakan. Namun, tetap ada rasa lega karena misinya tercapai lewat perantara bunga. Mawar putih telah berhasil menjadi pengobat hati. Akan tetapi, sosok pengirim bunga belum mendapat ucapan terima kasih ataupun pengakuan dari Anjani.
"Juno, kucariin dari tadi ternyata duduk di sini!" tegur Ken sambil menghampiri Juno yang sedari tadi duduk di sebuah bangku kantin yang tidak terlalu jauh dari bangku Anjani dan Meli.
"Tumben pakai topi segala? Lepas! Eh, ada apa dengan wajah itu? Lagi patah hati?" tebak Ken.
"Mas Ken, ngopi yuk!" ajak Juno tiba-tiba tanpa menjawab pertanyaan Ken.
Meski merasa sedikit aneh dengan gelagat Juno, Ken tetap menghargai tanpa banyak bertanya lagi. "Ayo, aku traktir hari ini," kata Ken kemudian.
"Mantap! Ini baru Mas Ken yang aku kenal," sahut Juno dengan ekspresi wajah lebih bersemangat demi mengalihkan perhatian Ken agar tidak bertanya lagi tentang dirinya.
__ADS_1
***