
Jam istirahat makan siang sudah hampir habis. Alenna masih saja menyusuri jalanan sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya. Saat ini yang ada di pikiran Alenna hanya ada nama dan bayang-bayang sosok Juno, Juno, dan hanya Juno. Bisa dikatakan bahwa Alenna telah terbutakan oleh cinta, hingga kali ini pun Alenna mengabaikan pekerjaan kantornya.
Mobil putih Alenna telah sampai di parkiran kampus jurusan yang ditempuh Juno. Alenna merapikan pakaian dan riasan wajahnya sebelum turun dari mobil putihnya. Tidak lupa, beberapa semprot parfum mahal dengan aroma mewah melengkapi penampilannya yang memesona. Si bule cantik Alenna kini sudah siap bertemu Juno.
Alenna turun dari mobil putih yang dikendarainya. Setelah menghidupkan alarm mobil, Alenna berjalan masuk ke dalam halaman kampus jurusan ekonomi.
Penampilan Alenna yang mencolok dibanding mahasiswa lain, membuat Alenna menjadi pusat perhatian. Selain cantik dan modis, wajah Alenna memang kebule-bulean, karena Alenna memang berdarah campuran. Itulah sebabnya Alenna mudah sekali menjadi pusat perhatian, karena penampilannya yang berbeda.
Alenna hanya tersenyum simpul saat ada mahasiswa yang tidak dia kenal menyapanya. Alenna terus melangkah sambil celingak-celinguk, memandang ke segala arah dengan harapan bisa menemukan Juno. Alenna sudah berkeliling, bahkan sampai dua kali, tapi Juno tetap tidak ditemukan. Alenna sudah berusaha menelepon Juno, tapi panggilannya sama sekali tidak diterima.
“Hei-hei, kamu. Sini-sini!” seru Alenna memanggil salah satu mahasiswa yang kebetulan lewat.
“Aku?” tanya mahasiswa tersebut sambil menunjuk dirinya.
“Iya, kamu. Sini, aku mau tanya sebentar.” Alenna memberi isyarat agar mahasiswa yang dipanggilnya mendekat.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya mahasiswa tersebut dengan sopan.
“Tahu Juno di mana?” tanya Alenna tanpa basa-basi lagi.
“Juno? Angkatan berapa dia?” tanya mahasiswa tersebut.
“Mana aku tahu. Masa sih kamu tidak mengenal Juno? Juno itu yang keren, tampan, memesona, dan banyak penggemarnya di sini,” jelas Alenna.
Mahasiswa yang ditanyai oleh Alenna terlihat berpikir sejenak, karena ciri-ciri yang dimaksud Alenna adalah ciri umum. Selanjutnya mahasiswa itu pun teringat dengan sosok Juno yang dimaksud Alenna.
“Oh. Juno yang itu mungkin. Sepertinya baru saja pulang,” kata mahasiswa tersebut.
“Yah.” Alenna terlihat kecewa.
“Kalau tidak salah aku sering melihat dia di tempat penjual batagor, di ujung sana. Coba ke sana saja. Siapa tahu ketemu,” saran mahasiswa tersebut.
Alenna terlihat berpikir sejenak. Andai Alenna menyusul, belum tentu juga Juno ada di sana. Alhasil, Alenna memutuskan untuk menemui Juno di rumah Ken sore nanti, setelah jam pulang kerja.
“Baiklah. Terima kasih informasinya, ya.” Alenna berterima kasih.
“Sama-sama,” jawab mahasiswa tersebut.
“Eh, tunggu. Aku mau tanya satu lagi,” kata Alenna menghentikan langkah mahasiswa tersebut.
“Tanya apa?” tanya mahasiswa tersebut.
“Batagor itu apa ya?” tanya Alenna polos.
“Mbak ini makhluk mana, sih?" tanya mahasiswa itu, berpikir bahwa Alenna sedang bercanda.
__ADS_1
"Makhluk ajaib," jawab Alenna penuh percaya diri.
"Aduh! Gini-gini. Mbak lurus saja hingga ujung sana. Di seberang gerbang utama kampus ada yang jual. Batagor itu jenis makanan. Sudah, ya. Ada jam kuliah, nih!” ujar mahasiswa tersebut setelah menjelaskan pada Alenna.
“Oke-oke. Thanks,” jawab Alenna.
Jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan Alenna diperhatikan sejenak. Alenna mendesah pelan. Alenna sadar bahwa dirinya akan terlambat kembali ke kantor. Alenna kemudian berjalan perlahan, tidak terburu-buru karena memang sudah terlambat kembali ke kantor. Smartphone di genggaman tangan kemudian hendak dimasukkan ke dalam tas kecil. Alenna ceroboh, dia berjalan tanpa melihat ke depan, karena sibuk membuka tas kecilnya. Alhasil, Alenna pun menabrak seseorang.
Debuk! Cetak!
Suara buku jatuh, dan rupanya bukan hanya buku yang terjatuh, tapi juga smartphone milik Alenna.
"Maaf," kata seseorang di depan Alenna.
"Eh, maaf. Aku yang tidak memperhatikan ja ... lan." Perkataan Alenna terputus, dan tersambung akhirnya dengan nada pelan, karena melihat sosok tak biasa di depannya.
Saat ini di depan Alenna sedang berdiri seorang laki-laki berpostur tinggi. Kulit lelaki tersebut tidak seputih Alenna, tapi kulitnya sawo matang. Lelaki tersebut memang tidak setampan kakaknya, Mario. Namun, paras wajah lelaki tersebut bisa dikategorikan tampan. Apalagi saat tersenyum, terlihat aura yang menyenangkan hati siapa pun yang melihatnya.
Alenna masih memperhatikan lelaki di depannya tersebut. Penampilan lelaki itu begitu rapi, dengan kemeja warna maroon, celana hitam kain, berdasi, dan memakai sepatu pantofel. Satu lagi, suara lelaki itu begitu khas, sedikit ada nada kejawa-jawaan.
"Ini ponselnya," kata lelaki tersebut sambil menyodorkan smartphone milik Alenna yang tadi terjatuh.
Alenna segera mengambil smartphone miliknya. Tidak lupa pula mengucapkan terima kasih. Lelaki di hadapannya itu hanya tersenyum, lalu mengangguk.
"Maaf, tadi aku tidak membantu memungut buku yang jatuh," kata Alenna.
Lelaki di hadapan Alenna hendak melanjutkan langkahnya, tapi Alenna buru-buru menyempatkan diri untuk bertanya.
"Em, maaf. Aku sering ke sini, tapi sepertinya aku tidak pernah melihatmu. Mahasiswa baru, ya?" tanya Alenna yang memang penasaran.
Lelaki tersebut kembali tersenyum, hingga memperlihatkan deretan giginya. "Saya dosen baru di sini. Panggil saja saya Pak Nizar," jelas lelaki tersebut. "Kalau begitu saya permisi dulu mau ke ruang dosen," pamit Nizar.
Nizar kembali melanjutkan langkahnya. Sementara Alenna masih berdiri mematung di tempatnya.
"Dosen baru? Terlihat masih muda," gumam Alenna.
Langkah kaki Alenna kemudian diarahkan menuju parkiran. Mobil putih Alenna pun kembali dikemudikan lagi menuju kantornya.
***
Sementara itu di kantor, Leon terlihat kesal. Sudah tak terhitung lagi berapa kali dia mencoba menelepon Alenna. Namun, Leon hanya mendengar jawaban operator yang memberitahukan bahwa nomor Alenna sedang sibuk.
“Ah!” seru Leon sambil menggebrak meja kerjanya.
Leon kembali menekan nomor ponsel Alenna, dan mencobanya sekali lagi. Kali ini tidak ada suara operator, melainkan suara dering beberapa kali. Itu artinya smartphone Alenna sudah aktif. Beberapa detik Leon menunggu, tapi panggilan itu tidak diterima juga oleh Alenna.
__ADS_1
“Mario tidak masuk, dan sekarang Alenna menghilang. Ah! Kenapa aku bisa terjebak di kehidupan mereka yang rumit, sih? Kalau bukan karena Om John teman baik ayah, aku tidak akan sudi bermitra dengan mereka berdua.” Leon terus bergumam sambil mondar-mandir di ruangan kerjanya.
Tiba-tiba saja Leon berhenti mondar-mandir karena teringat sesuatu. Seketika Leon tersenyum licik.
“Kalau bukan karena tawaran menarik dari Om John saat itu …. Em, haha. Sepertinya aku punya ide. Bersiaplah, Mario-Anjani,” gumam Leon lagi sambil melempar smartphone-nya ke udara lalu menangkapnya dengan tangan kanannya.
***
Di rumah Mario.
Kenapa mendadak aku punya firasat tidak enak, ya? Sudah benarkah langkahku ini? Tapi ... bukankah tidak akan ada yang namanya benar dan salah kalau belum ada usaha? Ah, Anjani. Tenangkan dirimu! batin Anjani.
Anjani kembali memilih model undangan pernikahan. Tinggal itu saja yang belum terpilih. Sejenak, Anjani melihat Meli yang antusias sekali membantunya.
"Mel, kenapa aku mendadak ragu, ya?" tanya Anjani pada Meli. Kebetulan Mario sedang ke kamarnya untuk mengambil catatan yang tertinggal.
"Kalau gitu biar kugantikan posisimu, ya. Biar aku yang nikah sama Kak Mario tiga hari lagi," jawab Meli.
"Hus. Ya jangan, dong. Aku cinta sama dia," sahut Anjani, dan segera disambut oleh tawa Meli.
"Iya-iya tahu. Sudah, coba tenangkan hatimu. Jangan ragu lagi. Semua akan baik-baik saja," tutur Meli menenangkan.
"Meli benar. Jangan ragu lagi, Sayangku." Mario yang baru saja kembali ikut berbicara.
Rupanya Mario mendengar obrolan Anjani dan Meli. Anjani tidak terkejut, dia justru tersenyum. Sapaan 'sayang' telah memberi arti tersendiri bagi Anjani.
Lima belas menit kemudian, saat semua yang dibutuhkan sudah terpilih dan masuk ke dalam catatan.
"Semua sudah selesai dipilih. Meli sudah mencatatnya. Kalau begitu kami pamit pulang, ya?" Anjani hendak pulang.
"Baik. Kalian akan pulang diantar sopir," terang Mario.
Mario mengantar Anjani dan Meli sampai di halaman depan rumahnya. Sopir sudah siap di belakang kemudi. Meli pun sudah lebih dulu masuk mobil dan menikmati kenyamanan duduk di dalam mobil mewah. Sementara Anjani masih berdiri di dekat pintu mobil yang terbuka. Anjani masih berpamitan pada Mario.
"Aku pulang dulu," kata Anjani.
"Hati-hati. Ingat, jangan pernah ragu lagi. I love you," ucap Mario sambil tersenyum.
Anjani tersenyum. "I love you, too. Bye!" jawab Anjani, lalu bergegas menutup pintu mobil karena malu.
Paras wajah tampan Mario kembali dihiasi senyum. Mario terus memandang mobil yang dinaiki calon istrinya itu. Hingga mobil itu sudah tak terlihat lagi, Mario pun kembali ke dalam rumahnya.
***
Nantikan lanjutan ceritanya, ya ✨😊
__ADS_1
Salam dariku, Cinta Strata 1. Mohon Dukungannya, ya ❤.