
"Kamu merekam aksi kerenku, ya?" Dengan PeDenya Mario berkata seperti itu.
"Betul sekali. Rekamannya sudah kubagikan pada teman-teman juga, dan sebentar lagi mereka ke sini," jelas Anjani sembari tersenyum.
"Apa?" seru Mario, kaget.
Mario sungguh kaget mendengar Anjani berkata seperti itu. Video aksi Mario dalam memainkan mesin capit boneka telah tersebar. Cepat atau lambat, Mario akan diserbu oleh Ken, Juno, dan lainnya. Bukan kenapa-kenapa. Hanya saja, saat Mario mengingat kembali, begitu banyak tingkah konyol yang dia tunjukkan di depan Anjani.
Anjani masih tersenyum manis sambil memegang boneka bebek yang baru didapatkan Mario dari mesin pencapit boneka. Anjani sama sekali tidak merasa sungkan apalagi merasa bersalah telah menyebarkan video aksi Mario memainkan mesin capit boneka.
Mario mencoba tenang. Dipandanginya Anjani yang saat itu tersenyum manis sambil memainkan boneka bebek. Mario tersenyum melihat Anjani tersenyum.
“Anjani, boleh aku tahu kenapa kamu share video aksi kerenku?” tanya Mario, dan masih saja menyelipkan ke-PeDe-an dalam kata-katanya.
“Nggak papa, sih. Suka aja,” jawab Anjani santai tanpa memudarkan senyumnya.
"Suka aja?" Mario sungguh tidak percaya bahwa Anjani akan menyukai aksi kerennya.
"Kamu suka karena aksiku tadi keren, ya? Hingga berhasil mendapatkan boneka bebek itu," tanyanya lagi.
Anjani tertawa. Deretan gigi putihnya pun terlihat. Tidak ingin terlihat tertawa terlalu lebar, telapak tangan pun digunakan untuk menutupi tawanya.
"Kenapa kamu ketawa?" tanya Mario, merasa ada yang aneh.
Tawa Anjani mereda. "Tadi itu kamu lucu sekali, Mario. Hahaha. Jarang-jarang seorang Mario bersikap seperti itu," jelas Anjani sambil kembali tertawa. "Ehem. Pasti akan seru kalau video ini dibagikan juga ke grup chat teman-teman satu angkatan," ide Anjani.
"Jangan lakukan!" seru Mario dengan cepat.
Mario lekas melangkah mendekati Anjani. Dia mencoba untuk merebut smartphone milik Anjani dengan niatan menghapus video tadi.
"Eh-eh. Jangan coba-coba, ya!" Tangan Anjani gesit memindahkan smartphone miliknya ke sisi lain.
Mario tersenyum, seolah berdamai. Akan tetapi, tangan Mario gesit kembali berusaha merebut smartphone Anjani.
"Yeee. Tidak bisa!" seru Anjani sambil mundur beberapa langkah menghindari Mario yang hendak merebut smartphone miliknya.
"Anjani. Biarkan kuhapus videonya," tutur Mario lembut sambil tetap tersenyum.
"Tidak mau!" tolak Anjani.
Mario kembali mendekat dan berusaha merebut smartphone milik Anjani. Kali ini Anjani lebih gesit dan memilih untuk menghindar, menjauhi Mario. Tawa keduanya tak luntur. Canda yang mereka berdua buat membuat keduanya lupa dengan sekitar. Seolah hanya ada mereka berdua di sana, hingga masih saja asik bercanda.
"Anjani, lekas kemarikan atau ...." Kata-kata Mario terhenti.
Anjani mengangkat sebelah alisnya. "Atau apa, Mario?"
"Atau ...." Kembali Mario tak melanjutkan kata-katanya. Dia melangkah perlahan.
"Atau aku yang merebutnya," kata Juno dan sudah berhasil mengambil smartphone Anjani.
Ya, Juno tiba. Juno lekas tertawa melihat video aksi konyol Mario bersama mesin pencapit boneka.
"Mas Ken sudah lihat videonya?" tanya Juno sambil menahan tawa. Namun, pada akhirnya tawa itu pun pecah.
"Sudah kutonton di smartphone-nya Berlian tadi. Video seperti itu sama sekali tidak boleh dilewatkan," tutur Ken, lalu ikut tertawa.
"Kak Mario, baru kali ini aku melihatmu segugup tadi." Dika ikut menimpali.
Meli, Berlian, Alenna, dan Vina yang baru saja tiba ikut tertawa. Mereka semua telah menonton video aksi Mario bersama mesin pencapit boneka.
"Kak Mario tetep keren, kok." Meli memuji, tapi tawanya juga pecah tadi.
"Ehem. Demi apa Kak Mario sampai gigih menakhlukkan mesin itu?" Berlian iseng bertanya.
Mario baru saja ingin menjawab, tapi lebih dulu Vina yang menyahuti. "Ya demi guelah. Mario berlatih keras karena ingin mendapatkan satu boneka buat gue. Ayo, Mario. Gue mau satu boneka beruang dalam mesin itu. Lu harus mendapatkannya demi Vina," pinta Vina.
"Tidak mau! Minta Juno saja untuk memainkannya." Mario malah menyodorkan Juno.
"Kenapa harus aku, Mas?" Juno enggan.
"Vin, kamu beli aja satu di sana. Tuh-tuh-tuh banyak," saran Alenna.
"Ogah!" jawab Vina singkat.
"Yaudah. Terserah. Em .... Teman-teman, yuk kita pergi ke kedai es krim. Kali ini aku yang traktir." Alenna mengajak teman-temannya.
__ADS_1
Ajakan Alenna disambut baik oleh teman-temannya. Anjani, Meli, Berlian, Vina, Dika, Ken, dan Juno berjalan menuju kedai es krim yang masih satu area dengan pusat perbelanjaan itu. Masing-masing dari mereka telah membawa barang belanjaannya masing-masing. Sementara itu, Alenna sengaja berjalan di paling belakang karena berniat mengobrol dengan kakaknya, Mario.
"Kenapa boneka bebek yang kau pilih, Mario. Sapi lebih menggemaskan," kata Alenna setengah berbisik. Dia sedang membahas boneka yang berhasil didapatkan Mario saat memainkan mesin pencapit boneka.
"Sapinya tidak mau. Cuma bebek yang bersedia," jawab Mario santai.
"Ih. Jawaban macam apa itu." Alenna terkekeh. "But ... Good Job. Meski terlihat konyol, kakakku ini sudah berusaha membuat Anjani tertawa. Hihi. Bye-bye." Alenna cepat-cepat menjauh dan menyejajari langkah teman-temannya.
Mario tersenyum simpul. Meski sempat terlihat konyol, tapi seharian itu dia merasa senang bersama teman-temannya, khususnya Anjani.
***
Di kedai es krim, semua terlihat jauh lebih tenang. Tidak banyak obrolan yang dibuat. Mereka terlihat larut menikmati es krim pesanannya masing-masing.
Alunan musik pop di kedai es krim membuat suasana lebih santai. Selain Anjani dan teman-temannya, ada pula beberapa pengunjung lain yang juga menikmati es krim di sana.
"Anjani, sepertinya teman kita sedang dilanda virus merah jambu, deh. Dari tadi dia senyum-senyum sendiri," kata Berlian.
"Siapa yang kamu maksud?" tanya Anjani.
"Meli," jawab Berlian.
Obrolan baru lekas tercipta. Melilah yang saat itu menjadi subjek bahasan mereka.
"Aku?" Meli menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu. Dari tadi baca pesan dari siapa sih kok senyum-senyum gitu," goda Berlian.
Meli sama sekali tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum saat Berlian menggodanya.
"Mas Azka, ya?" tebak Anjani.
Lagi-lagi Meli tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
"Ra-ha-si-a," kata Meli sambil tetap senyum-senyum sendiri.
Teman-teman Meli sudah tahu apa yang telah dialami Meli saat berada di Jogja kala itu. Meli kehilangan dompet, lalu ditolong oleh seseorang bernama Azka. Ken, Juno, Mario, Vina, dan Alenna bersikap biasa saja saat Anjani dan Berlian menggoda Meli dengan menyebut-nyebut nama Azka. Akan tetapi, tidak dengan Dika. Mendadak ada yang aneh dengannya.
"Kalian ngapain sih nyebut-nyebut nama Azka melulu. Kasihan Meli, tuh. Pasti dia risih digodain sama kalian," protes Dika.
"Apa'an sih, Dik. Mau ngajak ribut? Jelas-jelas aku seneng digodain. Huu!" Meli tak terima.
"Ssst. Sudah-sudah," kata Anjani.
"Slow, Dik." Juno ikut menengahi.
"Serius amat sih lu," celetuk Vina.
Mendadak Dika kesal karena mendapat protes dari Meli. Sebenarnya Dika tidak suka melihat ekspresi Meli yang berbunga-bunga saat nama Azka disebut. Ya, terbersit kecemburuan pada diri Dika. Namun, Dika terlalu gengsi untuk mengakuinya.
"Ehem. Teman-teman. Terima kasih atas waktu kalian untuk jalan-jalan bersamaku hari ini. Aku harap pertemanan kita akan terus terjalin di mana pun kita berada," kata Mario tiba-tiba.
"Yaelah, Mas. Formal amat. Seperti mau perpisahan aja," celetuk Juno.
Ken lekas melirik Mario. Dia menduga bahwa Mario akan segera berpamitan pada teman-temannya saat itu juga. Namun, rupanya Mario tidak melakukannya, dan Ken tak berani menyinggungnya.
***
Kegiatan belanja dan makan es krim bersama telah usai. Mario merasa senang. Begitu pula dengan teman-temannya, kecuali Dika yang di akhir malah dibuat sewot karena tidak bisa menguasai rasa cemburunya.
Berlian dan Vina telah menuju mobilnya masing-masing. Juno dan Ken terlihat menjahili Dika agar kembali ceria hingga sampai di mobil. Sementara Anjani dan Meli tengah berjalan menuju mobil Alenna.
Meli masuk lebih dulu. Ketika Anjani hendak masuk ke dalam mobil, Mario memanggilnya.
"Anjani," panggil Mario.
Anjani urung masuk mobil. "Iya, ada apa?" tanya Anjani.
Mario tersenyum sambil menatap bola mata indah Anjani. Merasa Mario terus menatapnya, Anjani pun lekas tertunduk, lalu mengulang lagi pertanyaannya.
"Ada apa?" tanya Anjani lagi, dan kini kepalanya terangkat.
"Jaga dirimu baik-baik," kata Mario.
"Em, insyaa Allah. Terima kasih untuk kebahagiaan yang kamu bagi untukku dan teman-teman hari ini. Terima kasih juga untuk sapi dan bebeknya. Hehe." Anjani tertawa ringan.
__ADS_1
"Sama-sama. Assalamu'alaikum," salam Mario.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anjani, melambaikan tangan, lalu bergegas masuk ke dalam mobil Alenna.
Anjani tersenyum, lalu berucap syukur.
"Cie. Yang baru dapat bebek," goda Meli.
"Cie." Alenna di bangku kemudi ikutan menggoda.
"Cie, yang senyum-senyum terus karena ingat Mas Azka." Anjani balas menggoda Meli, dan lekas disusul tawa oleh Alenna.
"Anjani .... Kok kamu godain aku terus, sih. Nanti aku makin jatuh hati sama Mas Azka gimana?" protes Meli dengan tingkah ala anak kecil.
"Kalau seperti itu ya aku doain aja sekalian. Semoga kalian berjodoh," doa Anjani.
"Aamiin," sahut Meli dan Alenna dengan lantang.
Tawa ringan menyelimuti mobil Alenna selama perjalanan. Obrolan ringan juga tercipta, termasuk bahasan soal liburan.
"Anjani besok jadi pulang kampung?" tanya Alenna.
"Insyaa Allah tidak jadi," jawab Anjani.
"Loh, kok nggak jadi? Kenapa?" Meli penasaran dengan rencana Anjani yang tiba-tiba berubah.
"Ternyata Ma sama partner bisnis cabenya ada acara ke luar kota buat belajar cocok tanam modern. Ma keren, kan?" Anjani menjelaskan.
"Wow. Amazing!" puji Alenna.
"Terus kamu liburan ngapain?" tanya Meli.
"Ntahlah. Lihat nanti, deh!" Anjani memang belum mempunyai rencana lain.
Meli sebenarnya hendak mengusulkan untuk liburan ke Jogja saja, sekalian belajar lebih lanjut tentang olshop bersama Via dan Ratna. Akan tetapi, Meli urung mengatakannya. Meli masih pikir-pikir lagi, karena sejujurnya yang paling ingin dia temui adalah Azka, pahlawan yang dia temui di Jogja.
***
Di rumah mewah keluarga John. Alenna berlarian kecil menuju balkon lantai dua untuk menemui kakaknya, Mario.
"Sudah ditelepon ayah?" tanya Alenna pada Mario.
Mario mengangguk. Sebuah senyuman terlukis di wajahnya.
"Alhamdulillaah. Untung tadi kamu nggak ngucapin kata-kata perpisahan pada teman-teman," kata Alenna lega.
"Tapi Ken belum kuberi tahu kalau aku batal ke luar negeri. Biarkan dia heboh sendiri saat tahu. Lihat ini. Ken sudah memberiku hadiah perpisahan." Mario terkekeh pelan sambil menujukkan hoodie hadiah dari Ken.
"Hahaha. Pasti Ken bakal protes," tebak Alenna.
Mario masih saja tersenyum. Sejujurnya itu adalah senyum syukur. Mario bersyukur karena dirinya tidak jadi pindah kuliah ke luar negeri.
"Rencana ayah memang suka berubah-ubah, tapi aku senang karena mama akan tinggal bersama kita di Indonesia. Yeee!" Alenna kegirangan.
"Rencana Allah sungguh indah," kata Mario penuh syukur.
Sebelumnya John memang sangat berharap agar Mario pindah kuliah ke luar negeri, tempat mama Alenna berada. John berharap agar Mario bersedia lebih dekat dengan mama Alenna hingga perlahan bisa menganggapnya seperi ibu kandungnya sendiri.
Kala itu Mario bersedia, karena menghormati permintaan ayahnya. Namun, mendadak John membuat rencana perubahan. Mario tidak perlu pindah kuliah. Justru mama Alennalah yang akan datang dan tinggal di Indonesia.
Anjani, aku bersyukur karena masih berkesempatan untuk ada di dekatmu. Batin Mario.
***
Bersambung ....
Seperti apa sosok mama kandung Alenna yang akan segera tinggal di Indonesia? Nantikan lanjutan cerita Cinta Strata 1. Dukungan kalian sangat berarti untuk author. Vote, like, dan komentari yaa. Terima kasih sudah berkenan membaca. See You 😉.
***
Cari tahu juga sosok Azka yang sudah membuat Meli jatuh hati padanya. Apakah Azka juga memiliki perasaan yang sama seperti yang Meli rasakan? Atau malah perasaan Meli bertepuk sebelah tangan?
Cari tahu jawabannya di novel SELALU ADA TEMPAT BERSANDAR karya Kak Cahyanti.
__ADS_1