
Acara penyambutan mahasiswa baru sudah selesai dilaksanakan. Tiga hari berturut-turut setelahnya disusul pelaksanaan OSPEK bagi mahasiswa baru. Rangkaian acara yang menarik dan menyenangkan telah dipersiapkan oleh Juno dan tim panitia. Telah terbukti, semua mahasiswa merasa senang, karena bisa mengenal kehidupan kampus beserta teman-teman seangkatan melalui kegiatan OSPEK tersebut. Bergembira, seru-seruan bersama, dan tidak ada keluh kesah. Mahasiswa baru begitu menikmati rangkaian acara.
Anjani dan Meli sibuk melaksanakan tugasnya di bagian konsumsi panitia. Bagian konsumsi untuk peserta OSPEK ada yang meng-handle sendiri. Meski sudah ada bagiannya sendiri, Anjani dan Meli tetap membantu yang lain saat tugas bagiannya sudah teratasi.
Acara OSPEK hari pertama dan kedua berjalan lancar. Tidak ada mahasiswa yang sampai mendapat jatah konsekuensi, karena semua tertib dan tidak ada yang melanggar kesepakatan aturan. Semua mahasiswa benar-benar menikmati rangkaian acara OSPEK. Banyak mahasiswa yang pulang dengan senyum sumringah menghiasi wajahnya usai terlaksananya acara.
Tibalah hari ketiga OSPEK. Anjani dan teman-teman lainnya lebih bersemangat lagi menjalankan tugas bagiannya. Semua tugas bahkan sudah dapat diselesaikan lebih cepat dibanding dua hari sebelumnya. Anjani dan Meli jadi memiliki waktu luang lebih dari biasanya, dan mereka gunakan untuk melihat-lihat sebentar pelaksanaan acara OSPEK.
Rupanya mahasiswa baru sedang melaksanakan kegiatan di luar gedung. Sehingga, ruangan yang biasanya dipakai untuk pelaksanaan OSPEK terlihat sepi. Panitia lainnya banyak yang bertugas mendampingi mahasiswa baru yang terbagi-bagi dalam beberapa kelompok. Di luar gedung bahkan hanya ditemui tiga panitia saja, yakni panitia yang tergabung dalam komisi kedisiplinan.
“Tumben mereka nggak ikut kegiatan di luar?” tanya Anjani ketika melihat tiga temannya yang bertugas di bagian komisi kedisiplinan.
“Mungkin ada mahasiswa yang melanggar kedisiplinan dan kena hukum, deh. Seperti kamu di masa lalu. Hehe, aku juga kena sih waktu itu karena terlambat. Em, tapi waktu itu aku senang karena di akhir dapat hadiah.” Meli mengungkit masa lalu setahun lalu.
Anjani teringat masa-masa itu. OSPEK tahun lalu dilaksanakan tiga hari, dan tiga hari pula Anjani harus berhubungan dengan komisi kedisiplinan. Anjani bahkan teringat konsekuensi-konsekuensi yang dia dapatkan dari komisi kedisiplinan.
Tahun lalu di masa-masa OSPEK ini aku pertama kali mengenalmu sebagai seniorku, Mario. Telah banyak yang terjadi semenjak saat itu, batin Anjani.
“Astaghfirullah, Anjani. Ketahuan bengong lagi, kan. Pasti ini lagi mikirin ….” Kata-kata Meli terhenti karena Anjani membungkam mulut Meli. “Hm-hm-hm,” seru Meli tertahan sembari berusaha melepas tangan Anjani.
“Ada Dika,” kata Anjani setengah berbisik pada Meli.
Seketika Meli langsung terdiam, tidak lagi mencoba melepas bekapan tangan Anjani pada mulutnya.
Anjani menurunkan tangannya, lalu melanjutkan kata-katanya. “Hm. Kasihan Dika. Terlihat lelah, tuh.”
Meli berkedip cepat, lalu nyengir. Posisi Meli saat ini membelakangi arah yang dimaksud Anjani.
“Sst. Dika jalan ke sini nggak?” tanya Meli, tidak berani menengok ke belakang.
“Wah-wah, jalan ke sini, Mel. Tuh-tuh, Dika jalan ke sini.” Anjani heboh.
Meli segera mencubit pelan lengan Anjani. Meli gemas melihat tingkah sabahatnya itu.
“Anjani, biasa aja dong. Nggak perlu heboh gitu. Nanti Dika mikir macam-macam,” kata Meli dengan nada setengah berbisik.
“Astaghfirullah. Hehe. Ehem, itu dia udah dekat.” Anjani memberi kode lagi pada Meli.
Meli segera memasang wajah biasa saja, kemudian balik badan. Meli segera tahu raut wajah Dika yang begitu lesu, seperti sedang kelelahan.
Dika berhenti tepat di depan Anjani dan Meli. Dika mengaku sedikit mengantuk karena semalam tetap harus mengurus orderan cokelat batangan, sehingga kurang tidur. Pagi harinya pun Dika menyempatkan diri untuk mengantar pesanan cokelat ke pelanggannya.
Anjani berkali-kali memperhatikan mimik wajah Meli dan Dika bergantian. Anjani terheran karena Meli dan Dika tidak berdebat seperti yang biasanya mereka lakukan. Baik Meli ataupun Dika sama-sama berkata-kata dengan nada wajar, tidak ‘nyolot’ apalagi salah-salahan seperti biasanya.
“Aku boleh minta jatah makan siangku lebih dulu, nggak?” tanya Dika.
“Boleh banget. Biar Meli yang mengantarmu ke ruang konsumsi,” kata Anjani bersemangat.
Meli seketika melirik ke arah Anjani sambil cengar-cengir.
"Aku tinggal dulu ya," pamit Anjani tiba-tiba.
“Loh Anjani, kamu nggak ikut ke ruang konsumsi juga?” tanya Meli karena Anjani tiba-tiba pamit hendak meninggalkannya dengan Dika.
“Aku mau ke sana sebentar," kata Anjani sembari menunjuk seorang mahasiswa baru yang terlihat kebingungan.
Dika dan Meli kompak melihat ke arah yang ditunjuk Anjani. Di sana memang ada seorang mahasiswa yang sedang memegang kertas dan bolpoin, dan terlihat kebingungan.
“Dia seperti diriku di masa lalu yang sedang dihukum. Aku ke sana bentar. Kalian berdua duluan saja, “ jelas Anjani.
"Iya-iya, deh. Terserah kamu, yang penting sekarang aku benar-benar lapar. Ayo, Mel tunjukin jatah makan siangku!” ajak Dika.
__ADS_1
Meli mengangguk. “Yuk!”
***
"Assalamu'alaikum," salam Anjani pada mahasiswa yang kebingungan tadi.
Mahasiswa itu seorang lelaki dan berkacamata. Begitu melihat Anjani, mahasiswa itu terlihat ceria.
"Wa'alaikumsalam. Kak, bisa bantu saya?" tanya mahasiswa itu dengan segera.
Anjani mengangguk sambil tersenyum. "Apa yang bisa aku bantu, nih?" tanya Anjani kemudian.
Mahasiswa tadi menyodorkan kertas dan bolpoin sambil tersenyum penuh harap.
"Minta tanda tangan, Kak. Aku lagi kena hukum karena tadi gurau berlebihan sama teman. Hehe. Bantuin ya, Kak. Aku ingin segera nyusul yang lain ikut acara selanjutnya," jelas mahasiswa itu. "Kurang satu saja kok," imbuhnya.
Anjani memahaminya. Tahun lalu dirinya juga berada dalam posisi yang sama seperti mahasiswa baru di depannya itu. Oleh karenanya, Anjani tidak berlama-lama. Anjani segera mengambil kertas dan bolpoin yang disodorkan mahasiswa itu.
"Yap. Tetap semangat, ya." Anjani memberi semangat pada mahasiswa itu.
Anjani mengulurkan kertas yang sudah berisi tanda tangannya itu kepada mahasiswa di depannya. Namun, tiba-tiba saja ada tangan lain yang mengambilnya.
"Eh?" Anjani menoleh ke samping. "Mario," kata Anjani lirih begitu tahu bahwa ada Mario di sebelahnya.
"Satu tanda tangan lagi untukmu. Mereka pasti hafal dengan tanda tangan ini. Sudah. Segera kembali dan tetap semangat mengikuti kegiatan." Mario memberi semangat sembari menyuguhkan senyum di wajah tampannya.
"Terima kasih banyak, Kak Anjani, Kak Mario," ucap mahasiswa itu setelah melihat masing-masing nama di bawah tanda tangan yang diberikan.
"Sama-sama," jawab Anjani.
Mahasiswa itu pun berlarian kecil menuju komisi kedisiplinan di depan gedung. Setelah menyerahkan kertas berisi tanda tangan, mahasiswa tadi diantar salah satu anggota komisi kedisiplinan untuk menyusul teman-temannya mengikuti kegiatan.
"Apa yang membuatmu datang membantunya, Anjani?" tanya Mario tanpa menoleh.
Anjani melihat ke arah Mario sebentar lalu kembali menghadap ke arah luar gedung.
"Em, karena di masa lalu juga ada senior yang sukarela datang dan menolongku." Anjani ringan menjelaskan, dan senior yang dia maksud itu adalah Mario.
Mario seketika tersenyum karena dengan mudah menangkap maksud Anjani. Setahun lalu dirinyalah senior yang sukarela datang membantu Anjani di depan komisi kedisiplinan.
Beberapa saat setelahnya, mendadak terjadi kecanggungan. Baik Mario ataupun Anjani sama-sama terdiam, tidak membuat obrolan.
Anjani melirik ke arah Mario, tapi Mario terlihat masih asyik melihat ke arah luar gedung. Anjani pun mengikuti arah pandangan Mario. Terlihatlah di luar gedung sana beberapa mahasiswa yang merupakan teman seangkatan Anjani sedang berdiskusi. Anjani tahu betul bahwa teman-temannya yang sedang berkumpul di sana itu ada di bidang dokumentasi dan bidang acara.
"Em, kamu mau menghampiri mereka?" tanya Anjani sembari menoleh ke arah Mario.
"Tidak. Aku ingin di sini saja," jawab Mario tanpa menoleh.
"Oh." Anjani hanya ber-oh ria dan kembali menghadap ke depan.
Terulang lagi. Terjadi kecanggungan lagi. Tidak ada lagi obrolan di antara Mario-Anjani.
Aku dan Mario sudah jarang ketemu semenjak tempat dan jadwal mengajinya dipisah. Apa sebaiknya aku ambil kesempatan ini untuk bertanya tentang Mbak Bida ataupun Vina, ya? batin Anjani.
Anjani kembali melirik ke arah Mario. Ingin sekali Anjani segera melontarkan pertanyaan atas rasa ingin tahunya tentang Mbak Bida dan Vina. Akan tetapi, Anjani masih menimbang-nimbang akan bertanya atau tidak.
Oke. Aku tidak ingin terjebak dalam rasa penasaran. Aku harus bertanya agar tidak salah paham, batin Anjani berseru lagi.
"Em, Mario." Anjani memulai kata-katanya dengan memanggil nama Mario.
Mario menoleh pada Anjani.
__ADS_1
Anjani menunduk sebentar, lalu kembali mengangkat kepalanya. Anjani menguatkan tekadnya untuk bertanya. Anjani sungguh tidak ingin berlarut-larut dalam dugaan yang begitu luas artiannya.
"Ada apa, Anjani?" tanya Mario karena Anjani tak kunjung berkata-kata lagi.
"Em, anu." Anjani bingung harus mulai bertanya dari mana.
"Anjani, jilbabmu ...." Mario tidak melanjutkan kata-katanya.
"Iya, ini jilbab yang kamu berikan padaku di toko bunga Kak Lisa waktu itu." Anjani langsung menjawab sambil tersenyum.
Hati Anjani terasa amat senang. Desir merdu terasa indah menyentuh kalbunya. Anjani tersentuh karena Mario bertanya tentang jilbab pink pemberian kala itu.
"Hehe, iya aku tahu. Bukan itu yang kumaksud. Itu jilbabmu coba lihat," kata Mario sembari menunjuk ke arah jilbab yang dipakai Anjani.
Anjani segera melihat ke arah jilbabnya. Seketika Anjani terkejut hingga kedua tangannya refleks menutupi mulutnya. Jilbab yang dipakai Anjani memang lebar dan terjulur menutupi dada. Namun, jas almamater yang dipakainya tidak dikancing. Tampak jelas di jilbab Anjani coretan-coretan spidol ala anak-anak yang sedang corat-coret.
Aduh. Ini pasti kena coret waktu ngobrol sama Meli tadi waktu ngasih nama di kotak kue. Tutup spidolnya kan nggak kupasang waktu ngobrol. Aduh, kenapa Meli nggak ngasih tahu aku, ya? batin Anjani.
Anjani nyengir. Ada rasa malu bersarang dalam hati. Sebenarnya Anjani tidak masalah dengan coretan di jilbabnya karena bisa dicuci bersih. Rasa malu itu muncul akibat salah paham atas dugaan Anjani yang meleset. Semula Anjani mengira Mario perhatian hingga hafal dengan jilbab pemberiannya kala itu. Sampai ketika hati Anjani berbunga, prasangkanya justru terbantah.
"Hehe, iya nih nggak sengaja tadi. Eh, tapi tenang saja bisa dicuci bersih, kok." Anjani berusaha meyakinkan Mario bahwa jilbab pemberiannya itu bisa dicuci bersih.
Mario hanya tersenyum sebagai tanggapannya. Akan tetapi, perkataan Mario selanjutnya justru membuat Anjani salah tingkah.
"Selanjutnya mau jilbab motif apa, Anjani?" tanya Mario tanpa memudarkan senyum di wajahnya.
"Ha?" Anjani kaget Mario berkata demikian.
Apa Mario hendak memberiku jilbab lagi? batin Anjani.
"Mau motif hati?" tanya Mario lagi.
Senyumnya semakin mengembang. Jantung Anjani seketika berdebar. Khawatir salah tingkah, akhirnya Anjani pun memutuskan untuk pamit pergi kembali ke ruang konsumsi.
"A-aku harus kembali," kata Anjani lalu nyengir. "Assalamu'alaikum," imbuhnya.
Anjani berjalan begitu cepat menuju ruang konsumsi. Sementara Mario masih memerhatikan Anjani hingga tidak terlihat lagi setelah melewati pintu.
Mario masih tersenyum. Hembusan nafas panjang tergambar jelas setelahnya.
"Astaghfirullah. Sepertinya aku berlebihan barusan," gumam Mario.
Tangan Mario diletakkan di saku celana. Pandangannya kembali tertuju keluar gedung. Kini yang terlihat di sana adalah Ken, ketua panitia tahun kemarin, dan Vina yang tadi datang untuk menengok kegiatan OSPEK mahasiswa baru hari terakhir. Mario pun melangkah menuju teman-temannya itu.
Anjani. Aku tahu kamu hendak bertanya tentang Kak Bida. Untung saja kamu tidak jadi bertanya. Tunggu saja kabar baik yang akan segera menyebar. Aku yakin pula beritanya akan viral, dan kamu pun pasti tak pernah menduganya. Maaf, batin Mario menggema kata sembari melangkah menuju teman-temamnya.
***
Anjani mampir ke wastafel lebih dulu sebelum menuju ruang konsumsi. Anjani mencoba tenang setelah dadanya berdebar-debar.
"Astaghfirullah. Huft .... Astaghfirullah." Berulang kali Anjani beristighfar sembari mengontrol dirinya agar segera tenang.
"Huft. Pada akhirnya aku gagal bertanya," gumam Anjani.
Em, Mario. Kenapa kamu menggodaku seperti itu tadi? Jilbab motif hati? Ah, aku kan jadi berprasangka lagi. Astaghfirullah, batin Anjani lagi.
Bersambung ....
***
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Tunggu lanjutan ceritanya, ya. Kritik saran buat author senantiasa ditunggu lho. See You. 😊
__ADS_1