
Waktu demi waktu telah berlalu. Memberi arti bagi siapa pun yang mau memaknai setiap torehan langkah yang telah tertapaki. Seperti halnya Anjani, perlahan mulai berbenah diri, terutama tentang hati dan keyakinan diri.
Kata-kata Pak Nizar pada siang tempo hari, sukses menggugah hati Anjani. Ruang kosong yang sejatinya terisi dengan asma-asma Ilahi, yang telah lama terabaikan, kini perlahan mulai menjadi perhatian.
Aku ingin berbenah, tapi harus kumulai dari mana? batin Anjani
Anjani berdiri di depan cermin kamarnya. Memperhatikan potret diri dalam cermin bening yang menampakkan seluruh bagian tubuhnya, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Aku beruntung memiliki bagian tubuh yang lengkap, tapi kapan terakhir kali aku bersyukur? batin Anjani.
Desah nafas Anjani terlihat jelas, seiring dengung hati yang semakin lama kian melambungkan tanya, evaluasi tentang dirinya selama ini.
Tiap hembusan nafasku, tak pernah sekalipun diminta untuk menggatinya dengan bayaran uang. Nafas ini gratis dari-Nya, tapi kapan aku pernah bersyukur? batin Anjani.
Untaian tanya terus saja menggema. Anjani terus mengevaluasi dirinya. Mendata satu per satu nikmat yang telah diberikan Allah padanya, tapi terlupa untuk disyukuri olehnya.
"Kenapa aku baru menyadari semuanya sekarang? Kenapa ak- ...." Gumaman Anjani terhenti lantaran mendengar ketukan pintu kamar.
"Anjani. Hei, kau tidur atau pingsan di dalam, ha? Tak lupa kan kalau di luar ada Meli menunggumu?" teriak Paman Sam dari arah pintu kamar.
Anjani tepuk jidat, "Astaghfirullah."
Bergegas Anjani mengambil tas kuliahnya, lalu melangkah keluar dari kamarnya itu.
"Paman, Anjani berangkat kuliah dulu." Anjani pamit pada Paman Sam.
"Tunggu, mau dimasakkan apa untuk menu malam ini?" tanya Paman Sam.
"Terserah Paman Sam saja, deh. Oh iya, Ma mau datang ke sini sore ini, ya? Hehe, aku lupa. Kalau begitu masak lalapan ikan lele saja, deh. Biar gampang. Nanti Anjani yang bikin sambalnya," terang Anjani sambil melangkah ke ruang tamu menemui Meli.
"Sudah siap? Yuk, berangkat!" ajak Meli.
"Cie ... motor baru, ya?" goda Anjani begitu melihat motor yang terparkir di halaman rumah Paman Sam.
"Hehe. Hadiah ulang tahun dari orangtuaku, tuh. Mana kadomu? Aku tunggu, lho." Meli mengedipkan mata penuh harap.
"Haha, iya-iya. Nanti, ya. Sekarang kuliah dulu biar makin pinter dan nggak gampang baper," kata Anjani lalu terkekeh.
"Heleh. Kalau sekarang bawa-bawa baper kau, ya. Yaudah, yuk!" Meli menarik lengan Anjani agar bergegas menuju motor barunya.
"Paman ... aku sama Meli berangkat. Assalamu'alaikum!" seru Anjani.
"Iya ....!" sahut Paman Sam. "Eh? Assalamu'alaikum? Tumben kali dia?" gumam Paman Sam.
Motor matic baru bercat putih milik Meli pun berangkat. Anjani yang mengemudikan, sementara Meli duduk di boncengan motor sembari mengoceh hal-hal seru yang dipikirkan saat itu.
***
Di kampus.
Masih ada waktu yang cukup sebelum jam kuliah. Anjani dan Meli sengaja datang lebih awal karena hendak mengembalikan buku-buku ke perpustakaan. Begitu selesai memarkir motor di parkiran khusus mahasiswa, Anjani dan Meli pun melangkah menuju gedung perpustakaan.
Jarak antara gedung jurusan ekonomi dan gedung perpustakaan kampus tidak terlalu jauh. Santai berjalan, Anjani dan Meli mengobrol ringan tentang ujian semester yang akan segera tiba.
__ADS_1
"Ujian semester sudah minggu depan, kan?" tanya Anjani sambil tetap melangkah.
"Iya, makanya kita harus lebih rajin belajarnya. Iya kalau semester sebelumnya ada Kak Mario yang ngasih tutor. Lah, sekarang?" kata Meli, dan seketika sadar dengan ucapannya.
"Ups, maaf. Aku nggak bermaksud ngebahas Kak Mario," imbuh Meli.
Anjani menunduk, lalu kembali menoleh ke arah Meli sambil tersenyum. "Tidak masalah. Tidak perlu sungkan lagi membahas Mario ataupun sekedar menyebut namanya. InsyaAllah aku sudah nggak baper lagi," terang Anjani.
Sejenak Meli memperhatikan wajah Anjani sembari tetap berjalan. Meli merasa ada perubahan yang terlihat jelas dari sahbatnya itu. Bukan perubahan pada penampilan fisiknya, melainkan hati dan tutur katanya. Anjani lebih sering mengucap 'InsyaAllah, MasyaaAllah, Astaghfirullah'. Meli mengaku senang mengetahui perubahan baik itu, dan ingin sekali mengikuti perubahan Anjani.
"Ehem, kamu ada niatan buat hijrah, ya?" tanya Meli.
Tanpa pikir panjang, Anjani segera mengangguk mantap. "Iya, tapi aku nggak tahu mulai dari mana dan harus belajar pada siapa," jawab Anjani dengan jujur.
"Aku ikutan, dong!" ujar Meli.
"Ha? Ikut kemana?" tanya Anjani yang masih bingung dengan pertanyaan Meli.
"Ikut hijrah!" seru Meli.
Niatan Meli disambut baik oleh Anjani. Anjani seketika mengangguk mantap.
"Kalau gitu nanti sore ikut aku, ya?" ajak Anjani dengan antusias.
"Kemana?" tanya Meli.
"Nanti juga tahu. Sekarang kita ke perpus dulu dan pinjam buku lagi. Semangat kuliah, dan semangat hijrah!" seru Anjani.
Langkah Mario terhenti sejak obrolan yang dibuat Anjani dan Meli disudahi. Mario terus menatap langkah kaki Anjani hingga menghilang di balik pintu masuk gedung perpustakaan.
"Hijrah?" gumam Mario.
Berbalik badan, Mario hendak mengubah arah tujuan, tidak jadi menemui Anjani. Namun, begitu terkejutnya Mario saat berbalik badan. Rupanya sudah ada Ken dan Juno dengan jarak satu meter dari tempatnya berdiri.
Dehem Ken terdengar sembari membetulkan letak kacamatanya. Sementara Juno cengar-cengir sambil melambaikan tangan ke arah Mario.
"Sejak kapan kalian mengikutiku?" tanya Mario.
"Pertanyaan yang hampir sama. Sampai kapan kau akan diam-diam memperhatikan bahkan mengikuti Anjani tanpa berani bertatap muka langsung dengannya?" tanya Ken blak-blakan.
Terdiam, Mario mencerna kata-kata Ken. Tak kunjung mendapat jawaban, Ken mendekat diikuti Juno.
"Kau masih menyimpan rasa untuk Anjani, ya?" tanya Ken.
"Iya, masih." Mario menjawab tegas.
"Uwu. Langsung terang-terangan bilang kalau masih cinta," puji Juno mengacungkan jempolnya di depan wajah Mario.
"Kalau gitu berhenti jadi penguntit! Temui Anjani, lalu ajak menikah lagi!" nasihat Ken.
"Tidak semudah itu," jawab Mario.
"Kenapa jadi tidak mudah? Mas Mario kan tampan, kaya, banyak penggemar, otak encer, dan sebelumnya juga gampang banget ngajakin Anjani nikah," kata Juno.
__ADS_1
Lagi-lagi Mario terdiam. Kali ini menerna kata-kata Juno. Ucapan Juno seolah menggambarkan begitu mudahnya masa lalu Mario saat masih dekat dengan Anjani. Namun, takdir yang harus terjadi telah mengubah segalanya.
"Aku yakin, Anjani yang sekarang tidak lagi mudah untuk didekati," terang Mario sembari menatap kedua sahabatnya itu bergantian.
"Terus apa rencanamu sekarang?" tanya Ken.
"Hijrah," jawab Mario.
Usai menjawab mantap, Mario kembali melangkahkan kakinya. Tanpa menunggu Ken dan Juno yang masih bingung dan sedikit terkejut dengan jawaban Mario.
"Hei, serius?" tanya Ken setengah berteriak sambil menyejajari langkah Mario.
"Hm," kata Mario singkat.
"Wow!" seru Juno yang juga sudah menyejajarkan langkah dengan Mario.
"Satu lagi," kata Mario yang seketika mendadak berhenti melangkah.
Mendapati Mario berhenti, otomatis Ken dan Juno ikut-ikutan berhenti. Ken dan Juno kompak menunggu Mario melanjutkan perkataannya.
"Aku akan pergi dari rumah," imbuh Mario.
"Ha?
"Apa?
Baik Ken ataupun Juno kembali dikejutkan oleh penuturan Mario. Sungguh dua keputusan yang tidak pernah disangka-sangka sebelumnya. Hijrah, dan ... pergi dari rumah.
***
Di kantor
Alenna baru saja selesai rapat bersama Leon dan beberapa anggota divisi lainnya. Begitu mengecek smartphone, sudah ada sebelas panggilan tak terjawab. Panggilan suara itu dari ayahnya, John.
Segera Alenna menelepon ulang. Dering pertama, langsung terdengar suara tegas nan khas dari ayahnya.
"Alenna, segera temui kakakmu! Dia punya rencana untuk pergi dari rumah!" seru John via telepon. Nada bicaranya terdengar khas, tapi sedikit tampak kekhawatiran di sana.
"What? Serius? Apa ayah sudah mencegah?" tanya Alenna.
"Percuma. Kata-kata ayah sama sekali tidak didengarkan. Ada tembok tinggi menjulang, hingga kata-kata ayah terpental. Coba kau yang bicara," pinta John.
Alenna melangkah ke dekat kaca jendela.
"Baik. Nanti Alenna coba bicara pada Mario," jelas Alenna.
Obrolan John dan Alenna terus berlanjut. Alasan Mario pergi dari rumah juga sempat dibahas oleh John. Akan tetapi, setelah mendengarkan alasan rencana kepergian Mario dari ayahnya, Alenna justru malah mendukung kakaknya.
Untuk apa sebenarnya Mario pergi dari rumah? Nantikan lanjutan ceritanya di episode selanjutnya.
Bersambung ....
Terima kasih sudah membaca novel Cinta Strata 1. Nantikan lanjutan ceritanya, ya. Dukung terus author untuk senantiasa berkarya 😊 Salam hangat dariku. See You ❤.
__ADS_1