
Beragam mata kuliah, beragam pula karakter dosennya. Siang itu Pak Koko tampil dengan model pembelajaran yang berbeda. Tidak membahas teks, tidak pula menyuruh memerhatikan slide. Pak Koko bercerita masa lalunya saat menempuh pendidikan S1. Tidak hanya bercerita masa lalu, Pak Koko punya teknik unik sehingga pembelajaran hari itu terselip rapi hingga dapat dipahami oleh mahasiswa di kelasnya. Kelas begitu hidup dengan adanya suara-suara mahasiswa yang aktif bertanya, sekaligus saling menanggapi usulan dan pemikiran teman-temannya. Ice breaking di tengah pembelajaran menjadi salah satu yang menjadikan suasana kelas begitu menyenangkan.
Usai mengikuti mata kuliah yang diampu oleh Pak Koko, Anjani bergegas menggandeng lengan Meli dan mengajaknya ke kantin. Tidak ada penolakan, Meli justru senang menuju ke sana karena memang sudah waktunya untuk makan siang. Kesenangan Meli semakin menjadi saat Anjani berkata akan mentraktir semua makanan yang dipesan olehnya. Seporsi bakso, sebotol air mineral dingin, sebungkus kue cokelat, dan permen kacang. Meli memesan itu semua dan Anjani tidak keberatan.
"Mantap! Makasih udah traktir aku, ya!" ucap Meli setelah semangkuk bakso berhasil dia habiskan.
Meli mengambil selembar tisu dan sedikit mengelap ujung bibirnya. Tiba-tiba dia terdiam, hanya untuk sesaat. Selanjutnya dia berganti mengambil kue cokelat dan mulai melahapnya dengan perlahan. Kue cokelat itu dia kunyah pelan-pelan, sambil menatap permen kacang yang tergeletak di dekat mangkuk bakso yang telah habis isinya. Saat itulah dia tersadar akan satu hal.
Perhatiannya kini tertuju pada Anjani yang sedari tadi tersenyum memerhatikan dirinya makan.
"Ah, aku tahu. Ini pasti ada maunya, kan? Ayo cepat katakan, Anjani!" ucap Meli pada akhirnya.
"Nah, itu kamu tau. Setelah ini ikut aku nyari rumah Mario. Nggak boleh nolak!" kata Anjani menekankan.
Meli terpingkal. Dia menggigit kue cokelatnya sekali lagi, kemudian mengacungkan jempol kanannya.
***
Motor melaju begitu pelan dari rumah Paman Sam. Motor yang dipakai Anjani dan Meli adalah motor yang dipinjam dari Paman Sam. Anjani yang mengemudi, sementara Meli duduk di belakang sambil menggendong si Boy. Sampai di depan gang, tiba-tiba Meli meminta Anjani untuk menepi.
"Aku aja yang nyetir. Kamu yang peganging si Boy cakep ini, ya. Eits, alamat rumah Kak Mario sudah kamu pastikan benar, kan?" tanya Meli.
"Sudah aku tanyakan langsung sama Juno, Mel. Awalnya dia nggak mau ngasih tau. Tiba-tiba aja sebelum kelas Pak Koko tadi siang Juno ngasih kertas. Nih, alamat rumah Mario ada di sini." Anjani menunjukkan kertas yang sedari tadi disimpan di saku bajunya.
"Oke, deh. Ayo naik!" ujar Meli.
Melaju dengan kecepatan sedang menjadi pilihan terbaik, karena rumah yang akan dituju masih dalam tahap pencarian. Meli begitu awas mengemudikan motornya, tidak terpancing emosi meski ada pengendara lain yang ugal-ugalan di jalan. Sekali melewati pemberhentian lampu merah, laju motor kembali mulus tanpa kemacetan. Motor terus melaju, hingga tiba di tugu putih yang sangat terkenal di daerah itu.
Cepat-cepat Anjani menyuruh Meli menepi di dekat tugu putih. Usai motor sempurna berhenti, Anjani menyerahkan si Boy untuk digendong Meli, sementara Anjani mengeluarkan smartphone. Anjani tidak menelepon. Dia terlihat hanya mengirim pesan untuk seseorang.
"Tunggu balasan pesan dari Juno dulu, Mel. Alamat di kertas petunjuknya cuma sampai tugu ini aja. Nah, ini dia balasan dari Juno, Mel." Anjani antusias melihat pesannya.
__ADS_1
Masuk aja ke perumahan. Begitu sampai di depan rumah yang banyak bunganya, kirim pesan lagi padaku. Kutunggu!
Juno
Petunjuk selanjutnya sudah didapatkan. Anjani bergegas memberitahu Meli pesan dari Juno. Meli paham betul rumah yang memiliki banyak bunga di kompleks perumahan elit tersebut. Ya, rumah siapa lagi yang memiliki halaman begitu luas dengan deretan tanaman mawar dan beberapa jenis bunga lainnya kalau bukan rumah Kak Lisa.
Motor kembali melaju dengan kecepatan sedang. Baik Anjani ataupun Meli merasa senang karena sebentar lagi usaha mereka menemukan rumah Mario akan berbuah titik terang. Baru beberapa meter sebelum sampai di depan rumah Kak Lisa, harum bunga sudah semerbak. Wangi mawar yang begitu khas, mengundang ingatan beberapa bulan lalu saat sebelum masa kuliah dimulai.
"Mel, kenapa berhenti di sini? Itu rumah Kak Lisa udah di depan. Ada apa?" tanya Anjani heran. Tiba-tiba saja Meli menepikan motornya padahal belum sampai di depan gerbang rumah Kak Lisa.
"Sst, lihat tuh! Itu kan mobilnya Berlian," terang Meli sambil menunjuk ke arah mobil Berlian yang baru saja keluar dari rumah Kak Lisa.
Ingatan Anjani langsung tertuju pada kejadian beberapa bulan lalu, saat Berlian dan Kak Lisa berdebat di toko bunga. Anjani juga ingat ekspresi tidak biasa yang sempat ditunjukkan Kak Lisa saat masa OSPEK dulu, ketika Juno bercerita bahwa mobil Berlian hampir menabrak mobil yang dinaiki Juno. Sampai saat ini Anjani belum memiliki jawaban tentang hubungan Berlian dan Kak Lisa. Fakta bahwa mobil Berlian baru saja keluar dari rumah Kak Lisa semakin membuat Anjani bertanya-tanya tentang hubungan yang masih menjadi rahasia.
"Mau ke rumah Kak Lisa dulu buat tanya-tanya?" Meli menawarkan.
"Nggak perlu, deh. Kita fokus balikin si Boy dulu. Bentar, aku kirim pesan dulu ke Juno," ujar Anjani sambil mulai mengetik pesan.
Dua menit berlalu sejak pesan terkirim, tapi belum ada balasan. Lima menit lagi telah berlalu, Meli mulai terlihat kesal. Sepuluh menit lagi berlalu, Anjani tak lagi sabar. Dia putuskan untuk menelepon Juno. Namun, tidak ada jawaban. Anjani mengirim pesan sekali lagi pada Juno. Akhirnya, datang juga balasan pesan yang dinantikan.
Juno
"Niat nggak sih bantuin kita? Nih anak cari kesempatan banget. Sini, biar aku telpon aja!" tegas Meli. Dia gemas pada Juno setelah membaca isi pesannya.
"Kenapa? Nggak diangkat?" tanya Anjani.
"Takut aku omelin nih anak. Makanya nggak diangkat. Ah!" seru Meli semakin kesal.
Anjani mencoba membalas pesan Juno dengan sedikit ancaman. Belum lama setelah pesan terkirim, Juno langsung mengirim pesan yang membawa titik terang.
*Lurus aja sampai ujung. Rumah Mas Mario pagar cokelat, tembok rumah putih kombinasi mint, di depan rumah ada pohon mangga, palem, markisa. Begitu sampai tanya aja sama security di sana.
__ADS_1
NB: Jangan kaget lihat rumahnya. Ingat, ini bukan prank.
Juno*
Lagi-lagi Anjani menunjukkan isi pesan Juno pada Meli. Wajah Meli terlihat geram dan berjanji akan membuat perhitungan pada Juno kalau petunjuk darinya terbukti hanya lelucon belaka.
Meli memberikan si Boy pada Anjani sebelum mulai mengemudikan motornya. Sesekali si Boy mengeong, tapi tidak pernah meronta saat Anjani ataupun Meli menggendongnya.
Beberapa menit berlalu, Anjani dan Meli sampai di sebuah rumah mewah yang ciri-cirinya mirip sekali dengan pesan Juno. Rumah yang menurut Anjani tampak begitu mewah itu telah berhasil memancing beragam pertanyaan di benaknya.
Mustahil ini rumah Mario. Bukankah dia kerja sambilan demi membantu biaya kuliahnya? Batin Anjani.
"Rumahnya buagus banget. Masa iya sih ini rumah Kak Mario? Ah, jadi pengen tinggal di sini juga!" ujar Meli berandai-andai.
"Mustahil, Mel. Tunggu, jangan-jangan Mario pembantu di rumah ini, Mel!" kata Anjani menduga dengan yakin.
"Hahaha. Anjani, tampang kayak Kak Mario itu cocoknya jadi tuan muda aja. Ah, kamu ini ngayalnya yang elegan dikit, dong. Yuk, tanya pak security di situ!" ajak Meli.
Deg!
Anjani terperangah sesaat setelah mengetahui fakta yang ada. Baru saja dia mendengar penjelasan security bahwa Mario memang tinggal di rumah mewah yang saat ini tepat berada di depannya. Anjani bahkan sempat bertanya tentang status Mario di rumah itu. Jawaban yang dia terima justru semakin meruntuhkan persepsi dirinya tentang sosok Mario yang sempat dia kira berasal dari kalangan kurang berada. Sepertinya hanya Anjani yang tertegun dengan fakta itu. Berbeda dengan Meli yang justru terlihat antusias ingin mengetahui fakta-fakta lain tentang Mario.
Security rumah mewah Mario mengabarkan kalau tuan muda di rumah itu sedang mengunjungi salah satu pabrik sepatu milik ayahnya, dan akan kembali dalam beberapa menit ke depan. Anjani sempat ditawari untuk menunggu, karena security sudah mengenali wajah Anjani dan Meli melalui sebuah foto yang pernah ditunjukkan oleh salah satu teman Mario yang sering berkunjung ke rumah itu. Selain itu, security juga mengenali Boy si kucing kesayangan Mario.
Entah kenapa Anjani tidak semangat seperti Meli. Dia menolak untuk menunggu. Mengembalikan si Boy tanpa bertemu Mario menjadi pilihan terbaik baginya.
Mendadak, Anjani menyadari ada rasa yang mengusik hatinya. Bukan rasa yang menyenangkan, tapi juga tidak terlalu menyakitkan. Hati Anjani hanya sedikit merasa kecewa.
Kenapa Mario tidak terus terang saja padaku? Kenapa dia selalu membenarkan prasangkaku tentang dirinya? Apa dia kira aku ini cewek rapuh yang bisa dibohongi? Batin Anjani kembali menyeru tanya.
***
__ADS_1
Li**ke and vote ❤
See You, Readers